MANAGED BY:
SABTU
21 SEPTEMBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

KOLOM PEMBACA

Jumat, 23 Agustus 2019 11:58
MTQ Dulu dan Kini

PROKAL.CO, Oleh: Bambang Iswanto

Dosen IAIN Samarinda

“Gema Musabaqah Tilawatil Quran, Pancaran Ilahi…..” merupakan penggalan awal mars MTQ. Era 80-an, hampir seluruh lapisan masyarakat Indonesia hafal mars tersebut. Jika pun tidak seluruhnya, minimal intro dan potongan awal syairnya.

Orang dewasa, remaja, bahkan anak-anak, akrab dengan lagu ini. Terlebih saat menjelang perhelatan MTQ. TVRI satu-satunya media audio-visual saat itu, menayangkannya berulang-ulang. Tidak ketinggalan pula RRI. Hingga radio-radio non-pemerintah yang turut mengiklankan peristiwa rutin tersebut.

Masyarakat sudah diberi tahu sejak awal tentang kedatangan MTQ. Bukan hanya media massa, umbul-umbul dan spanduk seolah seragam menyambut gegap gempita hajat tersebut. Seluruh jajaran pemerintah dan swasta seakan berlomba menyukseskan penyelenggaraan syiar Alquran ini.

Itu dulu. Beda dengan sekarang. Kehadiran MTQ tidak dirasakan lagi gaung dan gemanya. Tidak ada tayangan iklan di TV, yang menayangkan iklan berulang-ulang. Yang ada hanya serpihan berita kecil. Tenggelam di antara berita artis, berita kepala pemerintahan, dan berita kriminal. Itu pun tersaji saat MTQ sudah usai.

Hampir bisa dipastikan, mayoritas masyarakat belum tahu tentang MTQ, terlebih generasi milenial. Alih-alih hapal mars, bendera, dan logo. Kepanjangan MTQ saja belum tentu banyak yang bisa menjawabnya. Belum lagi jika pertanyaan diteruskan dengan, apa saja yang ada pada penyelenggaraan MTQ.

Coba tanyakan kepada mereka kapan Piala Dunia sepak bola? Negara mana yang menjadi unggulan dan juaranya? Siapa pencetak gol terbanyak? Di negara mana Piala Dunia akan diselenggarakan? Kemungkinan besar mereka bisa menjawab dengan fasih.

Tidak usah pertanyaan yang jauh dari negeri sendiri. Pertanyaan tentang apa itu pekan olahraga nasional (PON) atau pekan olahraga daerah? Kemungkinan besar mereka bisa menjawab dengan fasih. Begitupun jawaban atas event olahraga yang lebih luas seperti SEA Games, Asian Games, dan olimpiade.

Fakta yang paradoks. MTQ sebagai representasi perlombaan yang berdimensi spiritual, ketika disandingkan dengan perlombaan-perlombaan olahraga yang berdimensi fisik dan raga, berjalan tidak seiring. Perlombaan olahraga memiliki gaung yang lebih besar, meriah, dan semarak. Di sisi lain, MTQ seperti tidak bergaung sama sekali. Perbedaannya seperti langit dan sumur.

Yang tahu tentang MTQ hanya panitia, peserta, dewan juri, dan masyarakat seputar arena. Masyarakat luas banyak yang belum tahu perlombaan apa saja yang disajikan. Bagi sebagian yang sudah kenal MTQ, lomba yang ada hanya lomba membaca Alquran dengan berlagu.

Padahal, banyak cabang lomba lain seperti halnya event olahraga umumnya. Jika di pekan olahraga ada renang dengan segala mata cabangnya, atau lari dengan pecahan cabangnya, dan sebagainya, di MTQ, tidak hanya perlombaan membaca Alquran dengan jenis cabangnya. Ada lomba menghafalkan Alquran, menafsirkan Alquran bahasa Indonesia, Arab dan Inggris. Juga mensyarahkan Alquran, menulis indah ayat-ayat Alquran, memahami Alquran, serta menulis makalah tentang kandungan Alquran.

Membandingkan perlombaan fisik dan perlombaan non-fisik, menarik untuk mencari tahu penyebab perbedaan gema dan gaungnya. Serta penyebab MTQ kalah pamor dari lomba olahraga. Apakah karena faktor kurangnya perhatian dan dukungan dari pihak terkait? Atau memang masyarakat tidak tertarik dengan hal yang berkaitan Alquran.

Pertanyaan tentang apakah kurang dukungan dari pihak terkait, jawabannya sangat mungkin iya. Secara kasatmata, terlihat keberpihakan anggaran yang tidak seimbang antara MTQ dan lomba olahraga.

Lomba olahraga anggaran diketuk dengan angka yang jauh melampaui anggaran MTQ. Imbasnya, event olahraga tampak sekali kemeriahannya. Dari sosialisasi sampai pelaksanaan. Iklan mentereng, perbaikan infrastruktur tidak hanya terkait arena, tetapi sekitar arena juga menjadi lahan perbaikan.

Belum lagi berbicara hadiah, honorarium panitia, dan dewan hakim. Angka-angkanya semua di atas MTQ. Wajar bila gema MTQ hanya terdengar samar ditelan pesta olahraga.

Adapun jawaban atas pertanyaan apakah masyarakatnya tidak tertarik dengan Alquran? Sangat mungkin jawabannya juga iya. Memang harus diakui, ada peningkatan kuantitas orang yang mau belajar membaca Alquran. Namun, kuantitas ini tidak seimbang dengan jumlah orang yang tidak mau mempelajari membaca Alquran.

Ini hanya satu aspek terkait dengan ingin mempelajari Alquran yaitu membaca Alquran. Belum dilanjutkan dengan aspek lain yakni, tentang berapa banyak orang yang ingin mengetahui makna kandungan Alquran. Belum lagi pertanyaan yang lebih dalam, berapa banyak orang yang ingin benar-benar mengamalkan Alquran.

Pertanyaan kedua terjawab dengan fenomena yang muncul belakangan. Banyaknya tindakan amoral dan kriminalitas, menunjukkan bahwa masih banyak orang yang tidak tertarik dengan Alquran.

Lebih dari itu, nilai-nilai Alquran tidak dijadikan pegangan hidup. Maraknya seks bebas, korupsi, kejahatan-kejahatan kemanusiaan, dan lain-lain yang melanggar rambu-rambu Alquran menjadi bukti kehadiran Alquran tidak membuat manusia tertarik untuk mempelajarinya. Alquran bahkan ditinggalkan.

Semua sepakat bahwa pembangunan rohani dan jasmani, jiwa dan raga sama-sama penting. Jika disuruh menentukan mana yang lebih penting, semua juga sepakat membangun rohani lebih utama. Tidak ada yang berbeda pendapat bahwa kehancuran sebuah negara bukan karena lemahnya fisik atau raga warganya, tetapi bobroknya moral warganya. Namun, anehnya kenapa pembangunan fisik lebih menjadi prioritas dibanding pembangunan rohani. Wallahu a’lam. (dwi/k16)

 


BACA JUGA

Jumat, 20 September 2019 12:10

Asap dan Insaf

Oleh: Bambang Iswanto Dosen IAIN Samarinda Jadwal penerbangan ke beberapa…

Senin, 16 September 2019 14:15

Kelasnya Kota Keretek

Oleh : M Chairil Anwar Warga Samarinda yang bekerja di…

Senin, 16 September 2019 14:12

KPK di Ambang Kehancuran

Oleh : Adam Setiawan, SH Mahasiswa Program Magister Ilmu Hukum…

Senin, 16 September 2019 14:10

Balikpapan Siap Menjadi Penopang Ibu Kota Negara

Oleh : Noviana Rejeki Statistisi BPS Balikpapan   Presiden Joko…

Senin, 16 September 2019 14:09

Rakyat Menjerit Kenaikan Iuran BPJS

Oleh: Andi Putri Marissa SE Guru Sekolah Swasta di Balikpapan…

Senin, 16 September 2019 14:06

Untung Rugi Kaltim Jadi Ibukota RI

Oleh : Ahmad Syarif Dosen Ekonomi Syariah IAIN Samarinda  …

Jumat, 13 September 2019 22:26

Jenius Ahli Ibadah Itu Telah Pergi

Oleh: Bambang Iswanto Dosen IAIN Samarinda “Saya diberikan kenikmatan oleh…

Senin, 09 September 2019 14:12

Haornas dan Mimpi ke Piala Dunia

INDONESIA sukses menyelenggarakan Asian Games dan Asian Para Games 2018.…

Sabtu, 07 September 2019 10:28

Muharam dan Nikah

Oleh: Bambang Iswanto Dosen IAIN Samarinda Bulan Muharam datang setelah…

Kamis, 05 September 2019 10:38

MTQ dan Hijrah Menuju Perbaikan Tilawatil Quran

Ismail Guru Fikih MAN Insan Cendekia Kabupaten Paser   Musabaqah…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.
*