MANAGED BY:
SELASA
20 AGUSTUS
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

UTAMA

Kamis, 25 Juli 2019 23:00
Jelajah Hutan dan Pegunungan Karst di Kutim (1)
Melawan Sekarat Karst Sekerat
Karst yang membentang dari Desa Sekerat dan Desa Selangkau.

PROKAL.CO, Seperti teluk yang menjadi hak bumi–untuk berlekuk, karst Sekerat pun demikian. Bentang alam di utara Kaltim ini adalah tangki raksasa penyimpan air bawah tanah. Rumah berbagai flora dan fauna langka. Kawasan mineral tak terbarukan, sekaligus wadah mempelajari masa lalu.

 

AZAN berkumandang memecah keheningan subuh. Sudah setengah jam, Dirhanuddin terjaga dari tidur lelapnya. Dia tak ingat lagi mimpi yang telah menemani tidurnya malam itu. Setelah mencuci muka dan berwudu, dia beranjak dari tilam, lantas menunaikan ibadah.

Menit berbilang jam, fajar segera menyapa. Sejurus kemudian ponselnya berdering. Rekannya, Yuda Almerio mengirim pesan di WhatsApp. “Sudah bangunkah Dir? Mobil sudah siap. Kita kumpul pukul 08.00 Wita di kantor (Kaltim Post biro Samarinda),” begitu isi pesan dari Yuda.

Hari kedua Ramadan atau awal Mei lalu, tim Kaltim Post hendak mendaki dan menjelajah pegunungan karst Sekerat, Kutai Timur (Kutim). Selain Yuda dan Dirhan, turut serta ketika itu pewarta foto, Saipul Anwar.

Rencananya fokus jelajah ialah mengamati keindahan kawasan karst, potensi flora dan fauna yang hidup di dalamnya dan melimpahnya sumber mata air di kawasan tersebut.

Setelah berkemas, ketiganya melaju dengan MVP dengan Dirhan sebagai sopir. Empat jam 40 menit mereka tiba di Sangatta, Kutim.

Di daerah yang rawa dan sungainya banyak dihuni buaya itu, Kaltim Post mendapatkan dua tambahan anggota, Michael Freddy Yacob dan Destry Andriningsi Yudita. Keduanya pencinta alam yang kerap menjelajah berbagai pegunungan.

Rencananya Destry menjadi pemandu pendakian. Akhir 2018, alumnus Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian (Stiper) Kutim itu pernah mendaki salah satu pegunungan karst di Sekerat.

Perjalanan menuju Sekerat dilanjutkan selepas berbuka puasa dan salat Magrib. Dari informasi Destry, selain jalan poros Sangatta-Bengalon, ada jalur alternatif yang bisa dilewati.

Jalan itu milik perusahaan sawit dan dapat ditempuh melalui kawasan Rawa Indah. Dari perbatasan Sangatta–Bengalon, jaraknya 25 kilometer.

Destry berujar, rute tersebut bisa memangkas satu jam perjalanan. Bila menempuh jalan poros Sangatta­–Bengalon, makan waktu tiga jam menuju Sekerat. “Dari jalan besar, kami akan melewati perkampungan dan perkebunan kelapa sawit. Setelah itu kami menyeberang menggunakan feri. Kalau mobil bayar Rp 50 ribu. Penyeberangan 10–15 menit saja,” jelas Destry.

Dirhan yang tak biasa mengemudi saat malam terpaksa memacu kendaraan perlahan. Terlebih badan jalan jalur yang dilalui masih berupa tanah. Dari jalan besar ke lokasi penyeberangan butuh waktu 15–20 menit.

Sejauh mata memandang, hamparan perkebunan kelapa sawit memagari rute yang dilewati. Sayang, rencana tersebut gagal karena kapal penyeberangan rusak. Terpaksa memutar arah dan menggunakan jalur biasa, poros Sangatta-Bengalon kemudian disambung ke poros Bengalon-Sangkulirang selama dua jam.

Dari situ, masuk jalur yang disebut Blok Beruang menuju Sekurau. Kembali rute yang dilalui belum diaspal atau dicor, hanya tanah berbatu. Syukurnya kala itu langit tak menangis.

“Jika musim hujan, banyak warga mengurungkan niat melewati jalan tersebut. Jalan yang licin, berliuk-liuk, penuh tanjakan, dan turunan tajam. Belum lagi ada beberapa jalur yang di kiri dan kanannya jurang,” kata Destry. Selain lampu mobil, rembulan jadi penerang ekstra melewati rute yang gelap. Samar-samar kejauhan tampak kerlap-kerlip cahaya. “Kami sudah masuk perkampungan, ya Des,” tanya Dirhan.

“Belum. Lampu yang kelihatan itu mes perusahaan. Di sekitar Sekerat ada beberapa perusahaan tambang beroperasi,” jawab Destry.

Meski jauh dari setrum dan di tengah hutan, perumahan tersebut dilengkapi lampu dan pendingin ruangan. “Itukah sudah perkampungan warga Des?” celetuk Yuda.

“Bukan. Itu lampu perusahaan sawit. Di bagian paling ujung sana. Yang paling panjang bersusun, itu lampu perumahan perusahaan tambang,” kata Destry menjawab. Sepanjang 300 meter lampu pagar bundar milik mes perusahaan menjadi teman perjalanan.

Pukul 22.22 Wita, Kaltim Post memasuki gerbang Desa Sekerat. Deru mesin generator set (genset) menyambut riang, maklum desa ini belum disapa setrum. “Kami sudah tiba di Desa Sekerat. Malam ini kami menginap di rumah Ibu Aji Tiar. Itu rumah ibu teman saya,” kata Destry. “Malam ini sepertinya enggak mungkin langsung bertenda,” sambung Michael. 

Dari pusat desa ke rumah Aji Tiar tak lama. Hanya 15 menit. Turun dari mobil, semilir angin pantai menyapa disertai deru ombak bersahut-sahutan. Ya, jarak pantai dari rumah Aji Tiar kira-kira 10 meter. Pintu diketuk, senyum ramah Aji Tiar menyambut rombongan jelajah karst Kaltim Post. Seperti rumah lainnya di Desa Sekerat, jika tak memakai genset, lampu tenaga surya jadi pembantu penerangan. Meski sudah puluhan tahun tinggal di Sekerat, setrum resmi dari PLN tak juga dirasakan, demikian juga air bersih.

“Air mengalir ke rumah itu baru setahun terakhir. Sebelumnya harus ambil di mata air, kira-kira 6 kilometer dari rumah. Sebelum ada motor, ya jalan kaki sambil pikul jeriken,” kisahnya kemudian menyimpul senyum.

Dari rumah Aji Tiar, dengan mata telanjang terlihat susunan lampu dari jeti perusahaan tambang. Ironisnya jika angin laut berulah, debu emas hitam mampir ke kediamannya. “Terpaksa harus dibersihkan karena biasa masuk rumah,” tuturnya.

Harapan Aji hanya satu, jika perusahaan semen itu benar-benar jadi beroperasi, setidaknya daerah ini maju. “Air bersih bisa dirasakan setiap hari, listrik 24 jam dirasakan,” kata perempuan bercucu enam itu.

MENCARI JALUR PENDAKIAN

Jingga perlahan menanjak di horizon timur. Begitu asyik menyapa dengan sinar tak menusuk mata, sementara deru ombak bergulung-gulung menyapu dedaunan di pinggir pantai. Enggan kalah, burung pipit ikut berdendang menyambut pagi di Desa Sekerat. Sisa-sisa fajar melimbur di ujung pantai.

Rabu, Mei lalu, pukul 06.37 Wita, perjalanan dilanjutkan setelah melepas salam dengan Aji Tiar. Pagi itu, dari Desa Sekerat, jelajah hendak dilanjutkan ke Desa Selangkau. Sebab rencananya pendakian dimulai dari kawasan tersebut. Sayang, rencana itu tertunda karena air laut pasang. Menurut informasi warga, air laut surut pukul 10.30 Wita. Jalur pinggir laut dipilih lantaran tak ada akses lain.

Sambil menunggu air laut surut, diputuskan menengok sumber mata air warga Sekerat. Lokasinya tidak jauh dari tempat menginap. Hanya sekitar satu kilometer. Mata air itu menjadi bahan baku utama PDAM Sekerat. Namun, hingga kini belum juga digunakan, padahal proyek tersebut sudah selesai. Mata air itu tepat di bawah kaki gunung karst.

Dari jalan utama Desa Sekerat, jaraknya sekitar 700 meter. Begitu sampai, mata dimanjakan dengan hamparan hutan nan luas kiri dan kanan. Sementara di bawahnya ada danau kecil yang jadi sumber utama air bersih warga. Tak ada kata lain yang keluar saat itu selain indah.

Airnya begitu jernih. Warnanya biru dan menggoda. Aliran air yang keluar dari pegunungan ditampung bak bendungan. Sementara di sebelah kanan ada bangunan besar yang berfungsi sebagai intake. Luapan air dibiarkan mengalir melalui sungai kecil yang mengarah ke perkampungan.

Keberadaan mata air itu terbilang krusial. Tidak hanya bagi warga setempat. Tetapi juga bagi Kawasan Ekonomi Khusus Maloy Batuta Trans Kalimantan (KEK MBTK) di Kecamatan Sangkulirang. Dari mata air tersebut, pemerintah telah membangun jaringan pipa transmisi sepanjang 28,71 kilometer (km). Panjang jaringan transmisi dari Sekerat–Selangkau 9,75 km. Selangkau–Kaliorang 9,48 km. Kemudian Kaliorang–Maloy 6,38 km.

“Yud, ayo mandi. Sepertinya airnya dingin dan segar. Enak buat menyegarkan badan. Apalagi kita belum mandi di rumah Bu Aji Tiar,” kata Dirhan.

“Kamu duluan Dir. Aku coba cek-cek dulu sumber mata airnya. Nanti menyusul,” balas Yuda.

Tatkala kaki dan tangan menyentuh aliran air sungai, dingin menjalar ke seluruh tubuh. Dibalut kesejukan air pegunungan, rasanya tubuh enggan beranjak dari sungai. “Gimana Dir? Dinginkah airnya,” tanya Yuda yang juga sudah bersiap-siap ikut mandi. “Iya, airnya dingin dan segar,” balas Dirhan sambil tertawa menyiram kepalanya dengan air sungai yang jernih itu. Maklum saja, air Sungai Mahakam atau Sungai Karang Mumus jauh dari kata jernih atau bening sehingga saat bertemu sungai yang dasarnya bisa terlihat dengan mata telanjang, begitu girang terasa.

Di sungai itu pula Kaltim Post berjumpa dengan hewan amfibi. Warnanya oranye hitam sejenis kumbang. Binatang tersebut sedang memakan rerumputan bebatuan di dasar sungai. Tak terasa satu jam berlalu, selain airnya yang jernih dan segar, udara di sekitar PDAM begitu bersih. “Sangat segar ketika menarik napas,” kata Labong, sapaan karib Saipul Anwar.

Setelah berunding sejenak mengenai langkah selanjutnya, tim ekspedisi Kaltim Post beranjak dari penampungan air warga menuju kantor desa. Tujuannya ialah melaporkan rencana pendakian kepada pemerintah setempat. Sayangnya, pegawai kantor belum tiba, biasanya balai desa buka pukul 09.00 Wita. Lantaran datang terlalu pagi menunggu jadi pilihan utama.

Menanti bukanlah hal mengasyikkan. Sejak pukul 08.30–10.00 Wita waktu begitu malas bergerak. Penanggung Jawab (Pj) Kepala Desa (Kades) Sekerat Johansyah yang dinanti tak kunjung terlihat batang hidungnya. Memang butuh ekstra sabar. Sebab selain menjabat Pj Kades Sekerat, Johansyah adalah pejabat Kecamatan Bengalon. Jadi dia harus bolak-balik dari Kecamatan Bengalon di Desa Sepaso ke Desa Sekerat. Butuh waktu sekitar satu setengah jam. Akses jalan yang mesti dia lewati pun tidak mudah. Sebab tidak satu sentimeter pun jalan Desa Sekerat yang diaspal pemerintah. Menit berbilang jam akhirnya yang dinanti tiba juga. Selain Johansyah, Kaltim Post juga menemui beberapa pengurus desa, yakni Sekretaris BPD Sekerat Armin Jelita.

Diskusi ringan mengenai kondisi karst pun dimulai. Tujuannya ialah meminta tolong kepada pemerintah desa menunjukkan rute mendaki. Termasuk menanyakan sumber mata air dan gua di Sekerat. Namun tak ada satu pun dari aparat desa bersedia mendampingi. Selain karena bulan puasa, warga setempat sibuk bekerja. Sebagian warga di desa itu karyawan tambang batu bara. “Maaf Mas. Kami belum ada yang bisa membantu. Kalau dari warga, rata-rata bekerja juga,” kata Armin dengan nada sedikit meninggi.

“Kalau kami harus camping di hutan karst, medannya seperti apa ya Bang? Lokasi pendakian yang biasa dilewati warga atau pendaki di Sekerat di mana ya,” tanya Yuda.

 “Kalau itu kami enggak tahu. Kami juga enggak berani menjamin apa-apa jika Mas memilih bertenda di hutan,” balas Armin sedikit ketus.

Merasa tidak mendapatkan petunjuk sedikit pun, Tim Ekspedisi Kaltim Post memutuskan mencari sendiri jalur pendakian. Terutama untuk mencari di mana saja titik-titik sumber mata air dan gua yang ada di hutan karst Sekerat.

 Pantai Sekerat. Pabrik semen rencananya dibangun tak jauh dari pantai ini.

****

Baskara perlahan mendekati puncak cakrawala begitu keluar dari Balai Desa Sekerat. Teriknya semakin terasa. Di dalam mobil diputuskan untuk melanjutkan perjalanan ke Desa Selangkau, karena sehari sebelumnya Tim Ekspedisi Kaltim Post singgah di Sangatta bertemu dan berdiskusi dengan Ketua Forum Peduli Karst (FPK) Kaltim Irwan. Dari dia, kami mendapatkan nomor kontak Kades Selangkau, Hasbullah. Sayangnya, saat dihubungi lewat telepon, Hasbullah di Banjarmasin.

“Saya masih di luar daerah, Mas. Coba komunikasi sama sekdes saya Pak Arifuddin. Nanti kontaknya saya kirim,” tutur Hasbullah.

Setelahnya komunikasi berlanjut dengan Arifuddin. Janji temu disepakati di Kantor Desa Selangkau pukul 12.30 Wita. Dari informasi warga, perjalanan ke Selangkau dapat diakses melalui dua jalur. Pertama, dengan menyisir kaki hutan karst. Kedua, menyusuri pantai Sekerat.

Pilihan jatuh di rute pertama, sebab jalan kedua itu ada longsor.

Ke luar dari Desa Sekerat, bentang pasir putih membentengi tubir pantai Sekerat. Begitu indah. Lautnya begitu mempesona. Pantainya pun masih bersih dan terawat. Sepanjang perjalanan, kirana itu membius mata dibalut dengan hijau hutan dan pegunungan karst yang membentang di sebelah kiri jalur pantai. Untuk tiba di Selangkau makan waktu 35 menit.

Tak terasa Desa Selangkau dicapai, namun akses menuju ke pusat desa tak mudah. Sebagian besar jalan itu berlumpur dan berlubang. Wajib hati-hati saat melintas. Di sisi kiri–kanan jalan ada aliran sungai untuk tambak ikan warga. Rute menuju balai desa juga senada, butuh waktu 20 menit menjangkaunya.

Setibanya di sana, Arifuddin bersama rekannya sudah menunggu. Kantor Desa Selangkau memunggungi pegunungan karst. Dari balai desa kaki pegunungan terlihat. Jaraknya sekitar 10 kilometer. Di bawah kaki gunung, terbentang lahan pertanian dan hutan-hutan kecil.

Duduk di atas kursi bambu. Dipayungi pohon ketapang, sementara angin sibuk mendesir menyapu rerumputan. Alam Desa Selangkau terasa begitu asri dan damai.

Di tempat itu, tim jelajah karst berdiskusi panjang dengan Arifuddin. Namun, lagi-lagi, keinginan mendaki karst dari Selangkau harus pupus. Meski puluhan tahun tinggal di Selangkau, Arifuddin mengaku belum pernah sama sekali mendaki atau menjelajahi hutan. Cerita mistis menjadi bumbu dalam dialog tersebut. Lagi-lagi harapan mendapatkan bantuan penunjuk arah tak bisa didapatkan. Pertimbangannya senada, puasa dan sibuk bekerja.

“Saya sendiri sih belum pernah masuk ke karst. Jadi saya enggak berani berikan rekomendasi,” kata Arifuddin. “Biasanya yang sering mendaki itu Pak Kades. Cuma posisi beliau lagi di Banjarmasin,” sambung dia.

Dengan berat hati, diputuskan kembali ke Sekerat mencari jalur pendakian. Sekitar pukul 13.25 Wita tim ke luar dari Selangkau. Sepanjang jalan tak henti-hentinya mencari-cari informasi rute pendakian dari warga. Setelah 20 menit berputar-putar mencari jalur pendakian kembali diputuskan beristirahat di tepi pantai Sekerat. Pukul 14.20 Wita perjalanan dilanjutkan cari rute pendakian. Destry mengajukan ide menggunakan jalur pendakian setahun lalu bersama kawannya.  Lantaran niat mendaki membuncah, rute yang diajukan Destry pun disetujui.

Tiba di lokasi yang dimaksud, tak tampak jalur pendakian itu. Sebab sudah tertutup semak belukar. Tanda pita rute pendakian juga hilang. Tepat di depan jalur pendakian ada pohon besar. Akarnya bercabang-cabang ikut menutup akses masuk.

Lantaran sudah bertekad menanjak, tim sepakat menyimpan mobil di rumah warga yang jaraknya satu setengah kilometer dari lokasi pendakian. Pukul 15.35 Wita, setelah menyiapkan ransum dan peralatan lainnya, tiba-tiba saja rombongan pendakian Kaltim Post disapa warga setempat, 2 pria, 2 perempuan dan 1 anak kecil. Dari kaki hingga pinggang tubuh mereka basah dan dipenuhi lumpur. “Mau ke mana Mas,” sapa salah satu pria dari kelima orang tersebut. “Kami mau mendaki ke gunung Jepu-Jepu, Mas,” jawab Yuda.

“Kalau mau masuk lewat sini sudah enggak ada jalur sama sekali. Rute ini sudah lama enggak dipakai. Kalau mau mendaki ke pegunungan karst, sebaiknya mendaki dari Desa Sekerat. Di sana ada jalur pendakian,” balas lelaki yang memberikan saran itu.

“Tapi misalnya mendaki lewat sini, berapa lama baru bisa sampai di kaki gunung Jepu-Jepu?” giliran Dirhan bertanya.

“Dari jalan masuk ini ke pinggir pegunungan saja sekitar tiga jam. Itu saat masih ada jalur. Kalau sekarang mungkin bisa lebih dari itu. Kalau ditambah mau ke puncak, butuh waktu delapan sampai sembilan jam,” jelas pria yang mengaku pernah mendaki gunung karst tersebut beberapa bulan sebelumnya.

Tak ingin gegabah langkah. Susun ulang rencana pendakian dilakukan. Lebih lagi saat itu mentari perlahan-lahan menghilang di garis cakrawala barat. Tak hanya itu, pemandu daki pun tak ada. Tekad memanjat pun perlahan mengendur. Opsi alternatif ialah mencoba jalur lain dari arah Desa Sekerat. Rute lain itu tepat di depan papan nama PT Kobexindo yang terlihat dari tepi pantai.

Bayang malam semakin memburu, harapan mendaki harus disimpan dulu. Tim Ekspedisi Kaltim Post pun mendirikan tenda di depan lokasi pendakian. Sebelum senja berganti buta malam, Yuda dan Dirhan menyempatkan meninjau rute yang rencananya didaki esok pagi. Harapannya tentu mendapatkan gambaran awal medan yang bakal ditempuh. 

Dari titik mulai menuju 700 meter ke hutan, jalan yang dilalui cukup landai. Hanya sedikit berlumpur. Tanah di bibir pegunungan Sekerat memang sedikit berair. Di beberapa bagian jalan yang dilewati juga ada genangan dari celah-celah tanah, padahal sepanjang hari atau sehari sebelumnya langit tak bermuram durja.

Setelah berjalan sekitar 30 menit, jalur pendakian terjal pertama menanti. Dipenuhi kerikil dan bebatuan. Jika tak waspada saat mendaki petaka bisa mendekat. Belum lagi rutenya terbilang licin dan terjal. Butuh 20 menit untuk sampai rute landai. Sebab senja semakin dekat dan Dirhan hendak membatalkan puasanya, diputuskan untuk kembali ke lokasi kemah.

Setelah menikmati santap malam, mi kuah bercampur sarden, tim diskusi singkat mengenai kiat-kiat mendaki esok pagi. Disepakati, hanya tiga orang yang akan menanjak, yakni Yuda, Dirhan dan Labong sedangkan Michael dan Destry bertugas menjaga tenda dan mobil.

Malam semakin larut ketika pijar rembulan berada di atas singgasananya yang tenang, bertabur bintang kerlap-kerlip di hamparan luas dirgantara. Ditemani api unggun dan kopi panas, suasana malam itu begitu tenang. Semua beban hidup serasa menguap entah ke mana, hilang tak berbekas. Deburan ombak pantai Sekerat menjadi nada pengiring sebelum masuk ke tenda. (timkp)

Peliput: Dirhanuddin, Yuda Almerio

Pewarta foto: Saipul Anwar

Editor: Ismet Rifani


BACA JUGA

Senin, 19 Agustus 2019 20:13

Panglima TNI Pastikan Kondisi Manokwari Sudah Terkendali

 Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto terus memantau kondisi di Manokwari,…

Senin, 19 Agustus 2019 19:18

Gubernur Papua Barat Sebut Wawali Kota Malang Pemicu Kerusuhan

Gubernur Papua Barat Dominggus Mandacan menilai pernyataan Wakil Wali Kota…

Senin, 19 Agustus 2019 12:42

Manokwari Rusuh, Warga Pendatang Tak Berani Keluar Rumah

Penangkapan sejumlah mahasiwa di Surabaya berbuntut panjang. Terjadi kericuhan di…

Senin, 19 Agustus 2019 11:16

Pemindahan Ibu Kota ke Borneo Bakal Membawa Masalah Baru, Apa Saja?

JAKARTA- Rencana Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk memindahkan ibu kota…

Senin, 19 Agustus 2019 10:38

Ibu Kota Batal di Tahura, Pastinya Dimana...??

Kekhawatiran bakal rusaknya Taman Hutan Raya (Tahura) Bukit Soeharto terjawab.…

Senin, 19 Agustus 2019 10:36

Bandara Sepinggan Sudah Penuhi Syarat

RENCANA pemindahan ibu kota juga dilakukan karena adanya ketimpangan dengan…

Senin, 19 Agustus 2019 10:35

KLHK Menduga Ada yang Backing Tambang di Muang

SAMARINDA benar-benar darurat tambang ilegal. Pantas Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK)…

Senin, 19 Agustus 2019 10:33

Harga Cabai Masih Tinggi meski Iduladha Sudah Sepekan Berlalu

Jelang Iduladha, harga cabai begitu cepat merangkak naik. Namun, setelah…

Minggu, 18 Agustus 2019 00:48

Ini Cerita Perias Presiden SBY dan Jokowi

 Leader project official make up Paskibraka Nasional 2019, Tri Winarsih…

Minggu, 18 Agustus 2019 00:40

KLHK Tahan Dua Penambang Ilegal

SAMARINDA–Dugaan penambangan batu bara ilegal di Samarinda kembali terkuak Jumat…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.
*