MANAGED BY:
MINGGU
20 OKTOBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | LIFESTYLE | KALTARA

LIFESTYLE

Senin, 01 Juli 2019 10:00
Jangan Sembarangan Konsumsi Antibiotik, Ini Risikonya
RESISTENSI: Kini antibiotik tidak dijual secara bebas lagi di apotek. Resistensi terhadap obat rawan terjadi akibat penggunaan yang tidak tepat. Hal ini belum menjadi perhatian serius dari para pasien. (rd.com)

PROKAL.CO, Antibiotik adalah kelompok obat yang berguna mengatasi atau mencegah infeksi bakteri. Umumnya berbentuk tablet, sirop, kapsul, atau salep. Namun waspada, antibiotik tak asal konsumsi atau gunakan. Risikonya fatal terhadap tubuh.

 

DIUNGKAPKAN dr Muhammad Yunus Rosyidi, ada enam golongan antibiotik. Di antaranya, penisilin,sefalosporin, aminoglikosida, tetrasiklin, makrolid, dan quinolone. Penggunaannya tidak sembarangan, harus berdasarkan spesifikasi.. Yunus menyayangkan sebab masih banyak pasien kurang informasi terkait penggunaan antibiotik yang tepat.

Penisilin sering digunakan untuk infeksi bakteri seperti meningitis, gonore, dan faringitis. Sefalosporin, infeksi tulang dan infeksi saluran kemih. Aminoglikosida, otitis eksterna dan infeksi kulit. Tetrasiklin, sifilis dan tifus. Makrolid, bronkitis dan sinusitis. Quinolone untuk servisitis. Saat ini, banyak masyarakat cenderung memilih mengobati diri sendiri. Caranya sebatas melihat internet. Hal itu tidak dibenarkan karena antibiotik termasuk obat keras.

CARA SIMPAN: Biasakan saat membeli obat, Anda harus memiliki informasi selengkapnya. Termasuk cara penyimpanan. Bisa pula bertanya pada apoteker. Paling penting, jangan biarkan obat terpapar sinar matahari langsung.

 “Untuk menentukan antibiotik apa yang bisa diberi pada pasien harus melalui pemeriksaan dokter. Apakah penyakitnya disebabkan alergi, virus, atau bakteri. Agar lebih pasti, bisa juga melalui cek darah. Nanti dilihat berapa lekositnya. Kalau tinggi, bisa dikasih antibiotik,” ujar dr Yunus.

Mengonsumsi antibiotik tidak sesuai resep dokter akan menimbulkan resistansi alias kebal. Lazimnya, hal ini terjadi karena sering kali antibiotik tidak dihabiskan sesuai waktu yang dianjurkan. Pun seseorang yang mengalami alergi terhadap antibiotik golongan tertentu. Gejalanya hampir sama seperti alergi biasa, gatal-gatal pada tubuh. Pasien harus ingat jika dia alergi dengan antibiotik golongan apa. Agar dokter tidak memberi antibiotik serupa.

“Sebagai contoh, ketika sakit kepala dan minum antibiotik. Setelah itu, keadaannya membaik. Sebenarnya tidak. Itu hanya sugesti. Pasien justru membuat imunitas terhadap bakteri tersebut kebal,” jelas Yunus.

Diungkapkan Yunus, resistensi sangat berbahaya. Jika terjadi, harus mengonsumsi golongan lebih tinggi dari sebelumnya melalui pemeriksaan. Biasanya, golongan tinggi bukan obat generik. Harga lebih mahal.

“Antibiotik bisa dikonsumsi sebagai profilaksis atau pencegahan. Sebagai contoh, misalkan Anda akan pergi ke hutan endemik malaria, maka antibiotik bisa diminum. Supaya tubuh sudah mengenal. Jadi, hanya berlaku untuk keadaan tertentu. Perlu diingat, harus sesuai resep dokter,” imbuh alumnus Universitas Mulawarman itu.

Ada alasan mengapa waktu meminum antibiotik berbeda dan harus habis. Misal, amoxicillin tiga kali sehari dalam 24 jam. Dalam dua jam kemudian, antibiotik harus diminum untuk menyamakan level di dalam darah demi mematikan bakteri. Jika tidak sesuai, maka terjadi resistensi.

“Jika dibarengi obat lain, bisa diminum secara bersamaan atau selang-seling beberapa jam, enggak masalah. Misalnya sakit mag, minum obat magnya dulu. Agar menghindari iritasi lambung. Kemudian makan. Setengah jam kemudian, minum antibiotik,” jelasnya.

Edukasi terkait antibiotik masih harus digalakkan pada masyarakat. Sebab masih banyak yang belum paham. Menurut Yunus, pasien harus memiliki kesadaran sendiri dan tidak mengambil informasi secara mentah. Salah satu caranya berkonsultasi dengan dokter. (*/ysm*/rdm/k8)

 


BACA JUGA

Senin, 14 Oktober 2019 13:36

Konsumsi Obat Tak Tepat Justru Meracuni

GINJAL memiliki kemampuan khusus. Tanpa disadari, bisa saja ginjal sudah…

Senin, 14 Oktober 2019 13:34

Tas dan Sepatu, Semakin Mahal, Semakin Sulit Merawat

Ada berapa pasang sepatu di rumah? Atau khusus kaum hawa,…

Senin, 14 Oktober 2019 13:32

Kenali Kategori Bahan Sepatu, Dari Hewan, Tumbuhan, Minyak Bumi

PERAWATAN adalah hal yang wajib dilakukan demi menjaga barang agar…

Senin, 14 Oktober 2019 13:28

Olahan Nasi Nusantara, Nasi Ulam dan Nasi Bebek

Pernahkah mendengar kalimat, belum makan jika belum makan nasi? Nah,…

Senin, 14 Oktober 2019 13:22

Coffecado dan Lumpia Kaya Isi

USAI mencicipi makanan berat, tak lengkap rasanya apabila tak menikmati…

Senin, 14 Oktober 2019 13:21

Cumi Saus Padang Ambyar

Oleh: Evi Syardayanti, warga Samarinda. Bahan: 500 gram cumi (cuci…

Senin, 07 Oktober 2019 09:53

Sajian Tempura dan Ayam Buah Naga

Inovasi makanan harus terus diperbarui demi menemukan rasa terbaru nan…

Senin, 07 Oktober 2019 09:51

Sambal Bawang Rambut

Oleh: Novia Irma Susanti, warga Samarinda   BAHAN: - 1…

Senin, 07 Oktober 2019 09:47

Mini Tart Labu dan Es Timun Segar

NAMANYA happy pumpkin. Mini tart dengan pastry cream yang dihiasi…

Senin, 07 Oktober 2019 09:34

Hiperhidrosis, Keringat Berlebihan, Jadi Tanda Penyakit

Mengeluarkan keringat adalah hal wajar. Selain itu, mengonsumsi makanan panas…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.
*