MANAGED BY:
SENIN
19 AGUSTUS
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

UTAMA

Sabtu, 09 Februari 2019 12:44
Kapal Meledak, Terbongkarlah Dugaan Penyalahgunaan Penjualan Elpiji 3 Kg

Pertamina Cabut Izin Pangkalan

TERUS DISELIDIKI: Dermaga Sungai Mahakam dikelilingi garis polisi. Warga diminta untuk tidak mendekat ke lokasi. Tampak elpiji 3 kilogram turut diamankan. Foto kiri, segel elpiji 3 kilogram berwarna hijau. Menandakan gas tersebut untuk kuota Samarinda. Namun, diduga hendak dikirim ke Berau.

PROKAL.CO, SAMARINDA–Mulai jelas asal-usul tabung elpiji 3 kilogram yang sejatinya subsidi untuk ibu kota Kaltim, namun disalahgunakan. Sayangnya, siapa dalang dari penyelewengan tabung melon itu hingga kemarin (8/2) belum jelas. Pertamina sudah memberi peringatan keras. Sanksi administrasi dikeluarkan oleh perusahaan BUMN tersebut. Salah satu pangkalan di wilayah Palaran, Samarinda, izin operasinya dicabut.

Meski dua korban tewas yang sempat menghilang sudah ditemukan, yakni Jamaludin (52) dan Arman (24), penyelidikan akibat meledaknya KM Amalia yang membuat KM Tanjung Mas karam, masih diselidiki kepolisian.

Kaltim Post kembali ke dermaga Sungai Mahakam, Samarinda, kemarin. Namun, aksesnya terbatas, lantaran pagar utama sudah tertutup rapat. Dari luar, dermaga yang dikatakan Teguh Setia Wardhana, pejabat Dinas Perhubungan (Dishub) Samarinda itu ilegal, lantaran izinnya yang belum jelas, sudah tak ada aktivitas.

Wakasat Reskrim Polresta Samarinda AKP Triyanto menyebut, tempat kejadian perkara (TKP) memiliki status quo. “Dan memang tidak boleh ada kegiatan. Kalau sekadar penjagaan itu tidak masalah,” ungkapnya saat ditemui harian ini di ruangan kerjanya kemarin.

Perwira dengan balok tiga di pundak itu menjelaskan, belum ada perkembangan khusus terkait musibah yang merenggut tiga nyawa itu. “Kami sudah minta keterangan Alam, satu dari enam kru kapal yang saat kejadian di luar TKP (tempat kejadian perkara),” ujarnya.

Selain itu, ada dua korban lain yang hingga kemarin masih ditunggu pulih. “Muchtar dan Yordan Ardan Ali bakal menjadi saksi,” sambung Triyanto. Menyinggung bangkai kapal yang masih berada di dasar sungai, di kedalaman 11 meter, polisi belum bisa memastikan apakah bisa diangkat atau tidak.

Harian ini mendapat informasi, KM Tanjung Mas siap diangkat oleh pemiliknya. “Kalau itu mau dilakukan tidak masalah,” ujar eks kapolsek Muara Jawa tersebut. Musibah yang menelan korban jiwa itu, disebut Triyanto, juga bakal melibatkan tim Laboratorium Forensik Mabes Polri Cabang Surabaya.

Sayangnya, polisi belum bisa memastikan kapan waktu kedatangan petugas labfor tersebut. “Terkendala musibah di Pacitan, Jawa Timur. Ada jembatan ambruk. Tapi kami sudah kirim surat,” tegasnya.

Pekan depan, polisi berencana meminta keterangan Pertamina, Dishub Samarinda, dan beberapa instansi terkait lainnya yang berhubungan dengan musibah kapal meledak tersebut. Ditemukannya elpiji subsidi 3 kilogram, yang hendak dibawa keluar Kota Tepian, menurut Triyanto bisa jadi modal. “Dalam arti, mencari apakah ada indikasi pidana atau tidak,” terangnya.

Terkait sanksi administrasi, polisi tentu menyerahkan ke Pertamina. “Intinya masih sama, sedang diselidiki. Ada atau tidak tersangka nantinya, musibah di salah satu dermaga itu harus dijadikan pelajaran,” tegasnya.

Sementara itu, Sales Eksekutif LPG II Samarinda Widhi Adi Tri Hidayat mengatakan, setelah kasus meledaknya KM Amalia, Pertamina ikut menelusuri. Salah satunya dugaan pengiriman elpiji 3 kilogram kuota Samarinda ke Berau. Di mana dibuktikan dengan segel gas melon yang berwarna hijau. Sedangkan elpiji bersubsidi untuk kuota Berau, segelnya berwarna merah muda.

Dikatakan, PT Semoga Bustani Jaya, segelnya tertera di elpiji bersubsidi yang ditemukan dari KM Amalia juga telah dimintai klarifikasi oleh pihaknya. “Dari agen tidak membenarkan, kemungkinan besar dari pengecer,” jelas Widhi.

Menurut dia, meski nantinya ada penjelasan elpiji diperoleh dari pengecer, pihaknya tetap memberikan sanksi. Berupa skorsing. Khusus agen tidak dapat beroperasi selama dua minggu. Sedangkan pangkalan dicabut izinnya. Pria bertubuh tegap itu menjelaskan, pangkalan yang dicabut operasionalnya berlokasi di Palaran.

Perihal penyelidikan aparat berseragam cokelat, Widhi menuturkan, belum dapat konfirmasi lanjutan. “Kalau pemeriksaan salah satu kru kapal yang selamat sudah dimintai keterangan, artinya dari mana ratusan tabung elpiji itu bisa diketahui,” tambahnya. Meski agen atau pangkalan tidak terlibat langsung, Widhi secara tegas menyebut tetap ada sanksi yang dikeluarkan Pertamina.

Pihaknya tidak membenarkan, pengiriman elpiji dari Samarinda melalui jalur sungai atau laut. “Kalau di Kaltim, rata-rata jalur darat. Yang menggunakan perahu itu hanya ke Mahakam Ulu (Mahulu),” tambahnya. Pasalnya, ada standardisasi yang harus dipenuhi dalam distribusi elpiji. “Tentunya memengaruhi harga,” sebut Widhi. Selain itu, ada unsur keselamatan yang harus diperhatikan. Mulai penyusunan hingga kendaraan yang digunakan. Semuanya harus diperiksa terlebih dahulu.

Kepala Bidang Keselamatan Dinas Perhubungan (Dishub) Samarinda Agus Sri Hartoyo mempertanyakan penjelasan dari Kasi Dermaga dan Angkutan Sungai Dishub Samarinda Teguh Setia Wardana, yang menyebut dermaga Sungai Mahakam itu ilegal. “Saya baru sebulan, proses pendataan. Kami belum ada penjelasan tentang ilegal atau tidak,” ungkapnya.

Agus tak menampik, setelah adanya sederet musibah di perairan, ada peraturan khusus yang dikeluarkan pemerintah. “Dermaga di atas 7 ton, kewenangannya di tangan Kantor Syahbandar dan Otoritas Pelabuhan (KSOP),” lanjutnya.

Dan, kewenangan Dishub Samarinda sebatas kapal-kapal kecil. Sementara KM Amalia tujuan Bidukbiduk, Berau, itu bermuatan 50 ton. Jadi, izinnya dikeluarkan KSOP Klas II Samarinda.

 Diwartakan sebelumnya, ketenangan warga pada Selasa (5/2) malam berubah mencekam. Pekikan tolong meraung-raung. Warga berhamburan keluar rumah. Ledakan yang ditimbulkan mencapai radius sekitar 3 kilometer. KM Amalia yang mengangkut elpiji meledak di sekitar dermaga Sungai Mahakam di Jalan KH Mas Mansyur, Kelurahan Loa Bakung, Kecamatan Sungai Kunjang.

Jamaludin (50), Ramadhan (20), Arman (24), Yordan Ardan Ali alias Ningsih (20), dan Muchtar (20), berada dalam kapal. Semuanya istirahat. Hanya Alam (40), salah satu kru, yang di luar kapal saat peristiwa terjadi. (*/dra/rom/k8)


BACA JUGA

Senin, 19 Agustus 2019 12:42

Manokwari Rusuh, Warga Pendatang Tak Berani Keluar Rumah

Penangkapan sejumlah mahasiwa di Surabaya berbuntut panjang. Terjadi kericuhan di…

Senin, 19 Agustus 2019 11:16

Pemindahan Ibu Kota ke Borneo Bakal Membawa Masalah Baru, Apa Saja?

JAKARTA- Rencana Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk memindahkan ibu kota…

Senin, 19 Agustus 2019 10:38

Ibu Kota Batal di Tahura, Pastinya Dimana...??

Kekhawatiran bakal rusaknya Taman Hutan Raya (Tahura) Bukit Soeharto terjawab.…

Senin, 19 Agustus 2019 10:36

Bandara Sepinggan Sudah Penuhi Syarat

RENCANA pemindahan ibu kota juga dilakukan karena adanya ketimpangan dengan…

Senin, 19 Agustus 2019 10:35

KLHK Menduga Ada yang Backing Tambang di Muang

SAMARINDA benar-benar darurat tambang ilegal. Pantas Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK)…

Senin, 19 Agustus 2019 10:33

Harga Cabai Masih Tinggi meski Iduladha Sudah Sepekan Berlalu

Jelang Iduladha, harga cabai begitu cepat merangkak naik. Namun, setelah…

Minggu, 18 Agustus 2019 00:48

Ini Cerita Perias Presiden SBY dan Jokowi

 Leader project official make up Paskibraka Nasional 2019, Tri Winarsih…

Minggu, 18 Agustus 2019 00:40

KLHK Tahan Dua Penambang Ilegal

SAMARINDA–Dugaan penambangan batu bara ilegal di Samarinda kembali terkuak Jumat…

Minggu, 18 Agustus 2019 00:36

Soal Pemindahan Ibukota Negara, Isran Minta Pusat Objektif

ELITE pusat dan daerah masih dibuat penasaran oleh Presiden Joko…

Minggu, 18 Agustus 2019 00:34
Belanja 2020, Fokus Perkuat SDM

RAPBN Rp 2.528 T untuk Pendidikan Rp 505,8 T

JAKARTA–Tantangan ekonomi tahun depan diprediksi semakin berat dan kompleks. Hal…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.
*