MANAGED BY:
SENIN
16 DESEMBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | LIFESTYLE | KALTARA

UTAMA

Senin, 17 Juni 2019 14:45
Begini Sistem Anyar Penerimaan Mahasiswa Baru Perguruan Tinggi Negeri

Lebih Transparan, tapi Rumit

PROKAL.CO, Seleksi bersama masuk perguruan tinggi negeri (SBM PTN) tahun ini menerapkan sistem baru. Siswa bisa makin bimbang saat menentukan pilihan.

 

NOVAL antusias dan langsung berdiri ketika diberi kesempatan menyampaikan pertanyaan dalam forum SBM PTN Day di Balairung Universitas Indonesia (UI) Depok Sabtu (15/6). Siswa kelas XII SMA swasta di Jakarta Selatan itu mengonfirmasi sejumlah informasi yang berseliweran terkait penerimaan mahasiswa baru di PTN.

”Ada informasi bobot tes potensi skolastik (TPS) dan tes potensi akademik (TPA) yang beda,” ujarnya. Dia melanjutkan, bobot untuk TPS dipatok 60 persen dan TPA 40 persen. Kemudian, diberlakukan juga sistem klaster berdasar rumpun keilmuan.

Di hadapan pimpinan Lembaga Tes Masuk Perguruan Tinggi (LTMPT), dia meminta penjelasan, apakah memang ada ketentuan pembobotan antara TPS dan TPA tersebut. Atau, hanya komponen subtes TPA yang diberi bobot karena terkait dengan rumpun ilmu program studi (prodi) yang bakal dilamar.

Lantaran banyak informasi yang beredar tersebut, Noval mengaku belum mendaftar SBM PTN hingga saat itu. Dia masih menimbang-nimbang prodi dan kampus yang akan dipilih.

Cerita lain dituturkan Rachma. Siswi penyuka K-pop itu mendaftar SBM PTN pada hari pertama pembukaan 10 Juni lalu. Dia mengaku langsung menentukan pilihan prodi bukan lantaran sudah mantap atau yakin. ”Tapi, setelah mengikuti dua ujian SBM PTN yang diselenggarakan LTMPT, saya mendapatkan nilai tengah,” ungkapnya.

Dengan nilai yang berada di tengah atau median tersebut, Rachma menyebut hasilnya tidak terlalu bagus. Beberapa hari sebelum pendaftaran SBM PTN dibuka, dia mencari informasi jurusan atau prodi yang cenderung sepi peminatnya. Pada H-1 pendaftaran SBM PTN, dia sudah memiliki prodi pilihan. Namun, dia tidak bersedia menyebutkan prodi dan universitas yang dipilih. Rachma hanya berharap bisa lolos masuk PTN tahun ini.

Rachma mengungkapkan sempat membuat simulasi terkait peluangnya lolos SBM PTN tahun ini. Dia memanfaatkan sejumlah website yang menawarkan jasa simulasi itu. ’’Hasilnya, saya pasrah. Karena nilai saya memang berada di bawah,’’ ucapnya.

Menurut dia, nilainya berada di bawah saat simulasi pemeringkatan. Lantas, dia menyadari bahwa peluangnya untuk lolos SBM PTN sangat kecil. Namun, bagi dia, yang terpenting adalah sudah berusaha dan pasrah apa pun hasilnya nanti.

Kesibukan menghadapi SBM PTN 2019 juga dialami Irfan. Padahal, dia telah berstatus mahasiswa. Irfan tidak sibuk mendaftar untuk diri sendiri, tetapi mendampingi siswa yang akan melamar SBM PTN.

Irfan memiliki pengalaman mendampingi para siswa untuk mendaftar SBM PTN sejak 2016. Saat kuliah dia bekerja part time di sebuah bimbingan belajar (bimbel). ”Job desc-nya kebetulan ngedaftarin siswa-siswa bimbel ke SBM PTN dan jalur mandiri,” jelasnya.

Irfan mengakui, ada perbedaan yang signifikan antara sistem SBM PTN tahun ini dan sebelumnya. Menurut dia, pada sistem SBM PTN sebelumnya, pusingnya cuma sekali. Siswa menentukan jurusan dan universitas, selanjutnya tinggal mengikuti ujian SBM PTN yang digelar serentak dan menunggu pengumuman. ”Tapi, kalau sekarang pusingnya jadi banyak,’’ katanya, lantas tertawa.

Irfan mengatakan, saat ini siswa mendaftar dan mengikuti ujian tulis berbasis komputer (UTBK) dua kali. Meski tidak wajib dua kali, ada kecenderungan siswa ikut dua kali. Berharap pada ujian kedua nilainya lebih baik. Alasannya, sudah mengetahui gambaran soal seperti saat ujian pertama.

