MANAGED BY:
MINGGU
20 OKTOBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | LIFESTYLE | KALTARA

UTAMA

Kamis, 01 Agustus 2019 10:34
Melihat Krayan, Wajah Negara yang Tak Banyak Bersolek (3-Habis)
Jalur Komunikasi Membaik, Sekolah Islam Pertama Lahir
PAUD Islam pertama di Desa Long Bawan, Kecamatan Krayan, Nunukan, itu didirikan Mei Subagyo. Purnatugas dari anggota TNI pada Mei lalu.

PROKAL.CO, Sinyal telepon menjadi barang mewah di tapal batas. Sudah tiba, meski dengan dan masih, tertatih-tatih.

 

DUITO SUSANTO, Krayan

 

RUMAH kayu berpekarangan tanah itu disekat menjadi dua ruang kecil. Lebarnya sekitar 4 meter. Bagian kiri disewakan pemiliknya kepada penjual sembako. Sedang tutup pagi itu, Kamis (11/7). Di sebelahnya, riuh rendah tawa bocah menggema. Belajar dengan riang gembira di PAUD Radhatul Jannah.

Meja dan kursi mini warna-warni duduk manis di ruang itu. Fasilitas bermain ala kadarnya menjejali pekarangan kecil yang ditumbuhi sedikit bebungaan. Hanya permainan jungkat-jungkit. Juga perosotan.

PAUD Islam pertama di Desa Long Bawan, Kecamatan Krayan, Nunukan, itu didirikan Mei Subagyo. Purnatugas dari anggota TNI pada Mei lalu. Pangkat terakhirnya sersan satu.

Pak Bagyo begitu kondang di Krayan. Utamanya Long Bawan dan sekitarnya. Dia tiba di sana awal 1988. Saat Krayan secara administratif masih masuk wilayah Bulungan. Saat rumah-rumah kayu warga terpencar di sana-sini. Jarang-jarang serupa gigi ompong. Berjarak cukup jauh satu dengan lainnya.

Pria asal Blitar itu mendarat di Krayan saat landasan pacu Bandara Yuvai Semaring di Long Bawan masih berupa bebatuan yang diagregat. Dengan pesawat kecil milik Merpati Air. Yang terbang dengan ongkos tiket Rp 14 ribu dari Tarakan.

Akses menuju kampung-kampung masih berupa jalan setapak. Namun, Bagyo harus berkeliling. Mengenali medan tugas barunya. Beberapa tempat hanya bisa dijangkau dengan helikopter. Termasuk saat dirinya ikut membuat peta topografi wilayah. “Itu sekitar 1992,” kenang Bagyo yang pagi itu mengenakan kaus biru dongker beserta topi. “Patok perbatasan di beberapa wilayah seperti Lembudud (sekarang Krayan Barat), saya yang bikin,” sambung dia.

Tak berselang lama setelah tugas tersebut, Bagyo menerima perintah baru. Dari atasan. Cukup mengejutkan. Dan membuatnya mengelus dada. “Dandim perintahkan untuk menikah,” ujar dia sembari menirukan ekspresi wajah terkejut. Belum ada calon. Bahkan sekadar bayangan pun.

Tak dinyana, lelaki yang masuk menjadi anggota TNI pada 1954 itu berjumpa seorang gadis. Asli Krayan. Sepintas lalu. Di Long Bawan. Putri pendeta dari Desa Baopang itu akan naik pesawat. Menuju Banjarmasin. Untuk sekolah perawat. “Saya ajak nikah saja,” ujar Bagyo sembari tertawa. “Eh, dia akhirnya tidak jadi berangkat,” sambungnya. Bagyo menangkapnya sebagai pertanda baik. Lampu hijau.

Bagyo memutuskan segera lamaran. Namun, Desa Baopang harus ditempuh dengan berjalan kaki berhari-hari. Melewati rimba raya khas pedalaman Kalimantan. Bantuan helikopter pun tiba untuk memuluskan misi barunya menyunting gadis Krayan. “Ditolak,” seru Bagyo. Dia pun pulang bersama rasa hampa. Namun, perintah komandan tak berubah; harus menikah.

Keesokannya, Bagyo menegaskan tekad, memupuk harap, berangkat lagi. Masih dengan helikopter. Eh, ditolak lagi. Lusanya, dewi fortuna pun belum tiba; ditolak. Maklum, mereka dipisahkan tembok tebal perbedaan keyakinan. Orangtua sang gadis adalah pendeta ternama. “Terakhir kalinya saya diantar helikopter lagi ke sana. Ditinggal. Helikopternya pulang,” ujar Bagyo.

Tak patah arang, Bagyo melakukan pendekatan. Perlahan dan senyap. Lalu memantapkan hati kembali ke medan juang yang tak biasa dilakoninya sebagai prajurit itu. Sang gadis menerima. Mau. Meski orangtua dan keluarganya tak satu pun yang setuju. “Saya bawa dia ke Long Bawan,” ujarnya.

Hajat seadanya dipersiapkan. Segala dokumen pendukung dibantu camat Krayan. Saat itu Bagyo masih berpangkat kopral satu. Celana digunakan untuk mengikat janji suci didapat dari hasil pinjaman. Berasnya bantuan warga. “Ada uang Rp 50 ribu dari dokter hewan untuk maskawinnya,” kisah Bagyo. Gadis itu menjadi mualaf sebelum ijab kabul. Mendapat nama Fitri Susanti.

Fitrilah yang membidani lahirnya PAUD Radhatul Jannah pada 2014. Menjelmakan cita-cita mereka yang sudah tumbuh sejak 2009. Namun, saat itu tertunda karena belum banyak warga muslim di Krayan.

Awalnya PAUD ditempatkan di dekat Koramil 0911-06/Krayan. Atas permintaan warga dipindahkan. Menyewa rumah kayu. Agar dekat masjid. Satu-satunya masjid di Long Bawan. Untuk mendukung proses belajar agama seperti mengaji, berdoa, dan tata cara salat.

Kamis (11/7) pagi itu, belasan murid sudah kembali belajar. Meski sekolah lain masih libur. Lantaran PAUD tersebut mengambil jatah libur panjang saat Lebaran, sehingga mereka masuk lebih awal.

Awal berdiri sekolah itu menjaring sembilan anak didik. Lalu bertambah menjadi 16 anak, dan 22 anak pada tahun-tahun setelahnya. Pada 2019, ada 26 anak yang terdaftar di sana. Rerata dari luar Long Bawan seperti Tarakan, Garut, dan Surabaya. Tak termasuk anak-anak yang dititipkan belajar di sana oleh warga Malaysia. Lantaran kedatangannya yang tak menentu, mereka tak dimasukkan ke dapodik.

Dengan personel mini; 3 tenaga pengajar, 1 admin, dan 1 pengajar agama, PAUD itu menerapkan Kurikulum 2013 (K13) sejak 2015. “Mudah-mudahan kami bisa dibantu untuk fasilitas belajar dan bermain anak-anak,” ujarnya.

Bagyo mengaku sudah mengajukan usulan bantuan kepada Pemkab Nunukan. Nilainya sekitar Rp 400 juta. “Tapi di-pending, karena jumlah muridnya dianggap masih kurang,” ujar dia. “Saya paham pemerintah banyak yang dikerjakan. Kami berharap mendapat perhatian juga, karena ini PAUD Islam satu-satunya di sini,” sambung dia.

Minimnya fasilitas di sekolah perbatasan bukan barang baru. Apalagi untuk yang terhitung masih seumur jagung. Seperti juga SMK 1 Krayan. Perlu penambahan-penambahan fasilitas.

Sekolah yang berusia sembilan tahun itu berjarak sekitar 5 kilometer dari Long Bawan. Untuk mencapainya harus melalui jalan tanah yang bisa berubah jadi kubangan lumpur saat hujan. Berdebu saat panas. Berkelok-kelok membelah bukit. Akses yang sulit berdampak pada minat pendaftar. Total hanya 84 siswa yang terbagi dalam 13 rombel di sekolah tersebut.

Pemilihan lokasi yang terhitung jauh itu lantaran hibah lahan. Seluas 12,5 hektare. Lahan yang dekat dengan permukiman di Long Bawan hanya satu hektare. Dinilai tak cukup untuk pengembangan.

Sekolah kejuruan itu memiliki empat jurusan; pertanian, usaha perjalanan wisata, akuntansi dan keuangan lembaga, serta asisten keperawatan. Jurusan terakhir harus ditutup tahun ajaran ini.

“Sekarang tidak terima siswa baru lagi, tinggal meluluskan yang sudah ada,” ujar Kalep, kepala SMK 1 Krayan, Rabu (10/7). Masih ada dua rombongan belajar (rombel) dengan total 18 siswa di jurusan itu yang belum lulus. “Sebenarnya peminatnya banyak,” sambung dia.

Dengan jurusan yang ada, sekolah merasa perlu penambahan sejumlah fasilitas. Di antaranya, alat peraga pertanian, green house untuk tanaman, asrama putra dan putri, kantor dan perumahan guru, laboratorium, serta perpustakaan. “Pemilihan jurusan disesuaikan kebutuhan dan potensi daerah. Krayan kan sedang berkembang,” ujar dia.

Asrama dirasa perlu dibangun karena ada siswa yang dari kampung jauh seperti Desa Waiagung. “Kalau jalan kaki bisa seharian,” ujar Kalep. Tak semua orangtua siswa memiliki kendaraan.

Setrum PLN belum menjangkau sekolah tersebut. Pasokan listrik mengandalkan mesin diesel. Yang dioperasikan pukul 08.00–14.00 Wita. “Apalagi internet, susah di sini,” ujar Kalep. “Ada, tapi mahal,” sambung dia sembari tertawa. Paket internet 250 MB harus ditebus Rp 30 ribu. “Itu kalau lagi dapat sinyal, pesan WA (WhatsApp) masuk semua, langsung habis paketnya,” seloroh dia.

Sinyal telekomunikasi masih menjadi barang mewah di Krayan. Meski tak separah dulu. Di beberapa tempat seperti Long Bawan, Long Midang, dan Tanjung Karya, sinyal masih bisa digunakan untuk menelepon atau mengirim SMS. Pada saat-saat tertentu, kalau sedang beruntung, pesan WA pun bisa masuk.

Yang paling beruntung adalah Desa Lembudud di Krayan Barat. Sinyal 4G sudah bisa dinikmati. Meski tertatih-tatih. “Ada towernya di sini, Mas,” ujar Danpos Pamtas Lembudud Serka Ambi Irfan. Dia menunjuk tower kecil dan tinggi di atas bukit, tak jauh dari pos yang berdiri sejak 2017. Tower itulah yang sedikit menghidupkan hiburan warga.

***

Bangunan bercat krem itu berdiri megah. Aksara penanda identitasnya menempel di pojok kanan atas; RS PRATAMA. Bersebelahan dengan logo Dinas Kesehatan. Tak jauh dari situ, sebuah spanduk terpajang. Merujuk pada fungsi lain bangunan itu; kantor Kecamatan Krayan Barat.

Bangunan itu memang semestinya diperuntukkan bagi rumah sakit. Dibangun Kementerian Kesehatan sejak 2014 tapi tak selesai. Sehingga Pemkab Nunukan harus mengucurkan dana setahun berselang. Dan rampung. Saat ini bangunan itu masih difungsikan untuk kantor Kecamatan Krayan Barat. “Bagus saja, jadi ada yang merawat. Di sini banyak hewan ternak dan hewan liar yang bisa saja merusak bangunan itu,” ujar Kepala Puskesmas Krayan Sukirno, Rabu (10/7).

Belum beroperasinya RS Pratama lantaran banyak fasilitas yang belum tersedia. Di antaranya, alat kesehatan, meubelair, listrik, perumahan pegawai, tenun (seprai dan lainnya), hingga tenaga kesehatan.

Awalnya, rumah sakit itu ditarget beroperasi tahun lalu. “Kemudian molor jadi Juli 2019. Tapi ini belum ada gambaran apapun,” kata Sukirno. “Kabar terbaru, tahun depan beroperasi. Tapi ya gitu…,” sambung dia.

Dari kacamata Sukirno, untuk ukuran Krayan, puskesmas yang dipimpinnya itu saja sudah cukup. Melayani kesehatan warganya. “Obat-obatan kami datangkan dari Nunukan tiap tiga bulan,” ujar dia.

Pengaruh cuaca dan debu jalanan membuat ISPA mendominasi. Juga penyakit pencernaan karena pola makan yang tak baik. “Penyakit aneh seperti DBD dan malaria enggak ada sih,” ujar pria yang sudah bertugas sebagai perawat di Krayan sejak 1985 itu.

Puskesmas Krayan memiliki 60 staf. Jumlah perawat dan bidan dinilai sudah memadai. Secara keseluruhan, ada 15 puskesmas pembantu yang tersebar di semua kecamatan di Krayan. Memang, tenaga medis dirasa kurang, seperti dokter yang hanya dua. “Minimal empat karena kami melayani rawat inap juga,” tutur Sukirno.

Puskesmas itu juga tak memiliki dokter gigi. Sudah resign tiga bulan lalu. Alasannya bersifat pribadi. Penggantinya sudah diusulkan. Namun, belum terpenuhi. “Untuk tenaga analis kesehatan, dia lulus tes PNS April lalu. Jadi sekarang enggak punya,” tambah pria asal Kediri itu.

Kunjungan ke puskesmas tersebut rerata 30–50 per hari. Ada beberapa kasus yang tak bisa ditangani seperti kasus yang memerlukan tindakan, persalinan macet, patah tulang, indikasi operasi, serta yang perlu rawat inap beberapa hari. “Biasanya kami rujuk ke Nunukan atau Malinau,” terang Sukirno. “Kalau yang minta dirujuk ke Malaysia biasanya karena faktor keluarga saja,” tambah dia. (***/rom/k16)

loading...

BACA JUGA

Sabtu, 19 Oktober 2019 14:00

Pelantikan Presiden dan Wapres, 3.500 Personel Amankan Kaltim dan Kaltara

 PROKAL.CO, SAMARINDA - Kepala Seksi Oprasional (Kasi Ops) Korem 091/ASN…

Sabtu, 19 Oktober 2019 11:30

Sebulan Setelah Persalinan Langsung Nunggak Iuran

JAKARTA-- Persalinan jadi salah satu jenis layanan kesehatan yang paling…

Sabtu, 19 Oktober 2019 11:29

Kalimantan Sudah Bersih, Jawa Masih Terbakar.

JAKARTA­– Menuju paruh akhir bulan Oktober 2019, Kabut asap akibat…

Sabtu, 19 Oktober 2019 11:28

Ada 672 Peserta Ikut Mendesain Ibukota

JAKARTA– Jumlah peserta sayembara desain Ibukota Negara (IKN) baru terus…

Sabtu, 19 Oktober 2019 11:22

Saling Curiga Harus Diakhiri!

WAMENA-Lembaga Masyarakat Adat (LMA) Jayawijaya memfasilitasi pertemuan antara kepala-kepala suku…

Sabtu, 19 Oktober 2019 11:05

18 Kepala Negara dan Ratusan Duta Besar Konfirmasi Datang

JAKARTA– Minggu besok (20/10) Presiden Joko Widodo dan wakil presiden…

Jumat, 18 Oktober 2019 12:41

Sani Tetap Menjabat Kepala DPMPTSP

SAMARINDA–Abdullah Sani mestinya berkantor di Kegubernuran Kaltim, Jalan Gajah Mada,…

Jumat, 18 Oktober 2019 12:12

Proyek Masih Jalan, Kantor BPJN Disegel

PROYEK rekonstruksi jalan nasional Samarinda-Bontang-Sangatta belum terpengaruh setelah Komisi Pemberantasan…

Jumat, 18 Oktober 2019 12:05
Dibalik OTT KPK di Samarinda dan Bontang

Begini Praktik Curang yang Dilakukan Kontraktor untuk Menangkan Tender

BONTANG-Operasi tangkap tangan (OTT) KPK di Samarinda dan Bontang pada…

Jumat, 18 Oktober 2019 11:57

WIH..!! Pemerintah Bakal Bangun Bandara Dekat IKN untuk VVIP dan Jet Pribadi

Pemerintah berencana membangun bandara baru tidak jauh dari pusat kota…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.
*