MANAGED BY:
SELASA
17 SEPTEMBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

UTAMA

Selasa, 20 Agustus 2019 11:42
Sarkowi dan Rusman Bicara Ibu Kota (2-Habis)
Jangan Tiru Jakarta

PROKAL.CO, CATATAN

Syafril Teha Noer

 

JADILAH ibu kota. Belajarlah dengan Jakarta. Tapi jangan tiru Jakarta. Jakarta telah meminggirkan Betawi sebagai entitas seni-budaya. Penampilan Betawi di panggung-panggung keseniannya lebih mirip seremoni, ketimbang ekspresi kecintaan murni pada khasanah lokal.

Kelompok-kelompok kesenian Betawi terus terpepet ke pinggir-pinggir. Bertahan dengan sisa-sisa kemampuan. Oleh rata-rata orang tua. Dengan perlengkapan yang sama tuanya. Sesekali dipestakan. Dipekankan. Tetapi lebih sebagai bahan nostalgia, atau proforma pembuktian komitmen pada seni-budaya.

Ke-Betawi-an tak dapat tempat di sekolah-sekolah. Sebagai muatan lokal yang diajar dan dilatihkan. Dari dan dengan apa ia mendapat pengawetan. Dari dan dengan apa ia menjalani proses pewarisan lintas generasi.

Ini pendapat Rusman Yaqub, anggota DPRD Kalimantan Timur, saat ditemui sebagian pengurus Dewan Kesenian Kalimantan Timur di kantornya, beberapa hari lalu. Pertemuan itu mengobrolkan banyak hal. Termasuk kemungkinan provinsi ini menjadi pusat kendali pemerintahan negara.

Sebelum Rusman, keterpinggiran Betawi sebagai identitas lokal itu diakui sejarawan JJ Rizal. Berbicara dalam tayangan sebuah stasiun televisi, pada refleksi hari jadi ke-492 Jakarta, 22 Juni 2019, dia mencontohkan nasib ondel-ondel.

Ondel-ondel adalah “boneka” raksasa yang dibuat dari rangka bilah bambu. Sepasang. Laki-laki dan perempuan. Populer sebagai penanda warna Jakarta. Saya kerap menontonnya, saat masih bocah, di Kampung Johar, Jakarta. Pada musim peringatan Proklamasi Kemerdekaan seperti hari-hari ini, ondel-ondel selalu meramaikan pawai. Anak-anak mengerumuninya.

Pada mulanya ondel-ondel adalah elemen ritual tolak bala. Dilaksanakan di tiap hajatan Betawi. Tampil lewat gerak-gerak tertentu, berputar-putar, menari ditingkah seperangkat musik – Betawi banget. Namun, kini, ondel-ondel alangkah papa. Lebih kerap tampil di jalan-jalan Jakarta. Dibawakan untuk ngamen.

Anda akan mudah menemukannya. Umpamanya di Jalan Cikini Raya, di depan Taman Ismail Marzuki. Sementara kedua ondel-ondel berjalan sambil nandak, beberapa pendukungnya menyorong-nyorong kaleng atau tabung plastik bekas penampung cat kepada orang-orang di trotoar, atau pengendara mobil di jalan – meminta recehan.

Gambang kromong yang mirip keroncong, atau tanjidor, atau teater tradisi lenong, dan topeng Betawi telah sulit dicari. Jakarta seolah bukan lagi habitat bagi keanekaan kekayaannya sendiri. Terpepet semisal ke Depok atau Bekasi, Jawa Barat --yang secara kultural adalah wilayah seni-budaya Sunda.

Pelestarian seni-budaya Betawi pernah diupayakan Pemerintah DKI Jakarta, saat masih dipimpin gubernur legendaris, Ali Sadikin. Wujudnya adalah sebuah cagar budaya di Condet. Namun, tiga puluh tahun sejak dibangun, 1974, status (sebagai cagar budaya) itu dicabut.

Condet kemudian digantikan perkampungan dengan tiga ribu jiwa, yang seluruhnya warga berdarah Betawi. Namanya Perkampungan Setu Babakan. Dibangun di Jagakarsa, Jakarta Selatan, tahun 2004. Setu Babakan juga dirancang untuk pelestarian. Dibuka tiap pukul 07.00 WIB hingga 18.00 WIB di sana ke-Betawi-an hadir lewat kesenian, adat istiadat, kuliner, pakaian, sastra, hingga arsitektur.

Namun, satu Setu Babakan, terlokalisasi pula, agaknya tak sanggup memupus masygul. Para seniman ondel-ondel se-Jabodetabek nyatanya mengeluhkan keterjepitan khasanah seni-budaya Betawi di tengah modernitas metropolitan Jakarta.

Ketersisihan seni-budaya Betawi pun tergambar pada tipisnya alokasi dana bantuan. Untuk program kegiatan Lembaga Kebudayaan Betawi, konon, hanya tersedia Rp 300-an juta setahun. Jauh dari cukup.

Tak banyak yang tahu, akar bahasa Betawi adalah Melayu juga. Melayu dialek Betawi tak lagi digunakan orang Betawi thok. Sudah rasuk ke dalam pergaulan warga ibu kota dari mana pun asal-muasal mereka. Sayang, popularitasnya tak diikuti produk kesenian lokal, yang gagal menembusi sekat-sekat sentimen etnik.

Lagu Seroja, yang khas Melayu itu, adalah ciptaan Husein Bawafi  --orang Betawi. Juga Halimun Malam ciptaan Abdul Cholik. Kerap diperdengarkan di Malaysia. Seroja, berarti teratai hutan. Ritme dan cengkoknya bukan Melayu Deli, bukan pula Melayu Semenanjung, apalagi India. Lebih dekat ke Ampar-Ampar Pisang dan Amas Panghira yang ngetop di Kalimantan.

Sejak 1930-an, Betawi sudah diperhitungkan dalam pergaulan lintas negeri. Pangeran Johor, Malaysia, mencipta lagu berjudul Jakarta Gembira. Sekarang, Jakarta Gembira tenggelam oleh Semalam di Malaysia.

“Bukan tidak mungkin, khasanah yang berurat-berakar di Kalimantan Timur akan mengalami nasib yang sama,” kata Rusman. Malah, tanpa perlu menunggu jadi ibu kota, sekarang saja gelagatnya sudah kelihatan. Nyata.

Di Berau ada Bedewa. Di Paser ada Nalau. Sama-sama seni pertunjukan tradisi. Tapi sudah sama-sama sulit ditemukan. Mencari pelaku sastra lisan Tarsul, Madihin, atau Mamanda, sekadar contoh, setali tiga uang. Hanya tersisa beberapa. “Ini urusan serius, lho,” tekan ketua Komisi IV DPRD Kaltim itu.

Sebagai ibu kota, jika jadi, Kalimantan Timur akan jadi etalase bagi keragaman seni-budaya Nusantara, bahkan bangsa-bangsa. Sastra, musik, tari, teater, atau apapun seni berbasis tradisi di sekujur negeri akan mencari panggung-panggung sajinya di sini.

Ditambah seni-hiburan pop yang bakal kian merambah, eksistensi ragam khasanah lokal Kalimantan Timur sangat mungkin menghadapi “ancaman” tak sepele. Ada banyak kursus musik. Dari gitar, biola, piano, sampai drum. Tapi di manakah anak-anak Kalimantan Timur kursus Gambus Kutai, Sampeq, Telintanq, Gemer/gimar, Gening, Jatung Adau, Jatung Utang, Kedire, Kelentangan, dan sebagainya itu?

Sementara itu, seni-pop hiburan impor merambah dan membentuk cita rasa dan orientasi, di manakah anak-anak Kalimantan Timur berlatih tari Gantar yang berjenis-jenis, Kancet Ledo, Kancet Punan Letto, Kancet Papatai, Leleng, Hudoq, Enggang, Jepen, Belian Bawo, dan seterusnya itu? “Kita ini kontradiktif,” tambahnya.

Kesenian diakui penting dalam pembentukan karakter dan perilaku. Penting sebagai penyangga ketahanan budaya. Tetapi baru penting dalam jargon. Belum dalam kebijakan pemerintahan.

Sejawat Rusman dari Fraksi Golkar, Sarkowi V Zahry, berkata, “Dengan peran demikian, kebijakan terhadap kesenian dan kebudayaan mestinya sama dengan kebijakan terhadap pertahanan dan keamanan”. Anggaran memadai bagi kesenian mestinya adalah keniscayaan. Nyatanya, oleh berbagai kondisi dan dalih, masih serba minimal. Pentingnya kesenian tak terbaca dalam kebijakan penganggaran.

Ragam kesenian lokal sebenarnya bisa jadi muatan lokal di sekolah-sekolah, atau materi ekstrakurikuler yang secara serius ditangani. Pelatih-pelatihnya disediakan dan digaji secara layak. Fasilitasnya disiapkan – juga secara layak. Dana penunjangnya disediakan secara cukup. “Pekerjaan siapa ini? Ya pekerjaan kita! Pekerjaan orang-orang Kalimantan Timur. Pemerintah dan masyarakat keseniannya,” tandas Rusman.

Provinsi dengan kekhasan lokal yang kuat bukanlah hal mustahil. Jogjakarta dan Bali, contohnya. Ramah bagi banyak bentuk ekspresi kesenian nonlokal, namun tetap tampil dalam kekuatan penuh lokalitasnya.

Tempulu menghasratkan Kalimantan Timur yang berdaulat, agaknya sekaranglah saat mewujudkan “daulat” itu juga dalam seni-budaya tempatan secara lebih konkret. Mumpung belum terperangkap nasib Jakarta. Mumpung belum jadi ibu kota. (***/rom/k16)

 

Penulis adalah ketua Dewan Redaksi Kaltim Post

loading...

BACA JUGA

Senin, 16 September 2019 20:53

Laksanakan Salat Istisqa, Staff dan Komunitas Bandara APT Pranoto Juga Ajak Masyarakat Tak Bakar Lahan

PROKAL.CO, SAMARINDA - Pimpinan dan staff serta Anggota Komunitas Bandara…

Senin, 16 September 2019 20:51

Gubernur Isran Luncurkan Beasiswa Kaltim Tuntas, yang Dapat Ribuan....

PROKAL.CO, SAMARINDA - Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur luncurkan program Beasiswa…

Senin, 16 September 2019 13:39

CELAKA WAL..!!! Angin Mengarah ke Kaltim, BMKG Prediksi Kabut Asap Makin Tebal

PROKAL.CO, SAMARINDA - Wakil Gubernur Kaltim Hadi Mulyadi menghimbau masyarakat…

Senin, 16 September 2019 13:27

Ada Agenda Terselubung di Balik Revisi UU KPK

BALIKPAPAN–Rancangan Undang-undang (RUU) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dianggap mengancam…

Senin, 16 September 2019 13:26
Cegah Spekulan Tanah di Lokasi Ibu Kota Negara

Moratorium Sementara Penerbitan SKT

PENAJAM- Ibu kota negara pindah ke Kaltim. Pemkab Penajam Paser…

Senin, 16 September 2019 13:24

333 Hektare Lahan Gambut Terbakar di Paser dan PPU

KABUT asap yang mengepung langit Kaltim tidak hanya berasal dari…

Senin, 16 September 2019 13:21

Belum Ada Jaminan Penerbangan Kembali Normal

BALIKPAPAN–Lalu lintas penerbangan di Kaltim nyaris lumpuh. Gempuran kabut asap…

Senin, 16 September 2019 13:11
Thareq Kemal Habibie Tak Mau Berkarir di Bawah Bayangan Bapak

Dikira Pebisnis, padahal PNS Merangkap Chef Lulusan Jerman

Penampilan serbahitam dengan penutup mata membuat sosoknya terlihat misterius. Mirip…

Senin, 16 September 2019 11:46

MENCURIGAKENNN..!! Pembahasan Revisi UU KPK Masih Tertutup

JAKARTA– Keputusan tiga pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menyerahkan mandat…

Senin, 16 September 2019 01:19

Kabut Asap Ganggu Penerbangan, Kemenhub Minta Pengguna Jasa Transportasi Udara Sabarrrr.....

JAKARTA- Direktorat Jenderal Perhubungan Udara, Kementerian Perhubungan (Kemenhub) mengimbau seluruh…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.
*