MANAGED BY:
SELASA
24 SEPTEMBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

MANCANEGARA

Rabu, 22 Mei 2019 11:43
Huawei Tak Takut, Ren: Jangan Remehkan Kami
Ren Zhengfei (huawei.com)

PROKAL.CO, BEIJING – Pendiri Huawei Ren Zhengfei buka suara terkait dengan blokir yang dilakukan penyuplai teknologi dari AS. Menurut dia, produsen ponsel terbesar kedua di dunia itu tak akan goyah hanya karena tekanan Presiden Donald Trump. Sayang, banyak investor dan pengamat ekonomi yang meragukan klaim tersebut.

Saat diwawancarai media lokal kemarin (21/5), Ren memilih tak ambil pusing terhadap keputusan berbagai perusahaan teknologi dari AS. Menurut dia, tak ada proyek perusahaan yang akan terhenti. Terutama pengembangan jaringan telekomunikasi 5G di level global. ’’AS sepertinya terlalu meremehkan kekuatan kami. Soal teknologi 5G, tak ada yang bisa mengejar kami dalam dua atau tiga tahun ke depan,’’ tegasnya menurut Agence France-Presse.

Berbeda dengan Huawei, pemerintah AS justru bersikap sedikit melunak. Setelah banyak perusahaan teknologi mengumumkan tindak lanjut mereka, Kementerian Perdagangan justru mengeluarkan penangguhan. Penangguhan itu mengizinkan perusahaan AS untuk tetap berbisnis dengan Huawei selama 90 hari ke depan.

’’Izin sementara tersebut kamu keluarkan agar perusahaan bisa memperkirakan dampak jangka panjang,’’ ungkap Menteri Perdagangan Wilbur Ross.

Pemerintah AS sepertinya kelabakan melihat kondisi industri teknologi pasca pemblokiran. Sehabis pengumuman, saham-saham industri teknologi anjlok. Saham Alphabet, induk usaha Google, turun 2 persen. Saham produsen cip dan peranti keras ponsel ikut merosot. Logika para investor, kehilangan salah satu klien terbesar perusahaan pasti akan mengurangi keuntungan.

’’Kalau kami sebenarnya tak peduli ada penangguhan 90 hari itu. Tak ada dampak langsung terhadap kami,’’ timpal Ren.

Ayah Meng Wanzhou, petinggi Huawei yang sedang tertahan di Kanada, tersebut mengklaim bahwa amunisi bisnisnya sudah cukup. Soal peranti lunak, raksasa teknologi itu sudah mengembangkan sistem operasi jauh hari sebelum Presiden AS mengeluarkan perintah eksekutif. Soal peranti keras, Ren menyatakan bahwa setengah dari cip yang digunakan sudah diproduksi di dalam negeri. ’’Kami bisa saja membuat cip yang sama dengan AS. Tapi, bukan berarti kami tak mau membeli produk mereka,’’ tegasnya.

Sayang, tak semua percaya dengan klaim Ren. Pengamat pasar modal dunia merasa bahwa ambisi Huawei rentan gagal. Terutama misi untuk membangun ekosistem mandiri buat ponsel mereka. Menciptakan sistem operasi yang bisa menarik hati konsumen tak semudah membalik telapak tangan. Butuh lebih banyak dari sekadar modal dan programer andal.

’’Lihat saja perusahaan seperti Nokia, BlackBerry, dan Microsoft. Mereka semua gagal dalam upaya serupa,’’ ungkap Ryan Whalen, wakil direktur Law and Technology Centre di University of Hong Kong.

Padahal, saingan Huawei di pasar global bukan hanya satu atau dua perusahaan. Raja smartphone Samsung tak berminat mengendurkan laju penjualan. Harga sahamnya meningkat 2,7 persen saat bursa Seoul ditutup kemarin. Kuda hitam seperti Xiaomi dan Oppo sudah menjamah pasar Eropa.

Perusahaan AS Mengeluh

Huawei hanya salah satu bab dari perseteruan dagang antara AS dan Tiongkok. Bab lainnya, perang tarif, juga belum selesai. Dalam surat terbuka, 173 perusahaan sepatu baru saja memprotes rencana Presiden AS Donald Trump untuk menerapkan tarif 25 persen terhadap kelompok barang dengan nilai sekitar USD 300 miliar (Rp 4.344 triliun).

Dalam rencana itu, perusahaan alas kaki bakal terkena dampak. Pemilik merek termasyhur seperti Nike, Adidas, dan Under Armour langsung meminta Trump membatalkan rencana tersebut. ’’Mewakili ratusan juta konsumen sepatu dan ratusan ribu pekerja, kami berharap Anda menghentikan kebijakan itu,’’ ujar mereka menurut The Straits Times.

Sebagai industri yang membayar pajak USD 3 miliar (Rp 43 triliun), pelaku industri menegaskan pasti akan melimpahkan beban pajak kepada konsumen. Padahal, Nike saja mengalihdayakan 26 persen produksi sepatunya di Tiongkok. Skechers justru lebih banyak lagi 65 persen.

’’Keuntungan kami tak akan cukup menanggung kenaikan beban. Pastinya beban itu akan kami bagi dengan pembeli,’’ imbuh Direktur Operasional Global Wolverine World Wide Michael Jeppesen. (bil/c22/dos)

 


BACA JUGA

Senin, 23 September 2019 14:49

Lari Maraton Jarak Jaaauuuh...

Sheila Pereira sangat suka lari maraton. Saking sukanya, dia langsung…

Senin, 23 September 2019 13:26

Warga Afghanistan Bimbang, Takut Pergi ke TPS

KABUL– Penduduk Afghanistan bimbang. Mereka harus menimbang apakah bakal pergi…

Senin, 23 September 2019 13:16

Biden Berang Anaknya Diusik

WASHINGTON– ”Trump layak diselidiki. Dia melanggar semua norma dasar seorang…

Senin, 23 September 2019 13:13

Tenggelam saat Melamar

ZANZIBAR CITY– Perasaan Kenesha Antoine berubah dari girang menjadi muram…

Senin, 23 September 2019 09:24
Geliat Penyelamatan Bumi di Penjuru Dunia

Permukaan Air Laut Naik, Puluhan Kota Terancam Menghilang

Perubahan iklim yang menyebabkan pemanasan global bukanlah isapan jempol. Aktivis…

Senin, 23 September 2019 09:17

Trump Setujui Tambahan Pasukan di Saudi

Menteri Pertahanan Amerika Serikat Mark Esper mengaku bakal mengirimkan pasukan…

Sabtu, 21 September 2019 12:08

Aksi Global Tuntut Perlindungan Lingkungan

Banyak negara memberi perhatian lebih terhadap perubahan iklim. Perusahaan-perusahaan pun…

Jumat, 20 September 2019 11:00

PERIH MEMANG..!! Sakit Hati, Rumah sang Mantan Dibom

KASUS ledakan misterius di wilayah Washington Township, Pennsylvania, AS, Maret…

Jumat, 20 September 2019 10:15

Jika Bukan Pria atau Perempuan, Pakai They

WASHINGTON– They kini punya arti baru. Bukan hanya sebagai kata…

Jumat, 20 September 2019 09:35

Minta Senat Dukung Ilmuwan

WASHINGTON – ”Saya tahu Anda sudah mencoba, tapi tak cukup…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.
*