MANAGED BY:
KAMIS
04 JUNI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | LIFESTYLE | KALTARA

LIFESTYLE

Rabu, 04 September 2019 15:42
Kleptomania Bisa Sembuh dan Butuh Kesadaran Diri
KONSULTASI: Jika masih ragu untuk bercerita dengan orang terdekat, psikolog atau psikiater mampu menjadi pintu pertama. (ALODOKTER.COM)

PROKAL.CO, PELAKU kleptomania menyadari sepenuhnya perbuatan mereka. Bukan karena faktor ekonomi, tapi hawa nafsu dan rasa tidak puas dengan yang dimiliki. Hal itu dituturkan UG dan RO (bukan nama sebenarnya). 

UG merasa mengidap kleptomania sejak enam tahun lalu. Gangguan tersebut berlangsung hanya dua tahun. Kini dia mengaku terbebas dari kleptomania. Saat itu keadaan mendukung, dia juga tidak berpikir apa yang dilakukan tak akan ketahuan. 

Semakin lama UG sadar, bahwa yang dilakukannya salah. “Pemikiran harus selalu diperpanjang jika ketahuan bagaimana dan apa akibatnya. Kalau saya, berhentinya karena memaksa diri sendiri. Melatih kesabaran untuk mengendalikan hawa nafsu. Alhamdulillah saya bisa berhenti dari itu semua,” ungkap UG.

Kleptomania tidak mengenal usia. Seperti halnya RO, siswi tahun pertama bangku menengah atas di Samarinda. Dia berasal dari keluarga berkecukupan. Mulanya dia tak sadar bahwa yang dilakukan disebut kleptomania. 

Barang yang diambil pengidap kleptomania biasanya tidak bernilai dan sering dianggap sepele. “Aku emang suka mengambil barang yang menurut aku menarik dan pengin aku miliki. Baju, aksesori, dan kadang uang. Enggak peduli itu milik orang lain atau ada di rak toko. Kalau aku melihat barang semacam itu, akan muncul dorongan yang besar banget untuk mengambil, ” ujar RO. 

Mereka tidak memikirkan yang akan terjadi setelah mencuri. Dijelaskan psikiater dr Eka Yuni Nugrahayu, tahapan kleptomania terbagi, mulai ringan, sedang, hingga berat. Kleptomania berat tidak dapat mengontrol diri dan sudah menjadi kebiasaan dalam keseharian. 

“Kalau lagi mengambil, aku enggak berpikir kalau aku lagi mencuri. Menurut aku wajar aja mengambil barang yang aku suka, bahkan kadang aku merasa barang itu emang milik aku, tapi sekaligus ada perasaan takut ketahuan juga,” tambah RO. 

Kebanyakan penderita kleptomania selalu merasa ketagihan, ada sensasi adrenalin yang datang saat mengambil barang. Persis halnya yang dilakukan UG. 

Kleptomania dan mencuri berbeda. Kleptomania terjadi spontanitas, dilakukan sendiri, dan barang yang diambil tidak penting. Sementara mencuri terjadi dengan direncanakan, barang yang diambil bernilai harganya, dan dengan motif berbeda-beda. 

Hal tersebut erat kaitannya dengan depresi parah. Semacam usaha melampaui apati. Layaknya penyakit mental lainnya, alasan dan “sensasi” yang dirasakan saat mencuri bisa memiliki bentuk sangat beragam. 

“Pada penderita kleptomania ada sense atau gairah yang tinggi untuk mengambil barang dan menikmati ketegangan itu. Setelah mengambil barang, ada kepuasan. Selang beberapa lama, pelaku merasa penasaran bahwa itu bukan miliknya dan merasa bersalah. Namun, itu hanya sesaat, dan akan terus-menerus,” lanjut dr Eka, spesialis kejiwaan RSKD Atma Husada Mahakam Samarinda. 

“Rasa bersalah ada, tapi enggak mendominasi. Setelah berhasil ambil dan enggak ketahuan, muncul kepuasan batin yang kemudian mendorong untuk ambil lagi. Sampai suatu hari, salah satu temen menemukan barangnya yang hilang di kamarku. Awalnya aku membela diri dengan bilang kalau itu aku beli sendiri. Namun, akhirnya aku mengaku juga. Jangan ditanya malunya kayak apa. Apalagi aku juga bikin malu orangtua. Untung keluarga aku bisa terima dan bantu 100 persen untuk sembuh,” ungkap RO. 

Perhatian orang terdekat sangat dibutuhkan dalam proses penyembuhan. Faktor biologis tidak memengaruhi. Namun, latar belakang keluarga yang broken dapat menjadi penyebab. 

Kleptomania bisa disembuhkan dengan berbagai cara. “Psycotherapy dan pendampingan konseling dengan psikolog atau psikiater salah satu cara untuk sembuh. Apabila kemampuan impuls sangat rendah dan ada gangguan otak, pengidapnya butuh obat pendamping,” terang dr Eka. 

Namun, semua bergantung diri masing-masing. Sebab untuk berhenti, Anda harus berusaha menolak dorongan itu saat hadir. Apabila tidak berhasil, jangan malu datang ke psikolog hingga psikiater, sebelum terjadi hal-hal tidak diinginkan. (*/sla*/rdm2/k16)

 


BACA JUGA

Senin, 01 Juni 2020 12:03

Diet Vegan, Sehat Konsumsi Nabati

Ada banyak jenis diet di dunia. Salah satunya diet vegan.…

Senin, 01 Juni 2020 12:02

Pola Hidup Vegetarian, Tepat Olah, Tepat Manfaat

TIDAK sulit memulai pola hidup vegetarian. Apalagi dari sisi kesehatan…

Jumat, 22 Mei 2020 14:15

Pedagang dan Pengunjung Pasar Masih ‘Bandel’

TANA TIDUNG - Meski saat ini pemerintah meminta masyarakat untuk…

Minggu, 17 Mei 2020 17:44

Hilang Zat Gizi, Hindari Panaskan Berulang

SAAT Ramadan, makanan untuk santap sahur biasanya sama dengan menu…

Senin, 11 Mei 2020 10:23
Oktifani Puji Fitriani

Mengolah Labu untuk Kota Tepian

Berbisnis itu perlu belajar dan membuka pemikiran yang luas. Sekalipun…

Senin, 11 Mei 2020 10:08

Sakit Perut, Beda Penyakit, Beda Gejala

Sakit perut merupakan keluhan yang umum dialami setiap orang. Ketika…

Senin, 11 Mei 2020 10:04

Keluhan di Perut, Jangan Diagnosa Sendiri

KELUHAN yang muncul pada bagian perut tentu saja membuat penderitanya merasa tak…

Selasa, 05 Mei 2020 16:12

Ada Hasrat dan Mantap di Bisnis Travel

Menjalani bisnis memang penuh tantangan. Terlebih bagi mereka yang sama…

Rabu, 29 April 2020 14:49

Kenali Gangguan Kesehatan Selama Puasa

Menjalankan ibadah puasa tahun ini pasti lebih menantang dibanding tahun-tahun…

Rabu, 29 April 2020 14:47

Perhatikan Kondisi Tertentu ketika Berpuasa

PADA dasarnya, berpuasa dapat dilakukan siapapun selama kondisi tubuhnya kuat…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers