MANAGED BY:
SELASA
24 SEPTEMBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN
Senin, 10 Juni 2019 12:17
Maldives Indonesia, Vakansi Murah Meriah
BERSAMA IKAN: Aneka ikan warna-warni bisa menemani berenang. Pancing dengan sedikit makanan, ikan akan mengerumuni.

PROKAL.CO, Oleh: Nofiyatul Chalimah

HIDUP kini sudah dimudahkan teknologi. Termasuk urusan vakansi. Mudah sekali menemukan solusi meski harga tiket penerbangan domestik makin tinggi. Masyarakat Kaltim yang jauh dari Bali, pun tetap bisa menggunakan cuti. Sebab, Kaltim juga punya wisata yang tak kalah dengan daerah lain, bahkan luar negeri, yaitu Pulau Derawan, Maratua, Kakaban, dan Sangalaki.

Menuju ke Kepulauan Derawan, opsi paling murah via darat. Tetapi harus siap perjalanan berjam-jam. Mencari-cari info di media sosial, sampailah ke akun penyedia jasa yang menawarkan keberangkatan Samarinda hingga Derawan pulang pergi. Dengan Rp 2 juta, semua biaya wisata, menginap, speedboat, dan makan sudah disediakan. Awal April lalu dipilih untuk berlibur ke Derawan.

IKON: Tak lengkap rasanya, ke Derawan tanpa mampir ke ikon ini untuk berswafoto.

 

Hari H tiba, perjalanan berjam-jam dimulai. Pukul 16.00 sore, mobil meluncur meninggalkan Samarinda. Perjalanan darat hanya sedikit menguras tenaga. Sebab jalan Samarinda menuju Berau tak banyak kerusakan. Obat antimabuk yang bikin lelap, cukup membantu. Bercerita dengan sopir tentang mitos-mitos hantu di sepanjang jalan, pun membunuh waktu. Kami banyak berhenti untuk beristirahat. Hingga pukul 13.00 esok hari, sampailah di Derawan yang katanya Maldives-nya Indonesia.

Tiga hari dua malam di destinasi, cukup untuk sekadar menikmati Derawan dan pulau-pulau di sekitarnya. Kecuali, Anda ingin berbaur dengan penduduk lokal dan belajar pencak silat, seperti pelancong asing yang saya temui lalu lalang bersepeda membawa toya.

Hari pertama, habiskanlah waktu bersantai. Menikmati penginapan di atas air, dengan pemandangan laut hijau toska dan sesekali penyu menampakkan diri. Jangan lupa ke ikon tulisan Derawan dan titik matahari terbenam untuk berswafoto.

Dalam paket trip, sudah disediakan makan. Namun jika kurang, tak perlu khawatir. Sebab, banyak penjual makanan. Harganya bersahabat, bahkan satai cumi, hanya dihargai Rp 2 ribu per tusuknya. Urusan sinyal ponsel tak perlu risau. Jangan lupa berbaur dengan masyarakat, karena masyarakatnya juga ramah-ramah.

BERFOTO: Sempatkan abadikan momen, di sebuah telaga jernih berpasir putih.

 

Tetapi, ingatlah tetap bangun pagi karena saat itu penyu bermunculan di depan penginapan.  Pemandangan matahari terbit tak kalah indah. Setelah itu, segera bersiap untuk program hari kedua yang bakal banyak menguras tenaga. Ada Maratua, Sangalaki, dan Kakaban yang minta didatangi. Jarak untuk berpindah antara pulau-pulau itu, sekitar setengah jam menggunakan speedboat.

Perjalanan pertama adalah Maratua. Kontrasnya pasir putih halus dan laut kehijauan menyambut. Foto jenis gaya apa saja, hasilnya tentu ciamik. Ada pula spot penyu, jadi dengan mudah menemui penyu dan berenang bersama ikan-ikan. Kami berlabuh ke sebuah penginapan yang penghuninya turis asing. Meski tak menginap di sana, pengunjung lain tetap boleh berlabuh dan berenang di sekitar penginapan.

 

BERSAMA UBUR-UBUR: Di Danau Kakaban ini, ada ubur-ubur yang tak lagi menyengat. Jadi, berenang bersama mereka, jadi hal yang ditunggu-tunggu.

 

Maratua sama seperti Derawan, masih berpenghuni. Bahkan Maratua lebih luas dan memiliki bandara. Pengemudi speedboat yang kami sewa banyak bercerita. Sebab, dia dulu lahir dan menghabiskan masa kecil di Maratua.

“Kemudian pindah ke Derawan, dahulu itu banyak perompak. Suka ambil harta kita. Sejak dikembangkan untuk wisata sekitar awal 2000-an, sudah jarang perompak-perompak lagi,” kisah Pak Joli si pengemudi speedboat.

MARATUA: Resort tempat berlabuh di Pulau Maratua. Di bawah bangunan kayu ini, air berwarna tosca dengan aneka ikan, siap diajak berenang.

 

Dia bercerita, mayoritas masyarakat Kepulauan Derawan adalah suku Bajau yang berprofesi nelayan. Sejak dijadikan destinasi wisata, pencurian telur penyu mulai berkurang. Hanya, tak sedikit penyu yang mati karena tertabrak speedboat.

 

JINGGA: Tak perlu jauh-jauh, dari depan penginapan pun sudah bisa menikmati indahnya matahari terbit.

Setelah Maratua, Pak Joli membawa kami ke Goa Haji Mangku, bagi yang bernyali tinggi, boleh lompat dari tebing. Selanjutnya, speedboat Pak Joli menuju Kakaban, tempat ubur-ubur tak menyengat.  Berenang pun jadi wajib, jika tak bisa berenang, ada pelampung. Jangan lupa alat snorkeling, agar bisa melihat ubur-ubur langsung. Ingat ya, jangan disakiti.

TETAP BAGUS: Berfoto dengan gaya apapun, bisa tetap memukau jika disandingkan dengan latar laut indah berwarna tosca.

Perjalanan dilanjutkan menuju Sangalaki, tempat penangkaran tukik. Di sini, boleh memegang tukik alias bayi penyu, tapi harus hati-hati. Pada waktu tertentu bisa membantu melepas tukik ke lautan lepas. Jika tidak, boleh juga sekadar bersantai di pantai. Kalau sudah puas, mari kembali ke penginapan di Derawan. Untuk bersantai dan memulihkan tenaga demi perjalanan kembali ke Samarinda esok hari.

TUKIK: Ke Pulau Sangalaki, bisa jadi wisata edukasi agar lebih mencintai alam. Seperti melestarikan penyu yang keberadaannya makin terancam.

 

Waktu checkout pukul 12.00 siang. Masih ada waktu, jangan lupa snorkeling dan berfoto di spot ikan nemo di Derawan. Saat pulang, silakan mampir ke Gusung Sanggalau yang bagus untuk foto, meski panas terik menyengat.

GUSUNG SANGGALAU: Salah satu destinasi yang tak jauh dari Pulau Derawan. Hamparan pasir putih yang muncul kala air laut surut dan hilang saat pasang.

(*/rdm/k16)

 


BACA JUGA

Selasa, 23 Oktober 2012 07:25

Dirikan TK Annisa, Anak Usia Emas Jangan Ditekan

<div> <strong>PENAJAM &ndash;</strong> Pendidikan usia dini menjadi hal penting…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.
*