MANAGED BY:
SELASA
20 AGUSTUS
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

SELISIK/LAPSUS

Senin, 21 Januari 2019 08:42
Waspada Rayuan Kosmetik Ilegal
CARI UNTUNG BESAR: Tiga tersangka produsen kosmetik ilegal yang ditangkap di Balikpapan, Selasa (15/1). Foto bawah, barang bukti yang diamankan.(dok/kp)

PROKAL.CO, Kulit putih, mulus, dan bercahaya jadi impian banyak perempuan, bahkan, pria metroseksual masa kini. Demi tampil lebih menarik, risiko diabaikan. Ingin hasil instan tanpa menghiraukan bahaya yang mengancam.

DUDUK termenung di depan meja rias, Natasya tak berkata banyak. Perempuan berkulit putih itu hanya bisa memendam rasa kesal. Dua pekan mengoleskan krim pemutih wajah yang dibeli dari toko daring, hasil yang diinginkan tak tampak. Justru sebaliknya, wajahnya berubah merah. “Seperti terbakar,” katanya kepada Kaltim Post Kamis pekan lalu.

Memori lima tahun lalu memang tak pernah dilupakan dan hingga kini menjadi alarm biologis kala memilih kosmetik. “Kapok merasakan hal sama lagi.”

Tak hanya itu, kisah dia, satu lagi yang harus diperhatikan ialah jangan mudah terpengaruh iklan model kosmetik. Boleh jadi kulitnya memang cocok dengan bahan yang digunakan dan belum tentu pas dengan orang lain. “Lima tahun lalu kulit saya berubah karena kena pengaruh. Soalnya kulitnya putih banget dalam dua minggu,” ujarnya.

Dia menuturkan, memilih kosmetik memang susah-susah gampang. Merek dari luar belum tentu menjamin. Bebebapa waktu lalu, dia sempat menggunakan toner atau pembersih wajah. Mahasiswa semester akhir Universitas Mulawarman itu lupa kulitnya kategori sensitif.

“Jadi saya coba pakai selama tiga hari, rasanya pedih. Saya pikir memang efeknya, sebab lazim toner punya kandungan alkohol. Nah, hari keempat itu kulitku memerah dan timbul jerawat,” sebutya. Selama sepekan dia terus menggunakan kosmetik tersebut. Harapan kulit menjadi normal pupus, sebab efek samping penggunaan toner begitu terasa. Kulitnya memerah dan itu diperparah dengan serangan jerawat kecil di pipi dan jidat. “Lumayan malu sebab selalu ditanya. Perlu waktu tiga bulan kulit kembali normal,” akunya.

Wajar demikian. Sebab, lazimnya perempuan selalu mengharapkan efek maskimal dari kosmetik yang digunakan, seturut dengan pendapat Retno Tranggono mengenai kosmetik yang digunakan untuk menambah daya tarik dalam Kiat Apik Menjadi Sehat dan Cantik (1996 hal, 29). Sayangnya tak semua kulit bisa menerima bahan-bahan dari kosmetik tersebut. Menurut Yuswati dalam Tata Rias Kulit (1996 hal, 60-62) disebutkan kulit digolongkan menjadi tujuh jenis, yakni; kulit normal, berminyak, berminyak sensitif (sensitive oily skin), kombinasi (campuran), kering, kering sensitif, dan kulit gersang (dehydrated skin). “Tiap kulit punya karakternya masing-masing,” tambah Tasya, saapan karibnya.

Menurut dia, semakin baik bahan pembuat kosmetik dan ramah dengan wajah hasilnya akan senada dengan pengguna. Namun, sebaliknya apabila bahan yang digunakan kurang baik, cara pengolahannya juga demikian serta formulasinya tak sesuai sesuai dengan manusia dan lingkungan, maka pengguna akan merasakan reaksi alergi, gatal-gatal, panas, bahkan terjadi pengelupasan (Retno Tranggono, hal 32).

Terkadang Tasya juga diserang dilema memasarkan kosmetik tak berizin lewat media sosialnya.

Sebab, biasanya dia hanya mau endorse yang punya izin dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Meski demikian, sebagai influencer dia tak mau gegabah memberikan promosi kepada pengikutnya. “Saya selalu sebut enggak semua produk cocok dengan kamu. Kondisi kulitku kering dan sensitif, sebelum pakai ada baiknya memeriksa bahan terlebih dahulu. Jangan asal pakai,” terangnya.

Dia menambahkan, memilih ragam kosmetik memang agak sukar. Belum lagi jika produsen mengemas kosmetik dengan menarik dan kelihatan berkelas. Intinya sebelum membeli ada baiknya periksa dulu standarnya. Mulai bahan yang digunakan aman untuk kulit atau tidak, kemudian tanggal produksi, dan terakhir punya izin dari BPOM atau tidak. “Jadi memang harus sedikit hati-hati. Bagi perempuan kulit wajah itu aset yang sangat penting,” jelasnya.

Nah, menurut Dortch S dalam Women and the Cosmetics Counter (1997), konsep cantik secara tidak sadar telah dibentuk oleh media massa di dalam benak remaja melalui iklan kosmetik. Promosi kosmetik melalui iklan di televisi sering diperankan seorang model bintang iklan dengan identitas fisik, yaitu berkulit putih, berambut panjang dan lurus, tubuh tinggi dan langsing telah menjadi stereotype pemisah antara

perempuan yang cantik dan tidak cantik.

Kaltim Post meriset 80 perempuan di Kaltim dengan rentang usia 17 tahun. Sebayak 17,5 persen responden menjawab sudah menggunakan kosmetik sejak usia 17 tahun, selebihnya 18–25 tahun (selengkapnya lihat grafis, hal 2). Hal inilah yang menyebabkan perempuan lebih konsumtif terhadap kosmetik.

“Padahal, kecantikan itu punya ragam standar. Namun yang paling dari semuanya adalah sikap dan perilaku. Percuma cantik jika tak bisa membawa diri,” tambahnya.

Ditemui terpisah, Beauty Care Assistant The Body Shop Plaza Mulia, Tary menyatakan, sebelum mengetahui tepat kosmetik yang hendak dipakai, ada baiknya mengetahui jenis kulit terlebih dahulu. 

Kemudian, memetakan masalah kulit atau memilih kosmetik yang sesuai kondisi kulit. Perempuan berjilbab ini mengatakan, dengan mengetahui jenis kulit, kosmetik yang dipilih bisa pas dengan kulit. Misalnya, mereka yang kulitnya berminyak, mesti memilih varian alas bedak, bedak, maupun concealer dengan hasil matte.

"Selain itu, lipstik matte juga banyak dicari. Untuk make-up, memang lipstik yang banyak dicari," kata Tary.

Di Samarinda sendiri, customer Tary banyak yang memiliki jenis kulit berminyak. Sehingga, ketika memilih makeup, produk untuk kulit berminyak banyak direkomendasikan.

Di sisi lain, iklim panas dan penuh polusi, tak sedikit perempuan di Samarinda yang mengeluhkan masalah jerawat kulitnya. Jadi, varian skin care untuk berbahan dasar teh pun jadi yang banyak dicari. Ada banyak variannya, mulai toner, serum, krim, dan sebagainya. Semua produk yang dijual Tary pun berbahan dasar alami tanpa unsur hewani, murni vegetarian dan tanpa bahan kimia. Sehingga, bakal aman dipakai.

"Memang kalau generasi milenial yang ke sini, yang dicari varian untuk kulit berminyak dan jerawat. Sebab, udara panas, belum lagi paparan polusi asap knalpot dan sebagainya. Ini bisa membuat wajah yang berminyak mudah berjerawat," imbuhnya.

Namun, beda dengan mereka yang sudah menyapa usia 40 tahunan. Skin care yang dicari adalah varian yang mampu memudarkan flek-flek hitam, mencerahkan, dan menutrisi kulit. Maka dari itu, Tary menekankan pentingnya mendeteksi masalah kulit terlebih dahulu. Di sisi lain, dengan banyaknya review kosmetik di internet, membuat masyarakat biasanya datang dengan persiapan pengetahuan soal skin care yang dicari. "Ada juga yang diberi tahu temannya," sebut Tary.

JANGAN ASAL TERGODA

Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin (SpKK) Daulat Sinambela mengatakan, kosmetik ilegal itu sangat berbahaya. Sebab, tak mendapat izin dari BPOM sehingga kandungannya tak diketahui. Biasanya produsen akan mencampurkan berbagai macam zat, yang hasilnya memang memberikan hasil cepat sesuai keinginan pengguna. “Tanpa peduli kandungan di dalamnya membahayakan konsumen atau tidak,” katanya.

Kata dia, efek samping penggunaan dari timbal misalnya yang terkandung dalam kosmetik. Selain itu, mengganggu fungsi ginjal, pendengaran, dan sistem reproduksi. Bahkan, timbal yang melebihi kadar aman juga karsinogen (memicu kanker) berbahaya bagi janin ibu yang sedang hamil. “Adapula yang kanker kulit. Jika dibiarkan terus-menerus bisa timbulkan efek jangka panjang,” sebutnya.

Menurut dia, krim pemutih wajah yang menggunakan bahan hidroquinon, arbutin, dan asam glikolat tretinoin harus mendapat pantauan dokter. Atau baiknya lagi kosmetiknya mendapat izin dari BPOM. “Jadi enggak bisa sembarangan. Sesuatu yang instan itu enggak baik, semua butuh proses,” jelasnya.

Dia juga menegaskan kosmetik pemutih kulit yang baik tidak bisa memutihkan lebih baik dari warna kulit asli. Wajah orang cuma bisa tampak lebih terang secerah kulit bagian dalam lengan. “Kosmetik hanya bisa memutihkan seperti kulit aslinya,” tegas dia.

Jika ada kosmetik yang bisa membuat warna kulit melebihi warna asli kulit, lanjut dia, itu patut diwaspadai sebab tak dianjurkan. Salah satu efeknya, kulit jadi belang. “Intinya, boleh saja memakai krim pemutih wajah namun hasilnya tak lebih dari warna kulit asli.”

Menurut dia, orang Indonesia tidak cocok memakai kosmetik pemutih kulit sebab tipe kulitnya memang khas daerah tropis. Namun sayangnya pendapat Khoza Naidoo dan N Dlova dalam A Fairer Face, a Fairer Tomorrow? A Reviewof Skin Lighteners (2016, hal 33) menyebutkan pemutihan atau pencerahan kulit sangat membudaya dalam berbagai kelompok etnis.

Tak hanya itu, Burger dan kawan-kawan dalam Skin Whitening Cosmetics: Feedback and Challenges in the Development of Natural Skin Lighteners (2016, hal 36) menyatakan produk pemutih kulit sangat populer di negara-negara Asia (India, Cina, Jepang, dan Korea). Bahkan, dengan tingkat hidrasi kulit yang lebih tinggi secara alami, kulit Asia sangat rentan untuk mengalami gangguan hiperpigmentasi atau hipopigmentasi. Keinginan untuk meniru orang Barat juga mendorong orang Asia untuk menggunakan pencerah kulit.

Sebenarnya, tipe kulit tak bisa diubah dan dalam dunia kedokteran, sambung Daulat, ada beberapa tipe kulit. Mulai tipe 1-2 yang putih, tipe 3, tipe 4, tipe 5 yang agak gelap, kemudian tipe 6. Tipe 1 dipunyai orang Caucasian. Tipe kulit Caucasian berwarna sangat putih, biasanya diikuti dengan warna rambut cokelat keemasan. Tipe kulit ini hanya mengandung pigmen feomelanin. Warna kulit tipe ini akan selalu menjadi kemerahan jika terkena sinar matahari. “Meski terpapar matahari, warna kulit ini tidak bisa menjadi hitam atau gelap,” terangnya.

Sementara itu, tipe 2 yakni caucasian mediteranian. Tipe kulitnya memiliki warna kulit putih kemerahan. Pigmen feomelanin lebih besar dibandingkan dengan eumelanin sehingga berwarna kuning langsat. Tipe kulit ini akan menjadi sedikit gelap atau menghitam jika terpapar sinar matahari.

Tipe 3 dimiliki orang Asia Timur seperti Jepang, Korea, dan Tiongkok. Tipe kulit Caucasian & Chinese memiliki warna kulit putih kekuningan. Pada tipe kulit ini, pigmen feomelanin lebih besar dibandingkan dengan eumelanin sehingga berwarna kuning langsat. Tipe kulit ini akan menjadi kemerahan dan berubah menjadi gelap kehitaman.

Selanjutnya, tipe 4 yang dimiliki orang Melayu seperti Indonesia dan Malaysia. Tipe kulit Melayu memiliki warna cokelat sawo matang. Pigmen feomelanin lebih kecil jika dibandingkan dengan eumelanin, sehingga berwarna sawo matang. Jarang berubah menjadi kemerahan jika terpapar sinar matahari, namun akan menjadi gelap dan menghitam.

Tipe 5 dipunyai orang India. Tipe kulit India berwarna cokelat kehitaman. Pada tipe ini pigmen feomelanin lebih kecil lagi jika dibandingkan dengan eumelanin, sehingga berwarna lebih gelap. Jika terpapar sinar matahari, menjadi lebih gelap dan menghitam.

Adapun tipe 6 dipunyai orang Afrika. Tipe kulit Negroid berwarna gelap. Tipe kulit ini hanya memiliki pigmen eumelanin. Pengaruh sinar matahari memperbanyak pembentukan eumelanin sehingga menghitamkan kulit. “Nah, Indonesia itu masuk tipe 3 hingga 6. Jadi pemilihan kosmetik memang sedikit lebih kompleks,” tuturnya

Dia menyatakan, sebenarnya perawatan wajah itu cukup dengan krim pelembap untuk mencegah kerutan timbul dan tabir surya untuk menghalau jerawat dan flek hitam akibat sinar matahari. Itu sudah cukup menyehatkan, ditambah pola makan yang teratur dan kaya serat.

Namun, karakter manusia yang selalu ingin cepat terlihat lebih menarik dan cantik, sehingga kerap tergoda produk-produk kecantikan tanpa memerhatikan detail bahan-bahan. Bahkan, harga pun terkadang tak masalah. ”Sekali lagi produk kecantikan yang memberikan hasil cepat, biasanya dampaknya tidak baik. Semakin instan produk itu, semakin besar pula bahayanya. Jangan asal tergoda,” sarannya. (tim kp)

TIM LIPUTAN KALTIM POST

  • YUDA ALMERIO
  • NOFIYATUL CHALIMAH
EDITOR

  • ISMET RIFANI
loading...

BACA JUGA

Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.
*