MANAGED BY:
SENIN
24 FEBRUARI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | LIFESTYLE | KALTARA

MANCANEGARA

Sabtu, 24 Agustus 2019 23:13
Ogah Pulang Bus Repatriasi Kembali tanpa Isi
Warga Rohingya

PROKAL.CO, TEKNAF– Lima bus dan sepuluh truk terparkir di depan kamp pengungsian Teknaf, Bangladesh, kemarin (22/8). Sejak pukul 09.00, kendaraan untuk mengangkut pengungsi Rohingya yang akan dipulangkan ke Myanmar itu sudah tiba. Namun, hingga enam jam kemudian, tak ada warga Rohingya yang muncul. Kendaraan-kendaraan tersebut akhirnya terpaksa balik ke Myanmar dalam kondisi kosong.

’’Kami sudah mewawancarai 295 keluarga. Tapi, tak seorang pun menunjukkan minat untuk direpatriasi,’’ jelas Komisioner Pengungsi Bangladesh Mohammad Abul Kalam kepada Agence France-Presse.

Seharusnya, kemarin bus dan truk itu membawa kloter pertama dari 3.450 pengungsi Rohingya yang masuk daftar repatriasi. Kalam menegaskan bahwa kendaraan tersebut akan kembali lagi hari ini. Mereka berharap ada pengungsi yang berubah pikiran dan mau kembali pulang.

Sejatinya, para pengungsi Rohingya itu bukannya tidak mau pulang. Mereka menginginkan jaminan di muka. Yaitu, status kewarganegaraan dan keamanan di Myanmar nanti. Selama ini tak ada hitam di atas putih yang memastikan bahwa status mereka akan dijamin sepenuhnya.

Myanmar tak pernah mengakui Rohingya sebagai penduduk. Mereka dianggap penyusup Bengali. Padahal, mereka sudah tinggal di Rakhine, Myanmar, selama beberapa generasi. Selama itu pula mereka hidup tanpa kewarganegaraan.

’’Pemerintah Myanmar telah memerkosa dan membunuh kami (warga Rohingya, Red), jadi kami butuh keamanan. Tanpa itu, kami tak akan kembali,’’ tegas Nosima, pemimpin pengungsi Rohingya di Teknaf.

Para pengungsi ingin agar ada pembicaraan secara terbuka dengan Myanmar terkait dengan status kewarganegaraan tersebut sebelum mereka dipulangkan. Selama ini pembicaraan soal repatriasi hanya melibatkan petinggi pemerintahan di Myanmar dan Bangladesh. Penduduk Rohingya di pengungsian tidak dilibatkan. Begitu ada keputusan, baru mereka disurvei.

Pemimpin Komunitas Rohingya Jafar Alam mengungkapkan bahwa para pengungsi ketakutan sejak pemerintah mengumumkan proses repatriasi terbaru. Mereka takut bakal dikirim ke kamp untuk para pengungsi dalam negeri jika kembali ke Myanmar, bukannya kembali ke desa mereka di Rakhine.

Bangladesh kecewa berat. Negara yang dipimpin Perdana Menteri Sheikh Hasina itu ingin agar para pengungsi Rohingya bisa pulang ke Myanmar. Dua kali sudah dua negara tersebut bekerja sama untuk merepatriasi para pengungsi, tapi hasilnya gagal total.

Juli lalu PM Hasina bertemu Presiden Tiongkok Xi Jinping. Sebagai sekutu Myanmar, Xi berjanji untuk membantu menyelesaikan krisis pengungsi Rohingya. Dari pertemuan itu, lahirlah rencana repatriasi kali ketiga yang seharusnya berlangsung kemarin. Diplomat Tiongkok dan Myanmar bahkan hadir di kamp pengungsian untuk memantau. Tapi, tak seorang pun pengungsi menunjukkan batang hidungnya.

’’Warga Rohingya ingin mendapatkan semua yang mereka inginkan dengan menjadikan kami (Bangladesh, Red) sebagai sandera,’’ tegas Menteri Luar Negeri Bangladesh A.K. Abdul Momen saat diwawancarai Jamuna TV.

Momen menegaskan bahwa dirinya tidak tahu sampai kapan Bangladesh bisa menerima situasi tersebut. Setiap kali terjadi konflik di Rakhine, Myanmar, Bangladesh selalu menjadi tempat pelarian warga Rohingya.

Jika ditotal, ada lebih dari satu juta warga Rohingya di Bangladesh. Sebagian sudah tinggal selama bertahun-tahun dan beranak pinak. Sebagai salah satu negara termiskin di dunia, beban itu terlalu berat bagi Bangladesh. ’’Saya harap akal sehat akan menang,’’ tegas Momen. (sha/c22/dos)


BACA JUGA

Rabu, 24 Oktober 2012 08:56

Bimtek bagi Pendata NJOP

<div style="text-align: justify;"> <strong>SAMARINDA </strong>&ndash;…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers