MANAGED BY:
KAMIS
19 SEPTEMBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

KOLOM REDAKSI

Jumat, 17 Mei 2019 10:52
Mathilda di Balik Pagar
Faroq Zamzami

PROKAL.CO, Catatan: Faroq Zamzami (*) 

 

ADA potensi. Ada peluang. Ada histori. Ada bukti sejarah panjang. Tapi sayang. Hanya bisa dilihat. Dinikmati dari luar. Dari pinggir jalan. Dari balik pagar. Mendekatinya lewat mana, awam masih bingung. Pintu di dekatnya, berupa terali, tertutup. Bergembok. Hanya bisa clingak-clinguk dari pinggir jalan. Di dekatnya tak ada aktivitas apa-apa, saat saya ke sana, Rabu (8/5), sekira pukul 12.00. Tak ada tempat bertanya. Bagaimana masuk ke sana. 

Itu titik wisata yang seharusnya jadi penyedot manusia, malah berada di lingkungan tertutup. Akses terbatas. Minim fasilitas. Titik itu "emas". Yang banyak butuh sepuhan. Agar bisa dinikmati lebih dekat. Dari segala sisi. Dengan tambahan aneka daya pikat. Jadi siapa saja bisa puas berada di sekitarnya. Menikmati panorama. Suasana. Cekrak cekrek, ber-selfie ria. "Emas" itu adalah Monumen Sumur Minyak Mathilda B-I, 1897-1903.

Lokasi monumen di Jalan Minyak, Balikpapan. Dalam kawasan kilang. Berjarak sekira 100 meter setelah gapura masuk Jalan Minyak, arah dari Pelabuhan Semayang. Lokasi monumen ciamik. Lingkungan sekitarnya lebat aneka pohon. Bersisian dengan jejeran kilang Pertamina. View-nya jangan ditanya. Dari pinggir jalan saja bisa melihat perpaduan yang harmonis, teluk dengan kompleks kilang.

Monumen sumur itu dikelola Pertamina. Pada 2010, Dinas Pemuda, Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) Balikpapan bersama Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Samarinda, melakukan registrasi dan inventarisasi. Masuk dalam catatan bernomor 20/SMR/BPN/2010. Sekilas sejarah. Monumen sumur minyak Matilda merupakan penanda pengeboran pertama di Balikpapan.

Peristiwa pengeboran minyak ini sangat ikonis. Hingga tanggal pengeboran ditetapkan sebagai hari jadi kota Balikpapan; 10 Februari 1897. Monumen ini juga membuktikan. Sejarah Kota Minyak terhampar jauh, sebelum republik ini berdiri. Sejarah panjang inilah salah satu daya tariknya. Tentu lebih bersejarah dari zebra cross di Abbey Road. Sebuah jalur di St John's Wood, London. Jalan yang menjadi “tanah sucinya” penggemar The Beatles -- setelah Liverpool tempat band dibentuk.

"Meski" hanya zebra cross, pemerintah di sana menyadari betapa bernilainya kawasan itu. Ribuan orang datang tiap hari. Dari banyak negara. Hanya untuk melihat zebra cross yang dijepret fotografer Ian McMillan. Ketika mengambil foto anggota The Beatles melangkah berurutan menyeberangi Abbey Road. John Lennon paling depan, dibuntuti Ringo Starr, Paul McCartney, dan paling belakang George Harrison. Turis yang ke sana pun paling lama satu jam. Yang penting bagi mereka, datang ke kawasan itu. Jeprat-jepret layaknya anggota The Beatles saat itu. Cuma itu. Puas.

Yang perlu diikuti adalah kepedulian pemerintah di London. Jalur ini adalah persimpangan pertama yang oleh Lembaga Warisan Inggris diakui sebagai tempat penting bagi sejarah dan budaya di negerinya Ratu Elizabeth itu. John Penrose, menteri Pariwisata dan Warisan Budaya Inggris ketika pemugaran Abbey Road mengatakan, “Zebra cross London bukan kastil atau katedral, tetapi berkat pemotretan sepuluh menit pada pagi 1 Agustus 1969, tempat tersebut menjadi bagian dari warisan budaya kita”. Perhatian dari pemerintah yang beginilah yang akhirnya membuat zebra cross semakin mendunia. Sampai sekarang. Zebra cross yang bisa menjadi sumber pendapatan negara.

 

MEMOLES MATHILDA

Kepala Disporapar Balikpapan Oemy Facessly mengaku sudah memperjuangkan Mathilda sejak lama. Bukan satu dua tahun ini. Bahkan sejak lima tahun lalu. Tapi rencananya mentok. Menunggu persetujuan Pertamina Pusat. Bahkan dia menyebut sudah lima kali bersurat. Tak cuma Mathilda. Sejak Wali Kota Balikpapan Imdaad Hamid, pemda sudah pula mengusulkan pembangunan museum minyak. Sebagai identitas kota. Yang menjadi destinasi lain untuk wisatawan di Balikpapan. Dia sudah punya konsep. Khusus Mathilda, dicorat-coretnya rencananya membangun kawasan itu di atas kertas folio.

Di lokasi monumen saat ini, rencananya dibuat lebih terbuka. Tentu tetap memerhatikan keamanan dan keselamatan di kawasan kilang. Usulannya dibangun akses jalan. Dari bibir Jalan Minyak menuju monumen. Jalan yang jembar. Biar bisa dilintasi kendaraan besar. Macam bus. Dengan tempat parkir yang juga luas. Bisa menampung minimal lima bus.

Titik destinasi dipugar. Bisa dengan membuat kolam air mancur. Dengan monumen berupa miniatur pengeboran, atau pipa-pipa yang menunjukkan identitas "selicin minyak". Dilengkapi tempat duduk yang cukup. Dan spot foto-foto yang refresentatif. Di sekitar lokasi disiapkan baju-baju para pekerja minyak. Bisa baju safety. Lengkap dengan helm. Sepatu. Dan lainnya. Atau pernak-pernik khas Pertamina lainnya. Yang bisa dipinjam pengunjung untuk foto-foto.

Bisa juga dilengkapi dengan prasasti atau sejarah perjalanan Pertamina di Balikpapan. Ya mulai dari pengeboran Mathilda itu. Inilah kawasan wisata kreasi bernilai sejarah yang berpotensi menarik wisatawan.

Di Jepang ada monumen anjing. Yang tiap hari dikunjungi ribuan turis lokal hingga mancanegara. Monumen itu mengenang anjing Hachiko. Anjing setia bernama Hachi yang legendaris dari Negeri Matahari Terbit. Milik dosen Ueno Eizaburo. Sang dosen tinggal di Shibuya dan pergi bekerja melalui Shibuya Station. Dia meninggal setelah satu tahun memelihara Hachi. Hachi tidak bisa melupakan majikannya yang telah meninggal dunia dan selalu menunggunya pulang di depan Shibuya Station.

Hachi menunggunya selama 7 tahun hingga dimuat di koran dan menjadi terkenal di Shibuya. Patung "Hachiko si anjing setia" didirikan pada tahun 1934 oleh penduduk yang kagum oleh kisah Hachi. Hachi meninggal 1 tahun setelah patung ini didirikan dan patung ini pun dikelilingi oleh bunga yang sangat banyak. Wisatawan yang ingin berfoto di depan patung harus mengantre. Tak ada yang rebutan. Ramai. Monumen ini juga bersisian dengan zebra cross "legendaris" di Shibuya. Sebuah penyeberangan yang padat saat jam berangkat dan pulang kantor dilintasi ribuan orang.

MOMEN PAS

Sekarang sebenarnya momen yang tepat. Membangun kawasan Mathilda itu. Sesuai rencana yang disodorkan kepala Disporapar itu. Atau dengan konsep lain. Yang pasti sekarang waktu yang pas. Karena bisa dikerjakan sekaligus dengan proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) Kilang Balikpapan yang tengah digarap. Lihat saja geliat proyek RDMP yang rangkaiannya sudah dimulai sejak beberapa tahun terakhir. Kemegahannya sudah terlihat dengan tahap awal membangun apartemen yang sudah berdiri di barat Balikpapan. Sekarang, jika melintas dari simpang lima Muara Rapak menuju simpang tiga Karang Anyar, di kiri dan kanan terasa geliat pembangunan kawasan kilang. 

Sejumlah lahan di bibir jalan ditutup seng dengan gambar proyek. Masuk ke Jalan Minyak dari arah Karang Anyar pun begitu. Banyak tanda-tanda peringatan berkaitan proyek. Mengapa tak sekalian? Pemugaran Monumen Mathilda? Anggarannya "receh" saja itu. Bahkan bisa kolaborasi pendanaan dari pemda dan Pertamina. Masa kalah monumen bersejarah dengan zebra cross. 

 

(*) Pemimpin Redaksi Kaltim Post

 

 


BACA JUGA

Jumat, 19 Oktober 2012 07:14

Sambaliung-Gunung Tabur Bakal Terhubung

<div> <div> <strong>TANJUNG REDEB</strong> - Selain Pembangunan Jembatan Kelay…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.
*