MANAGED BY:
SELASA
19 NOVEMBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | LIFESTYLE | KALTARA

LIFESTYLE

Rabu, 04 September 2019 15:42
Kleptomania Bisa Sembuh dan Butuh Kesadaran Diri
KONSULTASI: Jika masih ragu untuk bercerita dengan orang terdekat, psikolog atau psikiater mampu menjadi pintu pertama. (ALODOKTER.COM)

PROKAL.CO, PELAKU kleptomania menyadari sepenuhnya perbuatan mereka. Bukan karena faktor ekonomi, tapi hawa nafsu dan rasa tidak puas dengan yang dimiliki. Hal itu dituturkan UG dan RO (bukan nama sebenarnya). 

UG merasa mengidap kleptomania sejak enam tahun lalu. Gangguan tersebut berlangsung hanya dua tahun. Kini dia mengaku terbebas dari kleptomania. Saat itu keadaan mendukung, dia juga tidak berpikir apa yang dilakukan tak akan ketahuan. 

Semakin lama UG sadar, bahwa yang dilakukannya salah. “Pemikiran harus selalu diperpanjang jika ketahuan bagaimana dan apa akibatnya. Kalau saya, berhentinya karena memaksa diri sendiri. Melatih kesabaran untuk mengendalikan hawa nafsu. Alhamdulillah saya bisa berhenti dari itu semua,” ungkap UG.

Kleptomania tidak mengenal usia. Seperti halnya RO, siswi tahun pertama bangku menengah atas di Samarinda. Dia berasal dari keluarga berkecukupan. Mulanya dia tak sadar bahwa yang dilakukan disebut kleptomania. 

Barang yang diambil pengidap kleptomania biasanya tidak bernilai dan sering dianggap sepele. “Aku emang suka mengambil barang yang menurut aku menarik dan pengin aku miliki. Baju, aksesori, dan kadang uang. Enggak peduli itu milik orang lain atau ada di rak toko. Kalau aku melihat barang semacam itu, akan muncul dorongan yang besar banget untuk mengambil, ” ujar RO. 

Mereka tidak memikirkan yang akan terjadi setelah mencuri. Dijelaskan psikiater dr Eka Yuni Nugrahayu, tahapan kleptomania terbagi, mulai ringan, sedang, hingga berat. Kleptomania berat tidak dapat mengontrol diri dan sudah menjadi kebiasaan dalam keseharian. 

“Kalau lagi mengambil, aku enggak berpikir kalau aku lagi mencuri. Menurut aku wajar aja mengambil barang yang aku suka, bahkan kadang aku merasa barang itu emang milik aku, tapi sekaligus ada perasaan takut ketahuan juga,” tambah RO. 

Kebanyakan penderita kleptomania selalu merasa ketagihan, ada sensasi adrenalin yang datang saat mengambil barang. Persis halnya yang dilakukan UG. 

Kleptomania dan mencuri berbeda. Kleptomania terjadi spontanitas, dilakukan sendiri, dan barang yang diambil tidak penting. Sementara mencuri terjadi dengan direncanakan, barang yang diambil bernilai harganya, dan dengan motif berbeda-beda. 

Hal tersebut erat kaitannya dengan depresi parah. Semacam usaha melampaui apati. Layaknya penyakit mental lainnya, alasan dan “sensasi” yang dirasakan saat mencuri bisa memiliki bentuk sangat beragam. 

“Pada penderita kleptomania ada sense atau gairah yang tinggi untuk mengambil barang dan menikmati ketegangan itu. Setelah mengambil barang, ada kepuasan. Selang beberapa lama, pelaku merasa penasaran bahwa itu bukan miliknya dan merasa bersalah. Namun, itu hanya sesaat, dan akan terus-menerus,” lanjut dr Eka, spesialis kejiwaan RSKD Atma Husada Mahakam Samarinda. 

“Rasa bersalah ada, tapi enggak mendominasi. Setelah berhasil ambil dan enggak ketahuan, muncul kepuasan batin yang kemudian mendorong untuk ambil lagi. Sampai suatu hari, salah satu temen menemukan barangnya yang hilang di kamarku. Awalnya aku membela diri dengan bilang kalau itu aku beli sendiri. Namun, akhirnya aku mengaku juga. Jangan ditanya malunya kayak apa. Apalagi aku juga bikin malu orangtua. Untung keluarga aku bisa terima dan bantu 100 persen untuk sembuh,” ungkap RO. 

Perhatian orang terdekat sangat dibutuhkan dalam proses penyembuhan. Faktor biologis tidak memengaruhi. Namun, latar belakang keluarga yang broken dapat menjadi penyebab. 

Kleptomania bisa disembuhkan dengan berbagai cara. “Psycotherapy dan pendampingan konseling dengan psikolog atau psikiater salah satu cara untuk sembuh. Apabila kemampuan impuls sangat rendah dan ada gangguan otak, pengidapnya butuh obat pendamping,” terang dr Eka. 

Namun, semua bergantung diri masing-masing. Sebab untuk berhenti, Anda harus berusaha menolak dorongan itu saat hadir. Apabila tidak berhasil, jangan malu datang ke psikolog hingga psikiater, sebelum terjadi hal-hal tidak diinginkan. (*/sla*/rdm2/k16)

 


BACA JUGA

Senin, 04 November 2019 10:30

Sajian Special Ramen, Paduan Apik Cita Rasa Tiga Negara

Hidangan internasional begitu menggoda. Bercita rasa kaya dan tak biasa…

Senin, 04 November 2019 10:29

Pilih Kuah Sesuai Selera

SALAH SATU penyajian unik terdapat di ramen iga bakar yakni…

Senin, 04 November 2019 10:21

Atasi Ngilu Geraham Bungsu

SEDERHANANYA, perikoronitis adalah kondisi gigi yang meradang hingga menyerang jaringan…

Senin, 04 November 2019 10:20

Gigi Berlebih Bikin Risih

IDEALNYA, seorang dewasa memiliki gigi berjumlah 32 buah. Namun, dalam…

Senin, 28 Oktober 2019 13:43

Nasi Goreng dan Chicken Steak, Hidangan Klasik, Demi-glace Saus Jamur

Siapa yang menolak nasi goreng? Apalagi, ada beragam isian. Ayam…

Senin, 28 Oktober 2019 13:42

Syphon Coffee dan Tahu Cabai Garam

DARI sekian banyak teknik membuat kopi, ada satu teknik bernama…

Senin, 28 Oktober 2019 13:39

Perut Kembung, Sepele tapi Serius

Penyakit satu ini memang sepele. Namun, membawa dampak serius. Apalagi…

Senin, 28 Oktober 2019 13:38

GERD dan IBS, Dua Masalah Pencernaan Anak

ADA dua penyakit pencernaan yang lumayan sering menyerang anak yakni…

Senin, 21 Oktober 2019 11:48

Eka Iskandar Putra, 30 Tahun di Industri Hiburan

Zaman semakin modern. Semua serba digital, berpikir semakin maju, tak…

Senin, 21 Oktober 2019 11:46

Acanthrosis Nigricans, Leher Hitam Tanda Awal Penyakit Bahaya

Leher gelap kerap ditemukan pada orang bertubuh gemuk. Kondisi itu…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.
*