MANAGED BY:
SABTU
24 AGUSTUS
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

BALIKPAPAN

Rabu, 12 Juni 2019 15:09
Pasutri di Balik Berdirinya Yayasan Fisabilillah Pencetak Hafiz di Kota Minyak
Ajak Anak-anaknya Jadi Pengajar, Muridnya Harumkan Nama Daerah
Wahidah

PROKAL.CO, Dua pasangan suami-istri (pasutri) asal Balikpapan, Abdul Hakim dan Wahidah, mendirikan sekolah tarbiyatul Quran di bawah Yayasan Fisabilillah. Di sana, lahir hafiz dan hafizah berprestasi yang mengharumkan nama daerah. Termasuk anak dan cucu mereka yang turut mempelajari tahfiz Quran.

 

DINA ANGELINA, Balikpapan

 

KEGIATAN mengenal dan mempelajari Alquran itu sudah dilakukan lebih 10 tahun silam. Wahidah yang juga aktif dalam kegiatan keagamaan menjadi inisiator lahirnya pendidikan tarbiyatul Quran tersebut. Abdul Hakim menjadi pembina. Sedangkan sang istri menjadi ketua yayasan sekaligus pimpinan pondok pesantren. Sementara itu, anak-anaknya juga terlibat dalam operasional yayasan hingga bertindak sebagai pengajar.

Kepada Kaltim Post, anak kedua dari pasangan itu, Nur Asiah menceritakan perjalanan Yayasan Fisabilillah. Ketika itu, Wahidah berniat mendirikan sekolah kelompok bermain sampai SMA di daerah eks-Puskib. Setelah berjalan sekian waktu, Wahidah mengalami pergolakan batin. Dia merasa penting mempelajari Alquran terlebih dahulu sebagai fondasi dalam mendidik anak.

Apalagi mempelajari Alquran sudah ada perintahnya jelas dalam firman dan hadis. “Membangun sekolah seperti biasa tidak mengutamakan Alquran, rasanya kurang ideal. Akhirnya memutuskan buat sekolah tarbiyatul Quran,” ucapnya. Kegiatan Yayasan Fisabilillah itu sudah bermula sejak 2007. Nur Asiah beserta kedua adiknya menjadi peserta didik yang ikut mempelajari tahfiz Quran.

Santri harus melewati beberapa tahapan pembelajaran. Di antaranya tajwid (ilmu membaca Alquran), tahsin (membaguskan bacaan) tahfiz (menghafal), tafsir, tafhim (memahami tafsir), tatbiq (melaksanakan), dan tablig (mendakwah). Terdapat beberapa kelas sesuai usia. Menariknya di tempat ini, pendidikan tarbiyatul Quran sudah bisa diberikan untuk anak sejak usia 3 tahun.

Pendidikan Alquran untuk usia dini ini terbagi dalam kelas tarqi A dan tarqi B. “Perkenalan dengan Quran sudah bisa dikenalkan sejak dia mulai bisa berbicara. Tapi paling banyak mulai mondok dari usia 6 tahun,” katanya. Jika masuk pondok usia 6 tahun, prediksi akan selesai pendidikan pada usia 10–12 tahun sudah hafal 30 juz.

Lokasi pondok berada di Jalan Soekarno-Hatta, Kilometer 35, Kutai Kartanegara. Di tempat yang jauh dari kebisingan kota, santri ditempa untuk hidup mandiri. Selanjutnya kelas privat, satu murid akan berhadapan dengan satu guru. Dengan begitu, hafalan akan lebih cepat.

Contoh yang mengikuti kelas privat yakni ketiga anak Wakil Wali Kota Balikpapan Rahmad Mas’ud. “Kelas ini lebih efektif karena lebih sering dan fokus. Waktu mengajar juga menyesuaikan,” imbuhnya. Saat ini, Nur Asiah ikut andil sebagai pengajar kelas privat.

Sedangkan anak pertama, Chadidjah, turut berpartisipasi dalam mengelola pondok pesantren. Dia mengatakan, total anak didik di pondok sekitar 65 orang. Perjuangan pondok ini dibuka sejak 2016. Kondisi di pedalaman, tidak ada listrik dan jalan hancur. “Ibu sudah keukeuh niatnya kuat bangun pondok di sana,” ucap si sulung dari empat bersaudara tersebut.

Berada di lokasi yang jauh dari hiruk pikuk kota, santri akan belajar bagaimana bergantung kepada Allah dalam hutan. Eksplorasi pelajaran lebih besar juga karena dekat dengan alam. Chadidjah mengungkapkan, rata-rata usia santri berada di jenjang SD. Menurut dia, pendidikan tarbiyatul Quran lebih mudah diterapkan sejak anak berusia dini.

Walau terkesan lebih repot dan manja, mereka lebih murni dan belum terpengaruh. Biasanya untuk tahun pertama mondok, santri masih masuk proses adaptasi. “Ilmu masih nol, kaget belajar mandiri, paling baru bisa hafal 1-2 juz. Kalau sudah masuk tahun kedua sampai keempat baru bisa menentukan target,” jelasnya.

Sehari-hari santri fokus ke hafalan. Belum terkontaminasi dengan pendidikan akademik lainnya. Sementara pelajaran lain sambil terintegrasi, misalnya matematika dengan diberi tugas menghitung kas kantin. “Dulu sempat kami masukkan pelajaran lain tapi ternyata pengaruh ke kualitas hafalan,” imbuhnya.

Sementara itu, santri juga mengikuti aktivitas di Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) untuk tahu pelajaran akademik lain. Pihaknya menargetkan tahun depan sudah bisa memberikan pelajaran akademik lain serta mengadakan kegiatan ujian nasional secara mandiri.

“Rencana ada kelas Ula (SD), Wushto (SMP), dan Ulya (SMA) versi pesantren. Sesuai dengan arahan kementerian,” sebutnya. Saat ini, Pondok Pesantren Yayasan Fisabilillah berada di bawah naungan Kementerian Agama Kutai Kartanegara. Selain kedua putrinya, anak ketiga dan keempat juga hasil didikan sekolah tersebut.

Putri ketiga bernama Maryam, hafizah yang masih berstatus mahasiswa. Kini dia sedang mengikuti program pertukaran pelajar di Yordania. Juga, putra terakhir yang konsisten mengikuti kontes tahfiz. Dia sudah mengikuti ajang tafiz hingga tingkat nasional. Seperti meraih Juara I Golongan 30 juz pada Musabaqah Hifdzul Quran (MHQ) antar-pesantren tingkat nasional di Tenggarong, Kaltim.

Partisipasi mereka di bidang tahfiz ini tidak terlepas dari peran Abdul Hakim dan Wahidah sebagai orangtua. Nur Asiah bercerita, ajakan untuk belajar tahfiz kali pertama datang sejak dia berada di bangku SMA. Tepatnya ketika sang ibu memulai program pendidikan tersebut. Bersama kedua adik dan anak-anak di lingkungan sekitarnya sebagai peserta. Dia butuh waktu sekitar lima tahun untuk menghafal.

“Ibu latar belakangnya tafsir hadis, jadi memang beliau mendidik dengan cara itu. Kita setiap hari dikasih nasihat siraman rohani setiap sehabis salat lima waktu, dikasih hadis dan ayat Alquran,” ungkapnya. Nur Asiah bersyukur dia mendapat hidayah untuk mau belajar.

Menurut dia, semua itu tidak terlepas dari doa orangtua yang dapat mendatangkan hidayah untuk mereka. Sebab, sebagai anak yang berusia ABG, Nur Asiah juga sempat menolak dan berpikir ingin melakukan kegiatan yang sesuai kegemarannya. Apalagi zaman itu, seorang hafiz tidak populer. Berbeda dengan zaman sekarang.

“Sekarang saya juga masih ingin belajar lagi, tapi masih mempersiapkan diri,” ucapnya. Saat ini, Nur Asiah masih sibuk mengurus buah hatinya, Faqih Ahmad Ardiyansyah. Balita usia 17 bulan itu sudah mulai mengenal Alquran. Caranya dengan mendengarkan lantunan ayat-ayat suci menggunakan metode murotal.

Sementara untuk Chadidjah, fokus mendidik ketiga anaknya yang juga tertarik dalam bidang tahfiz. Walau memang ada yang sungguh-sungguh ingin belajar, ada pula yang masih ikut-ikutan. Contoh yang bersemangat adalah anak kedua yang berusia 8 tahun, kemampuannya sudah menghafal 14 juz. Dia punya target dalam sehari menghafal beberapa halaman sekaligus.

“Saya lihat dia termotivasi nonton kontes tahfiz. Kisah tahfiz dan kemampuan mereka itu membuat anak saya terpacu. Dia ingin bisa hafal arti Quran juga,” sebutnya. Bahkan anak terakhirnya yang paling kecil sudah berkesempatan mengikuti ajang tahfiz di salah satu stasiun televisi nasional.

Metode pelajaran menggunakan murotal, mereka mendengarkan lantunan ayat Alquran menggunakan media player (MP3). Chadidjah menuturkan, sebenarnya keberhasilan tahfiz ini kembali kepada niatan peserta. Bagaimana mereka tahan banting, hidup mandiri, terpola, kesadaran untuk setor hafalan. Kebanyakan mereka mencari teman yang sepadan untuk saling setor hafalan atau berlatih.

Bahkan beberapa santri sekarang sudah mampu dijadikan guru untuk teman-temannya. “Sebagai orangtua kita membimbing mendampingi agar tetap konsisten. Tentu juga mendukung memfasilitasi kebutuhannya dalam menghafal Quran,” jelasnya.

Ketika semangat anak mulai kendor, dia harus memberikan dorongan lagi. Misalnya dengan memperlihatkan proses perjuangan anak setelah berhasil hafal beberapa juz. “Kemudian membuat lomba agar semangat, ada undangan MTQ sampai MHQ, kami akan kirim santri untuk partisipasi. Alhamdulillah rata-rata sudah juara umum hingga juara nasional dan tingkat ASEAN,” tutupnya. (rom/k8)


BACA JUGA

Jumat, 23 Agustus 2019 11:03

45 Tembakan Meriam di Amborawang

BALIKPAPAN—Suara ledakan dari ujung laras meriam howitzer 105 mm terdengar…

Jumat, 23 Agustus 2019 11:02

Tekan Kecelakaan dan Pelanggaran

BALIKPAPAN- Guna menyukseskan Operasi Kepolisian Terpusat, Direktorat Lalu Lintas (Ditlantas)…

Jumat, 23 Agustus 2019 10:29

Kualitas Hidup Masyarakat Balikpapan Meningkat

BALIKPAPAN – Pembangunan manusia di Kota Beriman mengalami percepatan. Ini…

Kamis, 22 Agustus 2019 11:23

Sistem Zonasi agar Distribusi Guru Merata

BALIKPAPAN-Selama ini sebaran guru di Kaltim dianggap tak merata. Banyak…

Kamis, 22 Agustus 2019 11:17

Desember Harus Tuntas, Rizal Tidak Ingin Proyek Ada Bermasalah

Wali Kota Rizal Effendi dan jajaran Dinas PU sidak sejumlah…

Kamis, 22 Agustus 2019 11:13

Berkas Penyebar Video “Kotak Suara Diculik Segera ke Kejaksaan

BALIKPAPAN- Berkas terduga pelaku penyebar video viral berjudul “Kotak Suara…

Kamis, 22 Agustus 2019 11:12

Togel Online Dibidik Polisi

BALIKPAPAN- Kejahatan perjudian dengan sistem online kini dibidik polisi. Khususnya…

Rabu, 21 Agustus 2019 14:39

Setiap RT Harus Punya Bank Sampah

BALIKPAPAN – Pembagian kendaraan roda tiga pengangkut sampah memang masih…

Rabu, 21 Agustus 2019 14:37

Muncikari Divonis 1 Tahun Penjara

  BALIKPAPAN-  Terdakwa Adi Setianto (22), muncikari dalam perkara prostitusi…

Selasa, 20 Agustus 2019 13:18

Lebih Dekat dengan Mayor Czi Heru Aprianto, Danyonzipur 17/ Ananta Dharma

Hampir sepekan, Mayor Czi Heru Aprianto dipercaya menjadi Danyonzipur 17/Ananta…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.
*