MANAGED BY:
JUMAT
15 NOVEMBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | LIFESTYLE | KALTARA

UTAMA

Rabu, 21 Agustus 2019 09:28
Kembalikan Kejayaan Lada Kaltim
TERKENAL BERKUALITAS: Pemerintah berusaha mengembalikan kejayaan lada di Kaltim dengan mengembangkan komoditas ini di Loa Janan dan Muara Badak.

PROKAL.CO, SAMARINDA- Perkebunan selalu disebut-sebut menjadi pengganti pertambangan yang saat ini sedang mendominasi ekonomi Kaltim dengan kontribusi 46 persen. Lada menjadi salah satu andalan untuk mendorong kinerja perkebunan bersama kelapa sawit, karet, kakao dan kelapa.

Kepala Bidang Pengembangan Komoditi Dinas Perkebunan Kaltim Bambang F Fatah mengatakan,  sebenarnya seluruh komoditas perkebunan potensial untuk dikembangkan. Komoditi yang memiliki potensi besar selain kelapa sawit adalah komoditi karet, lada, kakao, kelapa dalam, pala, dan aren. “Namun kita saat ini sedang mengembangkan lada di Kaltim,” ujarnya, Selasa (20/8).

Dia menjelaskan, komoditi lada memiliki sejarah di Kaltim. Lada pernah memiliki masa-masa kejayaan pada 1997-1998. Bahkan saking jayanya harga komoditas ini, mencapai Rp 200 ribu per kilogram. Namun sekarang harga lada sudah jauh menurun menjadi Rp 25-60 ribu per kilogram. “Harganya jatuh, ini yang membuat kita fokus mengembangkan lada untuk mengembalikan kejayaan,” ungkapnya.

Dia mengatakan, untuk pengembangan lada dan komoditi yang lain memiliki kendala masing–masing. Tapi untuk fokus mengembalikan kejayaan lada, memang lebih rumit dibandingkan komoditas lain. Lada rentan terserang penyakit tanaman. Namun, jika upaya terus dilakukan pengembangan lada pasti bisa dilakukan.

Dinas Perkebunan Kaltim mencatat, pada 2018, komoditi lada memiliki luas lahan 9.021 hektare di Kaltim. Luas lahan untuk komoditi lada ini menurun dibandingkan 2017 yang mencapai 9.012 hektare. Selain perawatannya yang sulit, komoditas lada juga terkendala lahan. “Banyak lahan lada yang berubah menjadi area tambang,” jelas Bambang.

Menurutnya, ada dua wilayah yang difokuskan mengembangkan lada yaitu Loa Janan dan Muara Badak Kutai Kartanegara. Tapi, pengembangan lada juga sedang di jalankan di daerah Penajam Paser Utara dan Berau. Pada daerah yang difokuskan untuk pengembangan lada, pihaknya melakukan program ekstensi dan rehabilitasi.

Ekstensi merupakan program perluasan lahan komoditi lada, sedangkan untuk rehabilitasi adalah program pemeliharaan untuk tanaman yang sudah tua untuk digantikan, dengan tanaman baru agar tetap berproduksi. “Hambatan lainnya juga tentang pola pikir petani kita. Banyak petani yang memilih menjual lahan mereka untuk dijadikan areal tambang dibandingkan mengembangkan lada,” ungkapnya.

Padahal, tambah Bambang, jika para petani dapat berinovasi maka harga lada dapat menjadi lebih tinggi dari pada harga pasarannya saat ini. Contohnya salah satu petani, namanya pak Ramli di Pesayan, Barau. Dia mengubah lada yang tadinya biji menjadi bubuk dan dipasarkan secara online.

Jika awalnya lada harganya hanya Rp 50 ribu per kilogramnya maka setelah diubah menjadi bubuk dia bisa mendapat hingga Rp 1 juta per kilogram. “Padahal lada kita punya kualitas yang lebih baik dibandingkan daerah lain, sehingga potensinya sangat luar biasa,” tuturnya.

Saat ini pihaknya sedang menunggu untuk mendapatkan sertifikat indikasi geografis untuk lada. Indikasi geografis merupakan suatu tanda yang menunjukkan daerah asal, suatu komoditas karena faktor lingkungan geografis termasuk faktor alam, faktor manusia atau kombinasi dari kedua faktor tersebut memberikan reputasi, kualitas, dan karakteristik tertentu pada komoditas yang dihasilkan.

Sertifikasi itu bisa membuat lada terjual dengan lebih baik. “Harga saat ini masih Rp 25-60 ribu, jika sudah mendapatkan sertifikat indikasi geografis maka harga bisa meningkat menjadi Rp 100 ribu,” pungkasnya. (*/elf/ctr/ndu)


BACA JUGA

Jumat, 15 November 2019 13:12

Tahun Depan, Ngga Lulus Sertifikasi, Ngga Bisa Nikah

JAKARTA– Bagi anda yang berencana menikah tahun depan, bersiaplah untuk…

Jumat, 15 November 2019 09:55

Gempa Membuat Masyarakat Bali Panik

JAKARTA– Warga penghuni pulau Bali sebelah utara dan barat dikagetkan…

Jumat, 15 November 2019 09:48

Kementerian Inilah yang Pindah Pertama Kali ke IKN di Kaltim

 JAKARTA- Menteri PUPR Basuki Hadimuljono menjanjikan bahwa kementeriannya akan menjadi…

Jumat, 15 November 2019 09:44

Teroris Medan Terpapar Istri yang Intens Temui Napiter

JAKARTA— Densus 88 Anti Teror menemukan fakta baru terkait RMN,…

Kamis, 14 November 2019 12:38

Otak Penyulingan Minyak Ilegal Masih Berkeliaran

Memanfaatkan lahan kosong dan tak jauh dari perusahaan tambang, lokasi…

Kamis, 14 November 2019 12:26
Sidang Kayat, Hakim PN Balikpapan yang di-OTT KPK

Hakim Non Aktif Itu Tolak Sertifikat Tanah, Maunya Uang Tunai

SAMARINDA–Lahan seluas 7,6 hektare di Km 8, Transad, Balikpapan Utara,…

Kamis, 14 November 2019 12:19

Terapkan Nontunai di Tol Balsam, Lima Bank Digandeng

BALIKPAPAN–Gerbang Tol Balikpapan-Samarinda (Balsam) dipastikan dilayani tanpa petugas. Setiap…

Kamis, 14 November 2019 12:05

Venesia, Kota Terapung yang Makin Tenggelam

Acqua alta kembali menghanyutkan seluruh permukaan Kota Venesia, Italia, Selasa…

Kamis, 14 November 2019 11:19

ALAMAK..!! Hutang BPJS Kesehatan Kian Menumpuk

JAKARTA – Utang BPJS Kesehatan kepada rumah sakit tak tanggung-tanggun.…

Kamis, 14 November 2019 11:12

Draft Perpres Rampung, Semua Kalangan Bisa Terima Kartu Prakerja

JAKARTA– Tak ada syarat khusus untuk menerima kartu prakerja. Hanya…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.
*