MANAGED BY:
SABTU
24 AGUSTUS
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

UTAMA

Rabu, 26 Juni 2019 15:33
Abdoel Moeis Hassan, Tokoh Pertama Kaltim yang Bakal Diusulkan Jadi Pahlawan

Sudah Memenuhi Syarat, Punya Kans Tahun Depan

Taufik Sirajuddin, anak dari Abdoel Moeis Hassan.

PROKAL.CO, Indonesia merdeka hampir 74 tahun. Namun, Kaltim belum memiliki pahlawan nasional. Nama Abdoel Moeis Hassan mencuat.

 

NOFIYATUL CHALIMAH, Samarinda

 

NAMA Abdoel Moeis Hassan mungkin dianggap familiar. Karena mirip dengan nama rumah sakit milik Pemkot Samarinda, RSUD IA Moeis. Namun, mereka adalah dua orang yang berbeda.

Abdoel Moeis Hassan telah diabadikan sebagai nama jalan di Kecamatan Loa Janan Ilir, Samarinda. Termasuk akses pendekat Jembatan Mahulu itu juga diambil dari namanya. Nama yang kini tengah direkomendasikan sebagai pahlawan nasional itu adalah orang yang berorasi di tanah lapang yang kini dikenal sebagai Lapangan Kinibalu Samarinda pada 23 Januari 1950.

Lelaki yang mangkat pada 21 November 2005 tersebut, punya panggilan Muis Kecil di antara rekan sejawatnya. Dalam orasinya, Muis Kecil itu menuntut demokratisasi pemerintahan lokal dengan menghapus sistem feodalisme. Dia juga menjadi ketua Front Nasional sebuah gabungan organisasi politik yang keras menentang pendudukan Belanda.

Kiprahnya tak bermula dari orasi di lapangan yang kini tengah dibangun masjid tersebut. Tetapi, pada usia 16 tahun dengan mendirikan dan mengetuai Roekoen Pemoeda Indonesia (Roepindo) pada 1940.

Ketika Soekarno-Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945, Moeis Hassan berusia 21 tahun. Di usia segitu, dia terlibat dalam Panitia Persiapan Penyambutan Kemerdekaan Republik Indonesia (P3KRI).

Gerakan politiknya konsisten menyokong perjuangan pemuda yang berkiprah di jalur fisik. Menolak bekerja sama dengan Pemerintah Belanda. Sebuah cabang partai lokal di Kaltim, Ikatan Nasional Indonesia (INI) juga didirikan Muis Kecil. Kiprah Muis Kecil tak bisa disepelekan untuk Kaltim dan Indonesia.

Hingga, perjuangan menjadikan Muis Kecil pahlawan nasional pun dideklarasikan sejak 23 Juli 2018 oleh Lembaga Studi Sejarah Lokal Komunitas Samarinda Bahari (Lasaloka-KSB). Kini, di 25 Juni 2019, sebuah seminar besar ditujukan untuk Muis Kecil.

“Beliau adalah tokoh nasional religius. Dibesarkan tokoh Syarikat Islam Samarinda. Selain ke dunia pergerakan, beliau banyak berkiprah di dunia pendidikan,” kata Wajidi sejarawan Kalimantan yang juga peneliti sejarah di Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah (Balitbangda) Kalimantan Selatan, dalam Seminar Nasional Kepahlawanan di aula Bankaltimtara di Samarinda, kemarin (25/6).

Dia mengungkapkan, Muis Kecil banyak belajar dan berkembang dengan AM Sangaji, seorang tokoh pemuda yang juga terlibat dalam Kongres Pemuda II. Mereka banyak bergerak di dunia pendidikan Bumi Etam melalui Neutrale School.

Maka dari itu, Slamet Diyono, akademisi sejarah dari Universitas Mulawarman Samarinda juga mengatakan pengusulan Abdoel Moeis Hassan sebagai pahlawan nasional, tidak perlu diragukan.

“Tidak berlebihan bila masyarakat Kaltim memperjuangkan tokoh yang banyak berjuang selama hidupnya. Juga melebihi tugas yang diemban,” imbuh Slamet dalam kesempatan yang sama.

JANGAN BERPOLITIK

Ingatan Taufik Siradjuddin Moeis melayang. Pada 1962, ayahnya dilantik menjadi Gubernur Kaltim untuk periode 1962-1966 menggantikan APT Pranoto. Kala itu, dia masih duduk di bangku SMP dan sedang liburan di Samarinda.

Dari pernikahannya dengan Fatimah, Abdoel Moeis Hassan telah memiliki tujuh anak. “Tiga orang tinggal di Samarinda. Empat tinggal di Jakarta. Bapak itu sederhana, jujur. Dia dengan ibu, mendidik kami dengan agama dan juga mementingkan sekolah. Hubungan rumah tangga baik dan lingkungan juga baik,” kisah lelaki 72 tahun tersebut.

Kala ayahnya menjadi gubernur, Taufik tinggal di Jakarta bersama tiga saudaranya, di sebuah rumah sederhana dalam gang di Kampung Bali, Tanah Abang, Jakarta. Rumah kecil itu juga jadi kantor perwakilan Kaltim. Di tempat ini, banyak kegiatan untuk Kaltim dilakukan.

Dari penuturan Taufik, Muis Kecil tak ingin anaknya mengikuti dia terjun ke politik. Sehingga, anak-anaknya pun tak ada yang berkiprah di partai politik. Taufik ingat, ketika dia mendapat kesempatan menjadi anggota legislatif, sang ayah melarang. Ayahnya meminta Taufik fokus mengabdi kepada masyarakat dengan menjadi dokter. “Soalnya bapak mungkin merasa politik itu kejam,” tambahnya.

Kini, ayahnya tengah diusulkan menjadi pahlawan nasional. Taufik mengatakan jika Tuhan mengizinkan, maka gelar itu akan disematkan untuk ayahnya. Dia hanya bisa berdoa dan pasrah, sekaligus mengapresiasi upaya masyarakat Kaltim.

Sementara itu, Kasubdit Direktorat Kepahlawanan, Keperintisan, Kesetiakawanan, dan Restorasi Sosial Kementerian Sosial Afni, mengatakan di Indonesia ada 179 pahlawan nasional. Kaltim adalah adalah satu dari empat provinsi yang tak punya pahlawan nasional bersama Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, dan Kalimantan Utara.

“Tahun ini Sulawesi Tengah dan Sulawesi Tenggara sudah mengusulkan. Dan pengusulan pahlawan nasional tahun ini, sudah ditutup. Tiap November, gelar pahlawan nasional diberikan kepada tokoh-tokoh yang dianggap,” papar Afni.

Afni mengatakan, dalam pengamatan singkat, pada dasarnya Abdoel Moeis Hassan memiliki kans jadi pahlawan nasional. Bisa diusulkan tahun depan. Sebab sudah memenuhi syarat untuk memperoleh gelar pahlawan nasional sesuai Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2019.

“Seperti pahlawan harus berkarya. Nah, Abdoel Moeis juga banyak karyanya. Namun, ini sepintas saja. Nanti bisa dikupas lagi perjuangan yang belum terungkap. Dijelaskan lagi perjuangannya secara detail,” sambung Afni.

Dia menambahkan, Kaltim belum pernah mengajukan nama untuk pahlawan nasional. Abdoel Moeis Hassan ini jadi yang pertama. Menurutnya, tak susah mengajukan usulan gelar pahlawan nasional. Terpenting, persyaratan bisa dilengkapi pemerintah daerah. (rom/k15)


BACA JUGA

Jumat, 23 Agustus 2019 23:48
Pemindahan Ibukota Negara ke Kalimantan

Untuk Tahap Pertama, 200 Ribu KK ASN Bakal Huni Rumah Vertikal di Kalimantan

Rencana pemindahan ibu kota dari DKI Jakarta ke Kalimantan masih…

Jumat, 23 Agustus 2019 12:01
GRID, Mengimajinasikan Masa Depan Indonesia melalui Gambar

26 Tahun Lagi Peserta Panjat Pinang Adalah Robot

Pernahkah membayangkan wajah Indonesia pada 2045? Komunitas Graphic Recorder Indonesia…

Jumat, 23 Agustus 2019 11:59

Masjidilharam Kian Longgar, Nabawi Mulai Ramai

MAKKAH–Jamaah haji Indonesia merupakan yang terbesar sedunia. Seiring dengan mulai…

Jumat, 23 Agustus 2019 11:26
Keceplosan IKN Pindah ke Kaltim

Desain Ibu Kota Negara Disebut Sementara

JAKARTA – Spekulan-spekulan tanah di Kalimantan Timur (Kaltim) sepertinya gagal…

Jumat, 23 Agustus 2019 11:13
Istana Masih Malu-Malu Pilih Kaltim

Menteri-Presiden Beda Pendapat, Gubernur Maklum

BALIKPAPAN–Teka-teki pemindahan ibu kota negara ke Kalimantan diwarnai dagelan oleh…

Jumat, 23 Agustus 2019 11:00

Ada OPM di Balik Kerusuhan Papua

JAKARTA– Otak kerusuhan saat aksi massa di Papua dan Papua…

Jumat, 23 Agustus 2019 10:46

PTS Berpeluang Dipimpin Rektor Asing

JAKARTA – Peraturan yang lebih fleksibel membuat peluang rektor asing…

Jumat, 23 Agustus 2019 10:43

Kaltim Wajib Move On dari SDA

Ketergantungan Kaltim terhadap sumber daya alam (SDA) harus segera diakhiri.…

Jumat, 23 Agustus 2019 10:39

Presiden Bantah Menteri ATR Sebut Kaltim Ibukota Negara, Gubernur : Biasa Lah, Itu Urusan Mereka

PROKAL.CO, SAMARINDA - Gubernur Kaltim Isran Noor menanggapi santai adanya…

Jumat, 23 Agustus 2019 10:26

Alasan Sering Masuk Bengkel, Mobdin Presiden Diganti

JAKARTA– Presiden Jokowi serta jajaran pembantunya di kabinet kerja jilid…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.
*