MANAGED BY:
SENIN
23 SEPTEMBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

SELISIK/LAPSUS

Minggu, 03 Maret 2019 11:31
Tak Semua Poligami Indah
Banyak Kasus Poligami Berawal dari Selingkuh
ilustrasi

PROKAL.CO, Ada banyak alasan mengapa memilih mendua. Namun kenyataannya, banyak kasus poligami justru berawal dari perselingkuhan.

 

MENGABULKAN permohonan pemohon untuk melakukan poligami dengan seorang perempuan (sambil menyebutkan nama). Serta membebankan biaya perkara kepada pemohon,” ucap Rusinah, hakim Pengadilan Agama Balikpapan November lalu. Ketukan palu sebanyak tiga kali oleh Rusniah menandai babak baru rumah tangga antara Amelia (bukan nama sebenarnya) selaku termohon dengan Gilang (bukan nama sebenarnya) sebagai pemohon.

Amelia, perempuan berusia 29 tahun, harus rela dimadu oleh suaminya dengan Sefti (bukan nama sebenarnya). Sefti adalah janda yang menginjak usia 37 tahun.

Setelah melewati persidangan selama tiga kali, Gilang yang berpenghasilan Rp 10 juta per bulan akhirnya memiliki dua istri. Kepada Kaltim Post, Rusniah menuturkan, ada banyak hal yang menjadi perhatian majelis hakim ketika menangani perkara poligami. Khususnya saat pembacaan putusan.

“Tapi, hakim memeriksa perkara menitikberatkan pada izin dari istri pertama. Izin dari istri pertama sangat penting,” ungkapnya. Sebelumnya, sambung dia, majelis hakim telah meminta keterangan kepada istri pertama untuk memastikan apakah siap dipoligami.

“Kami beri nasihat. Kalau perlu, tidak poligami. Permohonannya dicabut. Namun (istri pertama) ikhlas,” katanya. Dirinya khawatir, ketika permohonan tidak dikabulkan, akan muncul masalah baru. Yakni poligami tidak sehat. Juga terjadi nikah siri hingga perselingkuhan. Karena itu, izin dari istri pertama sangat penting dan menjadi acuan majelis hakim.

Menurutnya, minimnya kasus poligami yang tercatat di pengadilan agama bukan berarti kasus poligami rendah. “Karena nikahnya di bawah tangan, tidak sah. Tanpa persetujuan istri. Ketika ketahuan istri pertama akhirnya bercerai. Itulah poligami yang menjadi penyebab perceraian,” tuturnya.

Menukil data Pengadilan Tinggi Agama Samarinda, sepanjang 2018 terdapat 7.191 kasus perceraian. Adapun kasus perceraian paling tinggi periode 2013-2018 tercatat pada 2016. Jumlahnya 8.817 perceraian. Atau rata-rata dalam sehari, ada 24 pasangan suami-istri yang memutuskan bercerai. (selengkapnya lihat grafis). Menengok Pasal 116 UU 1/1974 tentang Perkawinan, ada delapan poin alasan putusnya perkawinan atau perceraian.

Wakil Ketua Pengadilan Tinggi Agama (PTA) Samarinda, M Manshur menjelaskan, alasan paling umum, yaitu poin f. Berbunyi, antara suami dan istri terus-menerus terjadi perselisihan dan pertengkaran, dan tidak ada harapan akan hidup rukun lagi dalam rumah tangga.

Namun, dalam rekapitulasi faktor-faktor penyebab perceraian pada Pengadilan Agama (PA) di Kaltim, terdapat alasan poligami. Sebab, tidak akan hakim mengabulkan perceraian hanya alasan istri tak ingin dimadu.

“Kecuali, poligami ini terjadi dan menimbulkan perselisihan, jadi cekcok, kemudian ke PA dan hakim melihat alasan perselisihan itu cocok. Kemudian ditulis bahwa asal-muasal perceraian itu karena poligami, berujung perselisihan,” jelas Manshur.

Melihat data yang menunjukkan faktor perceraian, yaitu poligami di Samarinda menduduki peringkat teratas, Manshur tak berani berkomentar banyak. Perlu dilihat lebih jelas di PA terkait, apakah benar poligami. “Apa memang suami mengaku sudah menikah tanpa sepengetahuan istri pertama. Berarti itu poligami liar atau tidak sehat, tidak ada kekuatan hukum,” sambung Manshur, ditemui di kantornya, Jalan MT Haryono Samarinda.

