MANAGED BY:
MINGGU
23 FEBRUARI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | LIFESTYLE | KALTARA

UTAMA

Sabtu, 24 Agustus 2019 11:56
Akhirnya..!! Pemerkosa 12 Bocah Segera Dikebiri

Hakim PT Jatim Perkuat Putusan PN Mojokerto, Jaksa Siapkan Dokter Eksekutor

ilustrasi

PROKAL.CO, MOJOKERTO – Pemerkosa dan pelaku pelecehan seksual terhadap anak-anak memang harus dihukum seberat mungkin. Apalagi jika korbannya lebih dari satu anak. Keadilan itulah yang ditunjukkan para hakim Pengadilan Tinggi (PT) Jawa Timur dalam kasus yang menjerat M. Aris.

Permohonan banding yang diajukan pria bejat itu ditolak oleh PT. Warga Mangelo Tengah, Sooko, Mojokerto yang ditangkap karena memperkosa sedikitnya 12 bocah itu tetap harus menjalani hukuman penjara selama 12 tahun dan denda Rp 100 juta. Dia juga tetap dihukum pidana tambahan berupa kebiri secara kimia.

Hukuman yang disebut terakhir ini membuat Aris tak akan bisa lagi merasakan ereksi seumur hidupnya. Hukuman kebiri ini menjadi yang pertama di Indonesia sejak terbitnya Perppu 1/2016 tentang Perubahan Kedua UU 23/2002 tentang Perlindungan Anak.

Kejaksaan Negeri Kabupaten Mojokerto menyatakan segera menindaklanjuti putusan PT tersebut. Eksekusi berupa kebiri kimia akan dilakukan oleh tim dokter.

Kajari Kabupaten Mojokerto Rudy Hartono menjelaskan, rencana eksekusi sedang dimatangkan oleh jaksa eksekutor. ’’Saya sudah memerintahkan jaksa eksekutor untuk segera mencari dokter,’’ ungkapnya kepada Jawa Pos Radar Mojokerto. Ia menambahkan, kasus ini telah dinyatakan inkracht karena terpidana tak mengajukan kasasi ke Mahkamah Agung (MA). ’’Putusan PT tepat 8 Agustus lalu,’’ tandas Rudy.

JPU M. Syarief Simatupang menambahkan, pihaknya sudah berkomunikasi dengan sejumlah dokter spesialis. Pihaknya akan mengajukan surat ke Ikatan Dokter Indonesia (IDI). Nantinya, IDI yang akan menunjuk dokter spesialis untuk menjalankan putusan pengadilan tersebut.

Sementara itu, Handoyo, kuasa hukum Aris, mengatakan bahwa pihaknya belum menerima salinan putusan PT tersebut. Sebab, langkah hukum ke pengadilan tinggi dilakukan oleh keluarga Aris. ’’Karena itu, sampai sekarang (kemarin, Red) saya belum tahu,’’ jelasnya. Meski demikian, ia mengkritik sanksi kebiri itu. Menurut dia, hukuman kebiri sangat berat karena harus ditanggung Aris seumur hidup. ’’Menurut saya, cukuplah hukuman badan. Itu sudah sangat berat,’’ jelasnya. Hukuman kebiri, kata Handoyo, tidak manusiawi. ’’Apalagi klien saya itu juga kurang normal. Ada yang beda. Seperti orang sedang nglakoni,’’ katanya.

Total Jalani Penjara 20 Tahun

Selain dikebiri, Aris juga akan menghabiskan sebagian hidupnya di dalam penjara. Sebab, dia dijatuhi hukuman penjara selama 8 tahun atas kasus kedua yang menjeratnya. Kasus kedua itu terjadi pada Oktober 2018. Aris terbukti memperkosa seorang bocah di perumahan Surodinawan, Mojokerto. Dengan tambahan hukuman itu, maka Aris akan menjalani hukuman penjara total selama 20 tahun. Handoyo menegaskan, hukuman penjara 20 tahun itu membuat kliennya menjadi terpidana dengan vonis hukuman maksimal.

Hakim menilai Aris memiliki perilaku yang kejam, keji, dan tak manusiawi. Sebelum beraksi, ia selalu memetakan wilayah target. Sebelum memperkosa bocah-bocah itu, biasanya Aris mengajak korbannya ke tempat sepi. Di sanalah yang melampiaskan hasrat bejatnya itu. Dia bahkan pernah berbuat tak senonoh kepada seorang bocah di sebuah masjid.

Vonis 12 tahun yang diberikan hakim PN Mojokerto jauh lebih rendah dibanding tuntutan JPU. Sebelumnya, JPU menuntut hukuman penjara 17 tahun dan denda Rp 100 juta subsidair 6 bulan penjara. Hakim PN Mojokerto Joko Waluyo tak sekali ini memberikan hukuman berat terhadap pelaku pemerkosaan anak. Maret lalu, seorang terdakwa kasus pembunuhan disertai pemerkosaan anak dijatuhi hukuman mati. Padahal, JPU hanya mengajukan tuntutan penjara 15 tahun dan denda Rp 3 miliar subsider 6 bulan. (ron/oni)


BACA JUGA

Minggu, 23 Februari 2020 09:08

Tambang Ilegal Sudah Beraksi Tiga Minggu, Polisi Amankan Tujuh Orang

TENGGARONG- Jaringan terduga penambang ilegal yang diamankan anggota Polsek Loa…

Minggu, 23 Februari 2020 09:06

Begini Cara Kerja Penambang Ilegal, Kumpulkan 700 Metrik Ton, Angkut dengan Kontainer

SALAH satu terduga otak pelaku aktivitas penambangan ilegal berinisial MB…

Minggu, 23 Februari 2020 08:58

Lubang Maut Terus Merenggut Nyawa, Korban Tenggelam Ke-36 di Eks Kolam Tambang

Dari puluhan kasus korban tewas di lubang bekas tambang, baru…

Minggu, 23 Februari 2020 08:57

Gubernur Jadi Dewan Pengarah Badan Otorita IKN

BALIKPAPAN–Pengesahan regulasi pemindahan ibu kota negara (IKN) molor. Sebelumnya, pemerintah…

Minggu, 23 Februari 2020 08:56

Untuk IKN, Pergub Pengendalian Lahan Dinanti

SELAIN Peraturan Presiden (Perpres) Badan Otorita yang mengawal pemindahan ibu…

Minggu, 23 Februari 2020 08:55

Proyek Dikorupsi, Kualitas Jalan Mengecewakan

BONTANG–Lelang yang bermasalah sejak awal, turut memengaruhi kualitas proyek preservasi…

Sabtu, 22 Februari 2020 17:28

Lubang Tambang Makan Korban Lagi, Satu Pemancing Hilang

SAMARINDA - Lubang sisa galian tambang batubara di Samarinda kembali…

Sabtu, 22 Februari 2020 10:45

YAELLAAA...!! Desember, Kunjungan Wisatawan di Kaltim Hanya 62 Orang

SAMARINDA – Badan Pusat Statistik (BPS) Kaltim mencatat kunjungan wisatawan…

Sabtu, 22 Februari 2020 10:20

PGRI dan MPR Minta Mapel Moral Pancasila Dihidupkan Lagi

JAKARTA- Pendidikan Pancasila sudah lama hilang dalam sistem pendidikan nasional…

Jumat, 21 Februari 2020 14:55

Di RUU CLK, Pesangon Masih Jadi Perdebatan

JAKARTA– Pesangon dan upah minimum  (UP) masih jadi perdebatan dalam…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers