MANAGED BY:
SENIN
09 DESEMBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | LIFESTYLE | KALTARA

KOLOM REDAKSI

Kamis, 18 Juli 2019 10:51
Begayaan ala Isran

PROKAL.CO, Catatan: Faroq Zamzami

(Pemred Kaltim Post)

 

 

SAMPAI dua hari lalu, Selasa (16/7), saya belum pernah sekalipun bertemu Pak Isran Noor. Baik setelah jadi gubernur Kaltim. Atau sebelumnya, ketika dipercaya sebagai bupati Kutai Timur (Kutim). Atau saat dia “jeda” tak menjadi kepala daerah di provinsi ini. Saya yang belum beruntung bertemu dengannya? Atau dia yang belum dapat kesempatan emas saya wawancarai? Wkwkwkw...

Pernah ada satu momen untuk bertemu. Saat beliau bertandang ke Gedung Biru Kaltim Post, Balikpapan. Pada masa kampanye pemilihan gubernur (pilgub) lalu. Tapi pas saya tidak di kantor. Ada keperluan lain. Jadilah Selasa lalu perdana saya bertemu gubernur. 

So, gambaran sosoknya selama ini hanya tahu dari hasil tulisan teman-teman saya yang bertugas di Samarinda. Yang ngepos di kantor gubernur. Cerita orang. Dan membaca statement-statement-nya yang belakangan jadi quote dan viral. Seperti “Dari zaman kuda makan besi sampai kuda makan mentega”. Atau yang ini, “Kenapa memangnya, biasa aja itu”. Dan statement yang viral itu terlontar juga saat berbincang dengan kami. Bisa ditebak, yang hadir terpingkal. 

Setelah menemani manajemen Kaltim Post bertemu dengannya, saya bisa membuat penilaian agak lebih dalam tentang Pak Isran. Setidaknya ada tiga kesan yang saya dapat. Pak Gubernur itu orangnya suka begayaan (bergurau)? Saya suka. Karena itu membuat darah humor saya menggeliat. Negeri ini biar tak melulu dipusingkan politik, kadar humor yang diapungkan memang harus ditingkatkan. Jadi saya berterima kasih kepada orang-orang hebat yang rutin buat meme

Jadi, jika bertemu Pak Isran dan berbincang-bincang dengannya, jangan langsung anggap serius apa yang dikatakan. Selami dulu. Di sisi lain, sebenarnya ada makna-makna yang dalam dari candaannya. Silakan terus membaca tulisan ini, insyaallah Anda akan mendapati makna yang tersirat dari begayaannya yang terlontar. Jika tidak ada, ya maaf.  Kedua, sosok gubernur kita itu tegas dan simpel. Ketiga, em, ternyata cuma dua. 

Diterima di ruang kerjanya, Selasa pagi itu, kami langsung menyalami beliau. Lantas dipersilakan duduk di meja pertemuan. Pak Isran duduk di tengah. Di sisi kanannya, Direktur Utama Kaltim Post Group (KPG) Ivan Firdaus. Di sebelahnya Wakil Pemimpin Redaksi Kaltim Post Duito Susanto. Di sisi kirinya, dua direktur KPG, Rusdiansyah Aras dan Erwin Dede Nugroho. Saya juga duduk di sisi ini.

Seperti biasa. Basa-basi orang Indonesia. Setelah kenalan lantas bertanya orang-orang yang dikenal. Mana ini, mana itu. Siapa ini, siapa itu. “Siapa dulu yang meninggal itu,” tanya Pak Isran. Dijawab Pak Erwin, "Almarhum Bang Rizal (Rizal Juraid, pemred Kaltim Post sebelumnya)". Agaknya dia ingat dengan sosok Bang Rizal karena meninggal saat masih muda.

Kalau ini, orang-orang ini, Pak Gubernur lantas menunjuk ke Pak Ivan dan Pak Rusdiansyah, orang banyak dosa. Makanya masih diberi umur. Biar ada kesempatan untuk memperbaiki kesalahan. “Ya termasuk saya juga,” katanya. Kami tertawa. Tidak ada mimik wajah yang berubah dari Pak Ivan dan Pak Rusdi mendengar statement sambutan begitu. Malah jadi tertawa bersama setelah Pak Isran menyebut,”Ya termasuk saya juga (banyak dosa)”.

Dan statement-nya yang jadi quote viral itu pun terlontar. Saat membahas banjir. Yang itu, “Mulai kuda makan tembaga, sampai kuda makan mentega”. “Statement bapak itu memang ditunggu-tunggu, jadi quote itu, Pak,” ujar Pak Erwin, menimpali. “Biasa aja itu. Masih wajar itu,” katanya, tertawa. “Tahu kan mentega,” ujar Pak Isran kepada Pak Ivan. Yang ditanya mengangguk. Lantas menjawab,”Tahu, ada pabriknya di Surabaya”.

Kata dia, Samarinda ini dari dulu sudah banjir. Itu karena sepertiga wilayahnya di daerah rendah. Jadi bukan hanya sekarang. Terus kesannya lalu ai salahnya pemerintah. Pemerintah dinilai tidak peduli. Tapi, ya ada juga memang salahnya pemerintah. Pengakuannya kembali memicu gelak tawa. Kesalahan pemerintah, kata dia, tidak disiplin menata lingkungan.

Kaltim ini sudah diberi Tuhan, pohon ulin. Kayu besi. Jadi, dulu kayu besi ini dibikin tiang untuk rumah. Rumah dengan tiang ulin, ada kolong di bawahnya. Saat hujan atau air pasang, mengalir lewat bawah rumah. Sekarang enggak. Rumah pakai beton. Jadi air tawaf di sekitar rumah. “Berputar-mutar dulu di dekat rumah. Tawaf airnya. Lama baru menghilang,” kata Isran dengan tangan kanannya membuat lingkaran berulang-ulang.

Itulah kearifan lokal yang sekarang sudah tidak ada lagi. Kayu ulin semakin sulit ditemui. Kayu besi itu, lanjut dia, semakin kena air semakin kuat. Tak seperti kayu yang lain. “Kayu lain kena air jabuk. Tahulah jabuk,” katanya, kembali bertanya kepada Pak Ivan. “Lapuk,” jawab Pak Ivan. Dua kali sudah Pak Isran bertanya arti sesuatu kepada Pak Ivan. Mentega dan jabuk. Mungkin dia menduga, karena Pak Ivan sebelumnya bertugas di Surabaya, tak umum dengan istilah yang digunakan di Kaltim. Padahal Pak Ivan sebelum dua tahun di Surabaya juga lama di Balikpapan. Atau Pak Isran hanya ingin menggodanya.

Lanjut soal kayu ulin. Kayu besi ini, kata dia, kalahnya cuma tiga. Kena gergaji, pahat, dan chainsaw. Itulah hebatnya kayu ulin. Sayangnya, tak bisa dipertahankan. Karena dari dulu jadi komoditas bernilai. Biarpun dilarang, tetap banyak yang menebang. Itulah dulu keuntungan kita. Dan kayu ulin itu hanya di Kalimantan. “Begitu, Pak Gunawan?” katanya, melirik kepada Pak Ivan. “Pak Ivan,” ujar Pak Rusdi membenarkan. "Ya, Pak Ay-van," ujar Pak Isran dengan logat Eropa.

Banyak contoh lain kearifan Indonesia yang menghilang. Dia tak menyalahkan itu. Sebab memang zaman terus berubah. Dan tak bisa menyalahkan perkembangan zaman. Hanya, dia menyayangkan nilai-nilai baik yang dulu ada mulai tergerus. Pak Ivan yang terus "digoda" Pak Isran tak mau kalah melepas canda. Soal zaman yang berubah itu.

 "Benar, Pak. Zaman memang terus berubah. Ini teman-teman yang dulu wartawan sekarang sudah jadi manajer. Ada perubahan juga, mereka mau cari istri lagi," ujarnya, bercanda. Dipancing begitu, Pak Isran tak mau menyia-nyiakan. Jadi barang itu. "Ya, itu pengaruhnya juga. Manusiawi itu. Benar aja itu. Kita ini, umur semakin tua tapi perasaan tambah muda. Mata rabun kalau lihat nenek-nenek, kalau lihat yang bukan nenek-nenek terang. Ya, biasa itu sunatullah," jawab Pak Isran, kembali membuat tawa pecah. 

"Kira-kira begitu, Mas Ay-van," katanya. "Salah kayaknya orang tua ngasih nama ini," canda Pak Ivan yang terus digayai Pak Isran soal namanya. "Lho, enggak apa-apa. Bagus namanya campur-campur. Ivan itu kan nama Eropa Timur. Seperti Ivanovsky. Yang penting kan nama belakangnnya, surga Firdaus. Belum akhirat saja sudah dapat surga," kata Isran terus mengait-ngaitkan.

Diskusi saat itu juga membahas investasi daerah.  Dia bercerita pengalaman didemo. Soal karst. Peserta aksi menolak pembangunan pabrik semen di kawasan karst Kutai Timur dan Berau. "Saya tahulah kenapa ada penolakan itu. Apa di belakangnya," kata Pak Isran.  Nanti, kata dia, kalau memang sudah ada tanda tangan perjanjian sama perusahaan, saya bikin ketentuan tidak boleh ada karyawan warga asing di lapangan. Kecuali di manajemen dan tenaga teknis ahli. Kalau perusahaan melanggar, tutup. Enggak boleh lanjut. Tapi kan sekarang belum tanda tangan. Kalau nanti mereka tabrak ketentuan itu, saya stop. Enggak perlu susah-susah. Tutup, ngapain susah.  Saya ini tukang cabut perusahaan asing. Soal gugat-menggugat aturan saya suka,” katanya, tersenyum.

Pembahasan soal karst itu pun menjadi tema penutup diskusi banyak hal dengan gubernur pagi itu. Mulai banjir. Pembangunan desa. Kuda makan besi. Kayu ulin. Sampai karst. Saat kami akan pamit, dia berujar, "Ya, kira-kira begitulah. Semua itu banyak becanda aja. Begayaan. Santai saja. Oke". (*)


BACA JUGA

Jumat, 19 Oktober 2012 07:14

Sambaliung-Gunung Tabur Bakal Terhubung

<div> <div> <strong>TANJUNG REDEB</strong> - Selain Pembangunan Jembatan Kelay…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.