MANAGED BY:
SABTU
21 SEPTEMBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

KOLOM PEMBACA

Jumat, 02 Agustus 2019 10:52
Ketika Lahan Ibadah si Kaya “Direbut” si Miskin

PROKAL.CO, Oleh: Bambang Iswanto

(Dosen IAIN Samarinda)

Orang kaya berkurban, sudah biasa. Orang yang hidupnya pas-pasan, apalagi profesinya pemulung, berkurban, ini baru luar biasa. Inilah yang terjadi di beberapa tempat di Tanah Air. Misalnya kisah Mak Yati, pemulung yang tinggal di seputaran Tebet Jakarta. Yang berkurban dua kambing gemuk.

Perempuan 59 tahun yang sering mampir ke masjid tersebut harus menabung selama tiga tahun agar bisa membeli kambing besar untuk dikurbankan. Pengais barang-barang bekas itu bersikeras “memaksakan” diri menabung Rp 25 ribu sehari untuk bisa mewujudkan niatnya.

Pengurus sempat kaget saat menerima kedatangan Mak Yati. Membawa kambing dengan bajaj untuk diserahkan kepada panitia. Wajar panitia heran karena masyarakat sekitar masjid mengenal Mak Yati berprofesi sebagai pemulung.

“Pengin sekali seumur hidup bisa membagikan daging kurban, tidak mengantre terus mendapatkan jatah daging kurban. Syukur-syukur bisa lebih dari sekali,” katanya saat menyerahkan kambing.

Ada pula kisah pemulung lain, Mbah Sahati. Yang harus berjuang keras menabung tujuh tahun untuk mewujudkan niat berkurban.

Penggalan kisah orang tidak mampu lain dilakoni Yu Timah. Perempuan tua penjual nasi bungkus di Kebumen. Tinggal di rumah berdinding bambu dan lantai tanah itu juga berhasil melaksanakan niat mulia berkurban. Setelah sekian lama mengumpulkan uang.

Masih banyak kisah lain yang tak terungkap, tentang orang-orang yang tidak memiliki harta memadai, tetapi bisa merealisasikan keinginan mulia mereka. Keinginan mulia yang berbingkai ibadah, sejatinya bukanlah kaveling ibadah mereka.

Tidak ada kewajiban dalam agama untuk berkurban bagi yang tidak mampu. Kewajiban ini hanya untuk orang-orang yang memiliki kelebihan harta. Tentu tidak mudah bagi mereka untuk bisa “merebut” wilayah ibadah ini. Mereka harus lebih mengencangkan ikat pinggang yang sudah kencang.

Semua dijalani dalam rangka bukan untuk mencari popularitas. Mereka tidak akrab, bahkan mungkin tidak kenal dengan media sosial yang berfungsi memviralkan perbuatan mereka. Alih-alih berpikir untuk terkenal, waktu mereka habis memikirkan dan bekerja untuk mempertahankan hidup.

Dalam kesulitan hidup seperti itu, mereka masih sempat memikirkan bagaimana bisa berkurban. Mungkin mereka tidak tahu makna kurban secara istilah dan syar’i. Tetapi, apa yang mereka lakukan adalah tujuan dan hakikat dari ibadah kurban.

Mereka ingin mendekatkan diri dengan Tuhan dengan cara berbagi daging kurban kepada orang lain. Kepada orang tidak mampu lainnya seperti mereka sendiri atau kepada orang lain yang berhak. Cara mendekatkan diri yang tidak mudah karena harus lebih menyusahkan hidup. Mereka harus bekerja lebih keras dan mengurangi jatah biaya hidup, karena harus menyisihkan sebagian harta yang sesungguhnya masih kurang.

HARUS MALU

Pelaksanaan ibadah yang terkait harta, jika dilakukan oleh orang yang tidak memiliki kelebihan harta, sesungguhnya bukan anomali ibadah. Banyak rekomendasi dari Allah, yang dalam bahasa fikih disebut sunah, untuk menginfakkan harta bagi yang tidak memiliki kelebihan harta.

Lihat saja QS Ali Imran:133-134. Di sana ada redaksi “menginfakkan harta ketika lapang dan sempit” bagi orang yang bertakwa. Demikian pula di QS Ath-Thalaq ayat 7 yang lebih spesifik menginformasikan tentang ganjaran khusus bagi orang melakukan kebajikan, meski dirinya sendiri merasa dalam kondisi susah.

Sepatutnya, apa yang telah dilakukan oleh para “orang-orang sempit harta” di atas, membuat orang-orang yang diberi kelapangan harta dan tidak beribadah seperti mereka, menjadi malu. Sebab, para mustadlafin ini harus lebih mengorbankan harta dibandingkan dengan orang yang berharta.

Pemilik kelebihan harta hanya cukup menyisihkan kelebihan harta, sedangkan orang-orang sempit harta harus menyisihkan harta dari harta yang sudah kurang. Bagi orang yang memiliki harta puluhan hingga ratusan juta, bahkan miliaran, infak harta Rp 5 juta tidak berpengaruh bagi kehidupannya. Sebab masih banyak harta tersisa.

Namun, bagi si miskin, uang Rp 5 juta adalah harga yang harus dia bayar dengan cucuran keringat, banting tulang selama beberapa tahun dengan cara menyisihkan harta di antara kekurangan hidupnya, bukan di antara kelebihan hidupnya.

Merujuk ayat tentang infak harta, baik yang berinfak dalam keadaaan lapang dan dalam keadaan sempit, semua mendapat jaminan dari Allah mendapatkan ganjaran pahala. Apakah ada beda besaran pahala antara yang lebih susah berinfak dengan yang gampang, semua urusan Allah. Kita hanya bisa menduga dengan akal yang belum tentu kebenarannya.

Dalam logika manusia, pahala orang yang sempit harta lebih banyak dibandingkan dengan lapang harta. Sekali lagi, ini urusan Tuhan. Urusan orang yang memiliki kelebihan harta adalah lebih termotivasi dan pintu hatinya terketuk, untuk berderma dan berkurban, karena malu kepada orang yang tidak punya harta tetapi ikhlas berinfak dan berkurban. Dan harusnya lebih malu lagi kepada Allah, yang telah memberikan nikmat harta tetapi tidak mampu bersyukur. (***/dwi/k16)

 

loading...

BACA JUGA

Senin, 16 September 2019 14:15

Kelasnya Kota Keretek

Oleh : M Chairil Anwar Warga Samarinda yang bekerja di…

Senin, 16 September 2019 14:12

KPK di Ambang Kehancuran

Oleh : Adam Setiawan, SH Mahasiswa Program Magister Ilmu Hukum…

Senin, 16 September 2019 14:10

Balikpapan Siap Menjadi Penopang Ibu Kota Negara

Oleh : Noviana Rejeki Statistisi BPS Balikpapan   Presiden Joko…

Senin, 16 September 2019 14:09

Rakyat Menjerit Kenaikan Iuran BPJS

Oleh: Andi Putri Marissa SE Guru Sekolah Swasta di Balikpapan…

Senin, 16 September 2019 14:06

Untung Rugi Kaltim Jadi Ibukota RI

Oleh : Ahmad Syarif Dosen Ekonomi Syariah IAIN Samarinda  …

Jumat, 13 September 2019 22:26

Jenius Ahli Ibadah Itu Telah Pergi

Oleh: Bambang Iswanto Dosen IAIN Samarinda “Saya diberikan kenikmatan oleh…

Senin, 09 September 2019 14:12

Haornas dan Mimpi ke Piala Dunia

INDONESIA sukses menyelenggarakan Asian Games dan Asian Para Games 2018.…

Sabtu, 07 September 2019 10:28

Muharam dan Nikah

Oleh: Bambang Iswanto Dosen IAIN Samarinda Bulan Muharam datang setelah…

Kamis, 05 September 2019 10:38

MTQ dan Hijrah Menuju Perbaikan Tilawatil Quran

Ismail Guru Fikih MAN Insan Cendekia Kabupaten Paser   Musabaqah…

Kamis, 05 September 2019 10:33

Efek Gawai pada Perkembangan Otak, Mental, dan Fisik Anak

Noviana Rejeki, SST Statistisi BPS Kota Balikpapan   BADAN PUSAT…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.
*