MANAGED BY:
SENIN
26 AGUSTUS
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

UTAMA

Jumat, 10 Mei 2019 11:19
Memelihara Gelisah
Bambang Iswanto

PROKAL.CO, Oleh : Bambang Iswanto

 

 

BARCELONA berhasil membuat Liverpool puasa gol pada leg pertama Semifinal Liga Champions 2019. Bahkan mereka cukup kenyang dengan tiga gol yang dilesakkan oleh Lionel Messi dan Luis Suarez.

Sepekan setelahnya, justru Liverpool berhasil membuat Barcelona puasa gol di leg kedua.  Ketika kedudukan 3-0 untuk Liverpool, pemain dan seluruh pendukung Barcelona sudah mulai gelisah dan cemas. Bagaimana tidak, mereka sudah percaya diri bertanding  dengan bekal surplus 3 gol pada leg sebelumnya.

Tinggal menahan imbang, atau kalaupun kalah dengan selisih dua gol, masih menjadikan mereka finalis Liga Champions. Tapi takdir Tuhan berkehendak lain dari keinginan pemain dan pendukung Barcelona. Satu gol dari Origi pada menit 79, menggenapi gol Liverpool menjadi empat yang tak berubah hingga akhir pertandingan, benar-benar mengubah rasa gelisah dan cemas pendukung Barcelona menjadi kesedihan.

Gambaran kegelisahan dan kecemasan pendukung Barcelona salah satu contoh kegelisahan yang bisa dirasakan oleh siapa pun. Banyak contoh lain yang menggambarkan kegelisahan dan kecemasan seseorang terkait dengan harapan dan keinginan, atau kondisi sulit yang dihadapinya.

Ada yang gelisah karena jabatan, masa kontrak rumah yang sudah hampir habis, dan kendaraan yang sudah mulai mogok. Anak remaja gelisah dengan teman-temannya, ibu-ibu gelisah dengan urusan uang belanja. Bapak-bapak gelisah kesejahteraan rumah tangganya, dan seterusnya.

Perasaan gelisah dan cemas tersebut merupakan hal yang wajar dan sangat manusiawi. Gelisah dan cemas akan menghampiri pada kondisi terancamnya hal-hal yang diharapkan terwujud atau tidak terwujud sama sekali.

Namun yang perlu diingat, rasa cemas dan gelisah ini tidak boleh dipelihara serta membuat larut dalam kesedihan yang merugikan. Kesedihan berkelanjutan tidak akan menyelesaikan masalah yang dihadapi. Justru membuat masalah semakin besar dan membuang-buang waktu berharga.

Dalam kacamata agama, sikap sabar dan syukur adalah senjata ampuh untuk membunuh perasaan gelisah dan cemas terkait masalah-masalah duniawi bagi orang yang beriman, sebagaimana yang diungkapkan Rasulullah dalam sabdanya, “Sungguh menakjubkan perkara orang mukmin. Seluruh urusan adalah baik baginya. Dan hal ini tidak dimiliki, kecuali oleh seorang mukmin. Bila ia diberi kelapangan, ia bersyukur dan itu lebih baik baginya. Bila ia ditempa musibah, ia bersabar dan itu lebih baik baginya”. (Hadis riwayat Muslim).

WAJIB GELISAH

Untuk urusan duniawi, manusia dilarang untuk memelihara gelisah dan cemas. Bahkan harus diikhtiarkan untuk segera mengusir gelisah dan cemas yang menimpa dengan sikap sabar. Berbeda dengan gelisah dan cemas untuk urusan dunia, untuk urusan akhirat, manusia justru dituntut senantiasa memelihara gelisah dan cemas dalam hidup.

Pertama, manusia harus gelisah tentang ibadah yang telah dilaksanakannya. Apakah diterima oleh Allah atau jangan-jangan ditolak. Ibadah merupakan tugas pokok manusia dalam hidup sebagaimana dinukil dari Alquran, “Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia, kecuali agar mereka beribadah kepadaku.” (QS Adz-Dzariyat: 56).

Maka wajar jika seseorang harus selalu harap-harap cemas, apakah bisa melakoni misi utamanya di dunia ini dengan baik atau tidak. Jika misi utama dalam hidupnya gagal maka akan celaka hidupnya di akhirat kelak. Karena pengabdian yang dilakukannya akan dikalkulasi sebagai alat tukar mendapat rida dari Allah sebagai kunci masuk ke dalam surga.

Kedua, sejatinya manusia harus gelisah dengan dosa dan kemaksiatan yang telah dilakukannya. Apakah dosa-dosa tersebut diampuni Allah atau tidak. Semua manusia pasti sadar, setiap hari pasti pernah melakukan kesalahan dan dosa serta terus menerus melakukannya. Dosa itu terus menumpuk, baik yang kecil maupun besar.

Bisa dibayangkan jika tumpukan dosa itu harus dipertanggungjawabkan di akhirat dan menjadi penentu memasuki neraka atau surga, ternyata tidak diampuni. Tidak boleh ada perasaan dosa-dosa pasti dihapuskan oleh Allah, manusia harus berusaha beristigfar memohon ampun dan maaf serta bertaubat atas segala kesalahan dan dosa yang telah diperbuat.

Ramadan merupakan momentum yang tepat untuk usaha melebur dosa, karena Allah menjadikan bulan puasa sebagai penuh ampunan. Allah sedang bermurah hati mengampuni dosa bagi yang mau bertaubat. Jangan menunda-nunda bertaubat dan beristigfar memohon ampunan dosa, karena tiada yang tahu selain Allah kapan ajal seseorang akan dijemput. Bagi yang beristighfar dan bertaubat saja belum tentu akan diampuni, apalagi yang tidak beristigfar dan bertaubah.

Ketiga, manusia harusnya gelisah tentang tempat kembalinya pada akhirat kelak. Apakah dimasukkan ke surga atau dilempar ke neraka jahanam. Hanya ada dua pilihan, neraka dan surga.

Neraka tempat penyiksaan yang paling mengerikan, sementara surga adalah tempat segala kenikmatan tertinggi. Manusia diajarkan untuk senantiasa beribadah secara maksimal, bertaubat atas segala dosa, dan berdoa agar terhindar dari api neraka di hari kiamat nanti.

Keempat, orang yang beriman harus gelisah tentang masa depannya terkait dengan hidayah yang sudah diperolehnya. Semua orang bisa mengetahui tentang kondisi keimanannya pada masa lalu dan sekarang.

Tetapi ia tidak tahu apakah pada masa yang akan datang hidayah iman tetap melekat atau justru lepas meninggalkannya. Untuk itulah seorang mukmin dituntut untuk selalu berdoa ketika salat, “ihdinash shirathal mustaqim (tunjukilah kami jalan yang lurus).” Agar hati kita tetap dalam hidayah dan tidak terpalingkan dari cahaya keimanan, sebagai anugerah terbesar yang diperoleh manusia dari Allah.

Jika seorang mukmin telah memiliki kegelisahan dan kecemasan terhadap urusan akhirat di atas, insyaallah secara otomatis ia tidak akan gelisah dan cemas dengan urusan-urusan duniawi. Urusan sepak bola, jabatan, harta, pasangan hidup, dan apapun tentang dunia tidak akan membuat membuatnya sedih.

Kegelisahan akhirat mengobati kegelisahan dan kecemasan urusan duniawi. Dengan beribadah secara maksimal, istigfar, taubat nasuha, merindukan surga, serta ikhtiar maksimal dan doa ditetapkan iman dan hidayah akan membuat pengamalnya terhindar dari kesedihan dan akan meraih kebahagiaan hakiki. Semoga kita menjadi bagian dari mukmin-mukmin yang gelisah terhadap urusan akhirat. Amin. (rom)

 

(*) Dosen Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Samarinda


BACA JUGA

Senin, 26 Agustus 2019 15:14
Kaltim Dipilih Sebagai Ibukota Negara

2020 Infrastruktur Mulai Dibangun, 2024 Sudah Boyongan ke Kaltim

JAKARTA- Presiden Joko Widodo sudah menetapkan bahwa lokasi ibukota Negara…

Senin, 26 Agustus 2019 14:50
BREAKING NEWS

SUDAH PASTI..!! Kaltim Jadi Ibukota Negara, Posisinya Sebagian PPU dan Kukar

Akhirnya Kalimantan Timur (Kaltim) dipilih Presiden Joko Widodo sebagai ibukota…

Senin, 26 Agustus 2019 14:31

Ibukota Pindah, ASN Ibukota Banyak Tak Setuju, Pilih Pensiun Dini

Rencana pemindahan ibu kota negara dari Jakarta ke Kalimantan membuat…

Senin, 26 Agustus 2019 13:06

Hadi : Bapak Gubernur Dipanggil Presiden RI ke Denpasar untuk Keputusan Penting

PROKAL.CO, SAMARINDA - Wakil Gubernur Kaltim Hadi Mulyadi mengatakan saat…

Senin, 26 Agustus 2019 11:13

Lewat Akun YouTube, Jokowi Akan Umumkan Pemindahan Ibu Kota

Presiden Joko Widodo (Jokowi) akan mengumumkan lokasi persis ibu kota…

Senin, 26 Agustus 2019 09:56

Ibu Kota Dijadwalkan Diumumkan Hari Ini, Hanya Kaltim yang Diundang

BALIKPAPAN–Teka-teki lokasi ibu kota negara (IKN) di Pulau Kalimantan diprediksi…

Senin, 26 Agustus 2019 00:37

Saran Minta Bantuan China Selamatkan BPJS Kesehatan Dikritik Keras, Ini Penjelasan Luhut

Saran Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman, Luhut Binsar Panjaitan mendadak menuai…

Minggu, 25 Agustus 2019 12:19

IKN Jangan Jadi Proyek Mangkrak, Pemerintah Tolak Usul Referendum

JAKARTA- Menteri Perencanaan Pembangunan/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas)…

Minggu, 25 Agustus 2019 12:05

NAH KAN..!! Ternyata 90 Persen Lebih, ASN Menolak Pindah ke Ibu Kota Negara

Rencana pemerintah memindahkan ibu kota negara dari Jakarta ke Pulau…

Minggu, 25 Agustus 2019 11:49

Kajian Kemendagri, Ibu Kota Baru Sebaiknya Daerah Administratif

JAKARTA– Berdasar kajian Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), ibu kota negara…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.
*