MANAGED BY:
JUMAT
20 SEPTEMBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

KOLOM REDAKSI

Minggu, 25 Agustus 2019 13:09
Perusda Air Minum atau Perusda Air Mati

PROKAL.CO, CATATAN: MUHAMMAD YODIQ

Siapa yang tidak tahu Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Kencana di Samarinda. Satu-satunya penyedia air bersih milik Pemkot Samarinda, perusahaan daerah (perusda) tersebut sedang berupaya memperluas wilayah layanannya. Bahkan, seluruh kawasan Samarinda ditarget dapat dialiri air bersih. Namun, meski sibuk memperluas jaringan pelayanan, PDAM tampak lalai terhadap pelayanan di perkotaan.

Buktinya, beberapa kawasan masuk dalam zona merah, meskipun terletak di kawasan perkotaan. Di antaranya wilayah M Yamin, Abdul Wahab Sjahranie, Sempaja, Perjuangan, Pramuka, Gerilya, Damanhuri, DI Pandjaitan, Lempake, Sambutan, Makroman, Kampung Pinang, Kadrie Oneng, Palaran, Samarinda Seberang dan Bukuan.

Jelas pemerataan pelayanan belum maksimal. Bagaimana mau memberikan pelayanan hingga ke kawasan pinggiran Kota Tepian. Sedangkan, di kawasan kota saja belum maksimal. Belum lagi, kualitias air naik turun. Kadang jernih namun lebih sering kekuningan. PDAM juga sampai harus mengurangi tekanan aliran air agar dapat mengaliri kawasan Sentosa yang mengalirnya hanya malam hari.

Namun yang saya keluhkan, beberapa kawasan yang semula dialiri lancar kini justru tidak. Terutama di kawasan Abdul Wahab Sjahranie. Setahun lebih tinggal di kawasan itu, baru beberapa bulan belakangan terasa penurunan kualitas pelayanan. Anehnya, penurunan pelayanan tidak begitu saja. Jika awalnya aliran air cukup deras, beberapa bulan belakangan justru alirannya mengecil. Bahkan, air yang keluar tidak jarang sekencang air seni (air kencing).

Padahal, kalau airnya kotor saja tidak masalah, karena masih bisa dimanfaatkan. Jika sebelumnya harus begadang menunggu bak mandi penuh, sekarang airnya justru tidak mengalir dalam 24 jam. Bahkan, bisa lebih. Dampaknya banyak. Piring kotor tak sempat dicuci, pakaian kotor menumpuk dan masih banyak hal yang hanya dapat dibersihkan dengan air jadi terabaikan.

Saya merasa tinggal di kota yang kesulitan pasokan air. Padahal, sumber air PDAM banyak. Termasuk Sungai Mahakam yang airnya sangat melimpah. Teringat masa kecilku “Udah kayak lagu aja”. Tapi memang begitu adanya. Ketika masih hidup di kampung. Dulu, waktu masih duduk di sekolah dasar, sekitar puluhan tahun lalu. Kami di desa kesulitan air.

Meski di desa saya terdapat aliran sungai yang cukup besar, saya dan teman-teman kerap membantu orang tua mengambil air di sungai. Ember dan jirigen jadi media menampung air. Saya harus menenteng air ke rumah yang jaraknya ratusan meter. Jelas pengalaman yang tidak dapat dilupakan. Jika diingat-ingat terkesan lucu bahkan membuat bangga dan bahagia.

Tapi, setelah pindah ke Kota Samarinda, kala itu saya masih duduk di bangku SMP. Saya baru tahu ternyata air diperjualbelikan. Jika berlangganan dengan PDAM, harus membayar biaya bulanan. Sedangkan membeli sama swasta, satu hingga dua drum bisa dihargai Rp 50 ribu. Sudah termasuk biaya antar. Tak heran jika banyak orang memilih berlangganan dengan PDAM.

PDAM adalah perusda milik pemerintah. Selain memiliki fungsi menambah pendapatan asli daerah (PAD) dengan berujung keuntungan, tugas utamanya memberi pelayanan sosial. Meskipun sudah dijalankan, tapi upaya memaksimalkan pelayanan tampak seperti omongan sesaat. Buktinya, warga Samarinda maaih banyak belum menikmati aliran air yang memadai. Meskipun setiap bulan membayar. Kalau sudah seperti ini, jadi bungung mau sebut Perusahaan Daerah Air Minum atau Perusahaan Daerah Air Mati.

loading...

BACA JUGA

Jumat, 19 Oktober 2012 07:14

Sambaliung-Gunung Tabur Bakal Terhubung

<div> <div> <strong>TANJUNG REDEB</strong> - Selain Pembangunan Jembatan Kelay…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.
*