MANAGED BY:
SELASA
19 NOVEMBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | LIFESTYLE | KALTARA

KOLOM PEMBACA

Jumat, 02 Agustus 2019 10:47
Reedukasi Pemahaman Agama

PROKAL.CO, Sugeng Susilo, S.H

Staf Biro Hukum Sekretariat Provinsi Kaltara

 

AKSI teror tidak pernah kunjung selesai baik di luar maupun dalam negeri. Pemberitaan melalui media cetak maupun elektronik hampir setiap bulan menghiasi media daring, halaman koran, maupun layar kaca televisi. Ini menandakan perlu pemahaman terhadap khalayak umum bahwa aksi teror merupakan sebuah tindakan yang dilarang baik secara agama maupun konstitusi. Kenapa agama dianggap ikut andil dalam aksi biadab tersebut? Sebab hampir sebagian tindakan kejahatan terorisme mengatasnamakan agama sebagai pembenaran perbuatan tersebut. Pemerintah maupun stakeholder mempunyai kewajiban untuk memberikan reedukasi guna meluruskan pemahaman yang salah melalui instansi pemerintah maupun organisasi kemasyarakatan maupun lembaga keagamaan.

Indonesia sudah beberapa kali diguncang aksi brutal terorisme. Salah satunya yang paling populer dan fenomenal aksi keji dilakukan oleh Amrozi cs di Legian Bali, lebih dikenal dengan aksi Bom Bali I dan II, dan perbuatan keji yang dilakukan Amrozi cs tersebut merupakan cikal bakal munculnya Densus 88 Antiteror Mabes Polri sebagai jawaban melawan kebiadaban terorisme yang merajalela. Pada 2019 dunia diguncang dengan dua aksi brutal yang merengut nyawa orang tidak berdosa. Di antaranya, yang dilakukan Brandon Tarrant dengan menembak para jamaah Masjid al-Noor dan Masjid Linwood di Christchurch, Selandia Baru, yang menewaskan 51 orang. Kejadian ini merupakan sejarah kelam menimpa Selandia Baru yang merupakan negara yang dikategorikan paling aman di dunia dengan tingkat kriminal paling sedikit.

Di balik tindakan brutal yang dilakukan Brandon Tarrant, dia menulis dalam manifestasinya dalam sebuah buku dengan tebal 73 halaman. Dia mengakui akan kebenciannya terhadap imigran dan orang Islam. Kedatangan imigran merupakan pelaku invasi terhadap negaranya yang mengancam eksistensi mereka terhadap pelaku ekonomi, politik, dan sosial.

Kejadian kedua adalah tindakan bom bunuh diri yang terjadi di sebuah gereja dan beberapa tempat di Sri Lanka yang menewaskan sedikitnya 207 orang pada 21 April saat hari itu merupakan Paskah yang dianggap umat Kristiani sebagai hari penuh barokah dan agung. Selang beberapa hari, Islamic State Iraq and Syria (ISIS) mengklaim bertanggung jawab atas tindakan bom yang dilakukan di Sri Lanka sebagai bagian serangan yang direncanakan. Dari identifikasi dan penyelidikan yang dilakukan pihak berwajib pemerintah Sri Lanka, dari tujuh pelaku bom bunuh diri terdiri dari keluarga menengah ke atas dan merupakan golongan orang terpelajar.

Terorisme sebenarnya bukan barang baru, akan tetapi menjadi luar biasa pemberitaannya setelah gedung kembar WTC (World Trade Center) diledakkan kelompok radikal Al-Qaida. Menurut pemerintah Amerika Serikat sebagai kelompok yang paling bertanggung jawab atas tindakan itu dan tidak sedikit yang menyangkal tindakan itu dilakukan oleh orang dalam sendiri. Istilah terorisme menjadi booming di telinga masyarakat setelah itu.

Membaca ensiklopedia bebas, makna deradikalisasi adalah sebuah tindakan preventif (pencegahan) atau strategi untuk mengembalikan paham yang dianggap radikal dan membahayakan dengan cara pendekatan tanpa kekerasan agar kembali ke jalan yang lebih moderat. Tantangan ke depan khusus untuk Indonesia yaitu aksi teror yang selalu menghantui segenap lapisan masyarakat. Sebab, tindakan-tindakan yang mengatasnamakan agama sebagai pembenaran untuk melegalkan tindakan teror kekerasan sehingga banyak kalangan masyarakat yang tidak bersalah menjadi korban kebiadaban tindakan aksi tersebut.

Karena itu, pemerintah bersama stakeholder bersama-sama melakukan reedukasi kepada masyarakat, baik yang sudah terdampak paham radikal maupun yang belum terkena agar mempunyai mind side atau paham keagamaan yang lebih  moderat. Program deradikalisasi bisa dilakukan di kampus, pondok pesantren, sekolah, lembaga pemasyarakatan, di tempat-tempat majelis taklim, masjid, dan gereja.

 

Semua agama mengharamkan aksi teror

Tidak ada satu pun agama di muka bumi ini secara sah dan legal membenarkan, menganjurkan, dan mengajarkan aksi teror, baik itu Islam, Nasrani, Katolik, Hindu, dan Buddha. Sebab penulis beragama Islam maka lebih adil dan bijak penulis menyoroti ajaran terhadap agama Islam sebagai agama yang dianut. Setelah teror 11 September yang meluluhlantakkan gedung kembar WTC (World Trade Center) di jantung kota Amerika Serikat, Islam sering dikaitkan dengan aksi-aksi terorisme biadab yang berujung menghilangkan nyawa orang dan tidak sedikit masyarakat bahkan beberapa negara fobia terhadap negara Islam atau orang Islam. Terbukti dengan visi-misi Donald Trump ketika mencalonkan sebagai kandidat presiden Amerika Serikat yaitu dengan menutup akses imigran yang ingin masuk negaranya dari negara-negara Islam.

Islam sebagai agama yang rahmatan lil-alamin yang mengajarkan kedamaian dan kasih sayang secara tegas mengharamkan tindakan brutal terorisme. Kalau kita telaah dan kita baca kitab suci Alquran tidak akan menemukan ajaran yang secara nyata menganjurkan umatnya melakukan tindakan teror. Bahkan dalam Surah al-Maidah dengan tegas melarang keras terhadap umat Islam melakukan tindakan pembunuhan tanpa ada alasan yang menguatkan tindakan tersebut. Bahkan orang itu bagaikan melakukan pembunuhan seluruh umat di muka bumi ini, “Barang siapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya” (QS Al Maidah: 32).

Makna jihad dan kategorinya dalam Islam

Jihad dalam Islam ada 4 (empat) macam yakni jihad ke medan perang, jihad melawan hawa nafsu, jihad dalam keluarga dan jihad dalam masyarakat. Jihad ke medan perang diwajibkan sebagai seorang muslim akan tetapi ada waktu dan tempatnya untuk melakukan jihad tersebut. Jihad bukan perang tetapi jauh dari itu yaitu konsekuensi keimanan dan religiusitas. Karena itu, etika dan moralitas tidak bisa lepas dari term jihad itu sendiri, sehingga pelecehan, pembunuhan, intimidasi terhadap hak-hak orang lain sangat bertentangan pada ajaran Islam itu sendiri. Bahkan nabi pernah bersabda ketika selesai perang badar yang berbunyi “Kita kembali dari jihad kecil menuju jihad besar.” Para sahabat pun bertanya kepada Rasulullah jihad apa ya Rasulullah? Beliau bersabda “Jihad Hati”.

Banyak masyarakat yang memahami makna jihad hanya di medan perang, bahkan menggunakan kekerasan dan bom bunuh diri. Padahal, kata jihad berasal dari bahasa Arab, yang artinya usaha atau mengeluarkan segala kekuatan dengan sungguh-sungguh. Sementara itu, Ibnu Taimiyah mengartikan jihad sebagai usaha untuk menghasilkan sesuatu yang diridai Allah SWT. Karena itu, makna jihad tidak bisa diartikan sebatas perang, apalagi berbuat kekerasan.

Terorisme dalam hukum positif

Terorisme dikategorikan sebagai kejahatan luar biasa (extraordinary crime). Terorisme merupakan sebuah kejahatan kemanusiaan yang mengancam peradaban manusia dan musuh semua agama dan negara. Dalam perkembangannya, terorisme dibangun secara terorganisasi dengan skala international, terencana, sistematis, dan terkoneksi secara global yang menghubungkan antarnegara.

Karena itu negara harus hadir melindungi segenap warganya agar merasakan hidup nyaman dan tenteram sebagaimana amanat UUD Pasal 28A bahwa setiap orang berhak hidup serta mempertahankan hidup dan kehidupannya. Dari sini jelas bahwa semua manusia mempunyai hak dan dilindungi sejak lahir sampai dia meninggal untuk dilindungi hidup dan kehidupannya di muka bumi ini.

Terorisme dikategorikan sebagai kejahatan luar biasa sehingga penanganannya dilakukan secara luar biasa juga. Sebab kejahatan ini mengancam eksistensi nilai-nilai kemanusiaan yang mengancam nyawa orang-orang tidak berdosa. Dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2018 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2003 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2002 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme Menjadi Undang-Undang, terorisme adalah perbuatan melawan hukum secara sistematis dengan maksud menghancurkan kedaulatan bangsa dan negara dengan membahayakan badan, nyawa, moral, harta benda dan kemerdekaan orang atau menimbulkan kerusakan umum.

Jadikan rumah sebagai “home sweet home”

Ada sebuah pepatah Arab yang berbunyi: Baiti Jannati (rumahku surgaku). Mungkin ini sebuah ungkapan yang memberikan pencerahan kepada khalayak umum untuk menjadikan rumah sebagai taman surga dunia yang menjadikan penghuninya betah menghuninya. Tidak sedikit para remaja mencari kebenaran dan ketenangan hidup akibat rumah tidak memberikan kesejukan dan kedamaian akibat orang tua sering terjadi pertengkaran atau sibuk terhadap pekerjaan mereka sendiri. Sehingga orang tua tidak mengetahui kegiatan-kegiatan di luar yang diikuti anak-anaknya. Karena itu pengawasan dan bimbingan keluarga sangat perlu diberikan agar anak tidak terjerumus dalam organisasi-organisasi underground yang berafiliasi terhadap kegiatan yang melegalkan aksi teror. Jadikan rumah sebagai tempat pertama yang memberikan aroma kenyamanan dan ketenangan, sehingga tidak ada pelarian anak akibat ketidaknyamanan berdiam di rumah. (ypl/k16)

 


BACA JUGA

Jumat, 08 November 2019 22:02

Sujud di Lapangan Bulu Tangkis

Oleh: Bambang Iswanto Dosen IAIN Samarinda Turnamen bulu tangkis level…

Sabtu, 02 November 2019 21:32

Belajar dari Kepemudaan Rasulullah

Oleh: Bambang Iswanto Dosen IAIN Samarinda Bulan Rabiul Awwal, bulan…

Rabu, 30 Oktober 2019 14:51

Mempersiapkan Destinasi Wisata di Ibu Kota Negara

Oleh Erny Silalahi ASN, travel enthusiast erny.silalahi@uqconnect.edu.au   Hingar bingar…

Rabu, 30 Oktober 2019 09:17

Memperbaharui (Kembali) Komitmen Integritas Kita

Oleh : Dewi Sartika SE MM Peneliti Muda Puslatbang KDOD…

Kamis, 17 Oktober 2019 13:28

Gebyar Pilkada Serentak Tahun 2020

Oleh: Galeh Akbar Tanjung* Pelaksanaan Pilkada serentak untuk pemilihan Bupati…

Rabu, 09 Oktober 2019 12:13

Indonesia yang Lebih Baik

Oleh Alias Candra Dosen IAIN Samarinda dan Wakil Sekretaris Bidang…

Rabu, 09 Oktober 2019 12:11

Potret Produksi Buah-buahan di Mahulu Tahun Lalu

Oleh: Didit Puji Hariyanto Staf Integrasi Pengolahan dan Diseminasi Statistik…

Senin, 07 Oktober 2019 01:19

Sajak Cinta

“Kerinduanku memuncak pada rabbaku Kehidupanku menari diroda hatimu Masihkah kau…

Senin, 07 Oktober 2019 01:16

Greta Thunberg, Anak STM, dan Gerakan Sosial Generasi Z

Muhammad Nizar HidayatStaff pengajar di Program Studi Hubungan Internasional Universitas…

Kamis, 03 Oktober 2019 11:33

Sekolah Inklusi untuk Penyandang Disabilitas

Oleh: Eko Yuniarsih Guru BK SMA 8 Samarinda    …
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.
*