MANAGED BY:
KAMIS
22 AGUSTUS
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

KALTIM

Senin, 03 Desember 2018 10:24
Menjajal Penerbangan Perintis yang Sudah Jarang Dilakukan
Bagai Naik Minibus, Ketinggiannya Terbatas
PERINTIS: Jurnalis Kaltim Post bersama Wilhelmus (kanan) sebelum menjajal pengalaman terbang dengan pesawat perintis.

PROKAL.CO, Banyak orang masih bertanya-tanya, bagaimana rasanya naik pesawat penerbangan perintis dari Bandara Tanjung Bara, Sangatta Utara, Kutai Timur? Jadwal penerbangannya yang terbatas, membuat masyarakat Kutim jarang berkesempatan menaiki pesawat yang disebut-sebut fasilitas umum dimaksud.

RAYMOND CHOUDA, Sangatta

BELUM lama ini, Kaltim Post mendapat kesempatan terbang dari Bandara Tanjang Bara menuju Bandara Sepinggan Sultan Aji Muhammad Sulaiman (SAMS), Balikpapan. Bersama rombongan tim karyawan PT Kaltim Prima Coal (KPC) dan Palang Merah Indonesia (PMI) Kutim, dalam suatu misi kemanusiaan menuju Palu.

Pesawat yang digunakan saat itu, milik Maskapai Hevilift, dengan kapasitas 13 penumpang. Meski maskapai ini bukan merupakan penerbangan perintis, karena dikhususkan untuk karyawan KPC, namun besar pesawat kurang lebih sama dengan penerbangan perintis yang disediakan Pemkab Kutim. Setidaknya ini memberi gambaran bagi pembaca Kaltim Post.

Pesawat Maskapai Hevilift, memiliki dua baling-baling. Tiap penumpang diberikan penutup telinga sebelum memasuki pesawat. Benda itu memang benar-benar perlu digunakan, sebab suara baling-baling akan memekikkan telinga. Apalagi bagi penumpang yang dapat tempat duduk di sebelah sayap pesawat.

Saat itu jurnalis Kaltim Post sebangku dengan Kepala Markas PMI Kutim Wilhelmus, duduk di bangku bersebelahan sayap dan baling-baling. Kondisi dalam pesawat tak seperti maskapai komersial pada umumnya. Mirip di minibus yang tiap barisnya terdapat empat kursi, kiri dan kanan, dibelah oleh jalan tengah.

Kursinya juga mirip miliki minibus, namun versi pesawat. Bedanya, ada buku petunjuk dan majalah tersedia pada tiap balik kursi penumpang. Layaknya pesawat komersial besar.

Sebelum terbang, petugas akan memaparkan cara operasi keselamatan jika terjadi suatu masalah atau bencana yang tak terduga. Selain menggunakan peralatan pengaman. Salah satu cara penyelamatan dianjurkan melalui pintu yang terletak di deretan bangku paling belakang.

Petugas pengarah bukan pramugari berwajah menyejukkan. Hanya karyawan lelaki yang ditugaskan, menggunakan pakaian petugas. Sementara pilot, warga negara barat yang berambut cokelat.

Perjalanan dimulai layaknya naik pesawat umum biasa. Pesawat meluncur perlahan dengan kecepatan yang semakin bertambah, sampai akhirnya mengudara. Pemandangan Kota Sangatta pun terpapar di depan mata.

Berbagai pemandangan terus berganti. Alur sungai muara yang terlihat seperti ular di antara hijaunya hutan terus mengiringi perjalanan. Tinggi penerbangan pesawat itu tak sampai melebihi awan. Berbeda dengan penerbangan maskapai komersial yang biasanya terbang lebih tinggi.

Meskipun baling-baling pesawat terus berputar kencang dan berisik, sebagian banyak penumpang tertidur pulas sebab dinginnya ruangan. Perjalanan tak memakan waktu panjang. Hanya sekitar satu jam, Sangatta-Balikpapan berhasil ditembus. Ini jauh lebih singkat ketimbang perjalanan darat yang biasanya makan waktu hingga delapan jam atau lebih.

Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kutim Ichsanuddin Syerpi menjelaskan, saat ini penerbangan perintis Bandara Tanjung Bara yang dibuka oleh pemerintah, memang terbatas. Hanya dua kali dalam sepekan melakukan penerbangan. Sedangkan sebelumnya sampai lima kali.

"Kebijakan pemerintah pusat yang mengurangi jatah jadwal penerbangan perintis. Tapi, penerbangan tersebut kami buka untuk masyarakat umum," ujarnya.

Dia mengakui, pemesanan tiket sangat ketat. Kalau terlambat, jatah bangku pesawat keburu dibeli penumpang lain. Jadi, harus jauh hari sebelumnya untuk mendapatkan tiket.

"Saat ini kami terus berusaha meminta kepada pemerintah pusat agar jadwal penerbangan di Bandara Tanjung Bara bisa diperbanyak. Sambil menunggu proses pembangunan bandara komersial di Sangkima yang belum beres," ungkap lelaki yang karib disapa Ichsan itu. (*/san/k8)

 

 


BACA JUGA

Kamis, 22 Agustus 2019 12:24

Lokalisasi Ini Ramai Jika Akhir Pekan dan Tanggal Gajian

SANGATTA - Aktifnya Lokalisasi Kampung Kajang Sangatta Selatan membuat Pemerintah…

Kamis, 22 Agustus 2019 12:22

Diduga Bawa Kayu Hasil Pembalakan Liar, Warga Labanan Ditangkap di Tanjung

TANJUNG REDEB – Bawa kayu ulin tanpa dilengkapi surat, Risman…

Kamis, 22 Agustus 2019 12:22

Kurangnya Budaya Membuat Karya Ilmiah, Guru Susah Naik Pangkat

Minat guru dalam membuat karya ilmiah di Kabupaten Kutai Timur…

Kamis, 22 Agustus 2019 12:20

Baju Adat Terbaik Kedua HUT Ke-74 RI di Istana Negara

Berau harus berbangga. Sebab, tepat pada Hari Kemerdekaan ke-74 Republik…

Kamis, 22 Agustus 2019 12:19

SMP 2 Kembali Mandi Debu

Kejadian tahun 2012 kembali menimpa SMP 2 Loa Kulu. DLH…

Kamis, 22 Agustus 2019 12:17

Warga Perbatasan Ditangkap

SENDAWAR – Peredaran 102 poket sabu seberat 56,5 gram berhasil…

Kamis, 22 Agustus 2019 12:15

Sabu 615 Gram Nyaris Beredar di Tenggarong

TENGGARONG - Anggota Satuan Reskoba Polres Kukar berhasil menggagalkan peredaran…

Kamis, 22 Agustus 2019 12:14

Akses Jalan Menuju Pesisir Diprioritaskan

PENAJAM – Beberapa waktu lalu, Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD)…

Kamis, 22 Agustus 2019 12:11

Akar Bajakah Juga Tumbuh di PPU

Siapa yang tidak tahu akar bajakah. Tanaman yang merambat dan…

Rabu, 21 Agustus 2019 10:57

Terdakwa Penganiaya Anak Minta Bebas

TANJUNG REDEB–Setelah dituntut satu tahun penjara, terdakwa dugaan penganiayaan anak…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.
*