Nah, ketika pendaftaran SBM PTN dibuka, siswa tidak kalah pusingnya dengan saat pelaksanaan UTBK. Saat ini anak-anak dibuat pusing karena harus membuat simulasi atau kalkulasi nilai. Sebab, informasi yang beredar, untuk tiap-tiap subtes UTBK berlaku pembobotan meski tidak signifikan.

Menurut Irfan, sistem yang baru memang memiliki sisi positif. Yakni, transparansi. Sebelum mendaftar SBM PTN, siswa mengetahui nilai ujian atau kemampuan mereka seperti apa. Yang mendapat nilai pas-pasan atau di tengah-tengah harus jeli memilih jurusan dan kampus mana.

Sistem penilaian dan materi ujian SBM PTN saat ini, kata dia, juga berbeda. Saat berlaku sistem minus alias jawaban salah mendapat nilai -1, peserta SBM PTN sangat berhati-hati dalam menjawab. Sebaliknya, ketika saat ini tidak berlaku sistem minus, kualitas hasil ujian menurun.

Irfan menuturkan, dengan dihapusnya sistem minus, tidak sedikit peserta yang menjawab asal. ”Karena faktanya (sekarang, Red) gak sedikit orang yang ngasal blok jawaban,’’ tutur pria yang pernah terlibat dalam tim koreksi SBM PTN 2017 itu. Misalnya, ada peserta UTBK yang ngeblok jawaban B semua. Ternyata, dengan cara tersebut, yang bersangkutan mendapatkan nilai besar.

Menurut dia, jawaban ngasal yang kebetulan benar bisa jadi mendapatkan bobot nilai tinggi. Sebab, tidak banyak peserta UTBK lain yang menjawab benar pada soal tersebut. Sebagaimana diketahui, LTMPT selaku pelaksana UTBK membuat aturan semakin sedikit orang yang menjawab benar sebuah butir soal, soal itu memiliki bobot besar. Sebab, soal itu dianggap memang sulit.

Meski begitu, Irfan mengapresiasi sistem baru saat ini. Sebab, pelaksanaan ujiannya berbasis komputer. Teknis pengerjaannya lebih mudah. Tidak perlu membulati lembar jawaban. Ujian berbasis komputer juga bisa menekan potensi human error yang memicu lembar jawaban pensil tidak terbaca saat dipindai.

Dia memiliki pengalaman bahwa banyak lembar jawaban tidak layak dikoreksi karena rusak atau sebab lainnya. Akibatnya, nilai ujian peserta SBM PTN yang bersangkutan tidak keluar. (wan/han/c10/fal)


BACA JUGA

Minggu, 15 Desember 2019 21:04

WUIHH MAKIN ENAK..!! Tahun 2020, PNS Tak Perlu Ngantor

Abdi negara bisa segera berkantor di mana saja. Pola perhitungan…

Minggu, 15 Desember 2019 21:03

Tak Semua Eselon III dan IV Dihapus

Jabatan Eselon III dan IV bakal tidak ada lagi. Aparatur…

Minggu, 15 Desember 2019 21:00

Jembatan Mahakam IV Diperkirakan Bisa Dipakai Maret 2020

SAMARINDA–Masyarakat Kota Tepian tampaknya harus banyak bersabar. Sebab, Jembatan Mahakam…

Minggu, 15 Desember 2019 20:57

Azura Luna, Warga Kediri yang Jadi Buronan Interpol Hong Kong

Sosialita asal Kediri terlibat banyak kasus penipuan. Kemudian, menghilang setelah…

Minggu, 15 Desember 2019 20:50

Progres Jalan Bontang - Samarinda dan Sangatta 95 Persen, Rampung Bulan Ini

BALIKPAPAN – Proyek preservasi jalan nasional Samarinda, Bontang, dan Sangatta…

Minggu, 15 Desember 2019 20:11

BPS Sebut Ekonomi Indonesia Tahun 2020 Bakal Suram

JAKARTA- Secara mengejutkan Badan Pusat Statistik (BPS) mengeluarkan pernyataan yang…

Minggu, 15 Desember 2019 14:02

Bandara APT Pranoto Kembali Beroperasi Besok, Maskapai Ini Sudah Buka Reservasi

SAMARINDA - Bandara APT Pranoto akan kembali beroperasi pada hari…

Minggu, 15 Desember 2019 10:00

Pemerintah Kaji Bus Amfibi Jadi Moda Transportasi di Calon Ibu Kota Negara

Melihat karakter geografis calon ibu kota negara, Kalimantan Timur, banyak…

Minggu, 15 Desember 2019 09:52

IKN Perlu Daya Listrik Empat Kali Lipat Jakarta

Pemindahan ibu kota negara (IKN) ke Kaltim berdampak domino. Salah…

Minggu, 15 Desember 2019 09:47

Presiden ke Kaltim Lagi, Resmikan Tol Balsam lalu Tinjau Lahan IKN

SAMARINDA-Jalan tol Balikpapan-Samarinda (Balsam) direncanakan diresmikan pekan depan. Tepatnya, Selasa…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.