MANAGED BY:
SELASA
10 DESEMBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | LIFESTYLE | KALTARA

UTAMA

Rabu, 31 Juli 2019 12:58
Melihat Krayan, Wajah Negara yang Tak Banyak Bersolek (2)
Bertahan di Tengah Determinasi Produk Jiran
Sara memproses pembuatan garam Krayan.

PROKAL.CO, Aroma tetangga menyengat di beranda. Mulai bahasa hingga cita rasa.

 

DUITO SUSANTO, Krayan

 

IRAMA Melayu mendayu-dayu dari pengeras suara pemutar musik kecil. Yang serupa kotak sabun. Dari atas karpet tipis, lantunannya menggema mengisi sudut-sudut ruang berjelaga. Tusukan sinar mentari membuat Sara bergegas meninggalkan pembaringan, pagi itu, Selasa (9/7).

Perempuan itu sebenarnya terlahir dengan nama Leksiana. Perantauan memetamorfosa sapaannya menjadi Sara. Pada usia yang melewati 31, dia memilih meninggalkan pekerjaan yang digeluti sejak 2003; juru masak. Di kedai makan di Malaysia.

Dia memutuskan berlabuh di bangunan kayu tua. Sebagai pembuat garam. Yang kondang dikenal sebagai garam Krayan. Yang berasal dari sumur. Di kaki gunung, bukan dari laut. Di Desa Long Midang, Kecamatan Krayan, Nunukan. Tak sampai lima menit ke patok perbatasan dengan negeri jiran Malaysia.

Di antara tungku-tungku yang panas sepanjang hari, Sara mulai hilir mudik. Menata lagi kayu-kayu bakar yang mulai menjauh dari jilatan api semalam. Mengisi air di tiga wajan; dari drum yang dibelah dua, yang berjejer di atas tungku. Dua wajan menjadi tempat memanaskan air. Dua puluh empat jam sehari. Tujuh hari seminggu. Empat minggu sebulan. Diusahakan sepanjang waktu.

Kemudian sedikit demi sedikit air panas dipindahkan ke wajan di tengah. Yang harus lebih panas dari dua wajan pengapitnya. Di tempat itulah air mengkristal. Menjadi bubuk-bubuk halus garam. Masih basah. Dipindahkan ke tempat penampungan. Proses sederhana itu diakhiri dengan pengeringan di bawah terik matahari.

Sara bekerja bersama suaminya; Riyau. Dia disunting pria 39 tahun itu pada 2011. Saat sama-sama masih menjadi TKI. Sara bekerja di kedai penjaja makanan. Riyau mengais rezeki sebagai mekanik. Di Miri, Malaysia.

Sejak membangun bahtera rumah tangga, keduanya memutuskan pulang kampung ke Krayan. Orangtua Riyau berasal dari Lembudud, Krayan Barat. Pasangan itu lantas membuka warung makan. Di Long Bawan. Sekitar satu jam perjalanan dengan kendaraan bermotor dari Long Midang.

Namun, penghasilan tak menentu. Mereka memilih banting setir menjadi pengolah garam. “Orang datang (ke warung makan) cuma saat mau makan siang. Sedikit sekali,” tutur Sara dengan dialek Melayu. Bahasa tetangga sangat terasa di beranda negara itu. Banyak frasa yang dituturkan dengan rasa Malaysia. “Hasilnya lebih bagus di sini (bikin garam),” tambah perempuan kelahiran Kabupaten Landak, Kalbar.

Di bangunan kayu berukuran sekitar 12x8 meter itu, Sara dan suami berbagi tempat dengan pekerja garam lainnya; Jefri dan istri. Ada sungai kecil, lebih tampak seperti kali, di samping bangunan itu. Berjarak sekitar 5 meter. Airnya tawar. Seperti umumnya air sungai.

Di antara bangunan dan sungai itu dibuat sumur. Dua buah. Satu sama lain terpisah sekitar 8 meter. Berdiameter sekitar 1 meter. Kedalamannya 6 meter. Ajaibnya, airnya asin. Bahan baku utama pembuatan garam. “Kita juga heran, kok ada air asin dari sumur. Mungkin anugerah Tuhan,” sebut dia.

Air dari sumur itulah yang ditimba Sara. Dipindahkan ke wajan-wajan di atas tungku memanjang. “Kalau kami tak kuat memasak (mengolah garam), air sumurnya penuh,” tutur dia.

Bangunan itu disebut Sara warisan orangtua suaminya. Keluarga suaminya secara turun-temurun menjadi pengolah garam. Dia dan suaminya terhitung baru mulai. Sejak 2018. Setelah gagal betah menekuni usaha lain. Termasuk warung makan. Mereka bahkan sempat rehat tiga bulan. Kemudian balik lagi ke pondok itu.

 “Kami tidak ada libur. Kalau ada yang ganti (pengolah lain), mereka harus bayar dengan 10 kilo garam setiap minggunya,” ujar Sara. “Satu kilo dihargai Rp 50 ribu,” tambah dia.  Untuk memanasi tungku sepanjang waktu, Sara dan suami harus membeli kayu. Yang keras. Dari Lembudud. Sekitar dua sampai tiga jam perjalanan dari Long Midang. Bergantung cuaca. Saat hujan, perjalanan jadi lebih sulit. “Dibawa pakai kereta (mobil),” ujarnya.

Setiap kali pengangkutan hanya cukup untuk dua sampai tiga malam pembakaran. Bergantung level kekerasan kayunya. Mereka harus membayar Rp 250 ribu untuk tiap kubik kayu yang diangkut.  Sedangkan untuk wajan, mereka mesti mengganti tiap empat bulan. Karena panas sepanjang waktu, wajan-wajan itu cepat keropos. “Rp 400 ribu tinggal pakai. Kalau beli drumnya aja Rp 300 ribu. Tapi belah sendiri,” tutur dia.

Saban hari, dia bisa menghasilkan 20-25 kilogram garam. Musim kemarau akan sangat membantu jumlah produksi. Sebab, jika hujan, air sumur bercampur dengan air hujan. Pengolahan menjadi lebih lama. Bahkan kalau lagi apes, bisa-bisa tak menghasilkan garam.

 “Kalau tercampur air tawar jadi berbuih, tak dapat garam,” kata dia. Belum lagi kalau ada kotoran seperti tanah. “Walaupun kalau ada tanah otomatis tersisih ke pojok-pojok wajan. Tapi harus dibersihkan lagi,” sambungnya.

Garam Krayan itu disebut berbeda. Lebih halus ketimbang garam yang dihasilkan dari air laut. Juga disebut bisa mengawetkan makanan. “Kalau dipakai buat masak sayur, lebih awet. Sayurnya akan terlihat tetap segar, seperti saat baru dimasak,” ujar Andreas, warga Long Midang.

Tempat pengolahan garam serupa tersebar di berbagai sudut Krayan. Di Long Midang, hanya satu. Yaitu tempat Sara dan suami bekerja. Umumnya, tempat pengolahan garam di Krayan dipakai warga bergantian. Setiap dua minggu. Rolling. Per kepala keluarga. Seperti yang dilakoni Jefri dan istri. Selasa (9/7) lalu itu, mereka terhitung baru delapan hari bekerja mengolah garam.  “Gantian sama warga yang lain,” ujar pria yang juga kepala Desa Liang Tuer itu. Liang Tuer adalah salah satu desa di lokasi Long Midang. “Bupati (Nunukan, Asmin Laura Hafid) sempat bilang mau bikin bangunan baru (untuk tempat pengolahan garam),” sambung dia.

Garam-garam yang dihasilkan dijual per kilo seharga Rp 50 ribu. Ada juga yang dikemas dengan bambu sekira 25 cm. Kemudian dibungkus dengan daun sejenis nipah. “Itu per batangnya Rp 25 ribu,” kata Sara. “Satu kilo ada enam batang,” sambung dia.

 

***

Mengolah garam hanya ditekuni segelintir warga Krayan. Ada juga yang menganggapnya kerja sampingan. Saat sawah dalam masa rehat. Nyaris semua warga di 23 desa di Krayan menggantungkan hidupnya dari hasil menanam padi.

Beras Krayan yang melegenda itu dijual secara konvensional. Per kaleng. Setara 15 kilogram. Dibanderol Rp 250 ribu sampai Rp 300 ribu. Sebagian dikonsumsi sendiri. Lebih banyak lagi yang dijual.

Tak heran, sawah-sawah menghampar sepanjang mata memandang saat perjalanan dari Long Bawan ke Long Midang, misalnya. Berbaris berkotak-kotak di kaki bukit. Pemandangan serupa tersaji saat menuju Tanjung Karya. Kami bahkan harus beradu lincah di pematang sawah sebelum menanjak menuju pos pengamanan perbatasan milik TNI di Tanjung Karya.

Langgam bertani tradisional diyakini membuat beras Krayan lebih enak. Petani tak menggunakan bahan kimia untuk menyuburkan tanah. Panen pun hanya sekali setahun. Sehingga lahan punya waktu memulihkan tingkat kesuburannya. “Hampir seratus persen petani (menanam padi),” ujar Sekretaris Kecamatan Krayan Marjuni, Rabu (10/7). “Ada juga yang beternak kerbau,” sambung dia. Warga biasa melepas kerbaunya untuk bermain di petak-petak sawah saat masa rehat pascapanen. Pembajakan alami. “Ada juga yang dijual (kerbaunya). Harga sesuai ukuran dan jenis kelamin,” lanjutnya.

Pembeli kerbau biasanya dari Malaysia. Apalagi menjelang Iduladha. Untuk kurban. “Orang Lawas (Malaysia bagian Serawak), suka kerbau. Di bagian Kuching yang suka sapi,” ujar Maritis Tai saat melintas di Pos Satgas Pengamanan Perbatasan (Pamtas) Long Midang, Selasa (9/7) pagi lalu.

Pria Malaysia itu baru membeli empat ekor kerbau dari Herman Gaten di Krayan Barat. Dia membawanya dengan dua mobil double cabin. Dua ekor di tiap mobil. Dia mengaku menebusnya seharga RM 3.000 per ekor. Beras dan garam gunung adalah segelintir citra lokal Krayan yang berusaha bertahan di tengah determinasi rupa-rupa barang Malaysia.

 

***

Lusiana mematut dirinya dengan jaket biru gelap, Selasa (9/7) pagi itu. Dipadu celana pendek di atas lutut. Kacamata hitam dinaikkan ke ubun-ubun, menutupi bagian depan rambutnya yang dikuncir. Gelang-gelang emas melingkari pergelangan kiri dan kanannya.

Dia menumpang mobil double cabin berpelat Malaysia; SAB 5270. Yang dikendarai Karmi Roben. Nyaris semua kendaraan roda empat yang beredar di jalan-jalan Krayan berpelat negeri jiran.

Pagi itu, bersama delapan orang lainnya, mereka melapor di Pos Pamtas Long Midang. Untuk melintas menuju Lawas, Malaysia. Tujuh jam perjalanan dari Long Midang. Menelusuri jalan tanah yang dikeraskan. Yang membelah gunung. Yang sangat sulit dilalui saat hujan.

 “Belanja. Dan liburan,” ujar Karmi Roben sembari tersenyum. Rencananya mereka menginap di sana. Minimal dua malam. Kalau mobil rusak, terpaksa tambah sehari. Menanti perbaikan. “Gak ada jalan lain, mau tak mau belanja di Malaysia. Harganya, yaaa…terjangkau aja,” sambung dia sembari tertawa.

Akses jalan yang disebut mulai membaik turut membawa berkah bagi warga perbatasan. Tak perlu terlalu banyak mengeluarkan biaya angkut, sehingga harga bahan pokok yang dijajakan di sana turun drastis. “Dulu semen satu sak bisa Rp 900 ribu. Sekarang sudah turun. Bisa Rp 180-200 ribu,” ujar Andreas, warga Long Midang.

Rerata, puluhan warga Krayan saban harinya yang melintas menuju Malaysia. Untuk belanja rupa-rupa keperluan. Seperti yang tercatat di Pos Pamtas Long Midang, Senin (8/7), ada 31 pelintas dari Indonesia. Hari berikutnya 43 pelintas.

Di saat yang sama, warga Malaysia juga banyak yang masuk ke Indonesia. Biasanya mereka mengantar barang pesanan warga Krayan. “Itu yang paling banyak,” ujar Lettu Solo Atmanegara, komandan Pos Pamtas Long Midang. “Selebihnya mengambil penumpang atau mengunjungi keluarga. Ada juga yang beli kerbau, atau beras dan garam,” sambung dia.

Arus barang dari Malaysia memang belum terbendung hingga saat ini. Keperluan dari ujung kepala hingga ujung kaki, nyaris semuanya dipasok negara tetangga itu. “Sembako hampir semua dari Malaysia,” ujar Sekcam Krayan Marjuni. “Yang dari kita (barang Indonesia) yang ringan-ringan saja. Karena ongkos angkut yang tinggi,” sambung dia.

Bahan-bahan bangunan yang berat dipasok dari Malaysia. Ada juga yang dari Indonesia. Tapi sedikit. Dan pengangkutannya mesti melalui negeri jiran itu juga. “Jalan darat memutar lewat Malaysia,” kata Marjuni. Soal harga, sebenarnya tak terlalu timpang. Antara Lawas di Malaysia dengan Tarakan di Kaltara. “Cuma memang perlu jalan jauh ke Lawas,” tuntas dia.

Indonesia sebenarnya bukan tanpa upaya. Untuk melawan dominasi barang Malaysia di badan dan perut warga Krayan. “Kita sebenarnya ada subsidi ongkos angkut sembako,” ujar Bupati Nunukan Asmin Laura melalui pesan WhatsApp. Namun, dia tak bisa mendetailkan subsidi yang dimaksud.

Adanya subsidi dibenarkan Plh Danramil 0911-06/Kry Lettu Joan Agus. Utamanya untuk membantu mobilisasi warga melalui jalur udara. Baik subsidi ongkos tiket maupun pengiriman kargo. Seperti pada Kamis (11/7) lalu. Sejumlah pria berseragam loreng meriung di meja pelayanan pengiriman barang.

Mereka adalah personel TNI. Yang bertugas di pos-pos perbatasan Indonesia-Malaysia di Krayan. Hari itu mereka mengirimkan barang-barang melalui kargo. Sebab, mereka sendiri dalam penantian pulang. Dijemput helikopter. Yang muatannya tak bisa terlalu banyak.

Subsidi pengiriman barang hanya berlaku sekali sepekan. Yakni tiap Kamis. “Mereka hanya dikenakan biaya Rp 500 per kilonya. Dibayar saat pengambilan barang,” ujar Joan Agus.

Pria yang baru menjabat sejak April lalu itu juga tengah berupaya menjaga identitas produk lokal Krayan; beras dan garam. Yang rawan digilas produk asing. Untuk beras, dia mengaku sudah membantu pengemasan. Dibungkus plastik dan diberi label. Per 5 kilogram. Sayangnya belum dalam jumlah besar. “Masih terbatas. Misalnya mau kirim beras untuk kerabat atau kolega ke luar Krayan,” ujar dia. Joan Agus memasukkan itu dalam salah satu program prioritasnya selama menjabat.

Bupati Nunukan Asmin Laura pun mengaku sudah melakukan upaya serupa. Dengan memberi bantuan mesin pres. Untuk pengemasan. “Tapi masih bergantung petaninya juga. Mereka mengemas sendiri,” ujar dia. Ditambahkan pula, distribusinya sering dilakoni sendiri oleh petani. Ada pula yang melalui bantuan pengusaha, Bulog, atau rekanan masing-masing di Jawa. Untuk petani garam, Asmin Laura mengaku akan membantu renovasi bangunan tempat mereka bekerja. Secara bertahap. “Tahun ini kami renovasi,” ujar dia. (***/rom/k15/bersambung)

 

 


BACA JUGA

Selasa, 10 Desember 2019 11:48

WADUH..!! Ada 44 Lapas Sarang Narkotika Belum Tersentuh

JAKARTA— Masih banyak lapas yang menjadi tempat peredaran narkotika. Badan…

Selasa, 10 Desember 2019 11:30

KPK Tagih Komitmen Reformasi Birokrasi, Honor Tambahan ASN Dihilangkan

JAKARTA– Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) meminta pemerintah mempercepat penerapan sistem…

Selasa, 10 Desember 2019 11:27
INDONESIA vs VIETNAM

Saatnya Lepas Dahaga Juara

MANILA- Tim sepak bola Indonesia menunggu cukup lama untuk bisa…

Senin, 09 Desember 2019 16:11

Polisi Tangkap Tiga Orang Diduga Mencuri Minyak Mentah Pertamina Sanga-sanga, Begini Cara Kerjanya

SAMARINDA - Sebanyak tiga orang inisial HR, HK dan MK…

Senin, 09 Desember 2019 13:56
Jelajah Kampung Terpencil di Kutai Barat (3-Habis)

Wisata Budaya hingga Kuburan Dayak Berusia Ratusan Tahun

Potensi wisata Kampung Tanjung Soke, Kecamatan Bongan, Kutai Barat (Kubar),…

Senin, 09 Desember 2019 13:55

Pangkalan Militer di Samarinda, VVIP di Balikpapan

BALIKPAPAN–Lalu lintas penerbangan di langit Kalimantan akan semakin padat. Hal…

Senin, 09 Desember 2019 13:54

Tak Jadi di Melawai, Jembatan Tol Dipindah ke Kariangau

BALIKPAPAN–Keputusan pemindahan lokasi jembatan tol Balikpapan-Penajam Paser Utara (PPU) membuat…

Senin, 09 Desember 2019 13:54

Organ Tubuh Tak Utuh Menimbulkan Tanya

SAMARINDA–Misteri hilangnya Yusuf Ahmad Gazali sejak Jumat (22/11) lalu mulai…

Senin, 09 Desember 2019 12:53

Jika Masih Gagal, Bentuk TGPF Kasus Novel

JAKARTA- Presiden Joko Widodo dijadwalkan bertemu Kapolri Jenderal Idham Aziz…

Senin, 09 Desember 2019 10:54

Duit Rp 700 M untuk Proyek Air Baku Ibu Kota

Penajam Paser Utara (PPU) dan Kutai Kartanegara (Kukar) bakal jadi…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.