MANAGED BY:
SELASA
20 AGUSTUS
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN
Jumat, 19 Juli 2019 10:18
Evi Apita Maya, Caleg DPD yang Dituduh Terlalu Cantik di Surat Suara

Merasa Harga Diri Terinjak-injak

Perolehan suara caleg DPD asal Provinsi Nusa Tenggara Barat Evi Apita Maya disengketakan ke Mahkamah Konstitusi. Wajahnya dituding terlalu cantik lantaran editan yang berlebihan.

PROKAL.CO, Perolehan suara caleg DPD asal Provinsi Nusa Tenggara Barat Evi Apita Maya disengketakan ke Mahkamah Konstitusi. Wajahnya dituding terlalu cantik lantaran editan yang berlebihan. Evi menganggap tudingan itu konyol. Dia yakin kasus tak akan berlanjut.

 

BAYU PUTRA, Jakarta

 

JARUM jam menunjuk angka 13.35 ketika Evi tiba di lobi gedung MK kemarin (18/7). Bersama sang kakak, Antoni Amir, Evi menuju lift. Keduanya menuju ruang sidang panel 3 di lantai 4. Kami sempat berkenalan sejenak sebelum dia masuk ke ruang sidang. Tak berapa lama, tiga hakim panel hadir menandakan sidang dimulai.

Evi mengenakan setelan baju kurung biru navy dan bawahan jarit bercorak hitam putih. Tanda pengenal bertulisan tamu dikalungkan di leher. Kerudung cokelat menutup rambutnya. Wajahnya segar dengan sapuan blush on pink dan lipstik merah di bibir.

Evi hadir sebagai prinsipal pihak terkait sengketa hasil pileg yang diajukan caleg DPD Farouk Muhammad. Dalam permohonannya, salah satu hal yang didalilkan Farid adalah Evi disebut mengedit pas foto di luar batas kewajaran atau setidaknya mengubah identitas diri. Misalnya, bagian dagu, hidung, mata, warna kulit, dan struktur tubuh.

Dampak foto editan itu, menurut Farouk, banyak masyarakat yang memilih Evi sehingga mendapat suara terbanyak dalam pemungutan suara pileg 17 April lalu di DPD Provinsi Nusa Tenggara Barat. Evi memperoleh suara 283.932, tertinggi di antara semua calon. Sementara itu, Farouk mendapat 188.687 suara dan berada di urutan kelima. Farouk gagal lolos menjadi anggota DPD. Suara dia dan Evi berselisih 95.245.

Gugatan Farouk menjadi viral. Belum pernah ada selama ini, kemenangan seorang dalam pemilu digugat karena foto di surat suara dituding diedit di luar batas kewajaran. Memang, ada dalil lain yang menyertai tudingan itu, seperti dugaan penggunaan politik uang. Namun, tetap saja dalil foto editan tersebut paling menarik perhatian.

Sepanjang sidang, Evi sama sekali tidak berbicara. Kuasa hukumnya, D.A. Malik, yang mewakili membacakan keterangan. Seusai sidang, dia hanya mengungkapkan optimismenya atas kasus tersebut. ’’Hakulyakin (permohonan ditolak, Red),’’ ucap perempuan kelahiran 17 November 1973 itu.

Bagi Evi, gugatan tersebut sebetulnya cenderung merendahkan dirinya sebagai perempuan. ’’Saya sebagai perempuan dikatakan seperti itu sebetulnya harga diri saya diinjak-injak,’’ tuturnya. Tudingan mengedit di luar kewajaran demi suara pemilih tersebut, menurut dia, konyol.

Ada sekelumit cerita di balik pembuatan foto itu. Yang sekaligus membantah tudingan bahwa foto tersebut diambil lebih dari enam bulan sebelum pencalonan. Justru, ibu tiga anak itu nyaris gagal menyerahkan foto tersebut. Saat dia hendak ke studio untuk foto, di Lombok terjadi gempa. Alhasil, studio foto tutup.

Kepada KPU, dia meminta waktu sampai studio kembali buka. KPU memberikan kesempatan sampai sebelum penetapan DCT pada 20 September 2018. Belakangan dia mengetahui kalau ada caleg lain yang lebih terlambat menyerahkan foto ketimbang dia.

Akhirnya, KPU meloloskan 27 caleg DPD, termasuk Evi. Dia mendapat nomor urut 26. Dia yakin lolosnya para caleg itu sudah didasarkan pada peraturan yang berlaku. Tidak ada yang dilanggar. Syaratnya pun tergolong berat. Sebab, caleg DPD juga harus menyerahkan bukti dukungan berupa fotokopi KTP.

Setelah penetapan calon, sampailah Evi pada tahap praproduksi logistik surat suara. Di situ semua peserta menunjuk liaison officer (LO, narahubung) untuk memberikan persetujuan akhir sebelum surat suara dicetak.

Hakim panel Konstitusi Suhartoyo dalam sidang menanyakan perihal surat suara itu. Apakah setiap peserta juga bisa memberikan persetujuan atas foto calon lain yang akan dipasang di surat suara. ’’Tidak ada aturan untuk itu,’’ jawab Komisioner KPU Ilham Saputra.

Evi mengakui, dirinya memang memoles wajah sedikit lewat olah digital yang dilakukan di studio foto. ’’Siapa pun kalau foto di studio, pasti kan setelah gambar diambil, fotografer ingin menampilkan hasil karyanya yang terbaik. Ingin customer-nya puas,’’ tuturnya. Yang penting, hasil olah digital itu tidak mengubah wajah asli Evi. Dia juga mengklaim bahwa editannya tidak banyak.

Dalam urusan pengeditan, menurut Evi, semua calon juga melakukan olah digital. Bahkan, ada yang membuka kerudungnya untuk menyesuaikan dengan pakaian adat suku Sasak. Semua demi memberikan tampilan terbaik kepada pemilih. ’’Termasuk beliau (Farouk) sendiri juga diedit kok. Jangan bohong lah,’’ ucapnya.

Menurut Evi, awalnya keluarga memang sempat marah atas gugatan dengan tuduhan itu. Namun, pada akhirnya mereka semua tertawa. ’’Sampai teman-teman anak saya bilang, Pak Farouk itu kurang gaul. Masak tante Evi digituin,’’ terang istri Eka Wardana tersebut.

Evi menjelaskan, banyak saran yang masuk ke dirinya agar memperkarakan tudingan itu secara hukum. Bahkan, sejumlah aktivis perempuan sempat mendorong Evi untuk mengadu ke Komnas Perempuan. Namun, dia tidak merasa perlu menggugat Farouk. ’’Lebih baik kita memaafkan, mudah-mudahan beliau bisa pensiun dengan tenang,’’ ucapnya.

Evi bukanlah orang baru di dunia politik. Pada 2014 dia maju sebagai caleg lewat Partai Hanura. Sudah tiga periode dia menjadi bendahara DPD Partai Hanura NTB. Evi mengawali karir politiknya di PAN. Dia salah seorang politikus yang ikut mendirikan PAN di NTB.

Saat ada dualisme di tubuh Hanura, para konstituennya mendorong dia untuk maju sebagai calon independen melalui DPD. Lewat pencalonan itu, Evi mengaku banyak belajar. ’’Di masyarakat sendiri banyak yang tidak tahu peran dan fungsi DPD RI,’’ ujarnya.

Pasca viralnya sengketa terkait dirinya, Evi mendapat banyak respons dari masyarakat. Khususnya di media sosial. Ada yang positif, ada pula yang negatif. ’’Tapi, hanya sebagian kecil yang mengatakan seperti itu (negatif),’’ imbuhnya. Justru mayoritas netizen mendukung dia dan menganggap dalil yang diajukan Farouk konyol.

Evi tidak pernah merasa wajahnya menjadi faktor tingginya pencapaian suara. Dia merasa memang berkampanye dan turun ke masyarakat secara maksimal. Datang dari kampung ke kampung, satu kabupaten ke kabupaten lain. ’’Tapi, kalau ada yang memilih dengan alasan itu, ya alhamdulillah,’’ ucap Evi.

Karena itulah, dia memutuskan hadir di persidangan meski tidak memberikan keterangan. Dia baru memberikan keterangan sebagai saksi bila perkara tersebut berlanjut ke pemeriksaan saksi. ’’Biar dilihat sendiri (oleh hakim) apakah saya berlebihan editnya, dan maksud kalimat berlebihan itu seperti apa,’’ tambahnya.

Kurniawan, kuasa hukum Farouk Muhammad, yakin bahwa perkara itu akan lolos ke tahap pembuktian dan pemeriksaan saksi. Sebab, sejauh ini jawaban termohon dan pihak terkait tidak meyakinkan. ’’Tidak bisa membuktikan bahwa memang foto itu benar (diedit) dalam batas yang wajar,’’ tuturnya.

Selain itu, tidak ada jawaban termohon dan pihak terkait yang menunjukkan bahwa foto tersebut diambil kurang dari enam bulan sebelum pencalonan. ’’Kalau bisa membuktikan, silakan dibuktikan,’’ tambahnya. Pihaknya tetap menganggap foto itu melanggar asas pemilu yang jujur.

Kini bola sepenuhnya ada di tangan para hakim MK. Apakah perkara sengketa yang diajukan Farouk akan berlanjut ke pemeriksaan saksi ataukah kandas saat putusan sela. Hari ini sembilan hakim bersidang untuk menentukan perkara mana yang akan dianulir atau di-dismissal. Putusan dibacakan pekan depan. (*/c10/ayi)


BACA JUGA

Senin, 19 Agustus 2019 23:56

Kejadian di Manokwari, Menkopolhukan Minta Masyarakat Tak Terpancing dan Terpengaruh Hoax

JAKARTA - Pemerintah merespon cepat aksi yang terjadi di Manokwari,…

Senin, 19 Agustus 2019 23:53

Mendagri Minta Jaga Kondusivitas dan Pelayanan Masyarakat di Manokwari Tak Terganggu

JAKARTA - Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo meminta agar situasi…

Senin, 19 Agustus 2019 19:15

Rusuh di Manokwari, Mendagri Panggil 3 Gubernur

Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tjahjo Kumolo membuka opsi untuk mempertemukan…

Senin, 19 Agustus 2019 11:31

Lima Poin Seruan MUI terkait Kasus Video Ustaz Abdul Somad

Wakil Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia (Wasekjen MUI) Tengku Zulkarnain…

Senin, 19 Agustus 2019 11:24

Manokwari Rusuh

Sejumlah jalan utama di Manokwari, Papua Barat, Senin (19/8) ditutup…

Senin, 19 Agustus 2019 10:57

Satu Prajurit Kembali Gugur, KKSB Akui Dalang Serangan

JAKARTA–Satu di antara dua korban yang tertembak oleh Kelompok Kriminal…

Senin, 19 Agustus 2019 10:43

Sambut Hangat Persaingan

KEHADIRAN Indra Setiawan dan Tambun Dibty Naibaho menambah panas persaingan…

Minggu, 18 Agustus 2019 01:20

Kadernya Jadi Tersangka Kasus 4 Polisi Terbakar, Bos GMNI Minta Maaf

Dewan Pimpinan Pusat Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (DPP GMNI) turut…

Minggu, 18 Agustus 2019 01:16

Markas GMNI Dibakar

Sekretariat Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Cianjur terbakar pada Jumat…

Minggu, 18 Agustus 2019 01:01

Warga Diteror Pelemparan Tahi Sapi, Polisi Turun Tangan

Warga Boyolali sedang diteror dengan pelemparan kotoran sapi. Hal ini…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.
*