MANAGED BY:
SABTU
21 SEPTEMBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

CELOTEH

Senin, 19 Agustus 2019 10:14
Kenali Fear of Missing Out, Gelisah Berujung Depresi jika Tak Akses Media Sosial
KONTEN: Pengguna medsos yang aktif cenderung memikirkan konten yang harus diperlihatkan. Mendapat reward dari pengguna lain membuatnya senang dan melakukan hal itu berulang. (DIGITALMARKETINGINSTITUTE.COM)

PROKAL.CO, Ponsel pintar telah menjadi kebutuhan. Semua informasi dapat diakses secara mudah dan cepat. Akhirnya timbul istilah fear of missing out (FoMO). Sering mengakses media sosial, semua orang berpotensi mengalami FoMO. Sebenarnya, kondisi seperti apakah itu? Berikut ulasannya.

 

PSIKOLOG klinis Ayunda Ramadhani menyampaikan, FoMO adalah kondisi saat seseorang merasa gelisah ketika tidak bisa mengakses media sosial dan takut kehilangan momen. Meski istilahnya menggunakan kata “fear” yang jika diterjemahkan ke bahasa Indonesia adalah takut, perasaan paling kentara terlihat adalah kecemasan.

FoMO mulai tren sejak lima tahun terakhir. Masih berhubungan kuat dengan nomophobia atau no-mobile phone phobia. Menurut penelitian, menghabiskan lima jam bermain ponsel telah disebut nomophobia. Merupakan ketakutan tak bisa mengakses jaringan internet. Bisa karena kehabisan baterai atau susah mendapatkan sinyal. Membuat seseorang ketinggalan informasi.

“Cenderung terbiasa dengan ponsel yang selalu aktif akan membuat orang mengalami kegelisahan ketika ponselnya mati. FoMO bisa dikatakan sebagai kondisi klinis tertentu. Tak disebut gangguan karena secara resmi belum masuk pedoman gangguan jiwa,” ungkap dosen Psikologi Unmul itu.

Menurut Ayunda, FoMO masih dikatakan sebagai fenomena saat internet menjadi kebutuhan utama. Untuk mengetahui lebih lanjut seberapa parah kegelisahan seseorang terhadap media sosial, Ayunda menganjurkan untuk bertemu lebih dulu dengan profesional. FoMO banyak dialami remaja mulai usia 15–20 tahun lebih. Sebagaimana diketahui, momen remaja adalah mencari jati diri sehingga cenderung ingin mendapat pengakuan dan lebih dikenal.

“Kecanggihan teknologi saat ini membuat remaja beralih ke internet untuk membentuk identitas diri. Lebih dimudahkan. Mereka bisa menampilkan citra positif atau negatif. Dari apa yang diunggah, akan ada komentar atau likes di akun mereka dan menjadi reward. Hormon dopamin pun muncul. Reward berulang, membuat perilaku juga diulang,” imbuh perempuan 34 tahun itu.

Dalam kadar tidak normal, kegelisahan itu muncul. Pada jangka waktu tertentu, seseorang terus mengecek media sosial. FoMO juga bisa mengarah pada hal-hal serius seperti depresi. Kecenderungan untuk selalu mengecek respons yang didapat dari unggahan, membuat seseorang memiliki ekspektasi lebih.

Ketika respons tak sesuai harapan, depresi rentan terjadi. Itu sering tidak disadari. Seseorang menganggap, semua akan menyukai dirinya. Walhasil, tidak siap menghadapi hujatan atau cacian. Dari depresi, percobaan bunuh diri rentan dilakukan.

Sejauh ini belum ada standar yang menyatakan seberapa tinggi keparahan FoMO. Semua hanya dilihat berdasar keparahan gejala, psikolog akan mengategorikannya. Ditegaskan Ayunda, FoMO adalah fenomena dan tak serta-merta kegelisahan seseorang bisa dinilai dengan mudah. Sebab, semua orang pasti mengakses internet.

Jika sudah parah sekali, biasanya akan berdampak dan mengganggu kehidupan sehari-hari. Di antara lain tak mau beraktivitas, kehilangan nafsu makan, dan menghindari orang sekitar. Cenderung memilih berada di rumah dan memainkan ponsel.

Demi menghindari FoMO, harus dilakukan manajemen waktu. Penggunaan gawai mesti dibatasi dengan paksa. FoMO bisa teratasi jika seseorang tahu prioritas. Contoh, dalam sehari bisa membuat jadwal apa saja yang mesti dilakukan. Jadi, waktu untuk mengecek ponsel menjadi lebih sedikit dan tak mudah membuat pikiran terdistraksi.

“Tak bisa dimungkiri, ponsel itu sudah jadi otoritas semua orang. Harus dimulai dari diri sendiri. Bagi yang masih di bawah umur, orangtua harus mengawasi seperti pembatasan wifi atau kata sandi. Pastikan semua terkendali. Batasi mengakses media sosial. Selebihnya ponsel itu harus dimatikan atau letakkan di tempat jauh. Secara psikologis, itu akan membuat malas,” pungkas alumnus Universitas Muhammadiyah Malang itu. (*/ysm*/rdm/k16)

 


BACA JUGA

Senin, 16 September 2019 10:44

Dipuji Tidak Terbang, Dicaci Tidak Tumbang

Ragu melangkah keluar, menghadapi hal yang belum pasti. Semua orang…

Senin, 16 September 2019 10:43

Seimbangkan Dua Kewajiban

JABATAN general manager (GM) tidak pernah dikejar oleh Jenny Marini.…

Senin, 16 September 2019 10:41

Sarkoma Ewing, Kanker Tulang Mematikan

Merupakan momok paling menakutkan bagi masyarakat. Di antara jenis kanker,…

Senin, 16 September 2019 10:39

Sarkoma Ewing Rentan Menyerang Anak-Anak

TERBENTUK dari tumor ganas yang melekat pada tulang atau jaringan…

Senin, 16 September 2019 10:35

Panic Attack, Sering Dikira Serangan Jantung

Serangan cemas yang tiba-tiba serta ada fase puncaknya. Namun akan…

Senin, 16 September 2019 10:34

Tekanan yang Membuat Out of Control, Merasa Akan Segera Mati

TEKANAN yang begitu besar datang menjelang proses penyusunan tesis. Sehingga…

Senin, 16 September 2019 10:19

Crispy Meat Lover Pizza, Renyah Tipis Topping Melimpah

Kehadirannya begitu populer dan jadi favorit. Pernahkah Anda menemukan piza…

Senin, 16 September 2019 10:18

Tempe Gami Penuh Cinta

Oleh: Ananda Ayu Anastashia, warga Samarinda Bahan: 5 buah cabe…

Senin, 16 September 2019 10:16
Roti Gembung Barra dan Iced Chocolate Jelly

Sajian Hitam Serta Es Cokelat Nikmat

JIKA biasanya roti gembung berwarna cokelat kekuningan, di Swiss-Belhotel Borneo,…

Selasa, 10 September 2019 20:47

Si Hijau Spirulina, Turunkan Kolesterol dan Gula Darah

Warnanya khas. Hijau tua pekat. Berasal dari alga atau ganggang…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.
*