Sejatinya, poligami dilegalkan dan diatur oleh hukum. Secara umum, di dunia terdapat tiga bentuk poligami, yaitu poligini (sistem perkawinan yang membolehkan seorang pria memiliki beberapa istri dalam waktu bersamaan), poliandri (sistem perkawinan yang membolehkan seorang perempuan mempunyai suami lebih dari satu dalam waktu bersamaan), dan pernikahan kelompok (group marriage), yaitu kombinasi poligini dan poliandri. Ketiga bentuk poligami tersebut ditemukan dalam sejarah, namun poligami merupakan bentuk yang paling umum terjadi.

Di Indonesia, istilah poligami dibatasi dalam arti yang sama dengan poligini. Hal itu muncul karena lembaga perkawinan di Indonesia hanya mengizinkan poligini, tidak poliandri. Hal ini sesuai ketentuan mengenai poligami di Indonesia yang diatur dalam UU 1/1974 tentang Perkawinan dan Kompilasi Hukum Islam.

“Hukum kita sudah cukup saklek dalam hal itu,” tambah Panitera Muchammad Jusuf. Beberapa syarat seperti surat keterangan penghasilan dilampirkan. Kemudian surat keterangan berlaku adil. “Bagaimana implementasi perlakuan adil itu, ya kembali ke orangnya,” kata Jusuf.

Tidak akan pengadilan agama mengeluarkan izin poligami jika syarat tidak terpenuhi. Disebutkan, salah satu syarat, yaitu persetujuan istri pertama. Namun dalam beberapa kasus, jika istri tidak mau memberikan persetujuan, PA tetap bisa memberi izin poligami kepada suami.

“Dengan syarat, melihat kondisi lagi. Misal ternyata dalam rumah tangga itu memang tidak dikaruniai anak hingga bertahun-tahun. Istri tetap tak ingin dimadu, hakim bisa mengabulkan dan memberi izin. Sebab syarat alasan yang memungkinkan suami kawin lagi itu terpenuhi, tidak adanya keturunan itu,” papar Manshur.

Hukum dan alurnya sudah jelas. Dibuktikan dengan alasan kuat mengapa ingin beristri lagi. Kembali ke persoalan cerai akibat poligami. Alasan hakim mengabulkan perceraian tidak murni hanya karena istri tak ingin suami menikah lagi. “Efeknya itu yang bisa jadi alasan. Sederhananya seperti suami dicerai karena berjudi, ternyata itu akar yang membuat istri sering marah, akhirnya bertengkar, pisah rumah, tapi dicatat faktornya karena judi,” pungkas Manshur.

Dalam struktur masyarakat muslim, praktik poligami tidak bisa dianggap sebagai sebuah kelaziman sosial. Meski praktik poligini atau poligami dilakukan Nabi Muhammad SAW, namun saat itu dilakukan secara terang-terangan, tidak sembunyi-sembunyi.

Tidak seperti sekarang, yang terjadi kebalikannya. Tanpa persetujuan istri pertama. Fakta itu menunjukkan bahwa secara hukum moral sosial, praktik poligami merupakan sesuatu yang tidak laik dipublikasikan. Sebab pada zaman nabi, poligami yang dilakukan mempunyai kontribusi kemanusiaan dan agama yang sangat jelas. Peringkat praktik poligami rendah karena terkendala tidak hanya oleh tantangan jaminan kesejahteraan materi para istri, tetapi juga hambatan persepsi sosial negatif terhadap praktik tersebut.

***

Tak dimungkiri kemajuan zaman dan perkembangan teknologi turut berdampak pada perilaku sosial manusia. Termasuk dalam tren poligami yang marak dalam beberapa tahun terakhir ini. Ternyata salah satu pemicunya karena kemudahan akses pornografi yang bisa dilihat dari ponsel, komputer, atau majalah yang dijual bebas.

Psikolog Klinis Yulia Wahyu Ningrum menyebutkan, kemudahan mengakses bentuk-bentuk pornografi dapat menjadi stimulasi untuk melakukan hubungan seksual. Kemudian tayangan di beberapa media yang walau sudah melalui proses sensor, masih banyak yang menyoroti bagian sensitif perempuan dengan berbagai gaya atau posisi.

Belum lagi pengaruh media sosial. Di mana poligami seperti mendapat dukungan dan berubah menjadi hal yang lumrah di lingkungan. “Nilai-nilai poligami bukan menjadi satu yang negatif karena dilakukan banyak orang di lingkungan sekitar. Berbeda dengan zaman dahulu, poligami tidak terlalu menjadi sorotan,” katanya.

