MANAGED BY:
SABTU
18 JANUARI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | LIFESTYLE | KALTARA

FEATURE

Senin, 06 Mei 2019 13:16
Ketika Dua Bule Aktivis Lingkungan Prihatin dengan Sampah di Indonesia
Ajak Mencintai Bumi, Ingatkan Dampak Negatif Plastik
PEDULI: Sandra (baju Biru) dan Adriana (celana kuning) sedang berdikusi dengan peserta workshop sampah di Omah Guyub, Kasongan, Bantul kemarin (5/5). Iwan nurwanto/radar jogja

PROKAL.CO, Mereka bukan asal Indonesia. Yang satu, Adriana María Olarte dari Kolombia. Satunya lagi, Sandra Bonk asal Jerman. Keduanya aktivis peduli lingkungan. Mereka hadir di Bantul khusus untuk ‘memberi pencerahan’ pentingnya mengelola sampah.

 

IWAN NURWANTO, BANTUL

 

SUASANA Omah Guyub di Kasongan, Bantul kemarin (5/5) terasa beda. Ada beberapa bule tampak di sana. Kehadiran mereka untuk mengisi workshop. Tentang tata cara mengelola sampah. Mulai mengolah sampah menjadi kompos hingga membuat briket dari botol plastik. Peserta workshop adalah para seniman dan ibu rumah tangga.

Jangan bayangkan workshop itu digelar di ruang tertutup ber-AC. Lalu pengisi acara dan pesertanya berpakaian rapi resmi. Ditambah proses tanya jawab yang serius. Suasana seperti itu sama sekali tak tergambar dalam workshop kemarin. Malah sebaliknya. Suasana terasa cair. Terkesan serius, tapi santai. Pembicaranya saja hanya mengenakan kaus. Acaranya di luar ruangan. Pembicara duduk bersila di lantai teras rumah panggung. Sedangkan pesertanya lesehan di halaman samping rumah. peserta workshop juga tampak santai. Sebagian juga hanya mengenakan kaus.

Warga Kasongan sebenarnya sudah sering mendapat pengarahan tentang mengelola sampah. Naun, kehadiran bule di acara workshop membuat sensasi lain. Terlebih mereka yang dari luar negeri justru sangat peduli dengan kondisi lingkungan Indonesia. Khususnya di Bantul. "Plastik sudah menjadi monster dan akan menjadi lebih buruk jika kita tidak menguranginya dari sekarang,” ungkap Sandra.

“Seperti kita tahu, plastik membutuhkan waktu 300 tahun untuk benar-benar terurai," tambah bule Jerman yang fasih berbahasa Indonesia itu.

Menghilangkan budaya pemakaian plastik memang tidak mudah. Bahkan sangat sulit. Satu hal yang disesalkan Sandra karena di Indonesia belum ada aturan yang cukup tegas untuk mengurangi pemakaian plastik. Dia lantas membandingkan dengan negara asalnya. Di Jerman, kata dia, penggunaan plastik sekali pakai benar-benar dilarang.

Masalah ini kian parah dengan minimnya pemahaman masyarakat terhadap dampak negatif sampah plastik. "Perusahaan plastik di Indonesia lebih mencari keuntungan tanpa mau tahu akibatnya pada anak-cucu," beber Sandra.

Membiasakan diri menggunakan kantong kain sebagai pengganti kresek bisa menjadi solusi. Untuk mengurangi sampah plastik. “Kantong kain bisa digunakan berulang kali,” kata Adirana, saat mendapat giliran bicara.

Adriana menegaskan, memelihara bumi merupakan tanggung jawab bersama. Bukan hanya jadi kewajiban para aktivis pecinta alam. Menurutnya, jika satu negara terdampak sampah, hal itu akan berdampak pada negara lainnya.

"Kami ingin membantu, karena ini bumi kita. Bukan masalah saya tidak berasal dari Indonesia. Indonesia dan seluruh bumi juga rumah saya,” ujarnya.

Adriana mengatakan, sampah plastik menjadi penyebab kerusakan alam. Itu terjadi akibat perilaku manusia yang masih tidak bisa berhenti menggunakan plastik.

"Sekarang kita lihat, banyak ikan yang mati karena orang membuang sampah plastik di laut. Hal itu membuktikan kalau sampah itu berbahaya dan meracuni makhluk hidup," katanya.

Kehadiran Sandra dan Adriana disambut antusias oleh fasilisator Omah Guyub Andy Amrulloh. Dia pun mendorong warga Bantul, khususnya, untuk mengurangi sampah plastik mulai sekarang. “Orang luar negeri saja peduli dengan lingkungan kita. Seharusnya kita harus lebih dari itu,” tegasnya.(yog)

loading...

BACA JUGA

Rabu, 15 Januari 2020 13:45
Keraton Baru ”Calon Pemersatu Dunia”, Nasibmu Kini...

Nasib Keraton Agung Sejagat, "Keraton" Disegel Pemkab, Sang Raja dan Ratu Ditangkap Polisi

Keraton Agung Sejagat boleh menyebut diri sebagai pendamai bumi, pemulih…

Selasa, 14 Januari 2020 14:39

Inovator Semen Geo Fast Sotya Astuningsih, Pakai Limbah Smelter, 5 Jam Sudah Kuat

Semen biasa butuh waktu 28 hari untuk bisa kuat optimal.…

Jumat, 27 Desember 2019 00:24
Jelajah Wisata Baru Negeri Gajah Putih (4-habis)

Warisan Tiongkok-Thailand hingga Surga Belanja Tepi Sungai

Sungai Chao Phraya adalah nadi kehidupan dan transportasi di Bangkok.…

Jumat, 27 Desember 2019 00:21
Jelajah Wisata Baru Negeri Gajah Putih (3)

Berpose di Puncak Tertinggi, Selfie dengan 75 Tokoh Sedunia

PIngin berjalan di atas kaca dari tinggi 314 meter? Menyaksikan…

Jumat, 27 Desember 2019 00:19
Jelajah Wisata Baru Negeri Gajah Putih (2)

Balet Atas Air dan Habiskan Malam bersama Waria

Informasi umum jika Thailand populer dengan waria atau lady boys…

Jumat, 27 Desember 2019 00:16
Wisata Baru Negeri Gajah Putih (1)

Taman Terluas Se-Asia Tenggara hingga Lukisan Bergerak

Pattaya dikenal sebagai kota wisata dengan hiburan malam tiada henti.…

Kamis, 26 Desember 2019 11:34

Kiprah Bripka Riko Rizki Masri dan FKPM Teman Hati

Membantu sesama tak perlu menunggu punya jabatan tinggi atau uang…

Rabu, 25 Desember 2019 13:19
Cerita di Balik Anggur Misa Lokal Gereja Katolik Indonesia

Proses Fermentasi Dilakukan di Tiga Tangki Khusus

Anggur misa tidak sama dengan wine yang ada di pasaran,…

Senin, 23 Desember 2019 11:18

Mengunjungi Desa Bali di Hainan, Tiongkok, Didi Kempot Temani Makan Kue Semprong

Daya tarik Bali memikat warga dunia, tak terkecuali Tiongkok. Di…

Rabu, 18 Desember 2019 11:46

Desa Wisata Budaya Liang Ndara di Labuan Bajo, Sediakan Penginapan Nomaden Dua Lantai

Labuan Bajo dikenal dengan wisata alamnya yang eksotis. Namun, warga…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers