MANAGED BY:
SELASA
10 DESEMBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | LIFESTYLE | KALTARA

FEATURE

Minggu, 28 Juli 2019 10:23
Jelajah Hutan dan Pegunungan Karst di Kutim
Tersesat di Belantara Mencari “Permata” Mampang

PROKAL.CO, Air Terjun Mampang di Desa Sekerat, Kecamatan Bengalon, Kutai Timur (Kutim), jadi sumber air bagi warga. Juga, menyimpan potensi wisata.

 

DESTRY, perempuan tangguh asal Kecamatan Telen, Kutim, itu setahun lalu pernah berkemah di dekat Air Terjun Mampang. Pengalaman itu yang membuatnya menjadi navigator rombongan Kaltim Post.

Dalam pendakian menuju air terjun itu, hanya empat orang. Selain Destry, rombongan media ini Dirhan, Yuda, dan Labong. Sedangkan Michael tak ikut karena kurang enak badan. Penelusuran dimulai pukul 08.30 Wita.

Dari tempat memarkir mobil ke batas Desa Sekerat, tim harus berjalan kaki 30 menit. Karena jalan menuju batas perkampungan sedang diperbaiki. Sehingga mobil tidak dapat melintas. Hanya motor yang bisa lewat.

Sepanjang jalan dilewati membentang luas persawahan yang dibentengi Pegunungan Sekerat. Ada yang habis dibajak. Ada juga yang telah ditanami padi. Di bagian utara, perkampungan dibatasi sungai kecil. Airnya masih sangat jernih. Nyaris tidak ada sampah. Hanya ada dedaunan. “Dari batas kampung ke air terjun berapa lama, Des?” tanya Yuda. “Mungkin sekitar satu jam, paling lama,” kata Destry menjawab.

“Kamu sudah berapa kali ke Air Terjun Mampang, Des,” sambung Dirhan mengikuti percakapan. “Sudah dua kali. Terakhir tahun lalu sama teman-teman. Kami sempat berkemah di dekat air terjun,” kata Destry lagi.

Setelah berjalan sekitar 30 menit, menyusuri jalan setapak, masuk ke hutan, menerabas semak belukar dan lewati jalan berlumpur, rute menuju air terjun tak juga ditemui. Makin masuk hutan, malahan sulit didapati jalur terbuka.

Medan pun kian terasa berat lantaran jalan setapak dilewati merupakan jalur berlumpur. Yang ketika dilalui harus melepas alas kaki. Bukan tanpa alasan, kedalaman lumpur bisa mencapai sekitar 40 sentimeter. “Apa benar ini jalurnya Des,” tanya Yuda. “Kalau enggak salah ingat, ini memang jalannya,” kata Destry meyakinkan.

“Tapi sepertinya enggak ada jalur lagi. Semuanya tertutupi semak-semak. Jalannya juga semakin berlumpur,” sanggah Dirhan yang makin kesulitan mengeluarkan kakinya dari lumpur. “Sepertinya memang salah jalan ini,” timpal Labong kemudian tertawa lebar.

Setelah berunding singkat, diputuskan kembali ke rute awal. Dengan menyesal dan bersungut-sungut di jalan, Dirhan, Yuda, dan Labong hanya bisa tersenyum masam karena harus melewati jalur yang serupa, berlumpur. Sementara Destry tak bisa menahan tawanya.

Sialnya ketika kembali ke jalur awal, kaki Yuda mengalami luka robek di bagian telapak kaki terkena batuan tajam dalam lumpur. Setibanya di rute mula-mula, Destry menyebut, harusnya tadi memilih kiri bukan kanan.

Perjuangan menemukan Air Terjun Mampang dalam pendakian kali ini benar-benar diuji. Setelah berjalan sekitar 40 menit, tidak juga terdengar deburan air terjun membentur bebatuan di bawahnya. Kian berjalan masuk ke hutan, rasanya makin menjauh dari lokasi air terjun. Hanya semak belukar membatasi jalan harus dibersihkan. Dirhan dan Yuda yang tertinggal di belakang kembali bertanya, “Betulkah ini jalannya, Des?”

“Iya, benar Bang,” jawab Destry. Kemudian, dia meminta mencari jembatan kayu besar yang melintangi sungai. “Kalau ada, berarti benar ini jalannya,” sambung Destry sembari mengingat jalur yang pernah dia lewati sebelumnya.

Lantaran tidak mendapati kayu besar yang dimaksud, tim terpaksa melewati anak sungai. Syukurnya ketika itu tak terlalu dalam, hanya sepinggang orang dewasa. “Bang, lewati saja sungainya. Ini sudah benar jalannya. Saya ada lihat kabel yang menuju ke air terjun,” teriak Destry yang sudah berada di seberang sungai.

Waktu menunjukkan pukul 09.47 Wita. Perjalanan terus dilanjutkan. Rupanya setelah melalui sungai, rute menanjak sudah menanti riang. Tertatih-tatih keempatnya menanjak jalur tersebut. Belum lagi setelah mendaki panjang disambut dengan rute menurun yang curam.

Setelahnya jalan landai dilalui, lamat-lamat suara deburan air terjun terdengar dari arah utara. Di bawah kanopi hutan Sekerat yang kukuh menjulang ke atas bak hendak mencakar langit. Desiran angin membawa gemercik air kian jelas terdengar, kian bertambah seiring langkah kaki. Semangat pun terasa, belum lagi ketika burung bernyanyi bersahut-sahutan. Menghasilkan nada penambah tenaga.

Ketika mata memandang ke atas, pohon-pohon rasa-rasanya ikut bergoyang. Hutan yang begitu terjaga, jauh dari ulah tangan-tangan jahil. “Itu air terjunnya,” ujar Destry sembari menunjuk ke arah sungai. “Mantap. Benar-benar enggak sia-sia kita datang ke sini,” imbuh Yuda bersemangat mendatangi suara air. Bagai bertemu oase di padang pasir, begitu kira-kira gambaran tim ekspedisi saat menemukan air terjun di tengah hamparan luas pepohonan.

Air mengalir begitu indah di bentangan sungai dengan panjang sekitar 8 meter. Nyaris semua bebatuan sungai diselimuti lumut. Tanda hulu sungai Air Terjun Mampang belum banyak dijamah manusia. Jadi harus awas ketika melangkah.

Menelisik ke arah utara, tebing besar tampak memagari sungai. Di tengah-tengah pagar alam itu, mengalir air deras dari ketinggian kira-kira 2,7 meter. Tampak kayu besar sepanjang 3 meter berada di sisi air terjun, berwarna hijau terlihat seperti bebatuan dari jauh. Sementara di balik air terjun itu ada cekungan kecil.

“Luar biasa indah. Airnya sejuk dan jernih. Hutannya begitu hijau dan rimbun. Ini benar-benar harta alam yang begitu luar biasa,” ungkap Dirhan yang tak berhenti memuji keindahan Air Terjun Mampang dan hutan karst Sekerat.

Dari kisah Destry, dulunya sumber daya air itu dimanfaatkan demi mendapatkan setrum. Ya, listrik tenaga air. Itu terlihat dari kabel yang melintang puluhan kilometer dari Desa Sekerat ke Air Terjun Mampang.

Tepat di depan jalan masuk ke air terjun ada mesin pembangkit listrik. Dibangun di seberang sungai. Demi mendapatkan aliran air deras, warga membuat selokan. Air diambil melalui celah-celah aliran sungai yang berada di atas tebing demi menjalankan kincir. “Dulu aliran listrik yang masuk Desa Sekerat diambil dari sini. Tapi beberapa tahun terakhir enggak dipakai lagi,” tutur Destry.

Karena mesin pembangkit sering rusak. Tak hanya sekali, tapi berulang. Itulah sebabnya warga enggan lagi memakai setrum dari tenaga air terjun. Kini mereka lebih memilih genset pribadi atau bantuan pemerintah. Hanya beberapa warga yang masih bertahan dengan pembangkit listrik tenaga air tersebut. Dari mesin itu, setidaknya mereka dapat menerangi gelapnya malam dari pukul 18.00–23.30 Wita. “Yang punya mesin ini biasanya masuk-keluar hutan. Bisa satu kali atau dua kali seminggu,” sebut Destry.

Mata kami benar-benar dimanjakan dengan keindahan hutan pegunungan Mampang dan sungai yang mengalir di bawahnya. Perpaduan di antara keduanya selayaknya sebuah panorama alam yang dilukis dengan begitu apik oleh Sang Pencipta.

Lelahnya menerabas semak belukar. Perihnya kaki terluka. Letihnya raga memikul ransel. Beratnya medan jalan berlumpur. Hingga tersesat karena salah memilih jalan. Semuanya dibayar lunas dengan lanskap alam yang maha-indah.

Berselimut di bawah air terjun, badan terasa dapatkan pijatan gratis dari alam. Derasnya air terjun yang membasahi badan, berikan sensasi relaksasi begitu luar biasa. Air terjun Mampang benar-benar jadi harta tersembunyi yang dimiliki masyarakat Sekerat.

Kata Destry, Air Terjun Mampang punya empat tingkatan. “Mari coba naik. Di sini ada kolam dan air terjunnya,” kata Dirhan mengajak Yuda mencoba melihat kolam air terjun di tingkat kedua. “Cuma hati-hati saat naik. Jalannya sedikit licin. Batuannya banyak ditutupi lumut,” sambung Dirhan mewanti-wanti.

Keindahan Sungai Mampang tidak hanya sampai di situ. Tepat beberapa meter di atas kepala kami, masih terdapat beberapa kolam air. Kolamnya bahkan tampak bertingkat-tingkat. Karena hanya dipisahkan oleh beberapa bebatuan.

Naik ke tingkat ketiga masih terdapat kolam dengan kedalaman sekitar 1,7 meter. Keberadaan kolam ini terasa lebih indah karena menyambung dengan bebatuan panjang besar dan landai. Bebatuan itu sangat cocok dijadikan tempat berselonjoran.

Yuda yang awalnya ragu-ragu meminum air terjun Mampang, pada kesempatan itu dia langsung merebahkan badan dan menyeruput air sungai. “Airnya benar-benar dingin dan sangat segar. Coba saja Des. Enak. Airnya manis,” ajak Yuda kepada Destry yang juga ikut menelusuri tingkat-tingkat air terjun tersebut.

Hingga akhirnya tim ekspedisi menemui sumber air terjun tersebut, dari bawah jaraknya sekitar 800 meter lebih. Tak jauh berbeda dengan mata air yang didapati sebelumnya. Seperti kolam besar dengan jumlah air tak terbatas. Satu setengah jam lamanya menikmati alam dan air terjun tersebut. Selepas mengabadikan momen pada pukul 11.05 Wita, tim ekspedisi memutuskan kembali pulang. Selama perjalanan tubuh begitu ringan. Boleh jadi dapatkan tenaga dari alam.

Sehingga sepanjang perjalanan tak ada yang mengeluh karena jalur yang mendaki atau menurun, lewati sungai atau jalan berlumpur. Senyum lebar terus melingkar di wajah tim ekspedisi.

Tak terasa perjalanan menemui babak akhir setelah bertemu Desa Sekerat pada pukul 12.35 Wita. Perjalanan kemudian dilanjutkan ke kawasan PDAM untuk santap siang di sana. Menunya, sarden, mi, dan telur. Terasa nikmat, karena bayang-bayang keindahan karst dan air terjun masih menempel. (rom/k8)


BACA JUGA

Sabtu, 07 Desember 2019 12:16
Rindu Leluhur, Bocah-Bocah Omah Cangkem Diundang ke Kaledonia Baru

Seperti Bertemu Saudara, Trenyuh Gamelan 30 Tahun Ditabuh Lagi

Bocah-bocah yang tergabung dalam Omah Cangkem belum lama ini menorehkan…

Sabtu, 07 Desember 2019 11:10
SMPN 20 Depok setelah Puluhan Siswanya Terinfeksi Hepatitis A

Diliburkan Tiga Hari, Sediakan Ujian Susulan untuk Yang Masih Dirawat

Pihak sekolah membantah kesimpulan Kementerian Kesehatan bahwa penular virus adalah…

Senin, 02 Desember 2019 12:38

Sijantang Koto dan Abu ”Abadi” Cerobong Pembangkit Listrik

AGUS DWI PRASETYO, Jawa Pos, Sawahlunto   Bocah laki-laki itu…

Kamis, 28 November 2019 13:39
Mengikuti Keseharian Ahmad Tohari, Puluhan Tahun setelah Ronggeng Dukuh Paruk Lahir (2-Habis)

Nyabut Singkong, Dikencingi Dulu, lalu Dimakan Langsung, Itu Pengalaman Nyata

Ahmad Tohari akan terus menulis...selama tak ada ciap-ciap anak ayam…

Rabu, 27 November 2019 12:07
Sehari Bersama Ahmad Tohari, sang Penulis Ronggeng Dukuh Paruk (1)

Dari Gus Dur Belajar tentang Permainan Kata dan Humor

Sampai usia 71 tahun sekarang ini, Ahmad Tohari terus bersetia…

Selasa, 26 November 2019 13:22

Kisah Tutik Suwani, Sarjana Perhotelan yang Pilih Mengajar di SLB

Tugas seorang guru salah satu adalah mengajarkan baca dan tulis…

Selasa, 26 November 2019 11:31

Cerita Penyusunan Buku Saku Penanganan Kasus Kekerasan Seksual di Kampus

Inge dan Yayas pertama menggagas buku ini saat sama-sama menangani…

Rabu, 20 November 2019 10:17
Ahnaf Fauzi Zulkarnain, 10 Besar KJSA Goes Digital 2019

Belajar lewat YouTube, Bikin Robot Pelayan Penderita Stroke

Berawal dari rasa peduli terhadap sesama, siswa MTsN 4 Gunungkidul…

Sabtu, 16 November 2019 12:57

Ananda Badudu yang Ingin Kembali Teruskan Karir Bermusik

Menjadi jurnalis dan musisi sudah dilakoni Ananda Badudu. Namun, begitu…

Jumat, 15 November 2019 09:43
Amanda Putri Witdarmono, Dirikan We The Teachers untuk Guru di Indonesia

Ibarat Helikopter, Ajak Guru Kembangkan Anak lewat Potensi di Sekitar

GURU memiliki peran penting dalam pendidikan karakter anak sejak usia…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.