MANAGED BY:
SENIN
23 SEPTEMBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

FEATURE

Jumat, 06 September 2019 10:51
Ignatius Suharyo, Kardinal Ketiga dari Indonesia

Masih Deg-degan, Tensi Darah Masih Tinggi

Monsinyur (Mgr) Ignatius Suharyo (tengah)

PROKAL.CO, Monsinyur (Mgr) Ignatius Suharyo, uskup agung Jakarta, ditetapkan sebagai satu di antara 13 kardinal baru yang diangkat Paus Fransiskus pada 5 Oktober. Lima hari setelah pengumuman, Suharyo masih merasa deg-degan.

 

Taufiqurrahman, Jawa Pos

 

PARA pengabdi di lingkungan Keuskupan Agung Jakarta dan para awak media sempat bertanya apakah Ignatius Suharyo sudah bisa dipanggil Bapa Kardinal. ’’Sebaiknya Bapa Uskup saja,’’ katanya, lalu tersenyum simpul.

Suharyo mendapatkan telepon dari Nunsius Apostolik (Apolstolic Nuncio) alias Duta Besar Takhta Suci Vatikan untuk Indonesia Mgr Piero Pioppo pada 1 September malam. Cukup lama sambungan telepon itu berlangsung untuk menyakinkan uskup berusia 69 tahun tersebut menerima anugerah kehormatan dari Paus Fransiskus.

Setelah lima hari, Suharyo muncul di publik kemarin (5/9). ’’Sampai sekarang tensi darah saya masih tinggi. Mudah-mudahan hari keenam besok sudah turun,’’ ujarnya, lantas terkekeh.

Ya, penobatan Romo Haryo, sapaan Suharyo sejak ditahbiskan sebagai imam pada 1976, memang mengubah banyak hal. Sesuai dengan tradisi Katolik, sapaannya bisa berubah. Sebagai uskup, dia bisa dipanggil Yang Mulia (His Excellency atau Sua Eccelenza). Sedangkan sebagai kardinal, dia boleh disapa Yang Utama (His Eminence atau Sua Eminenza). Sesuai dengan tradisi pula, namanya akan menjadi Ignatius Kardinal Suharyo.

Tentu, bukan hanya perubahan nama itu yang membuat perannya berubah. Selama ini, seorang kardinal juga dijuluki Pangeran Gereja Katolik. Merekalah yang akan menghadiri dan memilih konfklaf atau sidang penentuan paus baru. Di antara mereka pula yang akan terpilih sebagai pemimpin tertinggi Gereja Katolik.

Pada 5 Oktober, Romo Haryo akan terbang ke Vatikan untuk menjalani prosesi pengangkatan 13 kardinal baru. Mereka bakal menyatu dalam Kolegium Kardinal (College of Cardinals) yang beranggota 228 orang. Di antara 13 orang itu, 10 orang, termasuk Romo Haryo, adalah kardinal elektor. Berhak memilih dan dipilih menjadi paus dalam sidang konklaf. Kardinal elektor adalah mereka yang belum berusia 80 tahun.

Dengan pengangkatan itu, Romo Haryo merupakan uskup Indonesia ketiga yang mendapat kehormatan sebagai kardinal. Sebelumnya ada mendiang Justinus Darmojuwono (mantan uskup agung Semarang) dan Julius Riyadi Darmaatmadja (mantan uskup agung Semarang dan uskup agung Jakarta). Sama dengan Kardinal Darmojuwono, Romo Haryo juga menjabat ordinaris militer Indonesia, pemimpin Gereja Katolik yang melayani anggota Tentara Nasional Indonesia beserta keluarganya.

Romo Haryo tak mau menebak-nebak maksud pengangkatan dirinya. Dia pun tak mungkin bertanya langsung kepada Paus Fransiskus, paus yang terkenal kerap mendobrak tradisi. Misalnya, rajin mengunjungi Afrika, paus pertama yang berkunjung ke Timur Tengah, hingga membikin perjanjian persaudaraan kemanusiaan dengan imam besar Al-Azhar.

Soal kardinal, misalnya. Saat ini ada 128 kardinal elektor. Itu melebihi ’’kuota’’ sesuai dengan aturan Konstitusi Apostolik Universi Dominici Gregis. Dalam konstitusi itu, jumlah kardinal elektor ’’dijatah’’ 120 orang. ’’Rupa-rupanya, kuota ini pun dilangkahi,’’ jelasnya. Lagi-lagi dengan tersenyum.

Menurut Romo Haryo, itu membuktikan bahwa Paus ingin gereja semakin universal dan internasional. Sesuai dengan nama Katolik yang berarti umum dan universal. ’’Kalau dulu, kardinal itu Eropa dan Amerika-sentris. Sekarang diangkat banyak dari Afrika dan Amerika Latin,’’ jelasnya.

Paus Fransiskus juga kerap menunjuk uskup dari gereja-gereja di daerah terpencil. Yang mungkin di peta saja tak muncul. Bahkan, ada dua kardinal non-elektor yang diangkat yang berasal dari background dialog antaragama.

Paus pun memilih 5 Oktober sebagai tanggal pengangkatan. Padahal, biasanya pengangkatan anggota Kolegium Kardinal itu dilakukan pada November. Nah, momen awal Oktober ini berdekatan dengan Sinode Pan-Amazon Amazonia, 6–27 Oktober. Dalam sidang itu, para uskup Gereja Katolik berdiskusi dengan tema Jalan Baru Gereja dan Ekologi Integral.

’’Jadi, semakin universalnya Gereja Katolik dibuktikan dengan keterlibatannya dalam problematika dunia. Ya kemiskinan, pengungsian, lingkungan hidup. Sinode Amazon menunjukkan bahwa Gereja Katolik Vatikan juga concern terhadap isu lingkungan hidup,’’ kata Romo Haryo. Itu sejalan dengan makna kata katolik, yaitu umum.

Lalu, apa yang berubah setelah jadi kardinal? Menurut Romo Haryo, ya tidak banyak. Kesehariannya tetap sama. Bangun pagi, sarapan, kegiatan rohani, dan berbagai hal sehari-hari. Misalnya, rapat, menerima tamu, berpikir mengenai kebijakan-kebijakan keuskupan dan KWI (Konferensi Waligereja Indonesia). Biasa saja.

Mungkin, kata dia, dirinya akan lebih banyak bepergian. Kalau sewaktu-waktu dipanggil Paus, Romo Haryo harus berangkat ke Vatikan. Sebelumnya, sebagai uskup agung Jakarta, dia tidak wajib mengunjungi daerah seperti Aghats maupun Jayapura. ’’Itu tugas uskup di sana. Tapi, sebagai kardinal, kalau misalnya di Aghats, di Ambon, atau di mana ada peristiwa gerejawi yang besar, saya mempunyai kewajiban moral untuk hadir,’’ jelasnya.

Tampilannya pun tidak akan banyak berubah. Romo Haryo akan tetap memakai lambang keuskupannya. Lambang itu melekat pada pribadi seorang uskup. Beberapa menyesuaikan lambang itu dengan tempat penugasannya.

Nah, lambang Romo Haryo unik. Alih-alih galero, topi bundar khas uskup, lambang itu berhias caping khas petani Indonesia. Perisai pada lambang pun diganti dengan gunungan wayang. Di lambang itu ada moto tahbisannya: Serviens Domino Cum Omni Humilitate (aku melayani Tuhan dengan kerendahan hati).

Aksesorinya yang sedikit berbeda. Jubah, sabuk, dan mozzetta (jubah pendek yang menutupi bahu dan siku) yang berwarna merah menyala. Simbol kemartiran. ’’Ini artinya ketaatan penuh. Siap mati. Kalau sekarang, saya belum siap mati. Makanya saya deg-degan ini,’’ katanya berkelakar.

Tapi, kata Romo Haryo, pengangkatan dirinya sebagai kardinal dari Indonesia bukan semata karena prestasi pribadi. Namun lebih pada penghargaan pimpinan Gereja Katolik terhadap gereja di Indonesia serta harmonisnya masyarakat di Indonesia. Terutama soal hidup berdampingan antaragama.

’’Gereja di Indonesia itu hidup lho,’’ kata Romo Haryo. Tidak semata dalam jumlah pengikut, tapi kehadirannya di tengah-tengah masyarakat. Sebagaimana cita-cita Konsili Vatikan II. Apa pun yang menjadi kecemasan dan kegembiraan anak manusia harus juga menjadi kecemasan dan kegembiraan anak-anak Kristus.

Di gereja-gereja Indonesia, Sabtu-Minggu bisa ada tujuh kali misa. Full. Lha di luar negeri? Romo Haryo bercerita, suatu saat dirinya pergi ke Roma dan masuk salah satu gereja. Cuma ada 20 orang, termasuk dirinya. ’’’Dan maaf-maaf ya, kolekte (sumbangan amal, Red) paling besar ya punya saya. Lainnya recehan semua,’’ ungkapnya, lantas tertawa.

Menurut Romo Haryo, Indonesia adalah negara dengan mayoritas muslim terbesar di dunia. Sementara di Eropa, pemahaman terhadap Islam di Indonesia sangat minim. Tahunya ya Islam Timur Tengah.

Namun, soal model Islam di Indonesia yang bisa harmonis berdampingan dengan pemeluk agama lain, kata dia, tidak banyak yang tahu. Namun, sudah ada gerakan nyata dari pimpinan Vatikan untuk mempelajari lebih jauh soal Islam di Indonesia.

’’Jadi, perhatiannya jangan ke saya, tapi penghargaan terhadap gereja di Indonesia dan NKRI,’’ ujarnya. (*/c5/dos)


BACA JUGA

Rabu, 17 Oktober 2012 13:30

Sulam Tumpar Kukar Tembus Pasar Nasional

<div> <strong>TENGGARONG </strong>- Kutai Kartanegara (Kukar) mewakili Kaltim di ajang…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.
*