Sementara di zaman serbagadget ini, banyak orang terpacu untuk mengekspos kehidupannya sebagai bentuk eksistensi. Termasuk memperlihatkan perilaku poligami. Biasanya para istri kedua mem-posting kebahagiaan dan menceritakan aktivitas bersama suami mereka. Tentu saja akan banyak yang tersakiti ketika rekam digital banyak terlihat oleh orang lain.

“Istri pertama akan merasa terabaikan, tidak berharga, banyak orang yang tahu bahwa dia sedang dalam keadaan tidak nyaman,” ungkapnya. Belum lagi saat suami berada di luar rumah. Hal ini yang membuat istri pertama menjadi stres, lingkungan, atau sosial yang mendukung poligami membuat perempuan merasa kurang nyaman.

Psikolog yang juga aktif sebagai pengajar ini mengatakan, ada beragam pemicu poligami. Misalnya untuk kasus poligami yang disetujui oleh istri dan keluarga karena kondisi kesehatan istri yang mengalami sakit keras. Sehingga tidak dapat memenuhi tanggung jawabnya kepada suami. Kemudian kondisi istri yang mandul, tidak setia, dan tidak berperilaku baik kepada suami.

Misalnya sibuk dengan pekerjaan dan memiliki prioritas pekerjaan dibanding keluarga atau suami. Akhirnya istri pasrah dan merelakan suami untuk poligami. “Bisa juga karena suami hiperaktif atau memiliki hasrat seksual yang tinggi, istri tidak mampu melayani pola hubungan seksual terlalu sering,” katanya.

Sementara untuk penyebab pribadi, ada yang poligami karena melihat keluarga menjanda dan memiliki tanggungan banyak anak. Sehingga dengan poligami dapat membantu kondisi kesulitan ekonomi tersebut. Namun kenyataannya di lapangan, banyak kasus poligami justru berawal dari perselingkuhan.

Tidak jujur dengan istri dan kerap menjadikan pekerjaan di luar kota sebagai alasan untuk mengunjungi istri kedua dan seterusnya. “Pekerjaan juga menjadi faktor terbanyak dari alasan poligami, misalnya suami kerja di kota lain dan istri tidak bisa mengikuti dan harus hubungan jarak jauh,” ucapnya.

Dia mengatakan, lingkungan juga memegang pengaruh. Ketika ada teman yang aman dan nyaman saat memiliki dua istri. Sementara rumah tangga dengan istri pertama aman karena tidak mengetahui suaminya mendua.

Pilihan untuk berpoligami semakin diperkuat karena tidak ada punishment atau hukuman yang mengatur soal perilaku tersebut. Poligami banyak diklaim beberapa perusahaan merupakan urusan karyawan yang tidak memberi hal negatif bagi perusahaan.

Selama menjadi psikolog, Yulia mengakui kasus tertinggi yang ditangani adalah perselingkuhan. Kemudian kasus kedua terbanyak kedua adalah poligami. Mirisnya, hampir 90 persen yang menjadi korban poligami mengalami depresi. Muncul perasaan negatif seperti merasa ditipu, tidak konsisten dengan komitmen pada awal pernikahan.

Kemudian mengganggu kondisi keuangan yang menurun, suami tidak adil dalam memberi nafkah batin maupun nafkah finansial. “Perasaan tidak dihargai dan perhatian yang kurang, muncul perasaan curiga bahwa suami bersenang dengan perempuan lain,” jelasnya.

Persepsi negatif ini memicu istri pertama menjadi kerap cemburu dan berpikir negatif. Tak hanya istri pertama yang mengalami stres, terkadang istri kedua juga mengalami momen tersebut. Contoh kasus ketika pernikahan sudah menginjak tahun ketiga, suami cenderung akan merasa lelah berada di kehidupan baru bersama istri mudanya.

“Istri baru, kondisi rumah serbabaru, anak baru dan tuntutan yang lebih banyak karena badan sudah menua dan harus menjadi bapak bagi anak-anak yang kecil,” bebernya. Sementara istri tua sudah tenang dengan anak-anak yang sudah dewasa. Ada rumah yang terasa nyaman, tidak ada suara yang bising, rapi, dan makanan tersedia. Sebab istri pertama sudah santai dan tinggal menikmati masa tua dengan santai.

Dari sudut pandang psikologi, poligami menimbulkan dampak yang begitu besar. Baik kepada istri dan anak yang menjalani rumah tangga tersebut. Misalnya untuk istri terutama muncul amarah karena merasa dibohongi, ditipu, menganggap suami telah mengkhianati kesetiaan perkawinan.

Selanjutnya, muncul perasaan bersalah atau bahkan menyalahkan dirinya sendiri atas pilihan suami untuk melakukan poligami. “Akibat ketidakmampuan dan kegagalannya dalam menjalankan tugas sebagai istri. Ini juga sering diikuti dengan perasaan tidak percaya diri dan merasa diri tidak berharga,” jelasnya.

Kemudian memicu rasa cemburu dan istri kerap merasa tidak adil. Suami kini harus membagi perasaan, harta, waktu kepada perempuan lainnya. Di mana perasaan terabaikan dan kerap memperlihatkan wajah cemberut justru bisa menjadi salah satu pemicu muncul kasus KDRT dalam rumah tangga. Tak hanya pada istri namun juga bisa terhadap anak.

“Istri merasa malu dengan lingkungan sekitar, akhirnya sering menghindari aktivitas sosial di lingkungan masyarakat,” ucapnya. Semua itu memicu rasa stres dan depresi berat bagi istri yang belum siap menerima kondisi yang ada. Sementara dampak psikologis bagi anak yang melewati rumah tangga poligami juga besar. Anak merasa kesepian karena ayah yang sibuk dan jarang di rumah.

Sama seperti ibu, anak merasa ditipu karena ternyata ayah mencintai anak yang lain. Hasilnya anak akan bersikap tidak baik dan dapat mengarah ke tindakan kriminal. "Ketika mengetahui bahwa ibu mereka disakiti, sementara mereka tidak bisa berbuat apa dan harus menerima kondisi ini," katanya.

Bahkan dampaknya, anak bisa memiliki gangguan orientasi seksual, misalnya lesbi dan gay. Sebab dia yang melihat figur ayah yang kurang baik. Contoh kasus lesbian yang dia tangani, anak memiliki perilaku menyimpang karena kasihan dengan ibu. Namun, juga benci karena dia menganggap ibu sosok yang lemah. Hanya menerima perlakuan ayah yang kurang adil.

“Ayah juga kerap berkata kasar bahwa perempuan itu tidak berguna dan merepotkan. Sehingga ia tumbuh menjadi perempuan tomboi yang ingin membuktikan bahwa dirinya kuat,” ungkapnya. Tentu anak yang merasa kurang kasih sayang dan perhatian menyebabkan kenakalan anak.

Apalagi anak merasa galau, tidak memiliki pegangan hidup dari kedua orangtuanya. Mereka merasa tidak ada sandaran hidup. Dampak psikologisnya memicu kerenggangan hubungan yang terjalin antara anak dan orangtua, terutama pada ayah. “Ada kasus yang saya tangani, anak menjadi waria karena kelekatan dengan sosok ibu dan tiga kakaknya perempuan. Figur ayah tidak ia dapatkan karena tidak ada saudara lain,” bebernya.

Selain itu, akibat poligami, anak mulai tidak percaya dengan keluarganya. Baik kepada orangtua dan saudara-saudaranya. Bahkan tak jarang akan menyebabkan terjadi kekerasan pada anak. Di mana dampaknya akan terus berlanjut hingga menginjak usia dewasa. Anak merasa malu dan enggan untuk bersosialisasi dengan lingkungan sekitarnya, hal ini memicu munculnya gangguan kepribadian antisosial.

“Anak mengalami penurunan prestasi pada nilai-nilai akademik, tidak berkeinginan sekolah entah karena rasa malu ataupun rasa stres dan depresi yang dihadapinya,” tuturnya.

Hampir sebagian anak yang memiliki ayah berpoligami akan melakukan hal yang sama di pernikahannya kelak (laki-laki) atau melakukan hubungan yang tidak setia dengan pasangan. Yulia menyarankan, ada baiknya jika ingin poligami diperhitungkan keuangan dan kesanggupan untuk berbuat adil. Menurutnya, semua perempuan memiliki tuntutan yang sama ketika sudah berada dalam satu pernikahan dan memiliki anak.

Selain itu, berada di fase yang sama ketika di kehidupan dahulu dengan istri pertama membuat laki-laki lelah. Misalnya harus menggendong bayi kembali, harus mulai dari nol membesarkan anak. “Poligami jika istri masih baik secara fisik dan mental, bukan merupakan solusi yang bijak,” tutupnya. (**)

TIM PELIPUT:

DINA ANGELINA

MUHAMMAD RIZKI

RADEN RORO MIRA

Editor : Ismet Rifani

 

)


BACA JUGA

Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.
*