MANAGED BY:
RABU
12 AGUSTUS
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | LIFESTYLE | KALTARA

KOLOM PEMBACA

Jumat, 02 Agustus 2019 10:47
Reedukasi Pemahaman Agama

PROKAL.CO,

Sugeng Susilo, S.H

Staf Biro Hukum Sekretariat Provinsi Kaltara

 

AKSI teror tidak pernah kunjung selesai baik di luar maupun dalam negeri. Pemberitaan melalui media cetak maupun elektronik hampir setiap bulan menghiasi media daring, halaman koran, maupun layar kaca televisi. Ini menandakan perlu pemahaman terhadap khalayak umum bahwa aksi teror merupakan sebuah tindakan yang dilarang baik secara agama maupun konstitusi. Kenapa agama dianggap ikut andil dalam aksi biadab tersebut? Sebab hampir sebagian tindakan kejahatan terorisme mengatasnamakan agama sebagai pembenaran perbuatan tersebut. Pemerintah maupun stakeholder mempunyai kewajiban untuk memberikan reedukasi guna meluruskan pemahaman yang salah melalui instansi pemerintah maupun organisasi kemasyarakatan maupun lembaga keagamaan.

Indonesia sudah beberapa kali diguncang aksi brutal terorisme. Salah satunya yang paling populer dan fenomenal aksi keji dilakukan oleh Amrozi cs di Legian Bali, lebih dikenal dengan aksi Bom Bali I dan II, dan perbuatan keji yang dilakukan Amrozi cs tersebut merupakan cikal bakal munculnya Densus 88 Antiteror Mabes Polri sebagai jawaban melawan kebiadaban terorisme yang merajalela. Pada 2019 dunia diguncang dengan dua aksi brutal yang merengut nyawa orang tidak berdosa. Di antaranya, yang dilakukan Brandon Tarrant dengan menembak para jamaah Masjid al-Noor dan Masjid Linwood di Christchurch, Selandia Baru, yang menewaskan 51 orang. Kejadian ini merupakan sejarah kelam menimpa Selandia Baru yang merupakan negara yang dikategorikan paling aman di dunia dengan tingkat kriminal paling sedikit.

Di balik tindakan brutal yang dilakukan Brandon Tarrant, dia menulis dalam manifestasinya dalam sebuah buku dengan tebal 73 halaman. Dia mengakui akan kebenciannya terhadap imigran dan orang Islam. Kedatangan imigran merupakan pelaku invasi terhadap negaranya yang mengancam eksistensi mereka terhadap pelaku ekonomi, politik, dan sosial.

Halaman:

BACA JUGA

Jumat, 07 Agustus 2020 11:41

Syukur Merdeka

Bambang Iswanto Dosen Institut Agama Islam Negeri Samarinda    …

Selasa, 28 Juli 2020 12:06

Menyoal Sampah Plastik di Tengah Pandemi

Oleh: Muhammad Wahdini Pandemi Covid-19 belum juga berakhir. Setidaknya sampai…

Senin, 27 Juli 2020 10:13
Pemalsuan Daftar Dukungan Calon Perseorangan

Tidak Berlaku Istilah Kebetulan

Catatan Herdiansyah Hamzah Dosen Hukum Tata Negara Fakultas Hukum Universitas…

Jumat, 17 Juli 2020 11:59

Korban

Bambang Iswanto Dosen Institut Agama Islam Negeri Samarinda    …

Kamis, 16 Juli 2020 15:17

Menunggu Evolusi Technopark untuk Iringi IKN

  Catatan: Ari Arief   SEMASA Presiden Bambang Susilo Yudhoyono…

Jumat, 10 Juli 2020 11:48

Marah

Bambang Iswanto Dosen Institut Agama Islam Negeri Samarinda    …

Kamis, 09 Juli 2020 12:48
Mengadili Ulang Sultan Pontianak Hamid II

Antara Pengkhianat dan Pahlawan

Oleh: Muhammad Sarip Peminat Literasi Sejarah Lokal   Dalam satu…

Kamis, 09 Juli 2020 12:24

Haid Terganggu? Bisa Jadi Gejala PCOS atau Stres Akibat Corona

Oleh: Dr dr R Muharam SpOG (K) MPH   PANDEMI…

Selasa, 07 Juli 2020 13:42

Membangun Desa melalui Media Komunitas

Oleh: Akbar Ciptanto, SHut, MP Sc Ketua Komisi Penyiaran Indonesia…

Senin, 06 Juli 2020 13:33

Manusia Masker dan Ekonomi Eksponensial

Oleh: Suharyono S. Hadinagoro Pemerhati Ketenagakerjaan & Ekonomi Kerakyatan MASKER…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers