MANAGED BY:
SELASA
19 NOVEMBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | LIFESTYLE | KALTARA

LIFESTYLE

Senin, 19 Agustus 2019 10:14
Kenali Fear of Missing Out, Gelisah Berujung Depresi jika Tak Akses Media Sosial
KONTEN: Pengguna medsos yang aktif cenderung memikirkan konten yang harus diperlihatkan. Mendapat reward dari pengguna lain membuatnya senang dan melakukan hal itu berulang. (DIGITALMARKETINGINSTITUTE.COM)

PROKAL.CO, Ponsel pintar telah menjadi kebutuhan. Semua informasi dapat diakses secara mudah dan cepat. Akhirnya timbul istilah fear of missing out (FoMO). Sering mengakses media sosial, semua orang berpotensi mengalami FoMO. Sebenarnya, kondisi seperti apakah itu? Berikut ulasannya.

 

PSIKOLOG klinis Ayunda Ramadhani menyampaikan, FoMO adalah kondisi saat seseorang merasa gelisah ketika tidak bisa mengakses media sosial dan takut kehilangan momen. Meski istilahnya menggunakan kata “fear” yang jika diterjemahkan ke bahasa Indonesia adalah takut, perasaan paling kentara terlihat adalah kecemasan.

FoMO mulai tren sejak lima tahun terakhir. Masih berhubungan kuat dengan nomophobia atau no-mobile phone phobia. Menurut penelitian, menghabiskan lima jam bermain ponsel telah disebut nomophobia. Merupakan ketakutan tak bisa mengakses jaringan internet. Bisa karena kehabisan baterai atau susah mendapatkan sinyal. Membuat seseorang ketinggalan informasi.

“Cenderung terbiasa dengan ponsel yang selalu aktif akan membuat orang mengalami kegelisahan ketika ponselnya mati. FoMO bisa dikatakan sebagai kondisi klinis tertentu. Tak disebut gangguan karena secara resmi belum masuk pedoman gangguan jiwa,” ungkap dosen Psikologi Unmul itu.

Menurut Ayunda, FoMO masih dikatakan sebagai fenomena saat internet menjadi kebutuhan utama. Untuk mengetahui lebih lanjut seberapa parah kegelisahan seseorang terhadap media sosial, Ayunda menganjurkan untuk bertemu lebih dulu dengan profesional. FoMO banyak dialami remaja mulai usia 15–20 tahun lebih. Sebagaimana diketahui, momen remaja adalah mencari jati diri sehingga cenderung ingin mendapat pengakuan dan lebih dikenal.

“Kecanggihan teknologi saat ini membuat remaja beralih ke internet untuk membentuk identitas diri. Lebih dimudahkan. Mereka bisa menampilkan citra positif atau negatif. Dari apa yang diunggah, akan ada komentar atau likes di akun mereka dan menjadi reward. Hormon dopamin pun muncul. Reward berulang, membuat perilaku juga diulang,” imbuh perempuan 34 tahun itu.

Dalam kadar tidak normal, kegelisahan itu muncul. Pada jangka waktu tertentu, seseorang terus mengecek media sosial. FoMO juga bisa mengarah pada hal-hal serius seperti depresi. Kecenderungan untuk selalu mengecek respons yang didapat dari unggahan, membuat seseorang memiliki ekspektasi lebih.

Ketika respons tak sesuai harapan, depresi rentan terjadi. Itu sering tidak disadari. Seseorang menganggap, semua akan menyukai dirinya. Walhasil, tidak siap menghadapi hujatan atau cacian. Dari depresi, percobaan bunuh diri rentan dilakukan.

Sejauh ini belum ada standar yang menyatakan seberapa tinggi keparahan FoMO. Semua hanya dilihat berdasar keparahan gejala, psikolog akan mengategorikannya. Ditegaskan Ayunda, FoMO adalah fenomena dan tak serta-merta kegelisahan seseorang bisa dinilai dengan mudah. Sebab, semua orang pasti mengakses internet.

Jika sudah parah sekali, biasanya akan berdampak dan mengganggu kehidupan sehari-hari. Di antara lain tak mau beraktivitas, kehilangan nafsu makan, dan menghindari orang sekitar. Cenderung memilih berada di rumah dan memainkan ponsel.

Demi menghindari FoMO, harus dilakukan manajemen waktu. Penggunaan gawai mesti dibatasi dengan paksa. FoMO bisa teratasi jika seseorang tahu prioritas. Contoh, dalam sehari bisa membuat jadwal apa saja yang mesti dilakukan. Jadi, waktu untuk mengecek ponsel menjadi lebih sedikit dan tak mudah membuat pikiran terdistraksi.

“Tak bisa dimungkiri, ponsel itu sudah jadi otoritas semua orang. Harus dimulai dari diri sendiri. Bagi yang masih di bawah umur, orangtua harus mengawasi seperti pembatasan wifi atau kata sandi. Pastikan semua terkendali. Batasi mengakses media sosial. Selebihnya ponsel itu harus dimatikan atau letakkan di tempat jauh. Secara psikologis, itu akan membuat malas,” pungkas alumnus Universitas Muhammadiyah Malang itu. (*/ysm*/rdm/k16)

 


BACA JUGA

Senin, 04 November 2019 10:30

Sajian Special Ramen, Paduan Apik Cita Rasa Tiga Negara

Hidangan internasional begitu menggoda. Bercita rasa kaya dan tak biasa…

Senin, 04 November 2019 10:29

Pilih Kuah Sesuai Selera

SALAH SATU penyajian unik terdapat di ramen iga bakar yakni…

Senin, 04 November 2019 10:21

Atasi Ngilu Geraham Bungsu

SEDERHANANYA, perikoronitis adalah kondisi gigi yang meradang hingga menyerang jaringan…

Senin, 04 November 2019 10:20

Gigi Berlebih Bikin Risih

IDEALNYA, seorang dewasa memiliki gigi berjumlah 32 buah. Namun, dalam…

Senin, 28 Oktober 2019 13:43

Nasi Goreng dan Chicken Steak, Hidangan Klasik, Demi-glace Saus Jamur

Siapa yang menolak nasi goreng? Apalagi, ada beragam isian. Ayam…

Senin, 28 Oktober 2019 13:42

Syphon Coffee dan Tahu Cabai Garam

DARI sekian banyak teknik membuat kopi, ada satu teknik bernama…

Senin, 28 Oktober 2019 13:39

Perut Kembung, Sepele tapi Serius

Penyakit satu ini memang sepele. Namun, membawa dampak serius. Apalagi…

Senin, 28 Oktober 2019 13:38

GERD dan IBS, Dua Masalah Pencernaan Anak

ADA dua penyakit pencernaan yang lumayan sering menyerang anak yakni…

Senin, 21 Oktober 2019 11:48

Eka Iskandar Putra, 30 Tahun di Industri Hiburan

Zaman semakin modern. Semua serba digital, berpikir semakin maju, tak…

Senin, 21 Oktober 2019 11:46

Acanthrosis Nigricans, Leher Hitam Tanda Awal Penyakit Bahaya

Leher gelap kerap ditemukan pada orang bertubuh gemuk. Kondisi itu…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.
*