MANAGED BY:
SELASA
12 NOVEMBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | LIFESTYLE | KALTARA

PRO BISNIS

Selasa, 23 Juli 2019 11:12
Insentif Fiskal Harus Didukung Moneter
STIMULUS: Penurunan suku bunga acuan ke level 5,75 persen diharapkan semakin menambah minat dan kemampuan konsumen untuk membeli properti.

PROKAL.CO, PROPERTI diharapkan bisa menjadi salah satu pendorong pertumbuhan ekonomi. Hal itu terlihat dari banyaknya insentif fiskal yang diberikan pemerintah pada sektor tersebut tahun ini. Misalnya, keringanan pajak untuk properti mewah serta kenaikan threshold harga rumah yang dikenai pajak pertambahan nilai (PPN) untuk rumah sederhana.

Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan Suahasil Nazara menyatakan, properti adalah sektor ekonomi yang dapat memberikan dampak yang cepat terhadap pertumbuhan. Hal itu yang membuat pemerintah terus berdiskusi dengan pengembang mengenai apa saja insentif yang dibutuhkan industri. Dengan adanya insentif, sektor properti bisa tumbuh lebih menggeliat.

“Tetapi, kita juga tidak bisa memberi keringanan dari sisi fiskal saja. Dari sisi moneter, juga harus ada dorongan untuk itu, dan dari sisi pembiayaan yang langsung menyentuh konsumen, itu juga akan ikut membantu. Dari OJK dan BI juga ikut mendorong,” katanya. Penurunan suku bunga acuan ke level 5,75 persen diharapkan semakin menambah minat dan kemampuan konsumen untuk membeli properti.

Selain itu, mendorong kemampuan pengembang untuk ekspansi usaha. Dengan insentif-insentif fiskal yang telah diberikan pemerintah sebelumnya, pengembang dapat lebih leluasa memutuskan rencana ekspansi dan kegiatan usahanya. Hal tersebut juga baik untuk multiplier effect-nya.

Sebab, multiplier effect properti akan merambah ke sektor lainnya. Misalnya, penjualan semen, perdagangan alat bangunan, upah buruh bangunan, dan lain-lain. “Itu sebabnya kami mau properti ini bisa mengangkat pertumbuhan dari banyak sisi,” lanjut Suahasil.

Ekonom BNI Kiryanto mengungkapkan, sektor properti akan tumbuh dan menjadi andalan pembiayaan perbankan. Pengembang juga akan lebih berani mengajukan pembiayaan setelah melihat perubahan suku bunga acuan. “Investasi di properti juga akan lebih baik,” ucapnya.

Di bagian lain, pemerintah juga masih berjuang keras untuk melepaskan diri dari neraca dagang yang defisit. Angka defisit neraca perdagangan 2018 yang mencapai USD 8,7 miliar adalah yang terbesar sejak Indonesia merdeka. Defisit neraca dagang juga terus berlanjut dengan catatan USD 1,94 miliar pada paro pertama tahun ini.

Menko Perekonomian Darmin Nasution menyatakan, pemerintah sudah melakukan berbagai upaya untuk mendorong ekspor maupun menekan impor. Namun, hal tersebut tentu butuh waktu yang tak sebentar. Apalagi, pelaku usaha juga masih aktif melakukan bisnisnya sehingga risiko kenaikan impor tak terelakkan.

“Sebenarnya mereka beli bahan baku dan lain-lain, itu tanda-tanda ekonomi kita masih tumbuh. Tapi, ya, memang dampaknya akan susah di neracanya,” jelasnya.

Kondisi manufaktur yang belum menjadi barang utama pendongkrak ekspor juga menjadi salah satu kelemahan Indonesia. Indonesia lebih banyak bertumpu pada ekspor komoditas. Hal tersebut turut memengaruhi nilai ekspor Indonesia.

Indonesia sendiri mengalami penurunan ekspor 8,57 persen secara year-on-year (YoY) sepanjang semester I 2019 menjadi USD 80,32 miliar. Selanjutnya, impor turun 7,63 persen (YoY) menjadi USD 82,26 miliar. Hal itu turut dipengaruhi faktor perang dagang yang sudah terjadi sejak tahun lalu. Geliat perdagangan terpengaruh sehingga tiap-tiap negara berjuang keras untuk menjaga pertumbuhan ekonominya. (rin/jpg/ndu)


BACA JUGA

Selasa, 12 November 2019 11:25

Batu Bara Masih Jadi Penyumbang PDRB Tertinggi di Kaltim

Ketergantungan Kaltim terhadap sektor pertambangan dan penggalian masih sulit dilepaskan.…

Selasa, 12 November 2019 11:23

Harus Cermat Belanja Online di Festival 11.11

BALIKPAPAN – Perilaku belanja berbasis daring, online atau e-commerce ini…

Selasa, 12 November 2019 10:43

Surplus Neraca Perdagangan Kaltim Mulai Meningkat

SAMARINDA-Neraca perdagangan Kaltim selalu mencatatkan nilai surplus, namun pada 2019…

Selasa, 12 November 2019 10:40

Harga CPO Melesat, TBS Kaltim Membaik

SAMARINDA-Tandan buah segar (TBS) kelapa sawit pada Oktober Rp 1.250…

Selasa, 12 November 2019 10:33

Harga CPO Terus Melesat, Pengusaha Harus Manfaatkan Peluang

SAMARINDA -Tampak suram pada awal tahun, harga crude palm oil…

Selasa, 12 November 2019 10:31

Bunga KUR Harus Sesuai Kekuatan Subsidi

SAMARINDA-Tahun ini Bank Indonesia (BI) cukup agresif menurunkan suku bunga…

Selasa, 12 November 2019 10:30

Industri Pengolahan Kaltim Naik 14,30 Persen

SAMARINDA- Produksi industri besar dan sedang (IBS) Kaltim dalam periode…

Senin, 11 November 2019 22:40

Sriwijaya Pilih Akhiri Kerja Sama dengan Garuda

JAKARTA– Sempat mengalami pasang surut, hubungan kerja sama antara Sriwijaya…

Senin, 11 November 2019 13:16

Rekening di Atas Rp 2 M Naik, Sinyal Konsumen Tahan Belanja

JAKARTA– Jumlah rekening simpanan dengan nilai saldo sampai Rp 2…

Jumat, 08 November 2019 20:53

Ekonomi Kreatif Makin Dominan Sumbang Rp 1.211 T ke PDB 2019

JAKARTA– Ekonomi kreatif masih menyimpan potensi besar di Indonesia. Kamar…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.
*