MANAGED BY:
JUMAT
23 AGUSTUS
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

SELISIK/LAPSUS

Selasa, 05 Maret 2019 12:36
Fesyen Pria Metroseksual, Konsep Urban Etnik Jadi Tren
ilustrasi model

PROKAL.CO, GAYA fesyen pria metroseksual yang mengusung unsur etnis, peminatnya  semakin tinggi. Banyaknya pilihan mode serta jenis pakaian eksklusif, membuat penggunanya tak hanya merasakan kenyamanan, tetapi juga tampil elegan serta mewah. Konsep ini pun diyakini menjadi salah satu pilihan bagi masyarakat urban di berbagai usia.

Maghfur, owner Aemtobe, menjadi salah satu yang banyak menghasilkan pakaian urban etnik yang digandrungi kalangan pejabat, pengusaha, bahkan tak hanya di Samarinda. Tetapi juga hingga Malaysia dan Eropa.

Diawali keinginannya mendedikasikan sarung tenun Samarinda, inisiasinya banyak mendapat apresiasi. Termasuk kampanye budaya yang digalakkan Anas beberapa tahun terakhir.

Pria kelahiran Kediri 1983 tersebut memiliki produksi pakaian khusus pria berbagai jenis, namun tetap mengedepankan unsur etnik.  Konsep urban etnik ini bahkan semakin dikembangkan.  Tak hanya dengan kain tenun Samarinda, juga berbagai kain tenun khas daerah lain. Inilah yang membuat kalangan elite pria, tak lagi canggung beraksi mengenakan pakaian khas etnik.

Harganya pun bervariasi, hingga jutaan rupiah. “Untuk konsep Aemtobe yang mengusung urban etnik ini, trennya makin banyak peminat. Banyaknya pilihan warna dan jenis konsep budaya masing-masing daerah, membuat pilihan pun semakin banyak,” katanya.

Bahkan, pasar pakaian pria dengan model etnis semacam ini, lanjut Anas, makin menjalar ke pelosok negeri dengan tampilan sederhana namun terlihat elegan alias mewah.

“Kalau pemilihan warna, sekarang mulai mengarah pada warna soft agar tidak terlalu terlihat nyentrik. Sehingga lebih elegan,” imbuhnya lagi. Konsep pakaian urban etnik ini, bisa dikenakan mulai anak usia SMP hingga usia 35 tahun. Namun, lebih banyak disukai pria usia 25–35 tahun. Pengguna di atas 35 tahun, ada juga yang beralih menggunakan pakaian tersebut dengan tujuan lain. Misal, menggunakannya untuk baju koko.

“Saat di Malaysia, ada juga pria di atas 35 tahun membeli untuk pakaian koko. Tapi ada juga yang paham kalau ini adalah produk fashion. Biasanya adalah papa-papa muda,” katanya.

Faktor kenyamanan juga jadi salah satu alasan pria metroseksual berpakaian. Tak hanya ingin tampil sederhana, namun juga terlihat mewah. Salah satunya dengan menggunakan warna soft yang tidak terlalu nyentrik dan mencolok. Sehingga, pakaian yang digunakan tetap terkesan mahal serta glamor.

“Salah satunya ya dengan kain tenun ini juga sudah terlihat mahal, namun tidak norak. Gaya glamornya tetap ada,” tuturnya. (tim kp)

 


BACA JUGA

Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.
*