MANAGED BY:
RABU
13 NOVEMBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | LIFESTYLE | KALTARA

KOLOM PEMBACA

Jumat, 30 Agustus 2019 10:22
Kaltim, Kepingan Surga yang Terpilih

PROKAL.CO, Oleh: Bambang Iswanto

Dosen IAIN Samarinda

Perjalanan menggunakan bus dari Samarinda ke Tanah Grogot bukan perjalanan singkat. Perlu waktu tempuh sekitar delapan jam. Dalam rangka mengikuti rangkaian kegiatan Musabaqah Tilawatil Quran, perjalanan panjang harus saya jalani. Kabupaten Paser menjadi tuan rumah MTQ ke-41 tingkat Provinsi Kalimantan Timur.

Awalnya, tidak tebersit untuk memerhatikan dan mengamati kiri-kanan jalan, sebelum ada salah seorang anggota rombongan dalam bus berseloroh,"Siap-siap kita melakukan perjalanan menuju ibu kota negara"!

Gurauannya mendapatkan respons senyuman dari sebagian besar anggota rombongan. Gurauan renyah ini ternyata membuat saya lebih sadar betapa hebatnya Kaltim.

Pasti ada nilai lebih dibanding nominasi-nominasi lain; Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan. Tidak mungkin Kaltim terpilih jika tidak "sakti". Sembari mencoba mencari jawaban tentang kesaktian Kaltim, bus yang saya tumpangi tepat di Jembatan Mahakam.

Terhampar pemandangan Sungai Mahakam yang lebar. Konvoi kapal tongkang yang penuh gundukan batu bara melintas perlahan. Pemandangan ini rutin setiap pagi sampai sore selalu terjadi.

Menyaksikan pemandangan konvoi batu bara yang mengular, hanya satu kalimat yang ada dalam benak saya, Kaltim memang kaya. Isi perut buminya dalam bentuk emas hitam setiap hari dijual ke luar negeri. Entah berapa pundi duit yang sudah dihasilkan.

Ada yang pernah menghitung secara kasar, berapa batu bara yang diekspor keluar Kaltim. Katanya, ada kurang lebih 60-an kapal tongkang yang keluar membawa komoditas ini. Jika dipukul rata, satu angkutan mengangkut 10 ribu metrik ton batu bara, dalam seharinya kurang lebih 600 ribu metrik ton dijual keluar Kaltim.

Dalam setahun, tinggal mengalikan 365 hari dengan 600 ribu metrik ton. Kemudian tinggal dikalikan dengan kurs dolar. Sebesar itulah, kisaran emas hitam milik Kaltim yang terjual. Ini baru satu komoditas, batu bara. Belum lagi berbicara kelapa sawit dan komoditas ekspor lain.

Deskripsi di atas menggambarkan bahwa Kaltim kaya raya. Namun, saya haqqul yaqin bahwa kayanya sumber daya alam, bukan menjadi alasan diumumkannya Kaltim sebagai ibu kota negara yang baru.

Beberapa provinsi di Sumatra dan Papua tidak kalah kaya. Ada faktor penentu lain yang menjadikan Kaltim terpilih sebagai ibu kota negara. Terpilihnya Bumi Etam bukan hitungan satu malam. Perlu kajian bertahun-tahun sebelum diketuk palu. Bappenas perlu kerja lama menghitung maslahat dan mafsadat, sebelum akhirnya mengajukan ke presiden untuk ditentukan.

Ketika mengumumkan Kaltim sebagai provinsi yang dipilih menjadi ibu kota negara pengganti Jakarta, Presiden Joko Widodo mengemukakan alasan-alasan rasional. Jokowi menunjukkan "kesaktian" Kaltim yang tidak dimiliki provinsi lain.

Pertama, risiko bencana minimal. Titik rencana ibu kota tidak memiliki riwayat bencana alam yang besar seperti banjir, gempa, tsunami, dan tanah longsor.

Kedua, lokasi yang sangat strategis. Hampir tepat di tengah wilayah Indonesia. Serta dekat dengan dua kota yang sudah berkembang; Samarinda dan Balikpapan.

Ketiga, infrastruktur sudah relatif lengkap. Dua bandara internasional; Sultan Aji Muhammad Sulaiman Sepinggan Balikpapan dan Aji Pangeran Tumenggung Pranoto Samarinda. Jalan tol Samarinda-Balikpapan penghubung dua kota terbesar Kaltim itu pun siap.

Lalu keempat, ketersediaan lahan 180 ribu hektare. Minimal, keempat faktor tersebut menjadi kartu sakti Kaltim untuk mengalahkan kompetitor dan nominasi provinsi-provinsi lain.

Pendapat lain yang menguatkan, pantasnya Kaltim sebagai ibu kota adalah minimnya potensi konflik sosial. Jarang terjadi konflik terbuka antar-anasir masyarakat. Masyarakatnya plural. Keragaman penduduk hampir mewakili semua suku, ras, dan agama. Kaltim seperti miniatur Indonesia yang masyarakatnya hidup damai.

TETAP MENJADI BALDATUN THAYYIBAH

Negeri Indonesia, dan Kaltim di dalamnya, seperti yang tersurat dalam lirik lagu Kolam Susu-nya Koes Plus, "Orang bilang tanah kita tanah surga." Ya, Kaltim memang seperti kepingan surga karena kekayaan alamnya, kesuburan tanahnya, dan kedamaian penduduknya.

Bisa jadi, Kaltim layak disebut baldatun thayyibah. Sebuah istilah yang termaktub dalam Alquran. Ibnu Katsir menafsirkan kata baldatun thayyibah pada QS Saba': 15, menunjuk kepada karakter negeri yang selalu mendapatkan kenikmatan dan kebahagiaan. Penduduknya diberi kelapangan rezeki, tanam-tanaman dapat tumbuh subur menghasilkan buah-buah. Negeri kita masuk kategori baldatun thayyibah.

Kaltim adalah bagian dari Indonesia. Jantungnya Indonesia -- ibu kota negara-- dengan izin Tuhan, nantinya berada di Kaltim.

Jika takdir memperlihatkan Kaltim menjadi ibu kota negara, semua harus bertanggung jawab, menjadikannya tetap sebagai surga. Jangan sampai ada yang mengubahnya menjadi negeri yang dihukum, seperti Negeri Saba' yang diceritakan dalam Alquran pada ayat yang sama di atas.

Negeri Saba' awalnya adalah negeri yang penuh dengan kebaikan, penuh kenikmatan dan kesuburan tanahnya yang mendatangkan kemakmuran penduduk negerinya. Tetap karena penduduk Negeri Saba' berpaling dari Tuhan, mereka dihukum dengan banjir bandang, serta terpencarnya mereka ke banyak negeri.

Saba' awalnya merupakan negeri yang alamnya baik dan penduduknya pun baik, sehingga mereka pantas menerima kenikmatan berupa negeri yang baik pula. Hingga akhirnya, Saba'  tidak menjadi surga lagi, justru tertimpa bencana akibat ulah penduduk yang menentang ajaran-ajaran dan bersyukur atas nikmat yang diberikan.

Jangan sampai, ketika Kaltim benar-benar menjadi ibu kota negara, penduduknya tidak bersyukur, bahkan menentang Tuhan dengan kemaksiatan. Keberkahan yang awalnya dibukakan untuk seluruh penduduk berubah menjadi bencana dan siksa karena telah mendustakan ayat-ayat kebesaran Tuhan.

Jangan sampai pula, ketika menjadi ibu kota negara, Kaltim juga menjadi ibu kota kemaksiatan dan ibu kota kemungkaran. Na'udzubillah.

Menjaga tetap terbukanya berkah dari lagi dan tetap menjadikan negeri ini "surga" adalah dengan terus bersyukur dalam hati, lisan, dan amal. Jadi, bersyukurlah! (dwi/k16)

loading...

BACA JUGA

Jumat, 08 November 2019 22:02

Sujud di Lapangan Bulu Tangkis

Oleh: Bambang Iswanto Dosen IAIN Samarinda Turnamen bulu tangkis level…

Sabtu, 02 November 2019 21:32

Belajar dari Kepemudaan Rasulullah

Oleh: Bambang Iswanto Dosen IAIN Samarinda Bulan Rabiul Awwal, bulan…

Rabu, 30 Oktober 2019 14:51

Mempersiapkan Destinasi Wisata di Ibu Kota Negara

Oleh Erny Silalahi ASN, travel enthusiast erny.silalahi@uqconnect.edu.au   Hingar bingar…

Rabu, 30 Oktober 2019 09:17

Memperbaharui (Kembali) Komitmen Integritas Kita

Oleh : Dewi Sartika SE MM Peneliti Muda Puslatbang KDOD…

Kamis, 17 Oktober 2019 13:28

Gebyar Pilkada Serentak Tahun 2020

Oleh: Galeh Akbar Tanjung* Pelaksanaan Pilkada serentak untuk pemilihan Bupati…

Rabu, 09 Oktober 2019 12:13

Indonesia yang Lebih Baik

Oleh Alias Candra Dosen IAIN Samarinda dan Wakil Sekretaris Bidang…

Rabu, 09 Oktober 2019 12:11

Potret Produksi Buah-buahan di Mahulu Tahun Lalu

Oleh: Didit Puji Hariyanto Staf Integrasi Pengolahan dan Diseminasi Statistik…

Senin, 07 Oktober 2019 01:19

Sajak Cinta

“Kerinduanku memuncak pada rabbaku Kehidupanku menari diroda hatimu Masihkah kau…

Senin, 07 Oktober 2019 01:16

Greta Thunberg, Anak STM, dan Gerakan Sosial Generasi Z

Muhammad Nizar HidayatStaff pengajar di Program Studi Hubungan Internasional Universitas…

Kamis, 03 Oktober 2019 11:33

Sekolah Inklusi untuk Penyandang Disabilitas

Oleh: Eko Yuniarsih Guru BK SMA 8 Samarinda    …
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.
*