MANAGED BY:
KAMIS
22 AGUSTUS
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

KOLOM PEMBACA

Minggu, 03 Maret 2019 11:34
Keadilan untuk Pak Sopir
Bambang Iswanto

PROKAL.CO, Oleh: Bambang Iswanto, Dosen Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Samarinda

 

KAGUM. Kata inilah yang mewakili ungkapan perasaan saya, saat menyaksikan sebuah video viral. Dalam video tersebut tergambar kegigihan seseorang yang mempertahankan ketidakbersalahannya dalam hukum. Terjadi di Kutai Kartanegara (Kukar). Orang yang ditilang tidak mengumbar kemarahan. Ia hanya menanyakan berulang-ulang, kesalahan apa yang menyebabkannya kena tilang oleh oknum petugas.

 Kisah berawal saat pengemudi truk diperiksa kelengkapan surat-surat berkendaraannya. Merasa telah  menunjukkan kelengkapan surat berkendaraan, seperti SIM dan STNK, kepada petugas yang memberhentikannya, harusnya ia bisa melanjutkan perjalannya karena memang kelengkapan itulah yang diperiksa petugas. Bukannya mempersilakan melanjutkan perjalanan, oknum petugas yang terlihat di video, justru menanyakan dokumen lain yaitu surat jalan. Terdengar dengan jelas, dalam rekaman video. Dalam bahasa lugas dan vulgar meminta sekaligus memberi penjelasan.

 Bagaimana mungkin kendaraan yang baru saja dari kebun cabai dan menimbang hasil kebun cabai membawa surat jalan. Yang ada hanya catatan timbangan cabai yang diangkut ke dalam truknya. Petugas kukuh dengan pendiriannya bahwa si pengemudi tetap bersalah karena tidak membawa surat jalan angkutan. Meskipun si pengemudi berulang kali minta ditunjukkan kesalahannya dan minta ditunjukkan pasal mana dalam aturan yang dilanggarnya. Terlihat, oknum petugas kepolisian tidak mampu menunjukkan apa yang diminta oleh pengemudi dan tetap mengeluarkan dan menuliskan surat tilang. Pengemudi sempat mengatakan,“ Enggak apa-apa ditilang, tapi salahku apa dulu?” Dan satu kalimat yang sebenarnya saat itu harusnya cukup membuat petugas sadar.

"Kami ini cari uang susah, kami ini bawa mobil orang bukan mobil sendiri. Kalau mau menilang yang surat kelengkapannya mati-mati saja sudah, Pak," kata pengemudi.

Setelah video menjadi viral dan perhatian, oknum yang menilang pengemudi tersebut dicopot dari posisinya dan dijadikan bintara, setelah diperiksa atasannya. Menurut keterangan Kapolda Kaltim Irjen Priyo Widyanto, kesalahan petugas ini adalah mencari-cari kesalahan masyarakat. Bukannya mengayomi dan melayani masyarakat.

Rasa kagum saya berangkat dari usaha gigih dari pengemudi yang tetap mempertahankan kebenaran dengan landasan argumentasi. Dari rekaman video jelas, pengemudi adalah masyarakat bawah dengan bahasa lugas dan vulgarnya menanyakan kesalahan apa yang diperbuatnya. Tidak menerima begitu saja keputusan yang dijatuhkan. Itulah yang memang seharusnya hak yang dimiliki oleh setiap warga negara di negeri ini. Seakan-akan dia memberikan pelajaran dan pesan yang jelas kepada aparat petugas. Bekerjalah secara profesional dan sesuai aturan. Jangan perkosa aturan untuk mendapatkan kesalahan masyarakat. Apalagi masyarakat bawah yang hidupnya susah. Sejatinya masyarakat memang seperti si pengemudi ini, tidak perlu takut untuk membela diri jika memang tidak bersalah dan berani mengingatkan kesalahan orang yang mencoba melanggar hak-haknya dan mencari kesalahan orang lain.

 

KEADILAN UNTUK SI MISKIN

Kisah keberanian pengemudi di atas mengingatkan saya pada seorang pemeluk Yahudi, pemilik gubuk reot pada zaman pemerintahan Umar bin Khattab. Ia memiliki masalah dengan gubernur yang menjadi bawahan Umar bin Khattab, yaitu Gubernur Mesir yang bernama Amr bin Ash.

Gubernur ini diadukan oleh warganya yang beragama Yahudi karena memaksa membeli tanah dan bangunan reot di samping istana gubernur. Meskipun harga tanah dilipatgandakan oleh gubernurnya dan dengan alasan membangun masjid, pemilik tanah bertahan tidak menjualnya dan gubernur bertahan tetap membangun masjid.

Masyarakat bawah pemilik gubuk reot itu lantas mendatangi Umar bin Khattab selaku kepala negara untuk mengadukan kelakuan gubernurnya. Ia merasa diperlakukan semena-mena dan dirampas tanahnya, meskipun berusaha keras mempertahankannya, gubernur tetap mengeksekusi dengan mendirikan bangunan masjid untuk mengimbangi kemegahan istananya.

Perjalanan dari Mesir ke Madinah dijalani orang susah ini untuk menuntut keadilan. Bayangan bertemu dengan istana dan sosok yang memakai kelengkapan mewah sebagai seorang atasan gubernurnya yang hidup mewah, di luar dugaannya. Umar bin Khattab dijumpai sebagai sosok yang sangat sederhana dan bersahaja jauh dari kemewahan. Umar bahkan disangka bukan kepala pemerintahan tertinggi. Setelah yakin bahwa yang dihadapi adalah kepala negara, pemilik tanah mengadukan perihal kelakuan anak buahnya di Mesir. Tanpa panjang kalam, Umar bin Khattab hanya mengambil potongan tulang di dekatnya dan pedang. Pedang tersebut digunakan untuk membuat goresan garis lurus seperti huruf alif dan goresan melintang di tengah garis pada tulang, dan diserahkan kepada warga yang mengadu tersebut. “Bawa tulang ini kepada Amr bin Ash!” kata Khalifah Umar.

Warga Mesir Yahudi bingung, perjalanannya yang sangat jauh untuk menuntut keadilan hanya mendapatkan perintah membawa tulang untuk disampaikan kepada gubernurnya. Sesampai Mesir, tulang langsung ia serahkan kepada gubernur. Gubernur langsung pucat dan gemetar. Dan memerintahkan kepada aparatnya untuk segera membongkar masjid yang sudah dibangun. Hal ini makin membuat si pemilik tanah bingung dan memberanikan menanyakan, ada apa dengan tulang yang dibawa. “Tulang ini memang tulang biasa dan bahkan busuk, tanda garis lurus dan melintang yang dibuat di atasnya adalah peringatan sangat keras dari Khalifah untukku”, jawab Amr bin ‘Ash. Ya, Umar mengirimkan pesan, apapun pangkat dan jabatanmu, jika menyimpang dan tidak adil. Adil ke bawah dan adil ke atas, maka bersiaplah menjadi seperti tulang yang dibawa. Dan Umar tidak segan-segan menghukum keras atas ketidakadilan yang dilakukan oleh gubernur.

 Akhir kisah, terharu atas keadilan yang ditunjukkan Umar bin Khattab terhadap bawahannya. Pemilik gubuk reot diriwayatkan memeluk Islam dan membiarkan tanahnya tetap dibangun masjid.

Seperti itulah seharusnya hukum ditegakkan, tidak pandang bulu. Umar memberikan contoh bagaimana supremasi hukum diberlakukan secara nyata oleh pemimpin. (far)


BACA JUGA

Jumat, 16 Agustus 2019 10:27

Iduladha dan Kemerdekaan

Oleh: Bambang Iswanto Dosen IAIN Samarinda Jarak antara Iduladha dengan…

Selasa, 13 Agustus 2019 13:08

(Wajib) Kabinet Antikorupsi

Adam Setiawan, SH Mahasiswa Program Magister Ilmu Hukum Universitas Islam…

Senin, 12 Agustus 2019 13:38

TMMD Wujud Nyata Kedekatan TNI-Rakyat

Oleh : Kapendam VI/Mulawarman Kolonel Kav Dino Martino   KEGIATAN…

Jumat, 09 Agustus 2019 10:38

Haji dan Semangat Kemerdekaan

Oleh: Bambang Iswanto Dosen IAIN Samarinda Belanda, ketika menjajah Indonesia,…

Selasa, 06 Agustus 2019 10:03

Mengambil Hikmah dari Peristiwa Ikan Asin dan Garuda

Oleh: Danang Agung Wakil Ketua KAHMI Balikpapan   Ada yang…

Selasa, 06 Agustus 2019 10:02

Jasa Pendidikan terhadap PDRB Mahakam Ulu

Oleh: Didit Puji Hariyanto, SST Staf Integrasi Pengolahan dan Diseminasi…

Selasa, 06 Agustus 2019 10:01

Keutamaan Puasa Arafah

Oleh: Sri Ayu Rayhaniah Dosen Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah,…

Jumat, 02 Agustus 2019 10:52

Ketika Lahan Ibadah si Kaya “Direbut” si Miskin

Oleh: Bambang Iswanto (Dosen IAIN Samarinda) Orang kaya berkurban, sudah…

Jumat, 02 Agustus 2019 10:47

Reedukasi Pemahaman Agama

Sugeng Susilo, S.H Staf Biro Hukum Sekretariat Provinsi Kaltara  …

Jumat, 26 Juli 2019 21:27

Orangtua Beracun

Bambang Iswanto*   TANGGAL 23 Juli merupakan Hari Anak Nasional.…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.
*