MANAGED BY:
KAMIS
22 AGUSTUS
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

MANCANEGARA

Kamis, 25 April 2019 13:52
Tiongkok Jamu 37 Kepala Negara
AS Tak Hadiri Forum Jalur Sutra
PM Italia Giuseppe Conte bertemu Xi Jinping.

PROKAL.CO,  BEIJING – Presiden Tiongkok Xi Jinping bakal menyambut 37 kepala negara dan ratusan tamu penting lainnya dalam forum Belt and Road Initiative (BRI) hari ini (25/4). Negara dengan perekonomian terbesar kedua di dunia tersebut ingin menggunakan pertemuan kali kedua itu untuk menjaring lebih banyak rekanan dalam menciptakan jalur sutra abad 21. Sebuah ambisi besar yang selalu dilawan Amerika Serikat (AS).

Juru bicara Kedutaan Besar AS untuk Tiongkok pun angkat bicara sehari sebelum forum dimulai. Mereka menampik pernyataan Menlu Tiongkok Wang Yi yang menyebutkan bahwa diplomat AS dan utusan beberapa negara bagian AS bakal datang. ’’AS tak punya niatan untuk mengirimkan utusan ke forum Belt and Road,’’ ujarnya kepada Agence France-Presse.

Dia menegaskan, sampai saat ini, posisi AS belum berubah. Presiden AS Donald Trump dan pemerintahannya menganggap proyek tersebut hanyalah jebakan yang dipasang Tiongkok untuk mengambil untung dari negara lain. Karena itu, mereka terus mengimbau negara lain agar bisa ikut menolak proposal yang ditawarkan Xi.

’’Kami berharap semua negara memastikan diplomasi ekonomi mereka sesuai dengan norma dan tolok ukur internasional,’’ ungkapnya.

Pada forum jalur sutra pertama yang diselenggarakan 2017 lalu, AS masih mengirimkan penasihat Gedung Putih Matt Pottinger. Namun, sikap mereka berubah setelah AS memasuki perang dagang. Mereka berusaha memojokkan Tiongkok dari berbagai sektor.

Tiongkok pun sempat menanggung akibat dari kampanye AS. Beberapa negara yang telanjur menandatangani kerja sama BRI merasa menyesal. Mereka menghapus atau menangguhkan kontrak. Namun, beberapa sudah kembali merangkul Tiongkok. Malaysia baru-baru ini melanjutkan proyek East Coast Rail Link (ECRL) MYR 44 miliar atau sekitar Rp 149 triliun.

Belum lagi, beberapa rekanan baru yang cukup mentereng. Salah satunya, nota kesepahaman yang ditandatangani Perdana Menteri Italia Giuseppe Conte. Keputusan negara G7 itu masuk ke kelompok jalur sutra langsung membelah Eropa. ’’Pemerintah koalisi di Roma seakan ingin memberikan jari tengah kepada Uni Eropa,’’ ujar Direktur China Institute di London's School for Oriental and African Studies Stephen Tsang.

Hari ini Conte bakal membawa kontingen anti-Uni Eropa dari Eropa menuju Beijing. Mereka, antara lain, Perdana Menteri Hungaria Viktor Orban dan Perdana Menteri Austria Sebastian Kurz. Perdana Menteri Yunani Alexis Tsipras juga ikut dalam rombongan. Yunani sudah bergantung kepada Tiongkok sejak mereka dibiarkan mengatasi krisis moneter oleh Uni Eropa.

’’Negara-negara tersebut memang lebih miskin dan sering dianggap negara kelas dua,’’ ujar Philippe Legrain, peneliti European Institute di London School of Economics.

Sementara itu, negara-negara Eropa lainnya seperti Prancis, Jerman, dan Spanyol masih wait and see. Mereka hanya mengirimkan pejabat setingkat menteri ke acara tersebut. Mereka masih mempertimbangkan peringatan AS tentang risiko bekerja sama dengan raksasa ekonomi dari Timur itu.

’’Kebanyakan mereka harus mempertimbangkan faktor geopolitik sebelum menanggapi tawaran Tiongkok,’’ ungkap lembaga konsultan Eurasia Group.

Masalahnya, tentangan terhadap proyek BRI bukan hanya datang dari luar negeri. Eksporter menengah ke bawah di Tiongkok juga resah terhadap pembukaan jalur tanpa hambatan di berbagai penjuru negara. Hal tersebut jelas akan menguntungkan pesaing di negara lain.

’’Banyak pabrik dari negara industri berkembang seperti India, Vietnam, dan Kamboja yang mencoba meniru kami. Saat akses mereka terbuka, itu berarti persaingan eksporter makin ketat,’’ ungkap salah seorang eksporter komoditas batu kepada South China Morning Post yang menolak memberitahukan identitasnya.

Dalam forum tersebut, Indonesia juga mengirim delegasi. Wakil Presiden Jusuf Kalla yang memimpin perwakilan Indonesia sudah tiba di Beijing kemarin. (bil/c22/sof)


BACA JUGA

Rabu, 21 Agustus 2019 13:40

Balada Evelyn Hernandez yang Lolos dari Vonis 40 Tahun Penjara

Evelyn Hernandez bernapas lega. Dia dinyatakan bebas dan tak bersalah…

Rabu, 21 Agustus 2019 12:03

Seluruh Permintaan Boris Johnson Ditolak

LONDON – Nasib Perdana Menteri Inggris Boris Johnson hampir sama…

Rabu, 21 Agustus 2019 10:45

Pemerintah Hong Kong Coba Berdamai

Hadiah perdamaian ditawarkan kepada pengunjuk rasa; penyelidikan pelanggaran polisi selama…

Senin, 19 Agustus 2019 11:12

Pesta Pernikahan Berubah Petaka

KABUL–Seharusnya para tamu undangan dan kerabat di Kabul, Afganistan, ini…

Senin, 19 Agustus 2019 09:58

Mencari Solusi Krisis Pengungsi Rohingya

Pekan depan usaha repatriasi warga Rohingya dimulai. Pulang berarti berjudi…

Senin, 19 Agustus 2019 09:56

Rohingya, Entitas yang Dianggap Tak Pernah Ada

"Saya akan menjadi buron atau tidak eksis sama sekali." Kalimat…

Senin, 19 Agustus 2019 09:55

Denuklirisasi Kian Sulit, Jong-un Pantau Peluncuran Rudal

Niat Korea Selatan berbicara dengan tetangganya dinilai sebuah kelancangan. Korea…

Jumat, 16 Agustus 2019 10:04

Tiongkok Mulai Siagakan Tentara, Kirim Pasukan Dekati Hongkong

HONGKONG– Tiongkok berang. Mereka mengancam tak akan lagi tinggal diam…

Jumat, 16 Agustus 2019 10:02

Baku Tembak Lukai Enam Polisi

PHILADELPHIA– Warga daerah Nicetown-Tioga, Philadelphia, AS, baru saja melalui drama…

Jumat, 16 Agustus 2019 09:45

YAELLAA...Gali Kuburan Cuma untuk Dapat Seragam

”ISTIRAHAT” Martin Hikuku Alukoye terganggu. Gara-garanya soal seragam. Pria 31…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.
*