MANAGED BY:
SENIN
26 AGUSTUS
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

KOLOM REDAKSI

Senin, 15 Juli 2019 13:22
Semestanya Anak
Ery Supriyadi

PROKAL.CO, Wartawan Kaltim Post

 

 

“AYAH-bunda”. Begitu panggilan baru bagi saya dan istri. Panggilan dari para guru. Ya, Rangga, anak kami, kini masuk sekolah dasar. Oleh Rangga, kami dipanggil Papi-Mami. Lebih tepatnya, kami yang men-setting Rangga untuk memanggil kami dengan sebutan Papi-Mami. Rangga usianya 7 tahun. Kurang lebihnya 7 tahun 8 bulan. Saya berharap, dengan usia segitu, dia sudah siap. Siap belajar tentunya.

Oh ya, anak saya ini sekolah di SD swasta. Bukan perkara kepepet lantaran tidak diterima di sekolah negeri. Maklum, sekarang masuk sekolah harus berdasar zonasi.

Sekolahnya berlokasi di Jalan Kadrie Oening, Kelurahan Air Hitam, Kecamatan Samarinda Ulu. Di kiri-kanannya, sekolah negeri. Yakni, sekolah menengah pertama dan sekolah menengah kejuruan. Lebih spesifik, di belakang salah satu pusat grosir.

Sementara domisili kami, sesuai KTP, di Jalan Ekonomi, Kelurahan Loa Buah, Kecamatan Sungai Kunjang. Jaraknya 15,4 kilometer. Syukurnya, kami bukan termasuk orangtua yang disulitkan oleh problema zonasi. Rangga kami daftarkan sekolah pada Februari. Jauh sebelum SD negeri membuka registrasi. 

Sekolah swasta kan mahal! Bisa benar, bisa juga salah. Harus diakui, menyekolahkan anak di sekolah swasta, orangtua harus berkorban. Pengeluaran ekstra tentu saja. Satu lagi; waktu. Yup. Waktu itu yang kami, saya dan istri, korbankan. Korbankan dalam artian, kami harus meninggalkan sejenak aktivitas. Pekerjaan.

Selama tiga hari, 11–13 Juli, kami dan para orangtua yang menyekolahkan anaknya mengikuti pelatihan. Program Pelatihan Orangtua (PPOT). Tahun ini angkatan ke-11. Dari berbagai jenjang; kelompok bermain, taman kanak-kanak (TK), dan SD. Program tersebut wajib. Jadi, jika tahun ini tidak ikut, pihak sekolah terus mengundang. Sampai orangtuanya ikut. Dua-duanya. Tujuannya berat; menyatukan frekuensi. Maksudnya, menyamakan pola didik guru di sekolah dengan pola asuh orangtua di rumah.

Jadilah, selama tiga hari itu para orangtua belajar. Dari pukul 08.00–17.00 Wita. Belajar pola asuh hingga berperan menjadi anak. Sumpah, menjadi anak-anak itu mudah. Padahal, kita sudah pernah menjadi anak-anak.

Anak yang sekolah, kok orangtua yang ikut pelatihan? Semua orangtua bertanya seperti itu. Dan, jawabannya ada di akhir pelatihan. 

Muzaaka Midiastono menjadi pemateri utama. Pokoknya, selama tiga hari, orangtua berinteraksi dengan dia. Zaka, begitu dia disapa, adalah konsultan di sekolah tersebut. Materi yang dibawakan menitikberatkan pada pola didik dan pola asuh. Termasuk kesalahan komunikasi. Yang nyatanya tidak disadari. Terus terjadi. Berulang-ulang bahkan menjadi kebiasaan.

Rupanya, ada tiga hal yang terlarang dilakukan orangtua kepada anak. Tentunya, berdasarkan pelatihan tersebut. Yakni 3M; marah, melarang, dan menyuruh. Turunannya lebih banyak lagi. Biarlah pakar dan ahli yang mengembangkan.

Dari pelatihan tersebut, orangtua diingatkan untuk menjaga sikap. Jangan pernah mengatakan jangan. Juga tidak untuk berkata tidak. Apalagi marah sampai mencap anak dengan sebutan tertentu. Anak akan trauma. Cenderung ragu, takut, tidak mandiri, dan tidak percaya diri. Walhasil, serangan BLAST muncul. 

BLAST, yang merupakan akronim dari boring (membosankan), lonely (kesepian), angry (marah), afraid (takut), stress (tertekan), dan tired (lelah). Nah, BLAST itu yang coba dihindari.

Para orangtua tentunya punya cara tersendiri mendidik anaknya. Baik-buruknya anak, tidak lepas dari peran orangtua. Bagi ayah-bunda, bapak-ibu, papi-mami, abi-ummi, dan panggilan-panggilan lain orangtua, sayangi buah hati Anda! Mereka adalah refleksi kita. Anak-anak sekarang cenderung lebih cepat “dewasa”.

Maka sesuai Surat Edaran Menteri Pendidikan dan Kebudayaan 4/2016 tentang Hari Pertama Masuk Sekolah dan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi B/2461/M.PANRB/07/2016 tentang Izin Aparatur Sipil Negara (ASN) di Hari Pertama Masuk Sekolah, bagi orangtua yang memiliki anak dan tahun ini sekolah, utamanya jenjang SD.

Dan hari ini hari pertama sekolah. Orangtua pun diimbau mengantar anaknya ke sekolah. Mengetahui semesta barunya. Semesta yang menjadi pijakan serta media pembentuk karakter. Karena zaman pasti berubah. (rom/k8)


BACA JUGA

Minggu, 25 Agustus 2019 13:09

Perusda Air Minum atau Perusda Air Mati

CATATAN: MUHAMMAD YODIQ Siapa yang tidak tahu Perusahaan Daerah Air…

Senin, 19 Agustus 2019 11:09

Sarkowi dan Rusman Bicara Ibu Kota (1)

CATATAN Syafril Teha Noer       SEMBILAN tahun lebih…

Kamis, 18 Juli 2019 10:51

Begayaan ala Isran

Catatan: Faroq Zamzami (Pemred Kaltim Post)     SAMPAI dua…

Senin, 15 Juli 2019 13:22

Semestanya Anak

Wartawan Kaltim Post     “AYAH-bunda”. Begitu panggilan baru bagi…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.
*