MANAGED BY:
RABU
26 FEBRUARI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | LIFESTYLE | KALTARA

KOLOM PEMBACA

Jumat, 09 Agustus 2019 10:38
Haji dan Semangat Kemerdekaan

PROKAL.CO, Oleh: Bambang Iswanto

Dosen IAIN Samarinda

Belanda, ketika menjajah Indonesia, tidak mengusik ibadah kaum muslim. Salat, puasa, dan zakat, semua diperbolehkan. Tidak ada aturan resmi dan khusus terkait ketidakbolehannya, semua dibiarkan. Tetapi tidak dengan yang menyangkut ibadah haji.

Pemerintahan kolonial Belanda memiliki aturan khusus terkait ibadah haji. Belanda terus memperketat  aturan dari masa ke masa. Regulasi berupa ordonantie  yang terbit pada 1825, 1827, 1831, dan 1859, merupakan bukti kuat; Belanda semakin takut ancaman pengaruh ibadah haji.

Kronologi aturan tersebut dari awal sampai akhir semakin mempersempit dan membatasi ruang gerak pelaksaan ibadah haji. Peraturan ini dibuat menyusul maraknya perlawanan yang dilakukan para haji di Nusantara.

Awalnya, Belanda justru senang dengan meningkatnya jumlah haji Indonesia. Hal tersebut dimanfaatkan sebagai ladang keuangan mereka. Sebab para calon jamaah haji diharuskan membayar biaya kepada pemerintahan kolonial, dengan harga yang sangat tinggi. Serta denda yang tinggi pula jika melanggar.

Namun, seiring berjalan waktu, Belanda merasa ada hubungan erat antara haji dan patriotisme. Inilah yang kemudian memunculkan kekhawatiran, yang menggeser orientasi keuntungan ekonomi, dengan melahirkan kebijakan yang lebih mementingkan langgengnya kekuasaan mereka di Indonesia.

Belanda serius mencermati dan mengawasi gerak-gerak haji. Pengawasan bukan hanya untuk para haji yang sudah kembali ke Tanah Air, tetapi juga kepada muslim yang berada di Tanah Suci.

Mereka mendirikan konsul di Jeddah, khusus untuk mengawasi jamaah haji Tanah Air. Tidak hanya itu, pemerintahan kolonial mendatangkan khusus seorang ahli tentang keislaman. Scouck Horgronje namanya. Ditugaskan mengamati pergerakan dan pengaruh haji terhadap kesinambungan jajahan mereka. Hasilnya, memang terdapat hubungan erat antara haji dan semangat kemerdekaan.

Ibadah haji ternyata berpengaruh besar bagi jamaah Indonesia. Banyak haji saat di Arab belajar ilmu agama. Tidak hanya di Saudi, di beberapa negara Timur Tengah lainnya seperti Mesir. Selain belajar ilmu agama, mereka juga belajar perpolitikan untuk mengusir penjajah dari Tanah Air.

Dalam beberapa tulisan sejarah, dijumpai fakta bahwa akhir abad ke-19, para haji dari Tanah Air, belajar di Timur Tengah mempunyai tujuan yang sama. Selain untuk dapat ilmu yang cukup, ada yang mencari dukungan dari berbagai pihak untuk mengusir penjajah Indonesia melalui pembentukan organisasi-organisasi Islam.

Mereka membawa berbagai pemikiran politik yang didapatkan dari studi di Timur Tengah itu ke Tanah Air. Dalam perlawanannya kepada pemerintah Belanda, mereka memobilisasi massa serta menggunakan simbol-simbol keagamaan.

Embrio organisasi politik Islam yang berubah menjadi partai politik Islam memang tidak terlepas dari peran haji, yang pada waktu itu mendirikan berbagai organisasi yang bergerak di bidang ekonomi dan pendidikan. Sarekat Islam (SI) kemudian berubah menjadi PSII, pada awalnya berkembang dari sebuah organisasi yang bernama SDI (Sarekat Dagang Islam).

Sebagian haji juga bergerak dalam organisasi pendidikan, seperti organisasi Sumatra Thawalib yang kemudian bertransformasi menjadi Permi (Persatuan Muslim Indonesia). Permi merupakan pelopor perjuangan politik yang mengedepankan pemikiran intelektual yang bergerak melalui pendidikan.

Masih banyak organisasi lain yang bermunculan. Misi mereka semua sama, ingin melawan penindasan dan penjajahan. Penjajah harus diusir dari Tanah Air.

Gairah meraih kemerdekaan terus bergulir ke seluruh penjuru Nusantara. Salah satunya berkat ibadah haji. Semangat inilah yang turut mengantarkan Indonesia meraih kemerdekaannya pada Agustus 1945.

HAJI MENYATUKAN

Hal yang tidak bisa dilepaskan dari ibadah haji adalah semangat persatuan dan kesatuan. Jutaan orang yang melaksanakan ibadah haji harusnya memiliki perasaan yang sama di hadapan Allah. Mereka sama-sama dipersatukan sebagai tamu Allah yang datang menghadap dengan pakaian ihram yang sama, putih-putih tanpa jahitan.

Tidak terlihat mana pejabat dan rakyat jelata. Mana yang kaya dan yang miskin. Mana yang berada dan mana yang papa. Semua lebur dalam satu pakaian.

Inilah simbol sekaligus ritual dan nilai yang harus diterapkan dalam keseharian muslim. Tidak ada perbedaan kelas, strata, ras, suku bangsa, dan seterusnya. Semua sama di hadapan Yang Mahakuasa. Kalimat yang dilantunkan pun sama. Semua mengagungkan kekuasaan Allah dan merendahkan diri di hadapan-Nya.

Kesadaran akan kesamaan derajat manusia di hadapan Allah merupakan akar kesadaran betapa pentingnya kemerdekaan. Tidak ada manusia yang lebih superior dibanding negara lain. Tidak ada bangsa yang berhak menjajah negara lain karena semua bangsa dan manusia berada pada derajat yang sama dan berhak atas kedaulatan dan kemerdekaannya.

Sejarah bangsa kita yang awalnya sulit meraih kemerdekaan, juga disebabkan dulunya komponen bangsa kita gampang diadu domba dan dipecah belah. Letak geografis yang berbeda, suku, bangsa, dan agama, dijadikan alat oleh Belanda untuk memecah belah bangsa.

Ego kedaerahan disuburkan oleh penjajah agar Indonesia tidak bersatu. Momentum haji menjadi pelajaran betapa pentingnya ajaran agama agar bersatu dan tidak bercerai berai.

Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai pahlawannya. Sangat layak kita berterima kasih serta mendoakan para pejuang yang gugur serta para haji yang telah merintis semangat kemerdekaan yang telah mendahului kita semua. Semoga mereka semua diterima sebagai syuhada.

Tugas generasi setelah Indonesia merdeka hanya mempertahankan kemerdekaan. Tidak perlu berkeringat atau berdarah-darah apalagi sampai mengorbankan jiwa untuk meraih kemerdekaan.

Kemerdekaan sudah ada di genggaman. Kita semua hanya perlu mengisi kemerdekaan dengan membangun bangsa. Menjaga persatuan adalah kunci pembangunan bangsa, jangan dirubuhkan dengan perpecahan dan permusuhan. (***/dwi/k16)

 

loading...

BACA JUGA

Jumat, 21 Februari 2020 14:17

Tak Ada Rumus tentang Mati

//HIKMAH JUMAT//   Bambang Iswanto Dosen Institut Agama Islam Negeri…

Sabtu, 08 Februari 2020 12:43

Tata Ulang Kawasan Gunung Manggah

Kecelakaan lalulintas di jalur menanjak Jalan Otto Iskandardinata, atau yang…

Jumat, 07 Februari 2020 13:49

Buruknya Kecanduan Gim Online

Dr Rosdiana MKes Bidang Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku (PKIP)…

Kamis, 06 Februari 2020 11:28

Seluruh Kabupaten PPU Sebaiknya Jadi Lokasi IKN

Oleh : AJI SOFYAN EFFENDI Ketua Pusat Kajian Perencanaan Pembangunan…

Rabu, 05 Februari 2020 11:07

Gunakan Mendeley, Upgrade Riset Dosen dan Mahasiswa

ARBAIN Dosen FKIP Universitas Widya Gama Mahakam     ERA…

Rabu, 05 Februari 2020 10:44

Aturan Kesehatan Internasional untuk Cegah Virus Corona

Ferry Fadzlul Rahman MH Kes med Dosen Kesehatan Masyarakat Universitas…

Kamis, 30 Januari 2020 10:35

Menggagas Event Berkelas di Kalimantan Timur

  Erny Silalahi                                                                                   …

Senin, 27 Januari 2020 15:34

Belum Mengerucut pada Gambaran Kriteria Calon Walikota Samarinda

Oleh : Diddy Rusdiansyah A.D, SE., MM., M.Si  **) P…

Senin, 20 Januari 2020 10:16

Politisasi Banjir, “Ter-la-lu!”

Oleh Amir Machmud NS   TER-LA-LU...! Aksen gerutuan populer dalam…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers