MANAGED BY:
SELASA
24 SEPTEMBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

PRO BISNIS

Senin, 10 Juni 2019 15:46
ADUH..!! Harga TBS Terus Melandai

Kampanye Negatif Uni Eropa Terus Berdampak ke Kaltim

Sejak awal tahun harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit terus mengalami fluktuasi. Peningkatan hanya terjadi pada Maret Rp 1.302 per kilogramnya. Pada April harga sudah melandai menjadi Rp 1.287 per kilogramnya, lalu pada Mei kembali mengalami penurunan menjadi Rp 1.236 per kilogramnya.

PROKAL.CO, SAMARINDA- Sejak awal tahun harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit terus mengalami fluktuasi. Peningkatan hanya terjadi pada Maret Rp 1.302 per kilogramnya. Pada April harga sudah melandai menjadi Rp 1.287 per kilogramnya, lalu pada Mei kembali mengalami penurunan menjadi Rp 1.236 per kilogramnya.  Penurunan harga TBS tentunya tak lepas dari menurunnya harga crude palm oil (CPO). Hal itu terjadi masih disebabkan oleh demand CPO yang menurun akibat kampanye negatif Uni Eropa terhadap produk CPO Indonesia.

Untuk diketahui komisi Uni Eropa, memutuskan bahwa minyak kelapa sawit mentah adalah produk tidak ramah lingkungan dalam skema Renewable Energy Directive (RED) IIDalam skema RED II, Komisi Uni Eropa menetapkan bahwa apabila perluasan lahan yang menyebabkan kerusakan alam di atas 10 persen akan dianggap sebagai produk berbahaya dan tidak akan digunakan di UE.Akibatnya, penggunaan CPO di UE akan dikurangi secara bertahap pada 2019-2023 dan dihapus mulai 2030.

Kepala Dinas Perkebunan Kaltim Ujang Rachmad mengatakan, fluktuasi harga komoditas merupakan hal wajar. Seluruh hasil pertanian pasti mengalami hal serupa. Saat ini harga-harga yang sudah ditetapkan per bulan merupakan standar bagi para petani yang sudah bermitra dengan perusahaan pemilik pabrik kelapa sawit di Kaltim, khususnya kebun plasma. Sehingga ini menjadi harga acuan oleh petani.

“Harga TBS tersebut, ditetapkan berdasarkan harga crude palm oil (CPO) dunia,” katanya Jumat (31/5).

Menurutnya, harga CPO ditentukan oleh harga pasar dari supplay dan demand. Sehingga penurunan dan peningkatan TBS tentunya berdasarkan dari permintaan CPO. Contohnya dari akhir tahun sekitar Oktober hingga awal tahun produksi TBS sangat banyak, tentunya CPO di Indonesia juga banyak. Supply yang banyak namun tidak disertai demand yang banyak menyebabkan harga CPO turun. Ini bisa menjadi gambaran, jika demand terus menurun akibat kampanye negative Uni Eropa maka harga CPO akan terus menurun.

“Dampaknya akan langsung terasa oleh TBS kita di daerah. Setiap bulan perhitungan TBS kelapa sawit membutuhkan komponen harga CPO dunia,” pungkasnya.

Terpisah, Ketua Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Kaltim Muhammad Sjah Djafar mengatakan, harga CPO kembali mengalami penurunan pada Mei dibandingkan dengan bulan sebelumnya. Hal itu sebenarnya tidak bisa didiamkan, karena akan berpeluang menekan kinerja ekspor CPO dan produk turunannya pada bulan yang sama.

“Tren penurunan ini masih akan terus berlanjut,” ungkapnya.

Dia menjelaskan, karena tak hanya demand CPO yang menurun, namun juga tren pembelian produk CPO yang terus menurun, sehingga harga akan lebih landai. Ada potensi para calon pembeli saat ini sedang berupaya mengalihkan konsumsinya dari CPO ke produk minyak nabati lain karena kampanye negatif Uni Eropa. Sehingga bisa memprediksi stok dan produksi CPO di Malaysia dan Indonesia tak kunjung mengalami penurunan.

“Supply yang banyak bisa membuat harga CPO masih akan terus menurun,” jelasnya.

Menurutnya, padahal pada awal tahun biasanya harga akan cenderung meningkat. Hal itu disebabkan produksi CPO yang menurun mendekati musim panas, sehingga demand yang banyak membuat CPO meningkat. Namun, permintaan yang terus menurun yang menyebabkan harga masih belum baik. “Indonesia tentunya tidak akan diam saja, pasti banyak hal yang dilakukan agar kampanye negatif ini tidak terus menerus terjadi,” tutupnya. (*/ctr)

 


BACA JUGA

Senin, 23 September 2019 13:42

Peruntukan Dana Desa Mulai Bergeser

SAMARINDA- Kaltim berusaha meningkatkan daya saing sumber daya manusia (SDM)…

Senin, 23 September 2019 08:44

60 Persen Pendapatan untuk Belanja Pangan

SAMARINDA–Usaha kuliner saat ini cukup menjanjikan. Selain untuk memenuhi kebutuhan…

Minggu, 22 September 2019 13:21

Pemerintah Diminta Tunda Kenaikan Cukai Rokok

Keputusan Menteri Keuangan Sri Mulyani yang berencana menaikan cukai rokok…

Jumat, 20 September 2019 11:43

Triwulan III 2019, Kinerja Ekspor Terancam Melambat

Kinerja ekspor Kaltim pada triwulan III 2019 diperkirakan tumbuh lebih…

Jumat, 20 September 2019 11:36

Harga CPO Mulai Membaik

SAMARINDA- Harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit diharapkan segera…

Jumat, 20 September 2019 11:33
Buruan Datangi Mitsubishi Motors Auto Show

Banyak Promo Menarik dan Harga Spesial

BALIKPAPAN- PT Mitsubishi Motors Krama Yudha Sales Indonesia (PT MMKSI)…

Jumat, 20 September 2019 11:04

Uang Muka Rumah dan Kendaraan Kian Rendah

JAKARTA – Ketegangan hubungan dagang AS dan Tiongkok yang diikuti…

Jumat, 20 September 2019 10:01

Porang Bisa Dibudidayakan di Kaltim, Punya Nilai Ekspor ke Jepang, Tiongkok, dan Vietnam

BALIKPAPAN – Kalimantan Timur diharapkan mampu mengurangi ketergantungan terhadap sumber…

Jumat, 20 September 2019 09:59

BI Bisa Turunkan Suku Bunga Acuan

JAKARTA– Setelah dua kali memangkas 7-day reverse repo rate (7DRRR)…

Jumat, 20 September 2019 09:54

Pajak Lahan Progresif Bikin Resah

JAKARTA– Tahun ini diakui sebagai periode yang menantang bagi dunia…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.
*