MANAGED BY:
SENIN
14 OKTOBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | LIFESTYLE | KALTARA

LIFESTYLE

Minggu, 21 April 2019 09:43
Apa Itu Bipolar Disorder..?

Gangguan Mental yang Menyerang Semua Usia

SUASANA HATI: Gangguan bipolar erat kaitannya dengan suasana hati yang mudah berubah. Penyebab munculnya pun tidak secara signifikan. Ada beberapa faktor yang memicu gangguan ini terjadi.

PROKAL.CO, KESEHATAN jiwa tak bisa dianggap sepele. Salah satunya bipolar disorder. Merupakan gangguan mental yang dipicu oleh suasana hati atau mood sehingga mampu membuat penderitanya merasa sangat gembira (manik) atau justru merasa sangat sedih (depresi).

Manik dan depresi adalah dua kutub ekstrem yang memengaruhi seseorang mengalami gangguan bipolar. Gangguan ini bisa muncul tiba-tiba, namun proses menuju hal tersebut biasanya sudah dari lama dan kadang tidak disadari. Psikiater Jaya Mualimin menyebutkan ada beberapa faktor risiko. Di antaranya, genetik, pola asuh yang tidak baik, kondisi berat bayi saat dilahirkan rendah, dan trauma pada fase kelahiran.

“Penyebab bipolar khas karena penyebab munculnya tidak begitu signifikan. Bipolar terdiri dari manik dan depresi. Kalau depresi yang murni dan tanpa disertai manik, itu depresi mayor. Tapi kalau diawali atau ada fase manik, itulah bipolar,” jelas Jaya.

Terkait gejala, tentu saja berkaitan dengan suasana hati. Misalnya ada seseorang yang pada awalnya begitu bahagia. Namun, penyebab yang membuatnya bahagia tidak ada. Seminggu kemudian, dia merasa sedih dan putus asa. Pemicunya juga tak terlalu signifikan. Pada dasarnya, pemicu yang membuat seseorang mengalami gangguan bipolar ada pada konflik batin yang tengah dirasakan. Beda hal dengan depresi. Penyebab seseorang merasa depresi lebih jelas seperti sedih akan suatu hal.

Perlu diketahui, bipolar bisa dialami oleh siapa saja, tidak ada batasan umur. Tiap usia memperlihatkan perilaku berbeda. Contohnya anak-anak, untuk depresinya, perilaku yang biasa diperlihatkan itu tidak takut dengan berbagai hal berisiko seperti kematian, berpikir ingin mengakhiri hidup, dan merasa sedih.

Untuk maniknya, banyak anak yang kerap membicarakan hal berbau seksual. Bahkan, bayi juga bisa mengalami bipolar. Ciri-cirinya bisa dilihat jika bayi sulit tidur dan sering menangis tanpa sebab atau disebut juga dengan temper tantrum.

Orangtua patut waspada dan memberi bimbingan agar gejala itu bisa hilang. Kalau tidak, gejala tersebut bisa saja terbawa sampai anak tumbuh dewasa. Meski sejak bayi berisiko bipolar, bukan berarti hal itu jadi patokan. Banyak juga orang-orang yang justru mengalami bipolar ketika beranjak remaja atau dewasa.

Jaya menyebut, jika munculnya sudah dari bayi memang agak berat. Oleh sebab itu, penanganan harus tepat. Untuk remaja hingga dewasa, biasanya karena mengalami masalah kehidupan yang tidak bisa dihadapi sendiri.

“Sebenarnya ada hal positif di balik bipolar. Bagi sebagian orang yang memiliki hipomanik cenderung mempunyai talenta baik. Hipomanik itu lebih ringan dan bahagianya tidak terlalu berlebihan. Mereka lebih energik dan punya ide-ide bagus dan biasa dialami oleh public figure. Dari luar memang terlihat berhasil dan sukses, tapi ketika mereka sedang terpuruk, pikiran bunuh diri akan muncul,” jelas pria 48 tahun itu.

Sudah sepatutnya jika seorang penderita gangguan bipolar langsung dibawa ke psikiater. Semakin cepat dibawa, semakin cepat pula pemulihannya. Jaya memberi contoh, jika penderita bipolar baru dibawa setelah enam bulan merasakan gejala-gejala tak wajar tersebut, pengobatannya akan lebih lama dan sulit.

Bahkan bisa seumur hidup. Soal pemberian obat juga berbeda. Penderita depresi mayor akan diberi obat antidepresan. Bagi penderita bipolar atau manik diberi moodstabilizer. Bicara penanganan medis, selain diberi obat untuk mencegah kekambuhan dan memperbaiki sel-sel otak yang rusak, penderita juga akan diberikan terapi dan bimbingan konseling.

“Bipolar itu sifatnya episodik, jadi sewaktu-waktu bisa kambuh kembali. Beda hal dengan yang melakukan pengobatan dari awal, kecil kemungkinan mereka mengalami hal yang sama. Kalaupun harus terjadi, jangka waktunya lama. Bisa enam tahun kemudian. Masalahnya pun akan berbeda,” pungkas Jaya. (*/ysm*/rdm2/k16)


BACA JUGA

Senin, 07 Oktober 2019 09:51

Sambal Bawang Rambut

Oleh: Novia Irma Susanti, warga Samarinda   BAHAN: - 1…

Senin, 07 Oktober 2019 09:47

Mini Tart Labu dan Es Timun Segar

NAMANYA happy pumpkin. Mini tart dengan pastry cream yang dihiasi…

Senin, 07 Oktober 2019 09:34

Hiperhidrosis, Keringat Berlebihan, Jadi Tanda Penyakit

Mengeluarkan keringat adalah hal wajar. Selain itu, mengonsumsi makanan panas…

Senin, 07 Oktober 2019 09:33

Jangan Sepelekan jika Jarang Berkeringat

JIKA sebelumnya membahas produksi keringat berlebihan atau hiperhidrosis, kali ini…

Senin, 07 Oktober 2019 09:30

Bangkit dari Kegagalan, Tumbuh Jadi Panutan

JIWA berbisnis Wahyu Hernaningsih tumbuh sejak masih remaja. Dia merasa…

Senin, 07 Oktober 2019 09:29

Bisnis Modal Nekat dan Tekad

Takut memulai bisnis karena terhalang modal? Sebenarnya, itu bukan hal…

Senin, 30 September 2019 17:14

Sudden Infant Death Syndrome, Merenggut Nyawa Tanpa Gejala

Sistem kekebalan tubuh bayi yang masih berkembang, membuat mereka rentan penyakit. Pada…

Senin, 30 September 2019 17:12

Jadi Orangtua Waspada, Malam Masih Ceria, Paginya Tak Bernapas

BALITA rentan terhadap segala kemungkinan terserang penyakit. Oleh sebab itu,…

Senin, 30 September 2019 16:50

Bijak Bermedia Sosial, Sering Update Berujung Gangguan Mental

Keberadaan media sosial (medsos) dalam genggaman membuat interaksi antara satu…

Senin, 30 September 2019 16:49

Compulsive Buying Disorder, Candu Membeli, Lampiaskan Emosi

EMOSI merupakan suatu hal wajar yang diungkapkan. Setiap manusia memiliki emosi…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.
*