MANAGED BY:
JUMAT
23 AGUSTUS
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

UTAMA

Selasa, 13 Agustus 2019 22:00
Titik Panas di Kaltim Kerap Dipicu Ulah Manusia

KLHK Kejar Pembakar Hutan

-

PROKAL.CO, BALIKPAPAN–Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang juga mengancam Kaltim membuat semua pihak waspada. Kemarin (12/8), berdasarkan pantauan dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Benua Etam memiliki 18 lokasi hotspot dengan update pukul 07.00 Wita.

Kepala Stasiun Meteorologi Klas I Sultan Aji Muhammad Sulaiman (SAMS) Sepinggan- Balikpapan Ibnu Sulistyono menjelaskan, Kaltim pada Agustus sampai September ini memasuki puncak musim kemarau. Untuk Agustus, wilayah seperti Samarinda, Kutai Kartanegara (Kukar), Balikpapan, Penajam Paser Utara (PPU), dan Paser, patut diwaspadai. “Wilayah ini curah hujannya cukup rendah. Hanya 21–50 milimeter,” kata Ibnu.

Sementara pada September nanti pun kabupaten/kota tersebut masih harus menghadapi kekeringan. Ditambah Kutai Barat, Kutai Timur, dan Bontang juga memasuki puncak kemarau. Kondisi itu berpotensi munculnya lokasi hotspot atau titik kabut asap akibat karhutla. “Sehari kami update dua kali. Pada pukul 07.00 Wita (kemarin) muncul 18 lokasi hotspot. Terbanyak di Mahulu dengan 15 titik dan Kukar sebanyak 3 titik,” kata Ibnu.

Dia menambahkan, tahun ini kondisi kemarau dikatakan lebih kering dan terasa lebih panas dibandingkan tahun lalu. Namun belum sepanas dan sekering jika dibandingkan pada 2015. Dan terkait modifikasi cuaca, dia menyebut menunggu permintaan dari pemerintah daerah yang dilanda karhutla. “Belum ada permintaan soal modifikasi cuaca. Minimal daerah tersebut dinyatakan siaga atau tanggap darurat,” ujarnya.

Sementara itu, Subhan, kepala Balai Penegakan Hukum (Gakkum) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Kalimantan menerangkan, pihaknya tentu mendukung penindakan kerusakan hutan. “Sudah pasti. Kami sedang fokus yang di Kalteng dan Kalbar,” ucapnya saat diwawancarai kemarin (12/8).

Subhan menyebut, lebih banyak hotspot di dua provinsi tersebut. “Kaltim juga ada, tapi tidak terlalu banyak,” ujarnya.

Disinggung mengenai adanya titik panas di Tahura Bukit Soeharto, Subhan menyebut, harus melakukan penelusuran khusus. Tidak hanya mengandalkan dari citra satelit. “Tapi penanganannya bisa juga kesatuan pengelolaan hutan (KPH) yang menangani di lapangan. Kalau kami fokus yang terindikasi pidana,” ungkapnya.

Subhan menyahihkan, kebakaran hutan itu di Indonesia, rata-rata ulah manusia. “Kami di Kalbar sudah menetapkan satu tersangka. Menyegel beberapa lokasi pula, begitu juga di Kalteng. Dan Kaltim tidak menutup kemungkinan (menetapkan tersangka),” tegasnya. Fokus KLHK tentunya terhadap perusahaan besar. “Masyarakat juga bisa,” jelasnya.

Sebelumnya, Dinas Kehutanan Kaltim, melalui Kasi Pengendalian Kerusakan dan Pengamanan Hutan Shahar Al Haqq menjelaskan, sejauh dirinya berdinas di kehutanan, kebakaran lahan atau hutan yang terjadi, bukan faktor cuaca yang sangat panas. “Sebagian besar karena ulah manusia. Tidak lain karena adanya pembukaan lahan perkebunan pribadi,” beber dia.

Di Indonesia secara umum dampak dari el nino adalah kondisi kering dan berkurangnya curah hujan. “Tapi panasnya di Indonesia ini beda, katanya kemarau dari Juni, buktinya masih ada hujan sesekali,” sambungnya.

Dishut Kaltim kemarin melaksanakan pemantapan petugas-petugas khusus yang menangani karhutla. Shahar menyebut, tim yang nantinya berada di bawah pantauan Dishut Kaltim itu bakal bertugas maksimal. Khusus daerah yang masuk kesatuan pengelolaan hutan produksi (KPHP).

Tak menampik, sepanjang 2018, pihaknya cukup kewalahan dengan musibah karhutla. Bahkan, penyidik pegawai negeri sipil (PPNS) Dishut Kaltim menangkap dua pelaku pembakar lahan. “Kalau memang ada ditemukan oleh warga, langsung dikoordinasikan, tapi yang sifatnya hutan lindung atau produksi. Kalau lahan umum, bisa ke polisi,” jelasnya.

Adapun, Kasubdit Penangan Hutan dan Lahan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Radyan Bagiono hadir dalam pertemuan kemarin. Dia menjelaskan, musim kemarau sudah terjadi. “Diprediksi lebih kering dari tahun lalu. Sebelumnya itu sangat parah,” jelasnya.

Jadi, pihak kementerian meminta pemerintah daerah selalu intens mengabarkan informasi terjadi karhutla. “Jika dimungkinkan status siaga diperlukan, KLHK siap membantu,” jelasnya.

Diwartakan sebelumnya, situasi karhutla di Sumatra dan Kalimantan masih menunjukkan kondisi fluktuatif. Di satu tempat mengalami penurunan, namun di sisi lain terjadi kenaikan jumlah titik api.

Berdasar pemantauan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), penurunan titik api paling tinggi terjadi di Riau. Minggu (11/8) titik api hanya tersisa 29. Jauh menurun dibandingkan data sehari sebelumnya yang mencapai 126 titik.

Sementara untuk kenaikan tertinggi jumlah titik api terjadi di Kalimantan Barat. Hingga kemarin sudah ada 605 titik api yang terpantau atau naik 72 titik dibandingkan sehari sebelumnya. Selain dua provinsi tersebut, titik api terpantau di Jambi 3 titik, Sumatra Selatan 19 titik, Bangka Belitung 14 titik, Kalteng 163 titik, Kalsel 14 titik, Kaltim 20 titik, dan Kaltara 23 titik (-6 titik).

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pusat Data Informasi dan Humas (Pusdatinmas) BNPB Agus Wibowo mengatakan, keberadaan titik api membuat jarak pandang menurun karena berasap. Yang paling parah adalah Pekanbaru dengan jarak pandang 5 kilometer dan Sanggau 4 kilometer.

Sementara itu, dari aspek kesehatan, kualitas udara tidak sehat terpantau di tiga kota. “Berdasar nilai PM 10 (Partikulat) menunjukkan Pekanbaru 166 tidak sehat, Pontianak 253 sangat tidak sehat, dan Palangka Raya 217 sangat tidak sehat,” imbuhnya.

Bila data BNPB menyebutkan, Benua Etam terdapat 20 titik panas, beda halnya dengan data SiPongi milik Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). Data karhutla monitoring sistem itu menunjukkan titik kebakaran di Kaltim pada dua hari lalu sekitar delapan hotspot. (rdh/*/dra/rom/k8)


BACA JUGA

Kamis, 22 Agustus 2019 12:08

Indonesia Masih Lumayan, di Negara Tetangga Ini Antrean Haji Tembus 121 Tahun

Untuk bisa mendaftar haji di Malaysia, umat muslim harus menyetor…

Kamis, 22 Agustus 2019 12:04

Polri Buru Kelompok Penghasut Papua

JAYAPURA–Aksi massa di Papua diduga ditunggangi kelompok separatis. Indikasi itu…

Kamis, 22 Agustus 2019 11:26

As-Haabee, Museum Baru yang Mengisahkan Sejarah Sahabat Nabi di Makkah

Jamaah haji tahun ini bisa mengisi waktu dengan mengunjungi Museum…

Kamis, 22 Agustus 2019 11:21

Kota Pancasila Konsep Ibu Kota Baru, 800 Ribu PNS Bakal Dipindah

JAKARTA– Desain ibu kota negara (IKN) Indonesia yang baru mengusung…

Kamis, 22 Agustus 2019 11:11
Cerita Si Emen, Pelajar Jangkung 2,6 Meter

Ukuran Sepatu Jumbo, Bongkar Pintu agar Bisa Lewat

Tidak banyak orang yang memiliki tinggi di atas 2 meter…

Kamis, 22 Agustus 2019 11:01

Menteri Keuangan Kecewa dengan BPJS Kesehatan

JAKARTA– Defisit Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan tahun ini…

Kamis, 22 Agustus 2019 10:07

Jadi Calon Ibukota Negara, Samboja Kebanjiran Pembeli Tanah

PROKAL.CO, KUKAR - Tokoh masyarakat Samboja Anwar mengaku beberapa pihak…

Rabu, 21 Agustus 2019 23:00
Lokasi Ibu Kota Negara, Gubernur Tetap Pilih Tahura

“Maaf Kalteng, Kaltim yang Dipilih”

BALIKPAPAN– Dicoretnya Taman Hutan Raya (Tahura) Bukit Soeharto sebagai kandidat…

Rabu, 21 Agustus 2019 22:15

Jika Jadi Ibukota, Lahan PPU Siap, Bupati Siap Menggratiskan

DICORETNYA Tahura Bukit Soeharto dari lokasi ibu kota negara membawa…

Rabu, 21 Agustus 2019 21:09

Tak Sampai Jutaan Kok, Segini Nih PNS Pusat yang Bakal ke Ibukota Baru di Kalimantan

Rencana pemindahan ibu kota negara dari Jakarta ke Kalimantan akan…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.
*