MANAGED BY:
KAMIS
19 SEPTEMBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

PRO BISNIS

Selasa, 23 Juli 2019 11:12
Insentif Fiskal Harus Didukung Moneter
STIMULUS: Penurunan suku bunga acuan ke level 5,75 persen diharapkan semakin menambah minat dan kemampuan konsumen untuk membeli properti.

PROKAL.CO, PROPERTI diharapkan bisa menjadi salah satu pendorong pertumbuhan ekonomi. Hal itu terlihat dari banyaknya insentif fiskal yang diberikan pemerintah pada sektor tersebut tahun ini. Misalnya, keringanan pajak untuk properti mewah serta kenaikan threshold harga rumah yang dikenai pajak pertambahan nilai (PPN) untuk rumah sederhana.

Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan Suahasil Nazara menyatakan, properti adalah sektor ekonomi yang dapat memberikan dampak yang cepat terhadap pertumbuhan. Hal itu yang membuat pemerintah terus berdiskusi dengan pengembang mengenai apa saja insentif yang dibutuhkan industri. Dengan adanya insentif, sektor properti bisa tumbuh lebih menggeliat.

“Tetapi, kita juga tidak bisa memberi keringanan dari sisi fiskal saja. Dari sisi moneter, juga harus ada dorongan untuk itu, dan dari sisi pembiayaan yang langsung menyentuh konsumen, itu juga akan ikut membantu. Dari OJK dan BI juga ikut mendorong,” katanya. Penurunan suku bunga acuan ke level 5,75 persen diharapkan semakin menambah minat dan kemampuan konsumen untuk membeli properti.

Selain itu, mendorong kemampuan pengembang untuk ekspansi usaha. Dengan insentif-insentif fiskal yang telah diberikan pemerintah sebelumnya, pengembang dapat lebih leluasa memutuskan rencana ekspansi dan kegiatan usahanya. Hal tersebut juga baik untuk multiplier effect-nya.

Sebab, multiplier effect properti akan merambah ke sektor lainnya. Misalnya, penjualan semen, perdagangan alat bangunan, upah buruh bangunan, dan lain-lain. “Itu sebabnya kami mau properti ini bisa mengangkat pertumbuhan dari banyak sisi,” lanjut Suahasil.

Ekonom BNI Kiryanto mengungkapkan, sektor properti akan tumbuh dan menjadi andalan pembiayaan perbankan. Pengembang juga akan lebih berani mengajukan pembiayaan setelah melihat perubahan suku bunga acuan. “Investasi di properti juga akan lebih baik,” ucapnya.

Di bagian lain, pemerintah juga masih berjuang keras untuk melepaskan diri dari neraca dagang yang defisit. Angka defisit neraca perdagangan 2018 yang mencapai USD 8,7 miliar adalah yang terbesar sejak Indonesia merdeka. Defisit neraca dagang juga terus berlanjut dengan catatan USD 1,94 miliar pada paro pertama tahun ini.

Menko Perekonomian Darmin Nasution menyatakan, pemerintah sudah melakukan berbagai upaya untuk mendorong ekspor maupun menekan impor. Namun, hal tersebut tentu butuh waktu yang tak sebentar. Apalagi, pelaku usaha juga masih aktif melakukan bisnisnya sehingga risiko kenaikan impor tak terelakkan.

“Sebenarnya mereka beli bahan baku dan lain-lain, itu tanda-tanda ekonomi kita masih tumbuh. Tapi, ya, memang dampaknya akan susah di neracanya,” jelasnya.

Kondisi manufaktur yang belum menjadi barang utama pendongkrak ekspor juga menjadi salah satu kelemahan Indonesia. Indonesia lebih banyak bertumpu pada ekspor komoditas. Hal tersebut turut memengaruhi nilai ekspor Indonesia.

Indonesia sendiri mengalami penurunan ekspor 8,57 persen secara year-on-year (YoY) sepanjang semester I 2019 menjadi USD 80,32 miliar. Selanjutnya, impor turun 7,63 persen (YoY) menjadi USD 82,26 miliar. Hal itu turut dipengaruhi faktor perang dagang yang sudah terjadi sejak tahun lalu. Geliat perdagangan terpengaruh sehingga tiap-tiap negara berjuang keras untuk menjaga pertumbuhan ekonominya. (rin/jpg/ndu)


BACA JUGA

Rabu, 18 September 2019 13:07

Banyak Diserap Industri Rumahan, Daging Kerbau Laris di Kaltim

BALIKPAPAN- Sempat sulit diterima, permintaan daging kerbau di Kalimantan Timur…

Rabu, 18 September 2019 13:06

DPK Kaltim Capai Rp 94,45 Triliun

SAMARINDA-Jumlah penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) di Kaltim mengalami peningkatan…

Rabu, 18 September 2019 13:02

Semester Pertama Kinerja Kontruksi Kaltim Melambat

SAMARINDA-Kinerja lapangan usaha konstruksi Kaltim triwulan II 2019 tumbuh positif…

Rabu, 18 September 2019 13:01

Kinerja CPO Sedikit Membaik

SAMARINDA-Meskipun harga minyak kelapa sawit terus melemah, namun industri pengolahan…

Rabu, 18 September 2019 12:59

Secara Nasional Juga Surplus

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan neraca perdagangan RI pada Agustus…

Rabu, 18 September 2019 12:18

Optimistis Okupansi Terus Terakselerasi

SAMARINDA-Pada Juli okupansi hotel di Kaltim meningkat dibandingkan bulan sebelumnya.…

Selasa, 17 September 2019 16:40

Aliran Uang Kartal Kaltim Lebih Banyak Keluar

SAMARINDA-Pada triwulan II 2019, nilai uang kartal yang diedarkan Bank…

Selasa, 17 September 2019 16:37

Triwulan Kedua NPF Syariah Membaik

SAMARINDA- Tingkat risiko pembiayaan syariah Kaltim lebih tinggi, jika dibandingkan…

Selasa, 17 September 2019 16:35

Fokus Tingkatkan Neraca Perdagangan

SAMARINDA-Kaltim merupakan salah satu daerah yang neraca perdagangannya selalu positif.…

Senin, 16 September 2019 11:38

Kenaikan Harga Jual Eceran Rokok 35 Persen Diminta Dievaluasi

JAKARTA - Keputusan pemerintah menaikkan tarif cukai rokok sebesar 23…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.
*