MANAGED BY:
MINGGU
22 SEPTEMBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

UTAMA

Rabu, 21 Agustus 2019 09:28
Kembalikan Kejayaan Lada Kaltim
TERKENAL BERKUALITAS: Pemerintah berusaha mengembalikan kejayaan lada di Kaltim dengan mengembangkan komoditas ini di Loa Janan dan Muara Badak.

PROKAL.CO, SAMARINDA- Perkebunan selalu disebut-sebut menjadi pengganti pertambangan yang saat ini sedang mendominasi ekonomi Kaltim dengan kontribusi 46 persen. Lada menjadi salah satu andalan untuk mendorong kinerja perkebunan bersama kelapa sawit, karet, kakao dan kelapa.

Kepala Bidang Pengembangan Komoditi Dinas Perkebunan Kaltim Bambang F Fatah mengatakan,  sebenarnya seluruh komoditas perkebunan potensial untuk dikembangkan. Komoditi yang memiliki potensi besar selain kelapa sawit adalah komoditi karet, lada, kakao, kelapa dalam, pala, dan aren. “Namun kita saat ini sedang mengembangkan lada di Kaltim,” ujarnya, Selasa (20/8).

Dia menjelaskan, komoditi lada memiliki sejarah di Kaltim. Lada pernah memiliki masa-masa kejayaan pada 1997-1998. Bahkan saking jayanya harga komoditas ini, mencapai Rp 200 ribu per kilogram. Namun sekarang harga lada sudah jauh menurun menjadi Rp 25-60 ribu per kilogram. “Harganya jatuh, ini yang membuat kita fokus mengembangkan lada untuk mengembalikan kejayaan,” ungkapnya.

Dia mengatakan, untuk pengembangan lada dan komoditi yang lain memiliki kendala masing–masing. Tapi untuk fokus mengembalikan kejayaan lada, memang lebih rumit dibandingkan komoditas lain. Lada rentan terserang penyakit tanaman. Namun, jika upaya terus dilakukan pengembangan lada pasti bisa dilakukan.

Dinas Perkebunan Kaltim mencatat, pada 2018, komoditi lada memiliki luas lahan 9.021 hektare di Kaltim. Luas lahan untuk komoditi lada ini menurun dibandingkan 2017 yang mencapai 9.012 hektare. Selain perawatannya yang sulit, komoditas lada juga terkendala lahan. “Banyak lahan lada yang berubah menjadi area tambang,” jelas Bambang.

Menurutnya, ada dua wilayah yang difokuskan mengembangkan lada yaitu Loa Janan dan Muara Badak Kutai Kartanegara. Tapi, pengembangan lada juga sedang di jalankan di daerah Penajam Paser Utara dan Berau. Pada daerah yang difokuskan untuk pengembangan lada, pihaknya melakukan program ekstensi dan rehabilitasi.

Ekstensi merupakan program perluasan lahan komoditi lada, sedangkan untuk rehabilitasi adalah program pemeliharaan untuk tanaman yang sudah tua untuk digantikan, dengan tanaman baru agar tetap berproduksi. “Hambatan lainnya juga tentang pola pikir petani kita. Banyak petani yang memilih menjual lahan mereka untuk dijadikan areal tambang dibandingkan mengembangkan lada,” ungkapnya.

Padahal, tambah Bambang, jika para petani dapat berinovasi maka harga lada dapat menjadi lebih tinggi dari pada harga pasarannya saat ini. Contohnya salah satu petani, namanya pak Ramli di Pesayan, Barau. Dia mengubah lada yang tadinya biji menjadi bubuk dan dipasarkan secara online.

Jika awalnya lada harganya hanya Rp 50 ribu per kilogramnya maka setelah diubah menjadi bubuk dia bisa mendapat hingga Rp 1 juta per kilogram. “Padahal lada kita punya kualitas yang lebih baik dibandingkan daerah lain, sehingga potensinya sangat luar biasa,” tuturnya.

Saat ini pihaknya sedang menunggu untuk mendapatkan sertifikat indikasi geografis untuk lada. Indikasi geografis merupakan suatu tanda yang menunjukkan daerah asal, suatu komoditas karena faktor lingkungan geografis termasuk faktor alam, faktor manusia atau kombinasi dari kedua faktor tersebut memberikan reputasi, kualitas, dan karakteristik tertentu pada komoditas yang dihasilkan.

Sertifikasi itu bisa membuat lada terjual dengan lebih baik. “Harga saat ini masih Rp 25-60 ribu, jika sudah mendapatkan sertifikat indikasi geografis maka harga bisa meningkat menjadi Rp 100 ribu,” pungkasnya. (*/elf/ctr/ndu)


BACA JUGA

Sabtu, 21 September 2019 11:45

Dilumpuhkan setelah Kejar-kejaran

SAMARINDA–Penyelundupan narkoba di Samarinda masuk radar Badan Narkotika Nasional (BNN)…

Sabtu, 21 September 2019 11:40

Ketika Ribuan Mahasiswa Menyuarakan Penolakan RUU KUHP dan UU KPK

Keprihatinan yang sama terhadap isu RUU KUHP dan UU KPK…

Sabtu, 21 September 2019 11:28

Jalan Ibu Kota Negara Dibagi Lima Zona

Ada banyak alasan mengapa kereta dipilih dibanding moda transportasi lain.…

Sabtu, 21 September 2019 11:27

Ancam Kebebasan Berekspresi, Banyak Masalah di RKUHP

BALIKPAPAN- Rancangan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (RKUHP) masih menjadi sorotan.…

Sabtu, 21 September 2019 11:26
RUU KUHP Hanya Ditunda, Bukan Dibatalkan

Jokowi Minta 14 Pasal RUU KUHP Dikaji Ulang

JAKARTA– Makin tingginya gelombang penolakan pada Rancangan Undang-Undang Kitab Undang-Undang…

Jumat, 20 September 2019 12:13

Walhi Yakin Korporasi Terlibat Karhutla

SAMARINDA–Dugaan lahan dibakar untuk kepentingan perkebunan menguat. Kebun sawit diindikasikan…

Jumat, 20 September 2019 11:39

Pembangunan Jalan Perbatasan Kaltim-Kaltara Sudah Tembus..!! Tapi...

BALIKPAPAN- Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) secara bertahap…

Jumat, 20 September 2019 11:11

YESSS..!! Transportasi IKN: Kereta Tanpa Awak dan Rel

Semenjak penetapan ibu kota negara (IKN) di Kaltim, kementerian satu…

Jumat, 20 September 2019 11:10

Beri Tenggat hingga Akhir Bulan

BALIKPAPAN–Rencana pemindahan ibu kota negara (IKN) ke Kaltim tampaknya hanya…

Jumat, 20 September 2019 11:09

19 Hari, 36 Kasus Karhutla di PPU

KEBAKARAN hutan dan lahan (karhutla) masih mengancam Kabupaten Penajam Paser…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.
*