MANAGED BY:
RABU
21 AGUSTUS
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

PRO BISNIS

Sabtu, 20 April 2019 13:24
WTO Vonis Tiongkok Bersalah

Soal Kuota Impor Tarif Rendah Produk Pertanian

ilustrasi

PROKAL.CO,  JENEWA – Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) menyatakan bahwa Tiongkok bersalah dalam sengketa produk pertanian dengan Amerika Serikat (AS). Wasit perdagangan internasional tersebut menilai Tiongkok gagal menaati sistem tariff-rate quota (TRQ).

TRQ merupakan sistem yang diberlakukan untuk menekan impor dari luar negeri. Selama kuota masih ada, tarif impor yang diberlakukan bisa serendah 1 persen. Namun, jika kuota melebihi batas, bea atas produk yang sama bisa naik hingga 65 persen.

”Tiongkok gagal memenuhi standar transparansi dan keadilan dalam sistem TRQ,” ujar panelis dalam Badan Penyelesaian Sengketa WTO seperti dilansir Agence France-Presse.

Saat menjadi anggota pada 2001, Tiongkok menyetujui skema TRQ untuk tanaman berbulir. Di antaranya, beras, gandum, dan jagung. Mereka memberikan kuota 2,6 juta metrik ton untuk masing-masing beras butir pendek dan beras butir panjang. Pemerintah Tiongkok juga memberikan kuota 9,6 juta metrik ton gandum dan 7,2 juta metrik ton jagung untuk masuk dengan tarif impor rendah.

Namun, AS menuduh Tiongkok melakukan tipu muslihat dalam menerapkan sistem tersebut. Pemerintah yang saat itu dipimpin Barack Obama mengajukan gugatan pada Desember 2016. Menurut perhitungan mereka, eksporter pertanian AS seharusnya bisa mengirim produk senilai USD 3,5 miliar (Rp 49 triliun) pada 2015 jika sistem benar-benar berlaku.

”Pemerintah Tiongkok terbukti menghambat kuota TRQ dan menolak akses bagi petani AS ke pasar produk pertanian di sana,” ujar Menteri Pertanian AS Senny Perdue kepada CNBC.

Menanggapi keputusan tersebut, pemerintah Tiongkok tetap menyangkal telah menyalahi aturan WTO. Namun, mereka masih belum mengeluarkan keputusan tegas terkait keputusan itu. Kedua pihak punya waktu 60 hari untuk mengajukan keberatan.

”Kami sangat menyesal mendengar keputusan ini. Kami akan mengevaluasi dengan saksama putusan panel dan mengikuti prosedur yang ada,” ujar Kementerian Perdagangan Tiongkok menurut South China Morning Post.

Sebenarnya, pemerintah Tiongkok sudah menunjukkan iktikad baik sebelum putusan WTO. Desember 2018 mereka mengumumkan akan mengizinkan impor beras dari AS. Impor tersebut bakal jadi yang pertama selama hampir dua dekade terakhir.

Karena itu, banyak yang menganggap Tiongkok tidak keberatan dengan putusan tersebut. ”Ini bukan kekalahan pertama Tiongkok di WTO. Dan mungkin bukan yang terakhir,” ujar Tu Xinquan, profesor di University of International Business and Economics Beijing.

Diam-diam Tiongkok memang terus berusaha membentengi industri pertanian mereka. Tahun lalu impor tanaman berbulir di Tiongkok hanya mencapai USD 6 miliar (Rp 84 triliun). Jika dibandingkan dengan total impor senilai USD 2 triliun (Rp 2.809 triliun), angka sektor pertanian hanya sebutir debu di padang pasir.

Namun, AS tak melepas gigitan mereka untuk lawan. Selain perang dagang, mereka terus meminta bantuan WTO untuk mendisiplinkan negara dengan kue ekonomi terbesar kedua di dunia itu.

”Kami akan terus menekan Tiongkok untuk taat kepada kewajibannya menurut WTO,” ujar Robert Lighthizer, perwakilan perdagangan AS.

Selain hambatan impor, AS sedang gencar mendorong WTO agar melepas status negara berkembang bagi Tiongkok. Menurut mereka, tidak masuk akal jika negara dengan ekonomi kedua terbesar masih mendapat subsidi dan perlakuan khusus.

Menanggapi itu, Tu sebagai pakar perdagangan mengatakan, pemerintah Tiongkok jelas tak akan rela melepas status tersebut. Namun, mereka mungkin mau berkontribusi lebih terkait perdagangan internasional. ”Tiongkok adalah negara berkembang. Tapi bukan berarti mereka tidak bisa memangkas tarif (impor, Red),” jelasnya. (bil/c10/sof)

 

 

 

Impor Produk Pertanian Tiongkok

Kuota Impor Tarif Rendah Jumlah Impor Sebenarnya

Beras 5,3 juta ton 3,1 juta ton

Jagung 7,2 juta ton 3,5 juta ton

Gandum 9,6 juta ton 3,1 juta ton

 

Sumber: South China Morning Post

loading...

BACA JUGA

Selasa, 20 Agustus 2019 13:03

Sektor Tambang Turun, Penerimaan Baru 52,69 Persen

Kantor Wilayah (Kanwil) Direktorat Jendral Pajak (DJP) Kaltimra tampaknya harus…

Selasa, 20 Agustus 2019 12:37

New Triton Jadi Andalan Masuk Tambang

BALIKPAPAN – Setelah mengajak konsumen dan jurnalis menjajal New Triton…

Selasa, 20 Agustus 2019 12:36

Minta Perusahaan Peduli Pekerja

BALIKPAPAN-  BPJS Ketenagakerjaan regional Kalimantan masih memiliki pekerjaan rumah yang…

Selasa, 20 Agustus 2019 12:35

Nelayan Pun Disertifikasi

BALIKPAPAN – Bukan cuma tenaga pengajar, nelayan pun harus disertifikasi.…

Minggu, 18 Agustus 2019 15:16

Bogasari Siap Kembangkan Pasar UKM di Kalimantan

PROKAL.CO, SAMARINDA - Potensi pasar UKM makanan berbasis tepung terigu…

Jumat, 16 Agustus 2019 10:56

B30 Jadi Harapan Baru, Bantu Perbaikan Harga CPO

Berhasilnya rangkaian road test penggunaan B30 memberikan harapan baru bagi…

Jumat, 16 Agustus 2019 10:55

Industri Pengolahan Punya Andil Terbesar

BALIKPAPAN - Industri pengolahan minyak menjadi salah satu penyumbang pertumbuhan…

Jumat, 16 Agustus 2019 10:54

Buktikan Ketangguhan New Triton

JAKARTA – Tak ingin berpuas diri. Setelah menguasai pasar pick-up…

Jumat, 16 Agustus 2019 09:52

ADUH..!! Neraca Dagang Defisit Lagi

JAKARTA– Neraca perdagangan kembali defisit. Pada Juli lalu, defisit neraca…

Kamis, 15 Agustus 2019 11:31

Presiden Hilangkan PPN Kertas Media Cetak

JAKARTA– Desakan untuk penghapusan pajak pertambahan nilai (PPN) atas pembelian…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.
*