MANAGED BY:
SABTU
21 SEPTEMBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

KOLOM PEMBACA

Jumat, 16 Agustus 2019 10:27
Iduladha dan Kemerdekaan

PROKAL.CO, Oleh: Bambang Iswanto

Dosen IAIN Samarinda

Jarak antara Iduladha dengan peringatan kemerdekaan Republik Indonesia tahun ini tidak sampai sepekan. Keduanya terkait dengan peristiwa sejarah. Iduladha erat kaitannya dengan peristiwa sejarah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail. Yang sarat muatan nilai agama yang berdimensi vertikal dan horizontal.

Sedangkan peristiwa kemerdekaan Republik Indonesia erat kaitannya dengan sejarah proklamasi, yang terhubung kuat dengan nilai-nilai pengorbanan dan perjuangan merebut kemerdekaan dari tangan penjajah.

Dua peristiwa sejarah tersebut terhubung dengan jembatan pengorbanan. Peristiwa keagamaan Iduladha adalah cerita tentang pengorbanan Nabi Ibrahim dan keluarganya. Sedangkan kemerdekaan adalah gambaran hasil pengorbanan dan perjuangan bangsa Indonesia. Keduanya juga menarasikan posisi penting kemerdekaan dalam kehidupan.

Iduladha tidak bisa lepas dari kisah pengorbanan hebat Nabi Ibrahim dan putranya, Nabi Ismail. Sangat wajar kehebatan pengorbanan mereka terekam abadi dalam Alquran. Tidak ada yang meragukan pengorbanan Ibrahim.

Ketika Ibrahim diperintah Tuhan mengorbankan anaknya dengan cara disembelih, tidak ada bantahan dan keraguan dalam diri Ibrahim. Anak yang akan dijadikan sembelihan pun bukan anak biasa.

Ismail, merupakan karunia besar Ibrahim yang baru diperoleh setelah berikhtiar dan berdoa dalam kurun waktu yang lama. Dalam usia kurang lebih 86 tahunan, barulah bayi Ismail lahir.

Saat Ismail tumbuh menjadi anak yang saleh dan hebat, yang kehebatannya dilukiskan dalam Alquran sebagai anak yang sangat sabar. Ibrahim berada di puncak kasih sayang dan kebahagiaan memiliki anak, tiba-tiba mendapat perintah menyembelihnya. Perintah datang pada situasi tersulit. Dan Ibrahim berhasil melaksanakannya.

MERDEKA DARI EGO

Kerelaan dan kepatuhan Nabi Ibrahim dan Ismail terhadap perintah Allah, merupakan keberhasilan mereka menjadi manusia-manusia yang merdeka. Merdeka dari ego. Jika Ibrahim dan Ismail masih dikuasi ego, maka tidak akan lahir kepasrahan melaksanakan perintah.

Seandainya Ibrahim merasa menjadi pemilik mutlak anak, atau merasa rugi menyerahkan hidup Ismail, mustahil perintah dijalankan. Atau Ismail, sebagai anak mengiba-iba agar tidak disembelih karena merasa tidak layak dikorbankan, bisa jadi sejarah kurban tidak terjadi. Tetapi faktanya, mereka berhasil menanggalkan ego, meski dalam godaan hebat setan.

Ketika Ibrahim dan Ismail berhasil memerdekakan diri dari ego, saat itulah ujian pengorbanan mereka lulus. Allah menggantikan tubuh Ismail dengan domba sebagai sembelihan. Allah hanya menguji keimanan dan melihat sejauh mana Ibrahim dan Ismail mampu mengatasi ego mereka.

Tidak ada sesembahan kurban jiwa manusia yang dikehendaki Allah. Tidak masuk akal, Tuhan yang menjadikan manusia sebagai ciptaannya yang sempurna menjadi sesembahan.

Makna simbolik yang dapat ditarik dari penyembelihan binatang adalah manusia harus mampu memerdekaan diri dari sifat-sifat kebinatangan dengan membunuh sifat-sifat yang bersemayam dalam diri manusia.

Dalam hal di atas, Imam Al-Ghazali dalam Kitab Kimiya’ as-Sa’aadah, menyebutkan bahwa jika manusia ingin berada di puncak kebahagiaan, ia harus merdeka dan menaklukkan dua nafsu kebinatangan yaitu bahimiyyah (sifat kebinatangan yang jinak) dan subu’iyyah (nafsu kebinatangan yang buas).

Nafsu binatang jinak mendorong manusia untuk melakukan hal yang dapat menyenangkan dirinya. Sifat hedonistik, selalu menuruti nafsu syahwat dan kenikmatan biologis, serakah, kikir, tidak peduli, menghalalkan segala cara untuk meraih kekuasaan dan mendapatkan harta, semua merepresentasi sifat jinak binatang. Sifat ini halus, selalu ingin dituruti tanpa pernah merasa puas.

Sedangkan sifat binatang buas diwakili oleh sifat selalu ingin menyakiti orang lain, memangsa yang lemah, bertindak sewenang-wenang. Sifat ini melahirkan permusuhan, peperangan, kebencian, terorisme, intoleransi, dan seterusnya.

