MANAGED BY:
JUMAT
18 OKTOBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | LIFESTYLE | KALTARA

LIFESTYLE

Minggu, 10 Februari 2019 13:04
Sukses Berbisnis sejak 1985
PERJUANGAN: Pernah mengubur mimpi menjadi insinyur, Widiastuti tidak pernah menyesalinya. Kini dia sukses membangun dan mempertahankan bisnis kue sejak 1985.

PROKAL.CO, Membangun usaha memang tidak mudah. Namun yang paling sulit adalah mempertahankan usaha. Itulah yang dilakoni Widiastuti. Melirik bisnis kuliner, mendirikan toko kue sejak 1985. Dimulai dari dapur sederhana, kini memiliki toko di pinggir jalan raya. Usaha itu kini dia turunkan ke anak bungsunya.

TERJUN di dunia usaha tidak pernah terlintas di benak Widiastuti sebelumnya. Perempuan yang akrab disapa Widi itu malah bercita-cita menjadi seorang teknik mesin karena hobi bongkar pasang mainan sejak kecil.

“Kalau ditanya cita-cita sejak kecil itu apa saya enggak ingat karena suka berubah-ubah, namanya juga anak kecil,” bebernya.

Tidak ada seorang pun mampu mengetahui yang akan terjadi dalam hidup mereka. Kita memang bisa berharap dan berencana, tapi kadang hidup bergulir ke arah yang tak disangka. Ketika hal yang terjadi tak sesuai ekspektasi, beberapa dari kita merasa kecewa. Bahkan tidak jarang ada yang menyalahkan diri sendiri.

Namun, tidak bagi Widi. Perempuan yang memiliki cita-cita meraih gelar insinyur saat SMP itu harus mengubur mimpi ketika melanjutkan sekolah di SMK Farmasi. Baginya, dia tidak memusingkan hal-hal yang tidak bisa dicapai dan menerima yang telah ditakdirkan.

Sejak memasuki Jurusan Farmasi, Widi belum kepikiran ingin menjadi apa. Bahkan dia mengaku masih ragu jika harus melanjutkan ilmu farmasinya pada jenjang pendidikan lebih tinggi. Usai mengantongi ijazah SMK dan menikah, keraguannya menjadi apoteker semakin terasa.

Rasa itu muncul ketika mengetahui jadwal pekerjaan apoteker yang padat dan terikat. Widi tidak ingin meninggalkan keluarganya, terlebih jika dia memiliki anak. Perempuan kelahiran 1954 itu mengaku ingin mengontrol anak-anak.

“Meski pada saat itu saya belum memiliki anak, saya tetap ingin memiliki pekerjaan yang tidak membuat jauh dengan anak-anak. Akhirnya, saya berpikir kembali dan tak lama muncul niatan untuk melanjutkan hobi yang pernah saya lakukan ketika SD,” ungkap perempuan 65 tahun itu.

Bukan mengutak-atik mainan, melainkan memasak kue kala bersama sang ibu dan nenek. Kemampuannya mengolah aneka kue merupakan turunan dari sang nenek. “Nenek saya hebat banget buat kue basah. Enggak kalah sama nenek, ibu saya juga jago memasak kue kering,” jelasnya.

Sejak memakai seragam putih merah, Widi gemar membantu sang ibunda. Merasa ada bakat, dia pun didaftarkan kelas memasak kue. Melalui ingatan ketika kursus memasak saat SD dan ajaran dari sang ibu membuat Widi semakin yakin menekuni usaha kue.

“Awalnya itu enggak langsung menerima pesanan. Sebab, lebih tertarik mengadakan kursus membuat kue ketimbang menerima pesanan. Walhasil, ketika usia 26, saya memutuskan keliling Pulau Jawa demi mencari kursus mengolah kue. Untuk menyerap ilmu lebih banyak lagi sebelum membuka kelas memasak sendiri,” ungkapnya.

Perempuan beranak tiga itu mengatakan pada masa mudanya belum ada jurusan tata boga seperti sekarang. Hal itu memaksa dia mandiri mencari ilmu sendiri. Selalu haus akan ilmu, membuat Widi semakin semangat mendalami teori dan praktik menghidangkan kue. Hingga akhirnya, dia berhasil mengantongi sertifikat ujian negara memasak kue pada 1989 di Surabaya.

“Mungkin sekarang sudah asing dengan ujian negara. Jadi dulu dalam proses ujian negara itu kita diperintahkan untuk mengolah kue dengan resep sendiri. Kuenya bermacam ragam, dan jenis kue yang akan kita olah itu akan ditentukan, bukan milih sendiri. Setelah berhasil dan sukses, baru kita bisa memboyong sertifikat sebagai bukti lulus dari ujian negara,” jelasnya bangga.

Setelah merasa cukup dengan ilmu yang telah dia miliki, Widi membuka kursus memasak yang diikuti lima peserta pada 1985 di rumahnya yang masih berada di Jalan Kartini. Meski dilaksanakan sederhana di dapur sendiri, di situlah awal mula perjalanannya yang kini sukses meraup keuntungan hingga ratusan juta rupiah dalam sebulan. (*/nul*/rdm2/k16)

loading...

BACA JUGA

Senin, 14 Oktober 2019 13:36

Konsumsi Obat Tak Tepat Justru Meracuni

GINJAL memiliki kemampuan khusus. Tanpa disadari, bisa saja ginjal sudah…

Senin, 14 Oktober 2019 13:34

Tas dan Sepatu, Semakin Mahal, Semakin Sulit Merawat

Ada berapa pasang sepatu di rumah? Atau khusus kaum hawa,…

Senin, 14 Oktober 2019 13:32

Kenali Kategori Bahan Sepatu, Dari Hewan, Tumbuhan, Minyak Bumi

PERAWATAN adalah hal yang wajib dilakukan demi menjaga barang agar…

Senin, 14 Oktober 2019 13:28

Olahan Nasi Nusantara, Nasi Ulam dan Nasi Bebek

Pernahkah mendengar kalimat, belum makan jika belum makan nasi? Nah,…

Senin, 14 Oktober 2019 13:22

Coffecado dan Lumpia Kaya Isi

USAI mencicipi makanan berat, tak lengkap rasanya apabila tak menikmati…

Senin, 14 Oktober 2019 13:21

Cumi Saus Padang Ambyar

Oleh: Evi Syardayanti, warga Samarinda. Bahan: 500 gram cumi (cuci…

Senin, 07 Oktober 2019 09:53

Sajian Tempura dan Ayam Buah Naga

Inovasi makanan harus terus diperbarui demi menemukan rasa terbaru nan…

Senin, 07 Oktober 2019 09:51

Sambal Bawang Rambut

Oleh: Novia Irma Susanti, warga Samarinda   BAHAN: - 1…

Senin, 07 Oktober 2019 09:47

Mini Tart Labu dan Es Timun Segar

NAMANYA happy pumpkin. Mini tart dengan pastry cream yang dihiasi…

Senin, 07 Oktober 2019 09:34

Hiperhidrosis, Keringat Berlebihan, Jadi Tanda Penyakit

Mengeluarkan keringat adalah hal wajar. Selain itu, mengonsumsi makanan panas…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.
*