MANAGED BY:
RABU
21 AGUSTUS
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

UTAMA

Sabtu, 25 Mei 2019 15:11
Tol Balikpapan-Samarinda Berpotensi Sepi Peminat

Nasib Tol Samarinda-Bontang Diputus Oktober

Masa depan Tol Balsam memang masih mengkhawatirkan. Selain arus lalu lintas masih kecil, hingga kini PT Jasa Marga masih menghadapi masalah tagihan dana talangan dari Badan Layanan Usaha Lembaga Manajemen Aset Negara (BLU LMAN).

PROKAL.CO, BALIKPAPAN – Batalnya Tol Balikpapan-Samarinda (Balsam) sebagai jalur alternatif mudik Idulfitri tahun ini tak berdampak signifikan bagi arus lalu lintas di Kaltim. Jalan Soekarno-Hatta dianggap masih mampu menampung aktivitas ribuan kendaraan pemudik. Namun, perlu ada antisipasi potensi gangguan yang bisa berdampak kemacetan.

"Penggunaan tol untuk mudik memang belum diperlukan jika melihat kepadatan kendaraan saat ini," ujar pengamat transportasi dari Institut Teknologi Kalimantan (ITK) Muhammad Hadid, Jumat (24/5).

Hadid menjelaskan, keberadaan tol memang memberikan angin segar terhadap pertumbuhan di sektor transportasi Kaltim. Khususnya di Balikpapan. Yang pada jam tertentu dilanda kemacetan di jalur konvensional, yakni Jalan Soekarno-Hatta, tepatnya di Km 5, Balikpapan Utara. Sehingga Tol Balsam sebagai jalur alternatif lebih tepat jika digunakan untuk mengurai kemacetan di kawasan tersebut.

"Sementara untuk jalur Grand City (Km 7-Jalan MT Haryono) tak memungkinkan jika kondisi hujan," ujarnya.

Lebih jauh perlu ada kajian mendalam jika memang jalur Grand City dibuat sebagai akses alternatif. Mengingat kemacetan juga kerap terjadi di simpul simpang jalur. Meski jalur tersebut sebagai solusi memecah kemacetan, namun bisa terjadi potensi kemacetan baru di Jalan Soekarno-Hatta dan Jalan MT Haryono.

"Potensi kemacetannya bisa di Km 8 hingga dari arah Samarinda dengan antrean kendaraan yang masuk ke jalur alternatif," tuturnya.

Begitu pula dengan Tol Balsam yang rencananya dibuka Agustus nanti. Menurutnya, dengan kondisi kepadatan kendaraan yang terjadi di Jalan Soekarno-Hatta saat ini, banyak perusahaan niaga yang akan berpikir menggunakan tol dengan pertimbangan keekonomian. Sehingga kemungkinan pengguna tol lebih banyak kendaraan pribadi.

"Tol mungkin bisa mengurangi kemacetan dari sisi angkutan barang. Tapi belum bisa dipastikan. Karena mereka juga punya cost. Apakah mau mengeluarkan cost tambahan Rp 100 ribu untuk bayar tol," sebutnya.

Sementara itu, Direktur Proyek Sektor Jalan dan Jembatan Komite Percepatan Penyediaan Infrastruktur Prioritas (KPPIP) Max Antameng menerangkan, masa depan Tol Balsam memang masih mengkhawatirkan. Selain arus lalu lintas masih kecil, hingga kini PT Jasa Marga masih menghadapi masalah tagihan dana talangan dari Badan Layanan Usaha Lembaga Manajemen Aset Negara (BLU LMAN). "Masalahnya masih ada penambahan pembebasan lahan di sana (Tol Balsam)," kata Max.

Sementara diketahui, Jasa Marga sudah menyurati Kementerian Keuangan dan ke Ditjen Bina Marga jika proses pembebasan lahan tak bisa dilakukan karena tertahannya dana talangan dari BLU LMAN. Sementara proyek yang dibiayai merupakan dana pinjaman bank. Membuat pihak Jasa Marga menanggung beban bunga. Dan kondisi ini tak hanya terjadi di Tol Balsam, tapi di proyek tol lainnya seperti Tol Manado-Bitung dan Tol Probolinggo-Banyuwangi. "Yang kondisi traffic-nya kosong," imbuhnya.

Ditanya soal nasib Tol Samarinda-Bontang setelah Tol Balsam, Max menyatakan masih sebatas wacana. Pasalnya, terpisah dari proyek strategis nasional (PSN) yang telah disusun 2015-2019. Pun dalam mengambil kebijakan, pemerintah melalui presiden kini memutuskan tak akan melakukan merger division hingga Oktober mendatang.

"Mengingat PSN ini memerlukan dana yang cukup besar. Dan khusus tol baru bisa diketahui nanti setelah Oktober. Apalagi di Tol Balikpapan-Samarinda itu di Seksi 1 diserahkan ke pemerintah," ujarnya.

 

DISKON 15 PERSEN

Setelah beberapa lama bermusyawarah, Asosiasi Tol Indonesia (ATI) akhirnya memutuskan memberikan diskon 15 persen pada periode mudik dan balik Lebaran 2019. Diskon ini berlaku merata di semua ruas jalan tol di Indonesia.  

Seluruh operator jalan tol atau dikenal dengan Badan Usaha Jalan Tol (BUJT) yang berada di bawah naungan Asosiasi Jalan Tol Indonesia (ATI) sepakat memberikan potongan harga pada tiga hari sebelum puncak arus mudik dan tiga hari selepas puncak arus balik. 

Sesuai perhitungan pemerintah, puncak arus mudik diperkirakan jatuh pada 30 Mei hingga 2 Juni 2019. Diskon tarif akan berlaku pada 27 Mei 2019 pukul 00.00 WIB hingga 29 Mei 2019 pukul 23.59 WIB.

Sementara pada arus balik yang diperkirakan dimulai pada 7-9 Juni 2019 diskon akan diberlakukan pada 10 Juni 2019 pukul 00.00 WIB hingga 12 Juni 2019 pukul 23.59 WIB.

Ketua ATI Desi Arryani menjelaskan, ATI berharap dengan konfigurasi tanggal di atas, beban arus mudik yang diperkirakan paling banyak dipikul oleh jalan tol akan lebih terdistribusi. Mendorong para pemudik untuk berangkat lebih awal dan kembali lebih akhir.

 “Apalagi saat ini Jalan Tol Trans Jawa sudah tersambung kami memperkirakan volume lalu lintas akan naik signifikan," ungkap Desi kemarin (24/5).

Desi mengatakan, bahwa diskon tarif tol yang sepenuhnya merupakan inisiasi ATI merupakan bentuk pelayanan dan apresiasi bagi pengguna jalan tol serta mendistribusikan lalu lintas agar tidak menumpuk di sejumlah tanggal tertentu.

Selain itu, menurut Desi, diskon tarif tol juga diberikan agar masyarakat yang melakukan perjalanan untuk melakukan silaturahmi pada periode mudik dan balik Lebaran dapat menjadi lebih mudah dan murah dalam perjalanan ke kampung halaman.

Desi juga menyampaikan bahwa diskon 15 persen untuk perjalanan menerus dalam satu klaster Tol Trans Jawa yang diberlakukan di beberapa ruas sejak 23 Mei 2019 dihentikan.  Diharapkan dengan adanya jadwal diskon yang diberikan BUJT dapat menjadi acuan pemudik merencanakan perjalanan yang lebih baik lagi. Meski berlaku diskon 15 persen, BUJT tetap berupaya maksimal agar pengguna jalan dapat selalu merasa aman dan nyaman. (tau/jpg/rdh/dwi/k15)


BACA JUGA

Rabu, 21 Agustus 2019 12:20

Rp 13 Triliun untuk Papua-Papua Barat

JAKARTA– Pemerintah membantah disebut menganaktirikan pembangunan di Papua. Buktinya, dana…

Rabu, 21 Agustus 2019 12:19

Manokwari Sudah Kondusif, Dominggus Ikut Minta Maaf

MANOKWARI—Pasca aksi demonstrasi, Senin (19/8) lalu, Kota Manokwari kini berangsur…

Rabu, 21 Agustus 2019 12:15

BUMN Jual Sepuluh Ruas Tol

JAKARTA – Dua perusahaan pelat merah bakal menjual kepemilikannya di…

Rabu, 21 Agustus 2019 12:06

Wapres Serukan Cooling Down, Otonomi Khusus Papua Luar Biasa

JAKARTA– Perlahan namun pasti, ketegangan sebagai imbas peristiwa di Manokwari…

Rabu, 21 Agustus 2019 12:04

Mangku Sitepoe, Dokter Bertarif Sepuluh Ribu Rupiah

Pada September nanti, Dokter Mangku genap berusia 84 tahun. Semangatnya…

Rabu, 21 Agustus 2019 11:25

Mau Pilkada Tanpa Hoax, Ini yang Dilakukan KPU

JAKARTA– Penyelenggaraan pilkada serentak 2020, sebagaimana pemilu 2019, diprediksi belum…

Rabu, 21 Agustus 2019 11:24

Tambah Kapasitas Mina, Saudi Bakal Ratakan Gunung

Laporan M. Hilmi Setiawan dari Makkah     MAKKAH – …

Rabu, 21 Agustus 2019 09:28

Kembalikan Kejayaan Lada Kaltim

SAMARINDA- Perkebunan selalu disebut-sebut menjadi pengganti pertambangan yang saat ini…

Rabu, 21 Agustus 2019 09:27

Kinerja PAD Meningkat, Belanja Malah Turun

SAMARINDA- Realisasi pendapatan daerah pada triwulan II 2019, baik secara…

Selasa, 20 Agustus 2019 13:16

Ragam Cerita Para WNI di Tengah Demonstrasi Hongkong

Ada yang tetap buka restoran saat demo besar. Ada yang…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.
*