MANAGED BY:
KAMIS
26 NOVEMBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | LIFESTYLE | KALTARA

SELISIK/LAPSUS

Senin, 14 Januari 2019 08:07
Nelayan Penjaga Kedaulatan
MASIH JADI PILIHAN: Mencari ikan di Sungai Segah masih menjadi pilihan bagi sebagian warga Kota Tanjung Redeb, Berau. (AGUS PRASETYO/BP)

PROKAL.CO,

BERBAGAI persoalan ternyata dihadapi nelayan di Kaltim. Tak hanya persoalan ekonomi dan sosial, aktivitas nelayan yang juga kerap bersinggungan dengan kegiatan di laut lainnya. Seperti aktivitas bongkar muat batu bara, minyak dan gas bumi (migas) dan sebagainya. Padahal, rutinitas yang dilakukan nelayan sehari-hari ini, diyakini mampu menjaga kedaulatan NKRI. Terutama pada garda terdepan perbatasan.

Akademisi perikanan dan kelautan asal Universitas Mulawarman (Unmul) Ismail Fahmi Almady mengatakan, keberadaan nelayan yang jumlahnya sangat besar di seluruh Indonesia ini, juga menjadi penjaga kedaulatan laut di Indonesia. Dia mencontohkan, sejumlah kegiatan terlarang yang dilakukan oleh negara tetangga, ternyata justru lebih dulu diketahui oleh para nelayan.

Seperti kasus pembangunan sejumlah infrastruktur di kawasan Ambalat, oleh pihak asing yang sempat mencuat, justru diketahui lebih dulu oleh para nelayan. Selain itu, beberapa kali pencarian bangkai pesawat yang jatuh di laut, nelayan justru memiliki peran dalam mencari lokasi pesawat hingga akhirnya ditemukan.

Dengan dasar itulah, Fahmi mengharapkan agar pengembangan kemaritiman untuk sektor perikanan dan kelautan di kawasan pesisir bisa menjadi perhatian khusus. “Sehingga peran nelayan tidak hanya menangkap ikan, tetapi juga membantu pemerintah dalam menjaga perbatasan. Bahkan, gejala-gejala alam di laut seperti peristiwa tsunami di Pandeglang, Banten, justru nelayan setempat sudah melihat hal itu,” terangnya.

Doktor yang sehari-hari menjadi dosen di Fakultas Perikanan dan Kelautan (FPIK) ini menyebutkan, selama ini nelayan pada umumnya banyak yang kurang mendapat sosialisasi terkait regulasi pengelolaan laut oleh pemerintah. Sehingga jika terjadi sesuatu, maka nelayan kerap menjadi pihak yang disalahkan.

Belum lagi persoalan nelayan asal Kaltim, yang alat tangkapnya masih terbatas. Sehingga nelayan pun kini melaut hanya pada kisaran satu hingga tiga mil dari garis pantai. Padahal semakin luas wilayah tangkapan ikan, maka jumlah potensi perikanan semakin besar.

Halaman:

BACA JUGA

Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers