MANAGED BY:
SABTU
24 AGUSTUS
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

KOLOM PEMBACA

Jumat, 31 Mei 2019 14:43
Menyambut Lebaran ala Indonesia

PROKAL.CO, Bambang Iswanto*

 

 MAL dan pusat perbelanjaan penuh. Tidak ketinggalan, toko online juga ramai pengunjung. Semua dalam rangka mempersiapkan pakaian baru menyambut hari raya Idulfitri. Demikian juga persiapan menyuguhkan makanan terbaik pada Lebaran. Toko-toko kue, dari toko penjual bahan mentah sampai toko kue jadi, halaman parkirnya sesak.

Suasananya berbanding terbalik dengan tempat-tempat ibadah. Tampak lengang dan longgar. Yang tersisa hanya wajah-wajah jamaah tetap masjid, yang biasanya didominasi oleh orang-orang tua dan segelintir generasi muda.

Sepinya masjid belum tentu disebabkan berpindahnya jamaah ke pusat perbelanjaan. Bisa jadi mereka juga tidak pergi ke tempat perbelanjaan. Tetapi mungkin sudah merasa jenuh dan lelah tarawih. Kemungkinan lain mereka tetap bertarawih di rumah. Atau mungkin, sebagian dari mereka sedang dalam perjalanan mudik ke kampung halaman.

Tidak ada yang salah dengan mempersiapkan pakaian, hidangan lezat, pulang kampung untuk menyambut kedatangan Lebaran. Namanya Lebaran, tentu merupakan hari perayaan.

Rasulullah menyuruh umat muslim untuk bergembira  pada hari tersebut. Memakai pakaian baru dan menghidangkan kue Lebaran, mudik, berbagi angpau, halalbihalal adalah bentuk ekspresi dan terjemahan sebagian masyarakat dalam merayakan Idulfitri. Yang keliru adalah ketika kesibukan dalam mempersiapkan Idulfitri, melupakan dan menyia-nyiakan keutamaan Ramadan. Sehingga tergolong menjadi orang yang merugi.

Tetap bersiap-siap tetapi tetap menjaga ibadah. Keduanya bisa jalan beriringan. Siang belanja, malamnya Tarawih. Atau mempersiapkannya sebelum Ramadan datang, bagi yang sudah memiliki uang, agar bisa memaksimalkan ibadah Ramadan.

Lebaran Idulfitri di Indonesia tergolong unik dan termeriah di dunia. Pada negara yang berpenduduk mayoritas muslim lain, Iduladha justru lebih meriah dibanding Idulfitri. Idulfitri di Indonesia lebih dari sekadar hari besar keagamaan Islam.

Maknanya sudah melebar, jauh melampaui batas-batas ritual Idulfitri sendiri. Lebaran sudah menjadi peristiwa budaya yang melekat dengan masyarakat Indonesia. Tafsir terhadap ajaran agama terkait menyambut kemenangan pun sering melampau tafsir teks keagamaan tentang ritual agama lain.

Penafasiran tersebut melahirkan tradisi mudik pulang kampung. Atau tradisi lain seperti halalbihalal, open house pejabat pemerintah, pimpinan perusahaan, dan tokoh masyarakat yang terbuka untuk umum baik muslim dan nonmuslim, tidak ditemui di negara berpenduduk muslim lain. Demikian pula dengan tradisi berbagi “angpau”. Semua dilandasi pengamalan agama yang digabung dengan kearifan lokal dalam konteks budaya.

Seluruh tradisi yang baik tersebut ada akar keagamaannya.  Halalbihalal wujud pengamalan dari perintah menyambung tali silaturahmi. Mudik adalah upaya dari pengamalan agama berbakti kepada orangtua dan menyambung tali silaturahmi dengan kerabat terdekat.

Tradisi bagi angpau merupakan pengejawantahan dari kewajiban berbagi harta dengan yang lain dalam bentuk infak. Kesimpulan dari semua tradisi yang berakal dari ritual pengamalan agama tersebut menyampaikan pelakunya bahagia, orang yang didatangi bahagia, dan orang yang dibagi juga bahagia.

Meski perjalanan mewujudkan diperlukan perjuangan keras, lihat saja bagaimana orang mudik. Untuk bisa mewujudkan pulang kampung, mereka rela menapaki jalanan, dan antrean panjang yang kadang memakan waktu berhari-hari di medan perjalanan yang tidak mudah.

Pembagi “angpau” harus menabung selama berbulan-bulan untuk bisa berbagi harta. Demikian untuk bisa membeli pakaian terbaik dan hidangan terbaik Lebaran, tidak jarang mengeluarkan tabungan yang sudah lama disimpan.

Jihad perjalanan mudik dan menabung menghasilkan perasaan bahagia ke berbagai pihak. Pemerintah juga menuai hal positif. Perputaran uang menjadi lancar, daya beli masyarakat meningkat. Pabrik-pabrik memproduksi barang kebutuhan, tenaga kerja terserap di perusahaan.

BERHAK BERLEBARAN

Hal yang sudah jamak terjadi. Semua muslim berlebaran. Sejatinya, mukmin yang berlebaran Idulfitri adalah orang-orang mukmin yang telah berhasil mengalahkan hawa nafsunya. Karena itu, dia berhak merayakan seperti kembali kepada fitrahnya sebagai manusia yang bersih karena dosa-dosanya sudah dihapus.

Di lapangan, yang terjadi adalah semuanya merayakan kemenangan. Jangan heran orang yang kelihatan jelas tidak berpuasa karena merokok atau terlihat makan di warung atau makan di tempat terbuka pada siang bolong. Mengaku tidak pernah tarawih atau salatnya bolong-bolong turut merayakan kemenangan hari yang fitri. Bahkan orang yang merasa tersiksa dan tidak bahagia dengan kehadiran datangnya Ramadan pun turut merasa berhak merayakan kemenangan.

Jika dikembalikan kepada makna sesungguhnya, Idulfitri merefleksikan kemenangan atas jihad akbar melawan hawa nafsu. Dan kembali merasa terlahir kembali kepada fitrah kemanusiaan yang bersih, suci, serta kuat hatinya.

Menahan diri tidak hanya dari hal-hal yang diharamkan. Yang dihalalkan pun pada hari biasa mereka jalankan dalam rangka menuju ketakwaan kepada Allah. Artinya, mukmin yang paling berhak merayakan kemenangan adalah mukmin yang berhasil berjuang mengendalikan hawa nafsu dan merasa kembali kepada fitrah kemanusiaan yang bersih dan suci.

Bahagia pada Idulfitri adalah hak seluruh umat muslim. Tidak ada batasan antara yang berpuasa dan yang tidak berpuasa. Antara yang balig dan belum, antara yang miskin dan kaya. Pejabat dan rakyat jelata. Bahkan antara pendosa dan ahli ibadah. Bahkan antara muslim dan nonmuslim pun. Tanpa terkecuali semua berhak berbahagia.

Inilah yang diinginkan oleh Rasulullah. Semua bisa berbahagia pada hari raya. Hal ini juga yang menjadi salah satu hikmah puasa dan Idulfitri, semua terdampak bahagia. Orang miskin, tidak boleh bersedih.

Rasul menuntun kita untuk berbagi agar mereka bahagia. Orang nonmuslim turut bahagia karena saudara sebangsanya bahagia dan tercipta toleransi yang membahagiakan. Orang yang belum mendapat hidayah beribadah dengan baik juga dipersilakan berbahagia. Sambil didoakan agar suatu saat mereka turut mendapatkan keberkahan Ramadan dan benar-benar bisa merasakan kemenangan yang hakiki setelah berjuang.

Kemenangan yang hakiki hanya bisa dirasakan dan dirayakan oleh orang-orang yang telah berhasil berjuang melawan hawa nafsu. Model mukmin seperti ini, dia berhak memakai pakaian takwa.

Baginya pakaian baru yang harus didapat bukanlah pakaian baru dalam wujud lahir, tetapi pakaian baru batin berupa pakaian takwa. Pada tafsir al-Manar disebutkan, pakaian takwa adalah moralitas dan keluhuran budi pekerti. Tunduk dan patuh kepada Allah dengan melaksanakan segala perintah dan larangan-Nya.

Semoga Allah menjadikan kita semua orang yang bisa memakai pakaian takwa sebagai hasil ibadah Ramadan kita. Lalu menjadi bekal kita dalam menjalani waktu-waktu pasca-Ramadan, harta hari kiamat nanti. Amin. (rom/k16)

 

 

*) Dosen Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Samarinda


BACA JUGA

Jumat, 23 Agustus 2019 11:58

MTQ Dulu dan Kini

Oleh: Bambang Iswanto Dosen IAIN Samarinda “Gema Musabaqah Tilawatil Quran,…

Jumat, 16 Agustus 2019 10:27

Iduladha dan Kemerdekaan

Oleh: Bambang Iswanto Dosen IAIN Samarinda Jarak antara Iduladha dengan…

Selasa, 13 Agustus 2019 13:08

(Wajib) Kabinet Antikorupsi

Adam Setiawan, SH Mahasiswa Program Magister Ilmu Hukum Universitas Islam…

Senin, 12 Agustus 2019 13:38

TMMD Wujud Nyata Kedekatan TNI-Rakyat

Oleh : Kapendam VI/Mulawarman Kolonel Kav Dino Martino   KEGIATAN…

Jumat, 09 Agustus 2019 10:38

Haji dan Semangat Kemerdekaan

Oleh: Bambang Iswanto Dosen IAIN Samarinda Belanda, ketika menjajah Indonesia,…

Selasa, 06 Agustus 2019 10:03

Mengambil Hikmah dari Peristiwa Ikan Asin dan Garuda

Oleh: Danang Agung Wakil Ketua KAHMI Balikpapan   Ada yang…

Selasa, 06 Agustus 2019 10:02

Jasa Pendidikan terhadap PDRB Mahakam Ulu

Oleh: Didit Puji Hariyanto, SST Staf Integrasi Pengolahan dan Diseminasi…

Selasa, 06 Agustus 2019 10:01

Keutamaan Puasa Arafah

Oleh: Sri Ayu Rayhaniah Dosen Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah,…

Jumat, 02 Agustus 2019 10:52

Ketika Lahan Ibadah si Kaya “Direbut” si Miskin

Oleh: Bambang Iswanto (Dosen IAIN Samarinda) Orang kaya berkurban, sudah…

Jumat, 02 Agustus 2019 10:47

Reedukasi Pemahaman Agama

Sugeng Susilo, S.H Staf Biro Hukum Sekretariat Provinsi Kaltara  …
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.
*