Mengelaborasi apa yang disampaikan oleh Al-Ghazali, Quraisy Shihab memberikan ilustrasi bahwa kedua nafsu tersebut seperti bayi yang menyusu kepada ibunya. Tidak akan pernah berhenti. Jika dihentikan dengan paksa akan menyebabkan bayi menangis.

Tindakan paksa perlu diambil. Si ibu harus tega melepaskan susuan anaknya, meski anak menangis. Tangisan akan berhenti dan si bayi selanjutnya akan tertidur dengan sendirinya karena kenyang.

Begitu pun dengan kehidupan manusia, yang harus mampu memerdekaan diri dari kebergantungan sifat kebinatangan yang dapat membuatnya ketagihan dan nyaman, dengan cara menyembelihnya. Sumber maksiat, malapetaka, disharmonis, terorisme, intoleran, dan sifat-sifat negatif lainnya berasal dari dua sifat kebinatangan yang secara potensial ada pada diri manusia. Tidak ada cara lain untuk mengendalikannya selain dengan membunuh kedua sifat kebinatangan tersebut.

KORBAN MERAIH KEMERDEKAAN

Indonesia merdeka berkat rahmat Allah dan pengorbanan pejuang-pejuang kemerdekaan. Harta, cucuran keringat dan darah, bahkan nyawa rela mereka korbankan untuk mewujudkan Indonesia merdeka dari penjajahan.

Menjajah, membuat orang lain tersiksa, terzalimi, dan menderita juga pengejawantahan dari sifat-sifat kebinatangan yang harus dihilangkan. Menghilangkan sifat kebinatangan yang dilakukan oleh penjajah harus dilakukan dengan jihad mengusir para imperialis tersebut.

Sulit membayangkan kemerdekaan bisa diraih, tanpa pengorbanan para pejuang-pejuang terdahulu. Mereka bertekad mengorbankan yang mereka punya untuk satu tujuan mulia, melawan kezaliman dan kemungkaran yang dilakoni penjajah.

Pengorbanan mereka, dalam konteks agama, bisa dimaknai sebagai jihad melawan kezaliman. Hal ini didasari perasaan cinta terhadap Tanah Air. Lahirlah semangat membela bangsa dan mengusir penjajah. Tidak salah  rasanya, sebagian ulama membuat ungkapan, “Hubbul wathan minal iman (Cinta tanah air sebagian dari iman)”. Di antara banyak indikator perwujudan iman, salah satunya adalah dengan mencintai Tanah Air.

Generasi sekarang, lahir setelah generasi yang mencintai Tanah Air dalam bentuk pengorbanan darah dan jiwa. Wujud cinta Tanah Air, wujud iman kita tidak harus berdarah-darah seperti mereka. Bisa dilakukan dengan berpartisipasi menjadikan Indonesia menjadi negeri yang damai, tetap bersatu, saling menghargai satu sama lain dalam kebhinekaan. (***/dwi)

loading...

BACA JUGA

Jumat, 20 September 2019 12:10

Asap dan Insaf

Oleh: Bambang Iswanto Dosen IAIN Samarinda Jadwal penerbangan ke beberapa…

Senin, 16 September 2019 14:15

Kelasnya Kota Keretek

Oleh : M Chairil Anwar Warga Samarinda yang bekerja di…

Senin, 16 September 2019 14:12

KPK di Ambang Kehancuran

Oleh : Adam Setiawan, SH Mahasiswa Program Magister Ilmu Hukum…

Senin, 16 September 2019 14:10

Balikpapan Siap Menjadi Penopang Ibu Kota Negara

Oleh : Noviana Rejeki Statistisi BPS Balikpapan   Presiden Joko…

Senin, 16 September 2019 14:09

Rakyat Menjerit Kenaikan Iuran BPJS

Oleh: Andi Putri Marissa SE Guru Sekolah Swasta di Balikpapan…

Senin, 16 September 2019 14:06

Untung Rugi Kaltim Jadi Ibukota RI

Oleh : Ahmad Syarif Dosen Ekonomi Syariah IAIN Samarinda  …

Jumat, 13 September 2019 22:26

Jenius Ahli Ibadah Itu Telah Pergi

Oleh: Bambang Iswanto Dosen IAIN Samarinda “Saya diberikan kenikmatan oleh…

Senin, 09 September 2019 14:12

Haornas dan Mimpi ke Piala Dunia

INDONESIA sukses menyelenggarakan Asian Games dan Asian Para Games 2018.…

Sabtu, 07 September 2019 10:28

Muharam dan Nikah

Oleh: Bambang Iswanto Dosen IAIN Samarinda Bulan Muharam datang setelah…

Kamis, 05 September 2019 10:38

MTQ dan Hijrah Menuju Perbaikan Tilawatil Quran

Ismail Guru Fikih MAN Insan Cendekia Kabupaten Paser   Musabaqah…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.
*