MANAGED BY:
RABU
26 FEBRUARI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | LIFESTYLE | KALTARA

KOLOM PEMBACA

Jumat, 02 Agustus 2019 10:52
Ketika Lahan Ibadah si Kaya “Direbut” si Miskin

PROKAL.CO, Oleh: Bambang Iswanto

(Dosen IAIN Samarinda)

Orang kaya berkurban, sudah biasa. Orang yang hidupnya pas-pasan, apalagi profesinya pemulung, berkurban, ini baru luar biasa. Inilah yang terjadi di beberapa tempat di Tanah Air. Misalnya kisah Mak Yati, pemulung yang tinggal di seputaran Tebet Jakarta. Yang berkurban dua kambing gemuk.

Perempuan 59 tahun yang sering mampir ke masjid tersebut harus menabung selama tiga tahun agar bisa membeli kambing besar untuk dikurbankan. Pengais barang-barang bekas itu bersikeras “memaksakan” diri menabung Rp 25 ribu sehari untuk bisa mewujudkan niatnya.

Pengurus sempat kaget saat menerima kedatangan Mak Yati. Membawa kambing dengan bajaj untuk diserahkan kepada panitia. Wajar panitia heran karena masyarakat sekitar masjid mengenal Mak Yati berprofesi sebagai pemulung.

“Pengin sekali seumur hidup bisa membagikan daging kurban, tidak mengantre terus mendapatkan jatah daging kurban. Syukur-syukur bisa lebih dari sekali,” katanya saat menyerahkan kambing.

Ada pula kisah pemulung lain, Mbah Sahati. Yang harus berjuang keras menabung tujuh tahun untuk mewujudkan niat berkurban.

Penggalan kisah orang tidak mampu lain dilakoni Yu Timah. Perempuan tua penjual nasi bungkus di Kebumen. Tinggal di rumah berdinding bambu dan lantai tanah itu juga berhasil melaksanakan niat mulia berkurban. Setelah sekian lama mengumpulkan uang.

Masih banyak kisah lain yang tak terungkap, tentang orang-orang yang tidak memiliki harta memadai, tetapi bisa merealisasikan keinginan mulia mereka. Keinginan mulia yang berbingkai ibadah, sejatinya bukanlah kaveling ibadah mereka.

Tidak ada kewajiban dalam agama untuk berkurban bagi yang tidak mampu. Kewajiban ini hanya untuk orang-orang yang memiliki kelebihan harta. Tentu tidak mudah bagi mereka untuk bisa “merebut” wilayah ibadah ini. Mereka harus lebih mengencangkan ikat pinggang yang sudah kencang.

Semua dijalani dalam rangka bukan untuk mencari popularitas. Mereka tidak akrab, bahkan mungkin tidak kenal dengan media sosial yang berfungsi memviralkan perbuatan mereka. Alih-alih berpikir untuk terkenal, waktu mereka habis memikirkan dan bekerja untuk mempertahankan hidup.

Dalam kesulitan hidup seperti itu, mereka masih sempat memikirkan bagaimana bisa berkurban. Mungkin mereka tidak tahu makna kurban secara istilah dan syar’i. Tetapi, apa yang mereka lakukan adalah tujuan dan hakikat dari ibadah kurban.

Mereka ingin mendekatkan diri dengan Tuhan dengan cara berbagi daging kurban kepada orang lain. Kepada orang tidak mampu lainnya seperti mereka sendiri atau kepada orang lain yang berhak. Cara mendekatkan diri yang tidak mudah karena harus lebih menyusahkan hidup. Mereka harus bekerja lebih keras dan mengurangi jatah biaya hidup, karena harus menyisihkan sebagian harta yang sesungguhnya masih kurang.

HARUS MALU

Pelaksanaan ibadah yang terkait harta, jika dilakukan oleh orang yang tidak memiliki kelebihan harta, sesungguhnya bukan anomali ibadah. Banyak rekomendasi dari Allah, yang dalam bahasa fikih disebut sunah, untuk menginfakkan harta bagi yang tidak memiliki kelebihan harta.

Lihat saja QS Ali Imran:133-134. Di sana ada redaksi “menginfakkan harta ketika lapang dan sempit” bagi orang yang bertakwa. Demikian pula di QS Ath-Thalaq ayat 7 yang lebih spesifik menginformasikan tentang ganjaran khusus bagi orang melakukan kebajikan, meski dirinya sendiri merasa dalam kondisi susah.

Sepatutnya, apa yang telah dilakukan oleh para “orang-orang sempit harta” di atas, membuat orang-orang yang diberi kelapangan harta dan tidak beribadah seperti mereka, menjadi malu. Sebab, para mustadlafin ini harus lebih mengorbankan harta dibandingkan dengan orang yang berharta.

Pemilik kelebihan harta hanya cukup menyisihkan kelebihan harta, sedangkan orang-orang sempit harta harus menyisihkan harta dari harta yang sudah kurang. Bagi orang yang memiliki harta puluhan hingga ratusan juta, bahkan miliaran, infak harta Rp 5 juta tidak berpengaruh bagi kehidupannya. Sebab masih banyak harta tersisa.

Namun, bagi si miskin, uang Rp 5 juta adalah harga yang harus dia bayar dengan cucuran keringat, banting tulang selama beberapa tahun dengan cara menyisihkan harta di antara kekurangan hidupnya, bukan di antara kelebihan hidupnya.

Merujuk ayat tentang infak harta, baik yang berinfak dalam keadaaan lapang dan dalam keadaan sempit, semua mendapat jaminan dari Allah mendapatkan ganjaran pahala. Apakah ada beda besaran pahala antara yang lebih susah berinfak dengan yang gampang, semua urusan Allah. Kita hanya bisa menduga dengan akal yang belum tentu kebenarannya.

Dalam logika manusia, pahala orang yang sempit harta lebih banyak dibandingkan dengan lapang harta. Sekali lagi, ini urusan Tuhan. Urusan orang yang memiliki kelebihan harta adalah lebih termotivasi dan pintu hatinya terketuk, untuk berderma dan berkurban, karena malu kepada orang yang tidak punya harta tetapi ikhlas berinfak dan berkurban. Dan harusnya lebih malu lagi kepada Allah, yang telah memberikan nikmat harta tetapi tidak mampu bersyukur. (***/dwi/k16)

 

loading...

BACA JUGA

Jumat, 21 Februari 2020 14:17

Tak Ada Rumus tentang Mati

//HIKMAH JUMAT//   Bambang Iswanto Dosen Institut Agama Islam Negeri…

Sabtu, 08 Februari 2020 12:43

Tata Ulang Kawasan Gunung Manggah

Kecelakaan lalulintas di jalur menanjak Jalan Otto Iskandardinata, atau yang…

Jumat, 07 Februari 2020 13:49

Buruknya Kecanduan Gim Online

Dr Rosdiana MKes Bidang Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku (PKIP)…

Kamis, 06 Februari 2020 11:28

Seluruh Kabupaten PPU Sebaiknya Jadi Lokasi IKN

Oleh : AJI SOFYAN EFFENDI Ketua Pusat Kajian Perencanaan Pembangunan…

Rabu, 05 Februari 2020 11:07

Gunakan Mendeley, Upgrade Riset Dosen dan Mahasiswa

ARBAIN Dosen FKIP Universitas Widya Gama Mahakam     ERA…

Rabu, 05 Februari 2020 10:44

Aturan Kesehatan Internasional untuk Cegah Virus Corona

Ferry Fadzlul Rahman MH Kes med Dosen Kesehatan Masyarakat Universitas…

Kamis, 30 Januari 2020 10:35

Menggagas Event Berkelas di Kalimantan Timur

  Erny Silalahi                                                                                   …

Senin, 27 Januari 2020 15:34

Belum Mengerucut pada Gambaran Kriteria Calon Walikota Samarinda

Oleh : Diddy Rusdiansyah A.D, SE., MM., M.Si  **) P…

Senin, 20 Januari 2020 10:16

Politisasi Banjir, “Ter-la-lu!”

Oleh Amir Machmud NS   TER-LA-LU...! Aksen gerutuan populer dalam…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers