MANAGED BY:
SENIN
28 SEPTEMBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | LIFESTYLE | KALTARA

KOLOM REDAKSI

Senin, 26 Agustus 2019 12:01
Menikmati Operasi Batu Ginjal

Operasi tidak berlangsung lama. Hanya sekitar tiga menit. Semua beres, semua aman, dan semua lancar. Ini disampaikan dr Eddy kepada saya. Pertanda operasi bakal berakhir. Seketika tamasya di fish ball urine berakhir, konsentrasi saya kembali pada persiapan setelah operasi. Layar televisi kembali padam. Proses menarik kembali laser berlangsung baik. Katup tempat masuk laser ditutup. Selesai. 

Pascaoperasi, saya yang masih tergolek di ranjang. Masih harus transit dulu di ruang pascaoperasi berjajar bersama tiga pasien lainnya. Di kiri paling ujung, terbaring Sunaryo, pasien asal Penajam Paser Utara (PPU) yang menjalani operasi prostat. Lalu pasien anak-anak, dan di kiri saya seorang ibu rumah tangga yang menjalani operasi batu ginjal. 

Di tempat transit ini, kondisi pasien dipantau. Lengan pasien dibalut alat pengukur tensi. Sesekali perawat bertanya kondisi kami, apakah ada perasaan mual atau lainnya. “Kalau mual, bilang ya,” ujar perawat mengingatkan. 

Setelah sekitar 30 menit “parkir” di ruang pascaoperasi. Satu demi satu kami dibawa kembali ke ruang rawat inap. Tiba di ruang rawat inap, istri saya menyambut dengan senyum dan tawa. Dia membantu perawat memindahkan saya ke ranjang rawat inap. Saya tidak berdaya membantu kerja mereka berdua. Pasrah. Dari bagian perut hingga kaki saya terasa kaku, berat, dan mati rasa; hanya bagian atas yang masih penuh kesadaran.

Dahaga dan lapar masih harus ditahan dulu, lambung yang ikut terbius tidak menunjukkan ingin diisi dengan minuman dan makanan, yang sejak pukul 05.00 Wita hingga seluruh rangkaian operasi berakhir pukul 16.46 Wita masih berpuasa. Baru pada pukul 20.00 Wita ada isyarat lambung mulai bekerja. Setelah perawat memeriksa, saya dipersilakan minum dan makan. 

Semalam suntuk, istri saya dengan kasih sayang membantu menyuapi makan dan minum. Sejak pukul 22.45 Wita kaki sudah bisa digerakkan, bebas dari bius, tapi organ vital saya masih tersambung dengan kateter dan kantung penampung air kemih. Istri saya meringkuk tertidur di sofa didera dingin pendingin udara. Bila terbangun, dia selalu memberi minum, walau tidak saya minta. 

Halaman:
loading...

BACA JUGA

Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers