MANAGED BY:
JUMAT
20 SEPTEMBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

MANCANEGARA

Kamis, 22 Agustus 2019 12:33
Imigran yang Mendarat setelah 19 Hari Terkatung-katung di Laut
Imigran Putus Asa, Coba Bunuh Diri, Nekat Berenang
HANYA SAMPAI GERBANG: Para imigran sempat tertahan di Kapal Open Arms karena tak diperbolehkan berlabuh. Setelah 19 hari, mereka akhirnya diperkenankan menginjakkan kaki di daratan Italia. NEW YORK POST

PROKAL.CO, class="Default">Kapal Open Arms yang membawa 83 imigran diperbolehkan berlabuh di Lampedusa, Italia, Selasa (20/8). Para pencari suaka itu akhirnya menginjakkan kaki di benua harapan.

Pulau Lampedusa, Italia, itu terlihat begitu nyata dan dekat. Jaraknya hanya 275 meter dari Kapal Open Arms. Karang, pantai, dan perbukitannya, bahkan terlihat dengan jelas. Namun, 147 imigran yang diselamatkan kapal milik Spanyol Jumat (2/8) itu tak bisa menjangkaunya. Italia menutup semua pelabuhannya untuk imigran, tak terkecuali di Lampedusa.

Para imigran itu sudah menempuh berkilo-kilo meter dan bertaruh nyawa untuk sampai di Benua Eropa. Ibarat kata, jarak mereka ke Benua Biru itu hanya selemparan batu. Tapi kebijakan Italia membuat impian mereka harus tertunda. Menteri Dalam Negeri Italia Matteo Salvini tak mau mengubah keputusannya.

Selama 19 hari para imigran itu harus hidup dalam keterbatasan dan keputusasaan. Situasi di dalam kapal sangat tak layak. Mereka harus rela tidur berimpit-impitan dengan para imigran lain. Tak ada tempat untuk sekadar berjalan dan merenggangkan kaki. Di dalam kapal itu juga hanya ada dua toilet yang harus dipakai bersama. Antreannya, jangan ditanya. Panjang mengular.

Satu demi satu para imigran itu ambruk. Mereka yang sakit inilah yang boleh dibawa ke daratan. Sabtu (17/8) pemerintah Italia akhirnya memperbolehkan anak-anak dibawa ke daratan. Tapi tidak dengan mereka yang masih sehat. Menunggu tanpa kepastian dan menjalani kehidupan yang monoton selama berhari-hari membuat para imigran itu tertekan dan stres. Beberapa di antaranya sudah menunjukkan tanda-tanda ingin bunuh diri.

Minggu (18/8) lebih dari 10 orang akhirnya memutuskan untuk melemparkan diri ke laut dan berenang ke pantai. Mereka akhirnya ditarik oleh tim penyelamat pantai dan dibawa ke daratan. Hingga akhirnya hanya ada 83 imigran yang tersisa.

''Kami sudah memperingatkan selama berhari-hari bahwa keputusasaan juga memiliki batas,'' cuit pendiri Lembaga Non Pemerintah Proactiva Open Arms Oscar Camps seperti dikutip Al Jazeera terkait para imigran yang memilih berenang ke Lampedusa.

Italia sempat memberi tawaran kepada Proactiva Open Arms. Mereka akan menyediakan kapal untuk membawa para imigran itu ke Spanyol. Namun,  ada syaratnya. Kapal Open Arms harus melepas bendera Spanyol. Tanpa bendera, mereka tidak bisa melakukan misi penyelamatan lagi dan bisa diintervensi siapa saja. Harga tawaran Italia terlalu mahal bagi Open Arms. Karena itu mereka memilih diam dan menunggu.

Penantian mereka berakhir Selasa (20/8) setelah jaksa Italia mengunjungi kapal Open Arms. Kondisi kesehatan dan kebersihan di kapal itu sudah mencapai batas yang mengkhawatirkan. Jaksa  meminta agar Kapal Open Arms diperiksa dan semua imigran di dalamnya diperbolehkan untuk mendarat di Lampedusa.

''Akhirnya, mimpi buruk itu berakhir,'' bunyi pernyataan Proactiva Open Arms seperti dikutip Associated Press. Sebagai gantinya, Kapal Open Arms akan ditahan sementara. Mereka tak mempermasalahkannya.  Mereka juga terancam membayar denda EUR 901 ribu atau setara Rp 14,2 miliar. Itu adalah harga yang harus dibayar untuk misi kemanusiaan yang mereka lakukan.

Saat para imigran di atas kapal menerima kabar tersebut, mereka seakan meledak karena bahagia. Mereka memandang Lampedusa dengan mata berbinar ketika kapal yang membawa mereka menuju pelabuhan. Akhirnya, mereka tiba di benua harapan.

Para imigran itu tidak akan tinggal di Italia. Enam negara Eropa, yaitu Prancis, Jerman, Rumania, Portugal, Spanyol, dan Luxembourg, siap menampung.  Belum diketahui berapa pembagiannya. Yang jelas, sejak awal Spanyol menawarkan diri untuk menampung para imigran yang ditolak Italia itu. Kapal perang Audaz milik Spanyol sudah bertolak dari pangkalan militer Rota di Cadiz menuju Italia. (sitiaisyah/jpg/dwi/k16)

 


BACA JUGA

Kamis, 19 September 2019 12:55

Pemilu Israel, Kubu Petahana Kalah Satu Kursi

Partai Likud dan Kahol Lavan bisa dipaksa membentuk pemerintahan bersama.…

Kamis, 19 September 2019 12:53

Hindari Tragedi, Selandia Baru Batasi Senjata

WELLINGTON–Pemerintah Selandia Baru memenuhi janjinya. Akhir pekan lalu, mereka mengusulkan…

Kamis, 19 September 2019 12:52

Putin Sedot Perhatian pada Pertemuan dengan Iran dan Turki

Pertemuan trilateral di Ankara, Turki, seperti menjadi panggung Vladimir Putin.…

Rabu, 18 September 2019 13:18

Kereta Tergelincir, Pemerintah Enggan Berspekulasi

Kereta penumpang tergelincir di Hong Kong, Selasa (17/9). Pada jam…

Selasa, 17 September 2019 17:12

Tatkala Tangan Menelusup

Para pegulat pehliva ini selalu sukses menarik perhatian khalayak. Lewat…

Selasa, 17 September 2019 17:04

Buntut Serangan Drone Iran, AS Siap Membalas

Amerika Serikat mengklaim ada 19 target yang terdampak serangan. Sementara…

Selasa, 17 September 2019 17:03

Derita Penduduk Jammu dan Kashmir setelah Blokade Sebulan

Sejak otonomi dan status khusus Jammu dan Kashmir dicabut 5…

Selasa, 17 September 2019 17:02

Menabrak Batu, Kapal Terbalik

NEW DELHI – Madhavilatha begitu terpukul. Dia kehilangan suami dan…

Senin, 16 September 2019 15:12

Kabut Asap Serang Malaysia, Pemerintah Liburkan 300 Sekolah

 Pemerintah Malaysia terpaksa meliburkan 300 sekolah di Negara Bagian Johor…

Senin, 16 September 2019 14:34

NGERI..!! Perang Kartel Narkoba, Puluhan Mayat Dibuang di Sumur

MEXICO CITY– Pemerintah Meksiko mengonfirmasi penemuan 44 jenazah di sumur…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.
*