MANAGED BY:
SENIN
23 SEPTEMBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

MANCANEGARA

Selasa, 21 Mei 2019 14:04
Pemasok Teknologi Mulai Putus Hubungan, Pasar Huawei Jadi Lumpuh
Huawei baru saja menerima pukulan berat. Berbagai perusahaan teknologi asal AS mulai memutus tali hubungan dengan perusahaan telekomunikasi asal Tiongkok tersebut. (technologireview.com)

PROKAL.CO, WASHINGTON – Huawei baru saja menerima pukulan berat. Berbagai perusahaan teknologi asal AS mulai memutus tali hubungan dengan perusahaan telekomunikasi asal Tiongkok tersebut. Itu adalah buntut dari perintah Presiden AS Donald Trump untuk menutup semua akses teknologi terhadap raksasa teknologi tersebut.

Pukulan terberat datang dari Google. Pemilik sistem operasi Android itu baru saja mengumumkan akhir kerja sama mereka dengan produsen ponsel terbesar kedua di dunia itu. Mereka menegaskan bahwa itu adalah bentuk ketaatan perusahaan terhadap pembuat kebijakan di Negeri Paman Sam. ’’Kami sedang meninjau dampak apa saja yang akan timbul,’’ ujar juru bicara Google kepada Agence France-Presse.

Keputusan tersebut membuat ponsel Huawei kehilangan daya saing. Perusahaan yang didirikan Ren Zhengfei itu tak bisa lagi memasukkan platform Android rilisan terbaru ke produk mereka. Padahal, Android merupakan penguasa pasar sistem operasi ponsel pintar. Jauh mengalahkan iOS milik Apple maupun Windows Mobile milik Microsoft.

’’Kami pastikan bahwa pengguna Android yang telanjur memilih ponsel Huawei tak akan terkena masalah. Mereka masih akan mendapatkan jasa Google Play dan Google Play Protect,’’ tegas Google melalui akun Twitter @android.

Pernyataan Google punya pesan tersirat. Yakni, penggemar Android tak lagi dianjurkan membeli ponsel milik Huawei. Sebab, ponsel Huawei ke depan tak lagi punya aplikasi-aplikasi yang akrab dijumpai di sistem Android. Misalnya, Google Maps, Gmail, atau Google Play Store.

Sebenarnya, Huawei masih diperbolehkan menggunakan Android. Namun, hanya versi open source. Versi itu tersedia gratis bagi semua pihak. Banyak fitur yang disunat Google. Salah satu yang terpenting fitur pembaruan keamanan dan aplikasi. ’’Tindakan ini sama saja dengan menghilangkan daya tarik ponsel Huawei. Membuat mereka lumpuh di pasar ponsel selain Tiongkok,’’ ujar analis International Data Corporation (IDC) Bryan Ma kepada CNN.

Nicole Peng, analis di Canalys, mengatakan, kemudahan dan inovasi merupakan fitur utama yang dicari konsumen industri teknologi. Tentu saja, asal sedikit belajar, konsumen bisa menginstal sendiri aplikasi seperti Gmail atau Google Maps. Hanya, tak banyak yang mau tahu soal itu.

’’Urusan layanan purnajual itu sangat menantang bagi pengguna ponsel. Jika Huawei tak bisa mendapatkan ekosistem Google, kepercayaan masyarakat bakal terus turun,’’ tegasnya.

Apakah Huawei bisa bertahan? Tentu bisa. Di Tiongkok, aplikasi seperti Gmail, YouTube, dan Google Maps sudah lama diblokir. Mereka digantikan WeChat atau Baidu Maps. Masalahnya, setengah dari penjualan ponsel Huawei berada di luar Tiongkok. Karena itu, pertumbuhan perusahaan yang bermarkas di Shenzhen, Guangdong, tersebut bakal terhambat.

Pertumbuhan Huawei tambah terhambat dengan kabar produsen chip ponsel yang ikut memutus hubungan. Menurut Bloomberg, baik Intel, Qualcomm, maupun Broadcom, semua sudah memberi tahu pekerja bahwa mereka akan berhenti memproduksi peranti keras untuk Huawei.

Padahal, perusahaan yang berkiprah selama 32 tahun itu masih bergantung kepada perangkat keras dari luar Tiongkok. Menurut BBC, belanja komponen Huawei luar negeri mencapai USD 67 miliar (Rp 968 triliun) per tahun. USD 11 miliar (Rp 159 triliun) dihabiskan untuk suplai dari AS.

Di sisi lain, Huawei mengaku sudah menyiapkan rencana cadangan. Dalam wawancaranya bulan lalu, Richard Yu, pimpinan divisi konsumen, mengatakan bahwa perusahaannya sudah lama memprediksi pemblokiran itu. Mereka sudah lama menimbun chip ponsel jika memang pasokan terhenti sementara.

’’Kami sudah menyiapkan sistem operasi jika situasi tak terduga benar terjadi,’’ ungkapnya menurut The Guardian. (bil/c19/dos)


BACA JUGA

Senin, 23 September 2019 14:49

Lari Maraton Jarak Jaaauuuh...

Sheila Pereira sangat suka lari maraton. Saking sukanya, dia langsung…

Senin, 23 September 2019 13:26

Warga Afghanistan Bimbang, Takut Pergi ke TPS

KABUL– Penduduk Afghanistan bimbang. Mereka harus menimbang apakah bakal pergi…

Senin, 23 September 2019 13:16

Biden Berang Anaknya Diusik

WASHINGTON– ”Trump layak diselidiki. Dia melanggar semua norma dasar seorang…

Senin, 23 September 2019 09:24
Geliat Penyelamatan Bumi di Penjuru Dunia

Permukaan Air Laut Naik, Puluhan Kota Terancam Menghilang

Perubahan iklim yang menyebabkan pemanasan global bukanlah isapan jempol. Aktivis…

Senin, 23 September 2019 09:17

Trump Setujui Tambahan Pasukan di Saudi

Menteri Pertahanan Amerika Serikat Mark Esper mengaku bakal mengirimkan pasukan…

Sabtu, 21 September 2019 12:08

Aksi Global Tuntut Perlindungan Lingkungan

Banyak negara memberi perhatian lebih terhadap perubahan iklim. Perusahaan-perusahaan pun…

Jumat, 20 September 2019 11:00

PERIH MEMANG..!! Sakit Hati, Rumah sang Mantan Dibom

KASUS ledakan misterius di wilayah Washington Township, Pennsylvania, AS, Maret…

Jumat, 20 September 2019 10:15

Jika Bukan Pria atau Perempuan, Pakai They

WASHINGTON– They kini punya arti baru. Bukan hanya sebagai kata…

Jumat, 20 September 2019 09:35

Minta Senat Dukung Ilmuwan

WASHINGTON – ”Saya tahu Anda sudah mencoba, tapi tak cukup…

Jumat, 20 September 2019 09:33

Iran Ogah Diam Diri, AS Siapkan Bukti

TEHERAN– Iran, tampaknya, lebih berani tegas daripada pemerintah AS atau…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.
*