MANAGED BY:
MINGGU
20 OKTOBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | LIFESTYLE | KALTARA

UTAMA

Selasa, 13 Agustus 2019 22:00
Titik Panas di Kaltim Kerap Dipicu Ulah Manusia

KLHK Kejar Pembakar Hutan

-

PROKAL.CO, BALIKPAPAN–Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang juga mengancam Kaltim membuat semua pihak waspada. Kemarin (12/8), berdasarkan pantauan dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Benua Etam memiliki 18 lokasi hotspot dengan update pukul 07.00 Wita.

Kepala Stasiun Meteorologi Klas I Sultan Aji Muhammad Sulaiman (SAMS) Sepinggan- Balikpapan Ibnu Sulistyono menjelaskan, Kaltim pada Agustus sampai September ini memasuki puncak musim kemarau. Untuk Agustus, wilayah seperti Samarinda, Kutai Kartanegara (Kukar), Balikpapan, Penajam Paser Utara (PPU), dan Paser, patut diwaspadai. “Wilayah ini curah hujannya cukup rendah. Hanya 21–50 milimeter,” kata Ibnu.

Sementara pada September nanti pun kabupaten/kota tersebut masih harus menghadapi kekeringan. Ditambah Kutai Barat, Kutai Timur, dan Bontang juga memasuki puncak kemarau. Kondisi itu berpotensi munculnya lokasi hotspot atau titik kabut asap akibat karhutla. “Sehari kami update dua kali. Pada pukul 07.00 Wita (kemarin) muncul 18 lokasi hotspot. Terbanyak di Mahulu dengan 15 titik dan Kukar sebanyak 3 titik,” kata Ibnu.

Dia menambahkan, tahun ini kondisi kemarau dikatakan lebih kering dan terasa lebih panas dibandingkan tahun lalu. Namun belum sepanas dan sekering jika dibandingkan pada 2015. Dan terkait modifikasi cuaca, dia menyebut menunggu permintaan dari pemerintah daerah yang dilanda karhutla. “Belum ada permintaan soal modifikasi cuaca. Minimal daerah tersebut dinyatakan siaga atau tanggap darurat,” ujarnya.

Sementara itu, Subhan, kepala Balai Penegakan Hukum (Gakkum) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Kalimantan menerangkan, pihaknya tentu mendukung penindakan kerusakan hutan. “Sudah pasti. Kami sedang fokus yang di Kalteng dan Kalbar,” ucapnya saat diwawancarai kemarin (12/8).

Subhan menyebut, lebih banyak hotspot di dua provinsi tersebut. “Kaltim juga ada, tapi tidak terlalu banyak,” ujarnya.

Disinggung mengenai adanya titik panas di Tahura Bukit Soeharto, Subhan menyebut, harus melakukan penelusuran khusus. Tidak hanya mengandalkan dari citra satelit. “Tapi penanganannya bisa juga kesatuan pengelolaan hutan (KPH) yang menangani di lapangan. Kalau kami fokus yang terindikasi pidana,” ungkapnya.

Subhan menyahihkan, kebakaran hutan itu di Indonesia, rata-rata ulah manusia. “Kami di Kalbar sudah menetapkan satu tersangka. Menyegel beberapa lokasi pula, begitu juga di Kalteng. Dan Kaltim tidak menutup kemungkinan (menetapkan tersangka),” tegasnya. Fokus KLHK tentunya terhadap perusahaan besar. “Masyarakat juga bisa,” jelasnya.

Sebelumnya, Dinas Kehutanan Kaltim, melalui Kasi Pengendalian Kerusakan dan Pengamanan Hutan Shahar Al Haqq menjelaskan, sejauh dirinya berdinas di kehutanan, kebakaran lahan atau hutan yang terjadi, bukan faktor cuaca yang sangat panas. “Sebagian besar karena ulah manusia. Tidak lain karena adanya pembukaan lahan perkebunan pribadi,” beber dia.

Di Indonesia secara umum dampak dari el nino adalah kondisi kering dan berkurangnya curah hujan. “Tapi panasnya di Indonesia ini beda, katanya kemarau dari Juni, buktinya masih ada hujan sesekali,” sambungnya.

Dishut Kaltim kemarin melaksanakan pemantapan petugas-petugas khusus yang menangani karhutla. Shahar menyebut, tim yang nantinya berada di bawah pantauan Dishut Kaltim itu bakal bertugas maksimal. Khusus daerah yang masuk kesatuan pengelolaan hutan produksi (KPHP).

Tak menampik, sepanjang 2018, pihaknya cukup kewalahan dengan musibah karhutla. Bahkan, penyidik pegawai negeri sipil (PPNS) Dishut Kaltim menangkap dua pelaku pembakar lahan. “Kalau memang ada ditemukan oleh warga, langsung dikoordinasikan, tapi yang sifatnya hutan lindung atau produksi. Kalau lahan umum, bisa ke polisi,” jelasnya.

Adapun, Kasubdit Penangan Hutan dan Lahan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Radyan Bagiono hadir dalam pertemuan kemarin. Dia menjelaskan, musim kemarau sudah terjadi. “Diprediksi lebih kering dari tahun lalu. Sebelumnya itu sangat parah,” jelasnya.

Jadi, pihak kementerian meminta pemerintah daerah selalu intens mengabarkan informasi terjadi karhutla. “Jika dimungkinkan status siaga diperlukan, KLHK siap membantu,” jelasnya.

Diwartakan sebelumnya, situasi karhutla di Sumatra dan Kalimantan masih menunjukkan kondisi fluktuatif. Di satu tempat mengalami penurunan, namun di sisi lain terjadi kenaikan jumlah titik api.

Berdasar pemantauan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), penurunan titik api paling tinggi terjadi di Riau. Minggu (11/8) titik api hanya tersisa 29. Jauh menurun dibandingkan data sehari sebelumnya yang mencapai 126 titik.

Sementara untuk kenaikan tertinggi jumlah titik api terjadi di Kalimantan Barat. Hingga kemarin sudah ada 605 titik api yang terpantau atau naik 72 titik dibandingkan sehari sebelumnya. Selain dua provinsi tersebut, titik api terpantau di Jambi 3 titik, Sumatra Selatan 19 titik, Bangka Belitung 14 titik, Kalteng 163 titik, Kalsel 14 titik, Kaltim 20 titik, dan Kaltara 23 titik (-6 titik).

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pusat Data Informasi dan Humas (Pusdatinmas) BNPB Agus Wibowo mengatakan, keberadaan titik api membuat jarak pandang menurun karena berasap. Yang paling parah adalah Pekanbaru dengan jarak pandang 5 kilometer dan Sanggau 4 kilometer.

Sementara itu, dari aspek kesehatan, kualitas udara tidak sehat terpantau di tiga kota. “Berdasar nilai PM 10 (Partikulat) menunjukkan Pekanbaru 166 tidak sehat, Pontianak 253 sangat tidak sehat, dan Palangka Raya 217 sangat tidak sehat,” imbuhnya.

Bila data BNPB menyebutkan, Benua Etam terdapat 20 titik panas, beda halnya dengan data SiPongi milik Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). Data karhutla monitoring sistem itu menunjukkan titik kebakaran di Kaltim pada dua hari lalu sekitar delapan hotspot. (rdh/*/dra/rom/k8)


BACA JUGA

Sabtu, 19 Oktober 2019 11:30

Sebulan Setelah Persalinan Langsung Nunggak Iuran

JAKARTA-- Persalinan jadi salah satu jenis layanan kesehatan yang paling…

Sabtu, 19 Oktober 2019 11:29

Kalimantan Sudah Bersih, Jawa Masih Terbakar.

JAKARTA­– Menuju paruh akhir bulan Oktober 2019, Kabut asap akibat…

Sabtu, 19 Oktober 2019 11:28

Ada 672 Peserta Ikut Mendesain Ibukota

JAKARTA– Jumlah peserta sayembara desain Ibukota Negara (IKN) baru terus…

Sabtu, 19 Oktober 2019 11:22

Saling Curiga Harus Diakhiri!

WAMENA-Lembaga Masyarakat Adat (LMA) Jayawijaya memfasilitasi pertemuan antara kepala-kepala suku…

Sabtu, 19 Oktober 2019 11:05

18 Kepala Negara dan Ratusan Duta Besar Konfirmasi Datang

JAKARTA– Minggu besok (20/10) Presiden Joko Widodo dan wakil presiden…

Jumat, 18 Oktober 2019 12:41

Sani Tetap Menjabat Kepala DPMPTSP

SAMARINDA–Abdullah Sani mestinya berkantor di Kegubernuran Kaltim, Jalan Gajah Mada,…

Jumat, 18 Oktober 2019 12:12

Proyek Masih Jalan, Kantor BPJN Disegel

PROYEK rekonstruksi jalan nasional Samarinda-Bontang-Sangatta belum terpengaruh setelah Komisi Pemberantasan…

Jumat, 18 Oktober 2019 12:05
Dibalik OTT KPK di Samarinda dan Bontang

Begini Praktik Curang yang Dilakukan Kontraktor untuk Menangkan Tender

BONTANG-Operasi tangkap tangan (OTT) KPK di Samarinda dan Bontang pada…

Jumat, 18 Oktober 2019 11:57

WIH..!! Pemerintah Bakal Bangun Bandara Dekat IKN untuk VVIP dan Jet Pribadi

Pemerintah berencana membangun bandara baru tidak jauh dari pusat kota…

Jumat, 18 Oktober 2019 11:35

Ekonomi RI Masih Bergerak Positif, JK Minta Pahami Kondisi Global

JAKARTA– Jelang akhir masa jabatannya, Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK)…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.
*