MANAGED BY:
SABTU
21 SEPTEMBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

MASKULIN

Senin, 26 Agustus 2019 09:52
Kucing, Anjing, dan Monyet Berisiko Rabies

Kucing Lebih Berbahaya

KUCING: Tak hanya anjing, drh Heru mengatakan hewan lain juga bisa terkontaminasi rabies. Misal, kucing dan monyet. Di antara ketiga hewan tersebut, kucing paling berbahaya. Sebab, populasinya semakin banyak dan dekat dengan lingkungan manusia. (UNSPLASH.COM)

PROKAL.CO, Bagi pencinta anjing dan kucing, selalu jaga kesehatan hewan berbulu tersebut. Jangan sampai terjangkit rabies. Penyakit tersebut dapat membahayakan kesehatan Anda sebagai pemilik. Berikut ulasannya lebih lanjut.

 

SERING juga disebut penyakit anjing gila. Penyakit menular akut yang menyerang susunan saraf ini bisa juga dialami manusia. Saat disambangi di Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kalimantan Timur, Dwi Heru Widyanto menjelaskan, rabies disebabkan virus rabies yang termasuk dalam famili rhabdovirus.

Dia mengatakan, sebagian besar penularan rabies ditransfer melalui gigitan hewan yang positif terinfeksi rabies ke manusia hingga mengalami luka. “Selain itu, penularan bisa terjadi saat liur hewan rabies menetes atau menyerap di luka terbuka, jilatan pada kulit yang lecet, selaput lendir mulut, hidung, mata, anus, dan genitalia,” jelas dokter hewan tersebut.

Rabies merupakan penyakit menular yang sejatinya bisa dicegah dengan perawatan tepat. Anda harus mengenali pajanan gigitan hewan. Sebagian besar kasus rabies pada manusia melibatkan gigitan anjing rabies. Tidak hanya itu, binatang liar seperti rakun dan kelelawar adalah sumber utama paparan.

“Hewan yang berisiko besar terjangkit rabies itu ada kucing, anjing, dan monyet. Tapi, di antara ketiga itu, kucing yang paling berbahaya. Sebab, bisa dilihat di lingkungan, kucing itu hewan yang paling banyak dan dekat dengan masyarakat,” tambahnya.

Gejala pertama rabies sangat mirip dengan flu, termasuk tubuh lemah, demam, sakit kepala yang dapat berlangsung berhari-hari. Beberapa kasus terjadi gatal dan sensasi tidak nyaman pada area bekas gigitan.

“Kondisi ini berkembang menjadi kecemasan, disfungsi otak, kebingungan, dan agitasi. Ketika penyakit berkembang, mungkin akan terjadi delirium, perilaku abnormal, halusinasi, dan insomnia,” ucapnya.

Periode akut akan berakhir antara dua hingga 10 hari. Begitu muncul tanda-tanda klinis, penyakit ini biasanya berakibat fatal. Pencegahan bisa dilakukan dengan pemberian vaksin dan pengobatan khusus untuk mengurangi infeksi dan dampaknya.

“Jika manusia sudah tergigit, segera ke rumah sakit untuk vaksin. Dengan prosedur, anjing harus diobservasi. Jika anjing yang menggigit itu masih hidup, manusia yang tergigit harus ikut tiga rangkaian vaksinasi. Namun, jika anjing itu mati, cukup melakukan sekali vaksin,” paparnya.

Jika kejadian yang tergigit hewan rabies itu benar-benar menimpa Anda, jangan lekas panik. Gunakan air dan alkohol. “Luka bekas gigitan dicuci bersih dengan alkohol. Atau disiram di air mengalir sampai darah dan liurnya hilang. Dalam prosedur idealnya dilakukan terus selama 15 menit,” jelasnya.

Dinas Peternakan dan Kehewanan Provinsi menginformasikan bahwa tiga tahun ini belum ada kasus rabies terlaporkan. Menjadi berita menggembirakan setelah puncak terjangkit rabies pada 2014.

Heru mengimbau kepada semua masyarakat untuk bekerja sama membangun Kalimantan Timur sebagai daerah bebas rabies. Dengan rutin vaksinasi hewan dan segera lapor jika mengetahui keberadaan hewan yang terinfeksi rabies sebelum menularkannya kepada masyarakat. (*/nul*/rdm/k16)

 


BACA JUGA

Senin, 22 Oktober 2012 10:16

Mitra Teras Mantap di Puncak

<div> <div> <strong>BALIKPAPAN</strong> &ndash; Kesebelasan Mitra Teras…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.
*