MANAGED BY:
RABU
26 FEBRUARI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | LIFESTYLE | KALTARA

KOLOM PEMBACA

Jumat, 16 Agustus 2019 10:27
Iduladha dan Kemerdekaan

PROKAL.CO, Oleh: Bambang Iswanto

Dosen IAIN Samarinda

Jarak antara Iduladha dengan peringatan kemerdekaan Republik Indonesia tahun ini tidak sampai sepekan. Keduanya terkait dengan peristiwa sejarah. Iduladha erat kaitannya dengan peristiwa sejarah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail. Yang sarat muatan nilai agama yang berdimensi vertikal dan horizontal.

Sedangkan peristiwa kemerdekaan Republik Indonesia erat kaitannya dengan sejarah proklamasi, yang terhubung kuat dengan nilai-nilai pengorbanan dan perjuangan merebut kemerdekaan dari tangan penjajah.

Dua peristiwa sejarah tersebut terhubung dengan jembatan pengorbanan. Peristiwa keagamaan Iduladha adalah cerita tentang pengorbanan Nabi Ibrahim dan keluarganya. Sedangkan kemerdekaan adalah gambaran hasil pengorbanan dan perjuangan bangsa Indonesia. Keduanya juga menarasikan posisi penting kemerdekaan dalam kehidupan.

Iduladha tidak bisa lepas dari kisah pengorbanan hebat Nabi Ibrahim dan putranya, Nabi Ismail. Sangat wajar kehebatan pengorbanan mereka terekam abadi dalam Alquran. Tidak ada yang meragukan pengorbanan Ibrahim.

Ketika Ibrahim diperintah Tuhan mengorbankan anaknya dengan cara disembelih, tidak ada bantahan dan keraguan dalam diri Ibrahim. Anak yang akan dijadikan sembelihan pun bukan anak biasa.

Ismail, merupakan karunia besar Ibrahim yang baru diperoleh setelah berikhtiar dan berdoa dalam kurun waktu yang lama. Dalam usia kurang lebih 86 tahunan, barulah bayi Ismail lahir.

Saat Ismail tumbuh menjadi anak yang saleh dan hebat, yang kehebatannya dilukiskan dalam Alquran sebagai anak yang sangat sabar. Ibrahim berada di puncak kasih sayang dan kebahagiaan memiliki anak, tiba-tiba mendapat perintah menyembelihnya. Perintah datang pada situasi tersulit. Dan Ibrahim berhasil melaksanakannya.

MERDEKA DARI EGO

Kerelaan dan kepatuhan Nabi Ibrahim dan Ismail terhadap perintah Allah, merupakan keberhasilan mereka menjadi manusia-manusia yang merdeka. Merdeka dari ego. Jika Ibrahim dan Ismail masih dikuasi ego, maka tidak akan lahir kepasrahan melaksanakan perintah.

Seandainya Ibrahim merasa menjadi pemilik mutlak anak, atau merasa rugi menyerahkan hidup Ismail, mustahil perintah dijalankan. Atau Ismail, sebagai anak mengiba-iba agar tidak disembelih karena merasa tidak layak dikorbankan, bisa jadi sejarah kurban tidak terjadi. Tetapi faktanya, mereka berhasil menanggalkan ego, meski dalam godaan hebat setan.

Ketika Ibrahim dan Ismail berhasil memerdekakan diri dari ego, saat itulah ujian pengorbanan mereka lulus. Allah menggantikan tubuh Ismail dengan domba sebagai sembelihan. Allah hanya menguji keimanan dan melihat sejauh mana Ibrahim dan Ismail mampu mengatasi ego mereka.

Tidak ada sesembahan kurban jiwa manusia yang dikehendaki Allah. Tidak masuk akal, Tuhan yang menjadikan manusia sebagai ciptaannya yang sempurna menjadi sesembahan.

Makna simbolik yang dapat ditarik dari penyembelihan binatang adalah manusia harus mampu memerdekaan diri dari sifat-sifat kebinatangan dengan membunuh sifat-sifat yang bersemayam dalam diri manusia.

Dalam hal di atas, Imam Al-Ghazali dalam Kitab Kimiya’ as-Sa’aadah, menyebutkan bahwa jika manusia ingin berada di puncak kebahagiaan, ia harus merdeka dan menaklukkan dua nafsu kebinatangan yaitu bahimiyyah (sifat kebinatangan yang jinak) dan subu’iyyah (nafsu kebinatangan yang buas).

Nafsu binatang jinak mendorong manusia untuk melakukan hal yang dapat menyenangkan dirinya. Sifat hedonistik, selalu menuruti nafsu syahwat dan kenikmatan biologis, serakah, kikir, tidak peduli, menghalalkan segala cara untuk meraih kekuasaan dan mendapatkan harta, semua merepresentasi sifat jinak binatang. Sifat ini halus, selalu ingin dituruti tanpa pernah merasa puas.

Sedangkan sifat binatang buas diwakili oleh sifat selalu ingin menyakiti orang lain, memangsa yang lemah, bertindak sewenang-wenang. Sifat ini melahirkan permusuhan, peperangan, kebencian, terorisme, intoleransi, dan seterusnya.

Mengelaborasi apa yang disampaikan oleh Al-Ghazali, Quraisy Shihab memberikan ilustrasi bahwa kedua nafsu tersebut seperti bayi yang menyusu kepada ibunya. Tidak akan pernah berhenti. Jika dihentikan dengan paksa akan menyebabkan bayi menangis.

Tindakan paksa perlu diambil. Si ibu harus tega melepaskan susuan anaknya, meski anak menangis. Tangisan akan berhenti dan si bayi selanjutnya akan tertidur dengan sendirinya karena kenyang.

Begitu pun dengan kehidupan manusia, yang harus mampu memerdekaan diri dari kebergantungan sifat kebinatangan yang dapat membuatnya ketagihan dan nyaman, dengan cara menyembelihnya. Sumber maksiat, malapetaka, disharmonis, terorisme, intoleran, dan sifat-sifat negatif lainnya berasal dari dua sifat kebinatangan yang secara potensial ada pada diri manusia. Tidak ada cara lain untuk mengendalikannya selain dengan membunuh kedua sifat kebinatangan tersebut.

KORBAN MERAIH KEMERDEKAAN

Indonesia merdeka berkat rahmat Allah dan pengorbanan pejuang-pejuang kemerdekaan. Harta, cucuran keringat dan darah, bahkan nyawa rela mereka korbankan untuk mewujudkan Indonesia merdeka dari penjajahan.

Menjajah, membuat orang lain tersiksa, terzalimi, dan menderita juga pengejawantahan dari sifat-sifat kebinatangan yang harus dihilangkan. Menghilangkan sifat kebinatangan yang dilakukan oleh penjajah harus dilakukan dengan jihad mengusir para imperialis tersebut.

Sulit membayangkan kemerdekaan bisa diraih, tanpa pengorbanan para pejuang-pejuang terdahulu. Mereka bertekad mengorbankan yang mereka punya untuk satu tujuan mulia, melawan kezaliman dan kemungkaran yang dilakoni penjajah.

Pengorbanan mereka, dalam konteks agama, bisa dimaknai sebagai jihad melawan kezaliman. Hal ini didasari perasaan cinta terhadap Tanah Air. Lahirlah semangat membela bangsa dan mengusir penjajah. Tidak salah  rasanya, sebagian ulama membuat ungkapan, “Hubbul wathan minal iman (Cinta tanah air sebagian dari iman)”. Di antara banyak indikator perwujudan iman, salah satunya adalah dengan mencintai Tanah Air.

Generasi sekarang, lahir setelah generasi yang mencintai Tanah Air dalam bentuk pengorbanan darah dan jiwa. Wujud cinta Tanah Air, wujud iman kita tidak harus berdarah-darah seperti mereka. Bisa dilakukan dengan berpartisipasi menjadikan Indonesia menjadi negeri yang damai, tetap bersatu, saling menghargai satu sama lain dalam kebhinekaan. (***/dwi)

loading...

BACA JUGA

Jumat, 21 Februari 2020 14:17

Tak Ada Rumus tentang Mati

//HIKMAH JUMAT//   Bambang Iswanto Dosen Institut Agama Islam Negeri…

Sabtu, 08 Februari 2020 12:43

Tata Ulang Kawasan Gunung Manggah

Kecelakaan lalulintas di jalur menanjak Jalan Otto Iskandardinata, atau yang…

Jumat, 07 Februari 2020 13:49

Buruknya Kecanduan Gim Online

Dr Rosdiana MKes Bidang Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku (PKIP)…

Kamis, 06 Februari 2020 11:28

Seluruh Kabupaten PPU Sebaiknya Jadi Lokasi IKN

Oleh : AJI SOFYAN EFFENDI Ketua Pusat Kajian Perencanaan Pembangunan…

Rabu, 05 Februari 2020 11:07

Gunakan Mendeley, Upgrade Riset Dosen dan Mahasiswa

ARBAIN Dosen FKIP Universitas Widya Gama Mahakam     ERA…

Rabu, 05 Februari 2020 10:44

Aturan Kesehatan Internasional untuk Cegah Virus Corona

Ferry Fadzlul Rahman MH Kes med Dosen Kesehatan Masyarakat Universitas…

Kamis, 30 Januari 2020 10:35

Menggagas Event Berkelas di Kalimantan Timur

  Erny Silalahi                                                                                   …

Senin, 27 Januari 2020 15:34

Belum Mengerucut pada Gambaran Kriteria Calon Walikota Samarinda

Oleh : Diddy Rusdiansyah A.D, SE., MM., M.Si  **) P…

Senin, 20 Januari 2020 10:16

Politisasi Banjir, “Ter-la-lu!”

Oleh Amir Machmud NS   TER-LA-LU...! Aksen gerutuan populer dalam…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers